Ilustrasi menulis | Istimewa

Asmarainjogja.id – Sebagai insan yang produktif, seorang penulis memang dituntut selalu berkarya dalam keadaan apapun. Hal yang demikian itu disebabkan penulis merupakan sosok yang mempengaruhi dunia literasi. Dari karyanya pula bumi yang dipijak, kolong langit yang penuh berisik, menjadi lebih berwarna lagi. Memberikan informasi, melahirkan pendapat yang berbeda, menawarkan solusi, menginspirasi pembaca, dan juga menghibur masyarakat dari tulisannya.

Penulis yang ditunggu-tunggu karyanya oleh pembaca   biasanya akan merasa kehilangan jikalau si penulis dalam waktu tertentu belum atau tidak berkarya lagi. Mungkin masih dalam ingatan kita, beberapa bulan yang lalu novelis Tereliye sempat ngambek, enggan menuliskan novel lagi, karena pajak penulis dianggapnya terlalu tinggi. Pada waktu itu pula ia mengatakan tetap menulis pada Fanpage Facebooknya. Ia tetap berkarya, hanya saja tidak dibukukan seperti biasa yang dijual di toko buku.

Sontak saja pembacanya merasa kecewa atas keputusan tersebut, dan istana negara pun sempat heboh atas keputusan Tereliye. Barulah beberapa bulan kemudian karyanya kembali diterbitkan di toko-toko buku. Pembacanya kembali senang, bisa menikmati karya fiksi Tereliye yang menginspirasi di zaman sekarang ini. Seorang novelis yang berkarya tak melulu soal cinta-cintaan.




Dari cerita di atas sudah membuktikan bahwasanya penulis dirindukan karyanya. Apa jadinya jikalau seorang penulis itu benar-benar tidak mau menulis lagi? Ya, boleh jadi bagi seorang pembaca, ada yang tidak sempurna dalam kesehariannya. Fans berat yang demikian itu biasanya karena ia menganggap si penulis sebagai inspiratornya, motivatornya, bahkan menjadi panutannya. Berlebihan memang! Tapi memang seperti itu adanya.

Nah, sekarang sebagai penulis (penulis pemula pula) sedang euforianya mudik ke kampung halaman, apakah masih bisa berkarya? Mampukah meluangkan waktu beberapa jam untuk melanjutkan karyanya? Atau menggarap ide-ide menulis baru di kampung halaman? Sebenarnya tentu saja bisa, andai di hati itu sudah tertanam menulis sebagai kewajiban. Seperti sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer,  baginya menulis adalah tugas negara.

Jika sudah menjadi tugas negara artinya kewajiban yang harus dilaksanakan, tidak boleh tidak! Inilah seharusnya prinsip yang digigit kuat-kuat bagi penulis, penulis pemula khususnya. Tidak suka beralasan untuk malas berkarya, selalu berdalih dengan kekurangannya, ada saja argumen sebagai pembenaran. Tipe-tipe penulis seperti ini biasanya tidak akan pernah maju. Toh, andai pun maju seperti keong berjalan di jalan tol yang menembus gunung membelah bukit. Lambat sekali.




Seorang penulis tidak boleh tergantung dengan waktu, ia yang menentukan waktu. Kapan membagikan waktunya untuk bersama keluarga, sahabat, bersosialisasi di tengah masyarakat, ‘berinteraksi’ dengan Tuhan. Begitu juga dengan aktivitas lainnya seperti belajar, melakukan traveling (jika hobi), mengikuti pelatihan-pelatihan pada bidang tertentu, dan segala aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Penulis memang dituntut untuk cerdas memanajemen waktu.

Betul lebaran cuma sekali, betul pula belum tentu tahun depan bisa mudik, hanya saja jangan sampai euphoria yang bisa menggugurkan impian sebagai penulis. Lagi pula jika penulis saat ini sedang mudik di kampungnya bisa mencari ide yang luar biasa. Tidak seperti menemukan ide menulis di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Alam desa yang permai sesungguhnya memberikan ide yang brilian jika penulis kepekaannya lebih tajam lagi. Misalnya industrilisasi yang saat ini semakin gencar dilakukan pihak perusahaan dan pemerintah di desa-desa. Ini bisa dijadikan ‘bintang inspirasi’ menulis.


Hijab

Tuliskan cerita bagaimana kerusakan alam di desa tersebut, gali informasi lebih dalam dampak buruk dibangunnya pabrik-pabrik di desa, ungkap pula bagaimana peralihan masyarakat di sana yang berpuluh-puluh tahun terbiasa bertani dipaksa mengais rezeki dengan industrilisasi. Selain itu yang tak kalah penting lagi adalah sampaikan ke publik pelanggaran HAM yang terjadi di sana, mulai dari tindakan refresif aparat hukum, sampai pelanggaran HAM yang dilakukan dari pihak perusahaan itu sendiri.

Poin-poin di atas tentunya tak seindah teori dosen mengajar, dan retorika pejabat publik si kaki tangan kapitalisme. Penggambaran kondisi masyarakat selalu diceritakan yang baik-baik saja, penggebukan yang terjadi di kelompok masyarakat tak begitu dihiraukan, jurnalis pun seakan membebek pada penguasa dan lebih mengutamakan berita bodoh-bodoh yang digemari kaum micin.




Di sinilah seorang penulis harus berpihak dan menentukan sikap berada di garis penderitaan masyarakat, tulisannya menjadi peluru yang menyebar ke penjuru mata angin. Begitu tajam, kritis, berani, disertai pula data dan fakta di lapangan terkait kasus yang diungkapnya. Jika bukan penulis progresif yang mengungkap kebobrokan pemerintah dan perusahaan, lalu penulis yang seperti apa lagi?

Si penulis cupu, yang gemar menulis cinta-cintaan ala drama Korea yang tidak berkesudahan. Atau si penulis yang suka menjilat ekor penguasa menceritakan seolah-olah perduli terhadap masyarakat padahal turut mendorong masyarakat ke jurang pembodohan, kemiskinan, dan penindasan.

Yang pada intinya bagi penulis yang masih malas, harus tetap menjaga iman kepenulisannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan segala karyanya harus pula berada di garis perjuangan rakyat. Bukan kepada materi, haus akan pujaan budaya birokrat, tak butuh penghargaan dari manapun selain sebagai inspirator rakyat yang sedang lemah ini.

Tidak ada laptop, menulislah dengan smartphone! Tidak ada juga, menulislah di buku! Masih sulit, menulislah dengan arang di tembok-tembok! Jika demikian parahnya, maka darah adalah tinta penghabisan untuk menguraikan cerita kehidupan masyarakat  yang menderita.

Penulis yang lahir dari masyarakat akan kembali ke masyarakat, dan membelanya sampai perjuangan terakhir. Hidup penulis! [Asmara Dewo] 






Baca juga:

Menemukan Bintang Inspirasi Menulis

Memahami Dari Mana Datangnya Rezeki Penulis

Menulis Bukan Sekadar Memahat Nama di Sejarah

Kamu Itu Blogger atau Penulis?

Begini Cara Agar Tulisan Mudah Dipahami, Enak Dibaca, dan Dirindukan



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas