Ilustrasi kebun lidah buaya | Foto Flickr, Frank Quevedo

Asmarainjogja.id--Ribuan bibit lidah buaya dimasukkan ke SUV. Alan dan orangtuanya turut membantu. Anata sudah masuk duluan ke mobil setelah Allan memasukkan kardus berisi bibit lidah buaya. Ibu Alan   memberikan semangat pada mereka, dan mengingatkan agar rajin merawat tanamannya.

“Jangan lupa disiram, sebentar lagi musim kemarau,” kata Ibu Alan.

“Kalau bisa 3 kali dalam seminggu,” sambung Alan.

Mereka bertiga mengangguk. Lalu menjabat tangan tuan rumah.

“Doain, ya, Bu, kami berhasil,” mohon Eki setelah bersalaman dengan Ibu Alan.

“Iya, pasti ibu doain agar tanaman kalian berhasil,” kata Ibu Alan dengan nada penuh keyakinan.

Klakson SUV berbunyi sekali, Eki memberikan salam hormat. Roda berjalan di atas jalan bercor semen di desa Jeruklegi. Mentari pagi yang mulai hangat mengiringi perjalanan mereka ke lokasi penanaman. Musik ceria yang dinyanyikan anak-anak menambah suasana semangat pagi mereka.

Lihatlah-lihatlah di sana

Petani yang ada di sawah

Topinya lebar

Cangkul di tangannya

Tanamannya subur

Nasi lauk dan sayur di meja makan

Itu semua petani yang menanam

Nasi lauk dan sayur yang kita makan

Itu semua petani yang menanam

“Terimakasih, Pak Petani. Terimakasih Ibu Petani,” Icow dan Eki serempak menyanyikan lagu Iksan Skuter.

Anata yang belum pernah mendengar lagu yang begitu gembira tersebut langsung tertarik. Menyimak, kepalanya mengangguk-angguk. Eki menyetir begitu lihai di jalan desa yang berkelok. Kiri-kanan pematang sawah memanjakan mata yang memandang. Subur menghijau. Suara kerbau melenguh pelan ditarik hidungnya oleh petani. Sedangkan petani lainnya tampak memupuk padinya. Lukisan alam yang terindah dari sebuah desa.

“Pemandangan yang menakjubkan,” puji Anata. Kaca samping diturunkan, seakan tak puas menatapnya, “Gusti Allah begitu baik pada kita. Telah memberikan karunia alam yang sangat berarti.”

“Ya, tapi bangsa kita tidak pernah bersukur dan memanfaatkannya dengan baik. Beras pun diimpor dari luar negeri,” Eki tertawa miris.

Anata hanya mengangguk, tak membantah apa yang dibilang Eki.

“Mungkin juga sawah itu di tahun-tahun yang akan datang telah musnah,” Icow menambahkan.

Anata langsung menyambar, tak paham maksud Icow, “Maksud kamu?”

“Tidak ada yang menjamin tanah petani di negeri ini. Asal tanah itu bisa dirampok, ya, dirampok. Pengadaan tanah bagi perusahaan untuk kepentingan pemodal akan terus memburu lahan warga. Seperti biasa, pemerintah dan pengusaha seolah-olah berbaik hati kepada warganya untuk membuka lapangan pekerjaan. Padahal warga desa sudah berkecukupan. Tidak butuh lapangan pekerjaan, yang dibutuhkan adalah perluasan lahan untuk tanaman,” kata Icow.

“Dan pemerintah harus memastikan pupuk dan bibit dengan harga yang murah,” sambung Eki.

“Lihat saja proyek NYIA, lahan produktif di sana habis. Padahal warga sangat bergantung pada lahan. Merampas lahan sama saja merampas ruang hidupnya. Akhirnya apa?” tanya Icow pada Anata.

“Akhirnya apa?” Anata malah balik tanya.

“Warga akan menanggur karena tidak bisa bertani lagi.” Jawab Icow.

Anata mengangguk saja. Tapi ada yang masih mengganjal di hatinya.

“Kalau aku tidak keliru, pihak NYIA memberikan pekerjaan bagi warga yang terdampak penggusuran,” Anata menatap serius Icow. Posisi duduknya diperbaiki.

Icow tertawa. Tawa yang disusul dengan nada geram, “Sekali penipu tetap penipu. Perampok tetap perampok. Penjahat tetap penjahat,” tanya Icow kemudian, “kamu percaya itu?”

Anata tak berani menjawab. Wajahnya dipalingkan ke luar jendela.

“Bagaimana mungkin seseorang yang seumur hidupnya memegang cangkul dan arit harus dipaksa bekerja dengan komputer. Profesinya selamanya itu adalah petani, tanah menjadi tempatnya bercocok tanam. Dia dan tanah adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisahkan. Hubungan antara manusia dan alam,” Icow meneruskan, “dan asal kamu tahu saja, perusahaan juga membatasi umur bagi yang melamar bekerja di sana. Artinya bapak-bapak dan mbah-mbah tidak bisa bekerja di proyek itu.”

“Intinya Anata, perusahaan itu mencari keuntungan. Jadi yang berbau kerugian dibuang jauh-jauh,” Eki menambahi pernyataaan Icow.

Anata mencoba memahami setiap kalimat yang masuk ke otaknya. Dan terus berpikir, benarkah apa yang dibilang kedua sahabatnya itu?

“Suatu hari nanti kamu akan mengerti betapa bangsatnya sistem yang diagungkan pemerintah kita,” ujar Icow pelan.

***

Di bawah pohon jati ratusan lubang sudah dicangkul, siap menyambut bibit lidah buaya. Pati dengan peluh di keringat mencangkul dengan semangat. Begitu juga dengan Salman, seakan berlomba-lomba melubangi tanah. Ali, Mbah Soro, dan Pak Man memastikan jarak penanaman dan kelurusan dengan tali rafia. Hanya sebaris lagi, tugas Pati dan Salman selesai. Tali rafia ditarik kencang, terikat pada patok yang menancap kuat.

“Semangat!” teriak Ali, “tinggal sebaris lagi.”

Napas Pati ngos-ngosan, dia berhenti sejenak. Mengacungkan jempol ke Ali.

“Istirahatlah! Biar aku yang melanjutkan,” Salman menghampiri Pati, “aku tahu kamu sudah capek sekali.”

“Ah, jangan begitu! Aku masih kuat, kok,” Pati tetap mencangkul.

Hanya selang beberapa menit kemudian, Pati menyingkir. Menenggak air mineral begitu banyak. Tampak dia kehausan dan lelah. Salman menatapnya tertawa.

“Sudah kubilang jangan dipaksa, Brother,” kata Salman.

Pati tertawa kecil membiarkan tubuhnya beristirahat.

“Bekerja itu harus dengan suka cita, tidak baik dipaksa,” tanya Salman lagi, “apakah kamu baru kali ini mencangkul?”

Pati mengiyakan, “kok tahu?”

“Dari caramu memegang cangkul dan mengayunnya,” sahut Salman sambil menancapkan mata cangkul ke tanah.

“Ternyata menjadi petani itu capek juga,” Pati bergumam, seakan bicara dengan dirinya sendiri.

Salman mendengar keluhan Pati, tapi terus melanjutkan tugasnya. Satu per satu lubang sudah menganga lebar. Tanah yang tidak begitu gembur menguak ke atas. Terlihat beberapa akar jati tersangkut di mata cangkul. Dengan sabar Salman melepasnya, dan kembali mencangkul.

Beberapa karung dari kompos juga mulai dilangsir oleh Ali dan Pak Man. Mbah Soro sendiri duduk di samping Pati, mengisap rokok linting dan meneguk kopinya.

“Capek, Le?” sapa mbah.

“Sedikit, Mbah,” sahut Pati lemah.

Mbah tertawa pelan, “Nanti juga terbiasa.”

Suara derung mobil mengalihkan mereka. Icow melompat turun, disusul Anata dengan posisi tangan dipenuhi bibit. Satu per satu kardus bibit dikeluarkan mereka. Eki yang baru saja melompat langsung meneriaki Pati.

“Hoi, petani, sedang istirahat, ya?” nada Eki seperti mencemooh.

Pati yang merasa disindir sigap berdiri. Mbah hanya tersenyum.

“Cuma tarik napas, Pak Petani,” Pati membalas mendekati Eki.

“Mau ditanam sekarang, Mbah?” tanya Eki.

“Lebih cepat makin bagus,” jawab Mbah.

Bibit lidah buaya yang gemuk itu diletakkan di setiap lubang. Pati kembali mendapat tugas menanam dengan Anata. Sedangkan yang lain melangsir bibit dan menyiapkan air.

“Air dari mana ini, Mbah?” Eki tampak heran .

“Ya, beli. Di sini mana ada air.”

“Ada air, Mas, tapi jauh sekali. Tidak mungkin juga kita angkut air sampai ke sini,” Pak Man menyahut percakapan mereka.

“Berapa harganya, Pak Man?” tanya Icow serius.

“Tergantung jaraknya. Kalau sekitar sini cuma 130 Ribu, tapi kalau Pak Man yang beli cuma 100 ribu saja.”

“Memangnya air itu punya siapa, Pak Man?” tanya Icow lagi.

“Ya, sebenarnya milik warga bersama. Tapi karena diantar tangki air, ya, bayar.”

Icow tak bertanya lagi. Tapi bagi dia itu persoalan yang cukup serius. Selain tanah yang dikenal tandus, Gunungkidul di bagian Desa Jepitu juga kesulitan air. Air yang merupakan salah satu sumber kehidupan menjadi barang mahal yang harus dibayar oleh warga di sana.

Icow berbisik ke Eki, “Sepertinya ada yang tidak beres di sini. Sudah warga kesulitan bercocok tanam, ditambah pula harus membeli air. Bagaimana menurutmu, Ki?”

“Aku juga merasa begitu. Nanti kita himpun informasinya soal air itu. Sekarang kita fokus dulu menanam,” balas Eki.

Langit sore mulai jingga. Petani di sana sudah turun dari ladangnya. Di antara mereka ada yang memikul kayu bakar dan memikul sekarung rumput untuk ternaknya. Ada yang dijemput anaknya dengan sepeda motor, ada pula yang berjalan.

“Akhirnya selesai juga,” Pati meregangkan otot-ototnya.

Teman-teman yang lain mengumpulkan peralatan. Bersiap-siap untuk pulang. Anata yang wajahnya cemongan ditertawai Pati.

“Lihat wajahmu, Anata!”

“Wajahmu juga! Mungkin itu sisa kotoran kambing,” Anata balik menertawai.

“Mana? Mana?” Pati mengusap-usap wajahnya.

Mereka tertawa terbahak-bahak, Anata hanya bercanda yang ditanggapi serius oleh Pati.

“Ah, kirain serius,” ujar Pati sebal.

“Pulangnya sehabis maghrib saja. Mbah Wedok sudah siapkan makanan,” Mbah Soro melarang mereka untuk pulang langsung.

“Tidak merepotin, nih, Mbah?” Ali merasa tak enak.

“Malah kalau tidak dimakan, Mbah Wedok kecewa,” jawab Mbah tersenyum.

“Iya juga. Nanti malah mumbazir lagi,” Pati meyambar pembicaraan.

“Ah, urusan makanan Pati memang paling cepat,” Salman menyahut.

“Jangan sok tahu!” Pati membela diri, “ayo, Mbah, cepat!”

***

Tempe goreng, ikan goreng, daun pepaya rebus, dan sambal terasi menjadi penghidang makan malam. Memang tampak sederhana, tapi bagi mereka yang belum pernah merasakan masakan Mbah Wedok tentu terkejut. Terlebih lagi sambalnya, membuat mereka huh..hah.. kepedasan, tapi tangannya tak berhenti menyantap sambal yang digiling pakai ulekan itu.

“Sumpah, Mbah, ini sambal enak sekali. Paling enak se-Yogyakarta,” puji Pati di sela kunyahannya. Mulutnya terlihat penuh.

“Ayo-ayo, tambah lagi. Sampai kenyang, Mas Pati,” kata Mbah.

“Tidak perlu disuruh, Mbah, kalau si Pati,” celetuk Salman.

Pati mendelik sejenak. Tidak perduli. Teman-teman yang lain tertawa yang disusul tuan rumah.

“Daun pepayanya juga enak, Mbah,” kata Pati lagi.

Menjadi pengalaman yang begitu berkesan bagi enam sekawan tersebut. Setelah seharian letih menanam lidah buaya, menyantap makanan enak seperti bonus yang menyenangkan. Tapi penananam lidah buaya masih belum benar-benar tuntas, masih ada satu lokasi lagi. Karena keburu maghrib, mereka tak sempat menanamnya.

“Mbah, besok siang kami ke sini lagi, biar kami selesaikan penanamannya,” ujar Ali setelah menatap sisi selatan rumah mbah.

“Tidak usah. Istirahat saja dulu. Biar mbah dan Pak Man yang melanjutkan,” Mbah tidak ingin memberatkan mereka lagi.

“Iya, lagian Mas dan teman-temannya kelihatan capek sekali hari ini,” sambung Pak Man.

Mereka saling berpandangan. Merasa tidak enak, Ali enggan melepaskan tanggungjawab begitu saja. Sebagai penanggung jawab proyek lidah buaya, Ali harus selalu ada sampai proyek itu benar-benar selesai.

“Tidak semua kami besok datang. Hanya beberapa orang saja. Tenang, Mbah, kaum muda seperti kami harus bercapek-capek, tidak baik juga bermalasan-malasan,” lalu Ali meminta persetujuan ke teman-temannya, “bagaimana? Siapa besok yang ikut?”

“Aku siap,” jawab Eki.

“Aku juga,” Salman menyusul.

Eki dan Icow mengangguk mantap. Tinggal Pati dan Anata yang belum memberikan tanggapan.

“Anata besok kamu istirahat saja,” Ali menyarankan.

“Lihat besok, ya?” jawaban Anata abu-abu.

“Lihan kondisi,” sambung Pati.

Beberapa jam kemudian mereka berpamitan kembali ke Yogyakarta. Di mobil, hanya beberapa menit saja Pati sudah mendengkur. Salman yang jahil menutup hidung Pati yang membuatnya kesulitan bernapas. Sebelum terbangun, Salman melepas hidung Pati. Sesudah dia kembali tertidur, Salman kembali menutup hidung Pati. Begitu seterusnya.

“Janjukkkk!” teriak Pati yang menepis tangan Salman.

Teman-teman yang lain tertawa. Apalagi Salman yang sangat puas menjahili Pati. Karena memang benar-benar lelah, Pati melanjutkan istirahatnya. Mendengkur keras.

Anata dan Icow yang duduk bersampingan mengobrol sepanjang perjalanan. Bercerita hal-hal yang belum diketahui di antara mereka masing-masing. Anata sangat antusias menceritakan masa kecilnya, begitu juga dengan Icow.

“Eh, Cow, kamu belum sempat cerita. Kenapa panggilan kamu itu Icow, bukankah nama asli kamu Adiwidya Prabu Kusuma? Terus dari mana nama Icow itu?” tanya Anata serius. Pertanyaan ini sudah lama ingin dilontarkan, tapi karena belum tepat waktunya, Anata pun mengurungkan pertanyaan itu.

“Oh, soal nama ‘Icow’. Dulu waktu masih SD, aku disuruh ke depan oleh guru untuk mentransletkan ‘sapiku’ ke Bahasa Inggris. Nah, karena aku sulit membedakan penggunaan I dan my, jadi aku tulis Icow, padahal seharusnya my cow, kan? Sekelas temanku tertawa, juga ibu guru. Sejak kejadian memalukan itu keesokan harinya aku dipanggil ‘Icow’,” Icow tertawa mengenang masa kecilnya.

Anata tertawa geli mendengar cerita Icow, teman-teman yang lain juga tertawa, meskipun mereka sebelumnya juga sudah tahu asal-usul nama Icow.

“Serius ceritanya begitu?” tanya Anata, tangannya seolah-olah menutup giginya.

“Iya,” Icow menundukkan kepalanya.

“Terus… terus bagaimana cerita kamu saat masih SD?”

“Seperti anak-anak lainnya. Yang malas menghitung, suka menyontek. Sering dihukum di depan kelas. Pura-pura sakit, biar tidak masuk sekolah, padahal karena ada PR.”

“Masa iya segitunya?” seakan tak percaya, Anata bertanya lagi, “lantas sekarang kamu kenapa bisa berubah? Luas sekali pengetahuan kamu. Cerdas.”

“Cerdas?” Icow mengerutkan dahinya, “tidak juga. Sebenarnya aku banyak tahu dari buku-buku yang aku baca, mendengar informasi dari orang-orang yang kompeten, dan sering berdiskusi kepada siapa saja. Itu saja, sih. Kalau cerdas, sih, tidak betul itu.”

“Buku apa saja yang kamu baca?” Anata sudah seperti seorang jurnalis saja, menggali informasi tentang Icow.

“Buku-buku yang menurutku menarik. Nah, itu yang kubaca,” jelas Icow singkat, “kamu sendiri bagaimana?”

“Bukan pembaca yang baik,” kata Anata kemudian, “boleh aku main ke rumahmu?”

“Dengan senang hati. Tapi kalau aku di sedang di rumah, ya?”

Sampai di depan rumah Anata, barulah mereka berhenti bercerita. Anata yang masih ingin bercerita terpaksa turun dari mobil.

“Sampai jumpa, Cow,” lembut suara Anata berujar. Kata dia lagi, “terimakasih, ya, semua.”

“Oke. Sampai jumpa juga, Anata,” balas Icow.

Berdesing suara ban sudah melaju membelah Jl. Parangtritis menuju Kota Yogyakarta. Suara dengkuran Pati semakin tinggi. Air liunya pun meleleh membasahi pipinya yang berlemak.  [Asmara Dewo]

Bersambung…

Cerita sebelumnya:

Puisi adalah Doa

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas