Ilustrasi persawahan | Foto asmarainjogja

Asmarainjogja.id--Covid-19 atau virus sorona ternyata semakin membuat bangsa semakin resah saja. Kabarnya warga yang positif corona sudah mencapai 514 orang. Sikap Pemerintah untuk mengntisipasi penyebaran virus yang mampu mematikan ini adalah melalui tes cepat dan menyediakan obat avigan dan chloroquin.

Selain upaya di atas yang cukup membuat psikologis kita semakin tertekan adalah imbauan agar warga “di rumah saja”, maksudnya adalah kita semua mengisolasi diri. Pemberitaan, informasi, dan “kicauan” netizen Indonesia di berbagai media sosial terkait kasus virus corona pun semakin masif. Istilahnya tiada kabar selain corona. Corona, corona, dan corona.

Jiwa-jiwa freedom  diuji kali ini, apakah memang bisa mengisolasi diri sebagaimana imbauan #dirumahsaja atau malah keluar? Tak ada salahnya memang kalau kita di rumah saja saat penyebaran corona yang semakin gila ini. Telebih lagi bagi kita yang jarang pulang, atau menjadikan rumah hanya sebagai tempat tidur saja. Lain dari itu tidak. Apalagi orangtua yang kurang memberikan perhatian anak-anaknya di rumah, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk lebih merangkul keluarga lagi.

Bagi yang sepakat dengan mengisolasi diri di rumah tentu mengalami kebosanan luar biasa sejak Jumat lalu. Meski begitu kita yakin orang-orang yang mengisolasi bisa memanfaatkan waktu dan keadaan dengan sebaik-baiknya, misalnya membaca buku, olahraga, belajar sesuatu tanpa harus keluar rumah, berinternet positif, atau menjalankan ekonomi mandiri di rumahnya.

Penulis sendiri memilih tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, misalnya bersepeda, menanam dan merawat kebun lidah buaya di Desa Jepitu, Gunungkidul, Yogyakarta, sekitar Pantai Jungwok. Selain untuk tetap menjagai kebugaran jasmani, juga menuntaskan kerja-kerja yang telah disepakati bersama. Mengingat budidaya lidah buaya itu muara perjuangannya adalah pembangunan ekonomi mandiri warga Jepitu. Jadi mau tak mau, penulis harus intens untuk bolak-balik dari Yogyakarta ke sana.

Nah, kalau bersepeda, karena olahraga inilah yang bisa dilakukan. Jujur saja sebenarnya penulis memang suka bertualang dan kegiatan ekstrem, misalnya mendaki gunung, dan olahraga bertualang lainnya. Bersepa selain simple dan tidak terlalu banyak memakan waktu, juga bisa lebih mengetahui lagi daerah tempat tinggal kita. Boleh jadi, lho, lima kilometer dari rumah, kita tidak mengetahui lingkungan sekitar.

Orang-orang yang memilih jalan hidup freedom  sangat sulit diatur. Karena baginya hidup adalah soal kemerdekaan. Diatur sama saja tunduk pada orang yang diatur, padahal belum tentu peraturan yang dibuat itu bijak. Imbauan untuk #dirumahsaja tentu ini hanya jadi angin lalu. Meskipun harus diakui bersama sudah banyak korban jiwa akibat corona. Tapi, ya, begitu, mati, ya, mati. Toh, kematian sudah ditetapkan.

Sedangkan kaum yang merasa progresif juga mengaitkan keadaan secara ilmiah, artinya penyakit bisa dicegah dan disembuhkan. Dengan mengisolasi diri “dirumahsaja memang bisa mengurangi penyebaran corona, bahkan disebut-sebut bisa memutuskan mata rantai penyebaran corona. Logika, karena virus ini menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Meskipun penulis sendiri belum melakukan riset kecil-kecilan yang konkret.

Sebagaimana yang telah disinggung, #dirumahsaja sama dengan mengisolasi diri, mengisolasi diri artinya memenjarakan diri sendiri. Menurut penulis penjara lebih bahaya dari corona. Corona mungkin bisa membuat manusia tewas dengan waktu singkat, tapi kalau penjara, psikologi kita yang diusik. Psikologi kita sudah terganggu dengan merebaknya kabar corona. Dan ditambah lagi imbauan mengurung diri #dirumahsaja. Belum lagi soal perekonomian individu-individu yang merosot tajam. Sempurna sudah penderitaannya.

Bagi warga yang perekomiannya bagus, tentu tidak masalah dengan berkegiatan #dirumahsaja, tapi bagaimana warga yang harus tetap bekerja di luar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Penulis ambil contoh seperti tukang becak, pedagang angkringan, juru parkir (bukan tukang palak), dan kaum miskin kota lainnya. Mereka harus bergerilya di luar untuk sesuap nasi anak bininya. Karena memang pemerintah kita belum mampu memberikan hak warganya untuk kebutuhan ekonomi pokok warganya.

Jadi wajar saja meskipun ada imbaun #dirumahsaja, kaum di atas tadi masih berkeliaran di luar. Mereka bukan berpaham freedom sebagaimana penulis maksud, tapi karena kondosi ekonomi riilnya menuntut mereka demikian. Bangsa yang dibilang besar ini memang tak memiliki pikiran yang besar. Karena itulah ketika ditimpa wabah penyakit seperti Corona, bangsa ini kelabakan. Jangankan membantu bangsa lain, membantu bangsanya sendiri saja tidak mampu.

Andai kita semua sudah melalui badai besar ini, sepatutnya evaluasi besar-besaran. Apa yang bisa dipelajari dari pandemi virus corona. Mungkin dari sektor kesehatan, ekonomi, dan kebijakan-kebijakan politik di atas. Sekarang kita mau tak mau harus menerima, kaum tani di pedesaan lebih mampu bertahan daripada warga kota yang mengandalkan barang dan jasa. Karena mereka punya lumbung makanannya sendiri. Jika kekurangan beras, bertukar dengan tetangga lain dengan jagung atau ketela. Di sini kita bisa menilai bahwasanya petani lebih mandiri.

Maka dari pengalaman ini kita ke depannya lebih perhatian lagi ke sektor pertanian, bukan mengundang investor untuk menanamkan modalnya besar-besaran. Terbukti sektor perdagangan dan jasa mengalami kerugian, dan itu berdampak pada kita semua. Kaum tani tidak berpaham freedom, tapi mereka mampu bebas dari dampak perekomian global.

Entah sadar atau tidak barang-barang semakin naik saja. Apakah ini tanda-tanda bangsa ini akan mengalami krisis moneter seperti tahun 1998? Jika, iya, hati-hati! Kita tidak bisa hanya mengandalkan semua urusan pada pemerindah, bangun kekuatan sendiri.

Penulis: Asmara Dewo, Aktivis PLB

Baca juga:

Siapa yang Paling Berdampak dari Virus Corona di Yogyakarta?



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas