Ilustrasi | Foto by raskolnica/Flickr

Oleh: Asmara Dewo 

Penegak  hukum, seperti advokat kau bilang. Nada suaramu begitu yakin, raut wajahmu mendadak serius. Teman-teman yang lain yang tadinya sempat bercanda, saling mengejek, kekanakan di tengah kerumunan kantin pun ikut serius. Mengeja setiap kalimat teguh dari mulutmu. Begitu takzim. Kau pun semakin menguatkan argumenmu kenapa meski menjadi seorang pengacara.

“Aku tidak akan pernah menjadi politikus bangsat, aku memilih menjadi advokat rakyat. Berdiri di atas pondasi kebenaran merengkuh keadilan untuk sesama manusia. Khususnya rakyat miskin yang termajinalkan, sebab mereka adalah korban pertama dari penguasa jahat. Lihatlah setiap kebijakan dari kesepakatan para politikus bangsat, kaum miskinlah yang paling menderita. Kaum miskin desa dan kaum miskin kota menjadi tumbal atas kekuasaan di setiap rezim,” katamu geram saat itu.

“Kaum miskin desa yang hanya mempunyai setapak rumah, menjadi korban penggusuran dari pengusaha yang berkolaborasi dengan penguasa. Lahan sawah mereka menjadi lahan investasi yang tak dibutuhkan sama sekali oleh mereka. Dan ketika mereka menolak pengosongan lahan, padahal itu adalah hak miliknya dianggap menentang penguasa. Orang-orang yang perduli dengan penderitaan kaum miskin desa di sana, dianggap provokator. Maka tak heran para aktivis diamankan di tahanan. Diamankan? Ya, begitulah bahasa licik penguasa. Apa sulitnya mengatakan dipenjara? Bahasa manis memang membius masyarakat agar pemerintah seolah-olah pelaku kebaikan. Padahal sekali bangsat, tetap bangsat, kan?” ujarmu diakhiri guyonan rendah. Tapi kami tetap tertawa, terutama Pati. Teman yang paling mengamini setiap kalimatmu.

“Karena itulah, kawan-kawan, aku ingin berdiri di barisan rakyat bersama mereka. Dengan segala kemampuanku, dengan segala pemikiranku, dan dengan segala-galanya yang ada padaku. Membela rakyat di setiap pertempuran dengan penguasa dan pengusaha. Berisiko? Tentu saja, para penjahat tak akan mau kalah. Segala cara akan dikerahkan, termasuk dengan perbuatan paling keji sekalipun.” kau tertawa. Kami ikut tertawa.

“Kalian, mahasiswa hukum, nanti mau jadi apa?” pertanyaan itu menyentak kami langsung.

“Menjadi advokat, sama sepertimu,” kata Pati. Aku tidak terlalu yakin, apakah jawaban Pati itu karena agitasimu atau memang dari nuraninya sejak dulu. Kalau aku pribadi ingin menjadi notaris. Uni pun begitu. Sedangkan Salman, Eki, Limo, punya jawaban yang sama, advokat. Nah, Ali, hanya mengangguk saja.




“Mantap. Kita bisa satu tim untuk membela rakyat suatu hari nanti.” Kau menyeruput kopi hitam, yang diiikuti kawan-kawan lainnya.

Cow, di negeri kita ini cukup banyak yang cerdas, tapi hanya secuil yang benar-benar perduli terhadap rakyat. Pun kalau mereka perduli, yang coba-coba menjadi perwakilan rakyat, gaungnya ditelan keramaian politik. Tak bisa berbuat apa-apa. Seperti boneka barbie yang dimanja-manja, sesekali dipukul dan dibuang oleh tuan putrinya. Aku menyetujui pendapatmu tentang itu.

Yang aku pikirkan kemudian, Cow, andai semua mahasiswa hukum mengikuti kata-katamu, politikus adalah bangsat, terus siapa pula yang menggantikan rezim sekarang? Mau tidak mau harus ada pula seorang sarjana hukum yang berkiprah di dunia politik. Tapi sudahlah aku tidak akan mempertanyakan itu kalaupun kita berjumpa atau diskusi ringan di kantin kampus. Aku tahu kau punya seribu jawaban dari pertanyaan bodohku itu. Kau memang bisa membuat penanya bingung dengan pertanyaannya sendiri.

Oh, iya, jika kau nanti menjadi seorang advokat, tentu bukan perempuan sembarang yang mendampingimu kelak. Apalagi kau bilang tetap menjadi aktivis. Kita tahu sama tahu, nyawa antara aktivis dengan kematian setipis benang. Maut bisa datang kapan saja. Cepat. Pembunuhan yang tersetruktur dan terorganisir. Mengerikan memang. Aku yakin perempuan yang menjadi calon istrimu akan menciut duluan jika kau ceritakan duniamu. Tapi ada perempuan yang siap mendampingimu, Cow, tentu bukan dia. Gadis penghalang itu. Perempuan kumaksud adalah aku, yang selalu setiap menemani perjuanganmu. Sebuah perjuangan maha besar bagi rakyat Indonesia.

10 Oktober 2017




Anata menutup diary Ana, lalu memasukkannya ke laci. Dia semakin penasaran sosok Icow yang ditulis Ana dalam diary. Meskipun ia sudah beberapa kali berjumpa, tapi belum begitu dekat dengan Icow. Mengenal Icow lebih jauh, menjadi keinginan yang mendadak muncul di benak Anata.

Ting, suara pesan masuk di hape Anata. Dari Randu.

“Selamat malam. Jaga kesehatan, istirahat yang cukup.”

“Iya, ini aku mau tidur. Kamu juga jaga kesehatan.” balas Anata.

Miss you.”

Too.”

***

“Aku serius. Besok pagi aku akan menggedor pintu kamarmu kalau kamu belum juga berangkat ke kampus,” ancam Uni. Kaki jenjangnya sudah keluar dari pintu mobil Icow. Ucap Uni lagi, “eh, besok dosen mata kuliah kesukaanmu.”

“Siapa?”

“Si itu, tuh, dosen feodal,” Uni tertawa. Tangan Uni cepat menutup mulutnya.

“Ah, kamu ada saja.”

“Eh, tapi kamu harus kuliah, ya, besok,” ancam Uni yang kedua kalinya.

Icow menggaruk-garuk kepalanya.

“Kamu sudah seperti guru killer  saja yang doyan mengancam,” kata Icow, “sudah-sudah, masuk sana! Aku juga mau pulang.

Uni meruncingkan mulutnya. Tubuhnya belum beranjak dari sana.

“Cow,” panggil Uni.

“Ya.”

“Cowww!” panggil Uni lagi dengan nada suara yang lebih keras.

“Iya. Apa, sih?”

Sebelum mengutarakan maksudnya, kaki Uni melangkah memutari depan mobil untuk menghampiri Icow lebih dekat.

“Kamu tidak akan meninggalkanku di posisi seperti ini?” Uni mencodongkan wajahnya ke Icow. matanya sengaja dipejamkan. Pasrah.

Icow paham maksud itu. Paham dengan posisi tubuh Uni.

“Uni… ada saatnya. Jangan sekarang,” tangan Icow membelai pipi Uni yang mulus, “percayalah. Jalan kita masih panjang. Masih banyak yang harus kita lalui.”

“Baik,” sahut Uni. Nada suaranya lemah. Kekecewaan tergurat di wajahnya. Uni beringsut menjauh.

“Tunggu!” Icow keluar dari mobil. Buru-buru meraih tangan Uni. Uni membiarkan tangan itu menghentikannya. Wajahnya masih membelakangi Icow.

Punggung telapak tangan Uni didaratkan di bibirnya. Kecupan lembut menggetarkan Uni seketika.

“Sudah malam. Nanti ortu kamu keluar. Aku jadi tidak enak,” bisik Icow.

“Ya. Terimakasih,” ucap Uni dengan wajah berseri-seri, “terimakasih.”

“Terimakasih untuk apa?”

“Terimakasih sudah membuatku bahagia malam ini.”

“Ohhh.”




“Cuma itu saja?” lanjut Uni lagi, “kamu tidak ingin mengakatan terimakasih kembali, karena malam ini aku juga bahagia bersamamu.”

Icow tertawa lalu cepat-cepat menutup mulutnya.

“Tidak akan! Sudah-sudah, aku mau pulang,” Icow kembali naik ke atas mobil.

“Hati-hati sayangku!” tangan Uni melambai anggun untuk Icow.

“Ya,” sahut Icow datar. Mobilnya keluar dari pekarangan rumah Uni yang begitu luas.

***

Tujuh orang sahabat itu tampak seperti reuni. Tentunya Icow yang lama tak bersua dengan teman-temannya. Sedangkan Ali yang masih penasaran dengan pemikiran Icow kali ini diuji lagi. Dan Uni tak mau menjauh dari kursi Icow. Mendengar Icow setiap kali berucap, meskipun apa yang Icow sampaikan ke teman-teman, tak dimengerti Uni. Tapi bagi Uni mendengar suara Icow adalah kebahagiaan.

“Jadi, Cow, menurut kamu cara paling efektif mengentaskan kemiskinan di Indonesia ini seperti apa?” tanya Ali serius. Setelah beberapa waktu lalu mereka hanya mengobrolkan isu nasional politik antara kecebong dan kampret.

“Kamu mau jawaban seperti apa dulu? Serius, setengah serius, atau basa-basi jawaban saja,” jawab Icow yang disusul dengan senyum menyebalkan.

“Serius!”

“Oke, kawan-kawan yang lain mungkin ada yang mau jawab dulu?” kata Icow menyapu wajah teman-temannya di lingkaran meja.

Semua menggeleng.

“Baik, aku coba jawab, sejak lama sudah aku sampaikan, sistem kapitalisme yang diadopsi di Indonesia inilah biang keladinya. Perusahaan-perusahan kapitalis baik dari dalam negeri maupun luar negeri harus dikuasai negara sepenuhnya. Tentunya, pemimpin negaranya bukan bertipekan Jokowi, yang planga-plongo tidak berisi, atau juga Prabowo yang grasah-grusuh tidak jelas. Tapi seorang pemimpin yang progresif dan revolusioner, dia tumbuh bersama masyakarat proletar yang membawakan misi kerakyataan.”

Teman-teman yang lain hening, membiarkan Icow melanjutkan penjelasannya.

“Nah, di mana pimpinan yang revolusioner itu sudah memegang tampuk kekuasaan, maka segenap perusahaan dikendalikan oleh kontrol rakyat, dan dikembalikan sepenuhnya untuk rakyat. Sedangkan di sektor pertanian, tanah dikelola bersama-sama. Tidak diperjual-belikan, apalagi dikuasai tuan tanah yang mempermudaki buruh tani. Tuan tanah dan buruh tani dihapuskan. Yang ada adalah penggarapan lahan bersama-sama, atau biasa disebut bekerja secara kolektivitas.”

“Oke, terus hasil pertanian tadi dijual atau bagaimana? Atau diekspor ke luar negeri sebagai pemasukan keuangan negara?” tanya Ali semakin serius.

“Tidak!” sahut Icow tegas. Kopi diseruputnya sebelum Icow melanjutkan jawaban, “katakanlah kaum desa menggarap lahan sawah, maka hasil panen padi itu disimpan. Swasembada beras, mungkin itu lebih mudah dipahami. Kalau dulu, orang-orang bilang lumbung padi. Beras-beras itu dibagikan lagi ke masyrakat sesuai kebutuhannya. Begitu juga tanaman-tanamanan lainnya, sayur-mayur dikelola bersama dan dirasakan bersama. Maka jika begitu cara kerja suatu masyarakat, kita tidak mengenal lagi istilah miskin. Karena masyarakat kebutuhannya tercukupi.”

“Lalu gaji mereka sehari-hari dari mana? Misalnya untuk biaya pendidikan, untuk berobat ke rumah sakit, bayar-bayar yang lain, seperti bayar listrik?”

Icow tersenyum, lalu melontarkan pertanyaan balik ke Ali, “Kalau kehidupan kamu sudah terpenuhi, seperti tidak ada pembayaran SPP, gratis setiap kali ke rumah sakit, tidak ada pungutan listrik atau air. Beras, sayur-sayuran, ikan, ayam, dan sebagainya, itu diberi cuma-cuma oleh negara. Dan kamu sama sekai tidak butuh berbelanja sesuatu, apakah kamu masih butuh gaji?”




Ali ragu menjawabnya. Diam. Icow menatap matanya yang kebingungan. Sedangkan teman-teman yang lain ikut membisu.

“Tapi, Cow, setiap orang punya kebutuhan pribadi yang berbeda?” akhirnya Ali membuka lagi suaranya.

“Kebutuhan seperti apa yang kamu maksud?” ucap Icow.

“Jalan-jalan ke luar negeri, seperti liburan misalnya.”

Icow terkekeh, “Oh, seperti itu yang kamu maksud. Liburan seperti jalan-jalan ke luar negeri itu budaya kaum hedonis. Itu tidak baik. Bukan berarti masyarakat tidak butuh refeshing, tapi bisa memanfaatkan transportasi gratis yang diberikan negara. Dari ujung Indonesia bagian barat sampai timur, penginapan, semua gratis. Sedangkan kalau makan tinggal mengunjungi setiap daerah yang menyediakan makanan,” lanjut Icow lagi, “hanya saja sebelum jauh berbicara yang demikian itu, masyarakat harus menjalankan hal-hal pokok dahulu. Jalan-jalan, liburan, itu hanya bonus dalam kehidupan bermasyarakat sosial.”

“Oke, lalu bagaimana dengan masyarakat Muslim yang ke luar negeri untuk menunaikan ibadah haji? Sebab haji merupakan rukun Islam bagi umat Muslim?” tanya Ali lagi.

“Itu merupakan hak warga Muslim dalam hal beragama. Pastinya negara menanggung segala kebutuhan pokok masyarakat Muslim.”

“Kamu tahu pasti biaya haji itu mahal. Dan coba bandingkan dengan warga Muslim di Indonesia?”

“Perekomian negara tidak boleh lemah. Hak warga juga harus dikabulkan. Maka negara harus selektif memberangkat para calon haji ke Mekkah?” jawab Icow singkat.

“Kamu yakin Indonesia bisa seperti yang kamu ucapkan tadi?” tanya Ali ragu-ragu.

“Yakin,” sambung Icow kemudian, “peradaban negara tidak serta merta berubah. Seperti membalikkan telapak tangan, namun harus dicicil perlahan-lahan. Perjuangan itu terus berlanjut, sampai ke anak-cucu. Tongkat estapet perjuangan rakyat harus bergerak sampai ke istana.”

Ali terdiam. Yang lain juga ikut terdiam.

“Kamu sendiri tidak yakin?”

“Ya, aku tidak yakin,” Ali menggeleng.

Icow tertawa pelan, “Kamu tidak yakin karena kamu tidak ikut berjuang di tengah-tengah masyarakat. Kalau kamu berjuang bersama mereka, ada rasa optimis besar yang selalu menguatkanmu. Percayalah! Keyakinan itu bisa tumbuh di saat manusia bergerak, bukan berdiam diri, seperti orang dungu.”

Ali langsung meninju pelan perut Icow. Tersinggung.

“Hahaha. Ini kenyataan. Orang cerdas, otak dan tubuhnya bergerak, bekerja, kan?” tanya Icow dengan nada bercanda.

“Iya, sih.”

“Nah, tuh, kamu ngaku,” Icow tertawa lagi.

Hari sudah terik, pukul sepuluh. Mata kuliah kedua sudah memanggil tujuh sahabat tersebut. Pati tampak malas menggerakkan tubuhnya mengikuti teman-temannya yang berduyun-duyung menuju kelas.

“Daripada dengar ocehan dosen, mending aku dengar kamu bercerita, Cow,” kata Pati.

Icow tertawa. Menarik paksa tubuh Pati yang berat.

***

Ibu Anata terbaring lemah di kasur. Suaranya berat setiap kali memanggil putrinya. Sudah beberapa hari pula selera makannya berkurang. Nasi di piring tak pernah habis. Mbah Anata juga selalu membujuk agar perutnya diisi, barang sedikit saja. Tapi Ibu Anata bersikeras. Tidak mau makan.

“Satu suapan lagi, ya, Bu?” Anata Memohon.

Ibu Anata hanya menggeleng. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar.




“Baiklah, kalau begitu teh hangat saja,” Anata membantu mengangkat leher ibunya, “istirahatlah.”

Ibu Anata mengerjapkan matanya. Tersenyum melihat putrinya.

“Anata sayang ibu,” ucap Anata. Suaranya parau. Ia kecup kening ibunya begitu lama, air mata Anata merembes di kening ibunya, “Anata tidak mau ibu kenapa-napa.”

Mbah Anata tak kuasa. Sesenggukan. Menangis, sembari mengelap air matanya yang terus bercucuran dengan sapu tangan.

“Ibu tidak apa-apa,” kata Ibunya terbata-bata. Ia mencoba menenangkan anaknya. Mencoba tersenyum, “Kamu sudah punya pacar di Bandung?”

Ragu-ragu Anata merespon pertanyaan itu. Antara menggeleng dan mengangguk, “Nggak ada. Eh, ada ding.”

Ibu Anata tersenyum lebar, “Ada atau tidak?”

“Ada, sih, yang dekatin Anata. Dia juga sudah nembak Anata.”

“Lalu?”

“Belum Anata jawab.”

Ibu Anata mengangguk, “Almarhum kakakmu pernah suka dengan Icow. Setiap kali teleponan dia tak pernah lupa menceritakan Icow ke ibu. Ibu tanya apakah dia suka sama Icow, dia hanya cengar-cengir tidak karuan dari seberang telepon. Oh, ibu tahu, itu tanda-tanda perempuan jatuh cinta. Tapi dia tidak berani mengucapkannya,” Ibu Anata terdiam. Beberapa detik kemudian melanjutkan ucapannya, “entah sampai kapan perempuan hanya menunggu pertanyaan dari laki-laki. Kenapa tidak perempuan saja yang berani mengatakan cinta ke lelaki yang dicintainya?”

Anata membiarkan ibunya terus bercerita. Mungkin dengan bercerita ibunya tampak lebih sehat, meskipun di sela-sela ucapannya tersendat. Sulit mengucapkan kata-kata selanjutnya.

“Icow anak yang baik. Tatapan anak itu tajam, penuh ketangguhan, kejujuran, dan kebaikan terpancar dari sorot matanya. Dengan orangtua dia juga sopan. Tahu betul sopan-santun. Ibu kadang tak percaya jika Ana mengadu tentang Icow yang melawan dosen,” Ibu Anata mengambil napas sejenak, lanjut dia lagi, “ibu senang dengan Icow. Kalau boleh ibu meminta sesuatu denganmu, dan kamu menyetujuinya. Ibu ingin melihatmu suatu hari nanti menikah dengan Icow.”

Anata terbatuk-batuk mendengar permintaan ibunya yang terasa ganjil.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa, Bu.”

“Itu hanya permintaan. Kalau kamu tidak setuju juga tidak apa-apa. Dengan laki-laki siapapun yang kamu cintai, ibu akan merestuinya,” senyum Ibu Anata merekah.

“Bukan, bukan itu, sih, maksud Anata.” Anata tampak salah tingkah.

Bersambung… [Asmarainjogja.id]

Baca cerita sebelumnya:

Raja Gombal di Bukit Bintang



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas