Ilustrasi Mafia | Foto by Wikia

Oleh: Asmara Dewo

Negeri kita subur bukan hanya alamnya saja, tapi orang-orangnya juga subur, khususnya orang-orang bermental mafia. Di luar negeri para mafia dimusuhi, dimusnahkan, dan benar-benar dibumihanguskan, meskipun mafia ini terus regenerasi. Tapi setidaknya pendekar keadilan mereka berupaya sungguh-sungguh memeranginya.

Di Jepang ada Yakuza, di Hongkong ada Triad, gangster kelas berat yang mendunia tersebut sampai detik ini terus diperangi. Rakyanya memberikan dukungan penuh kepada pemerintahnya untuk memusnahkan bandit-bandit yang merugikan negara. Rakyatnya sadar betul ketika negara rugi, itu artinya semua rakyat yang menanggung, meskipun bayi yang ada di dalam janin.

Lalu bagaimana dengan negara kita sendiri, Indonesia tercintahhh, (kata Syahrini)? Kalau di Jepang dan Hongkong, mafianya jelas, bisnisnya jelas, orang-orangnya juga jelas. Sedangkan di Indonesia, mereka ini abu-abu, tidak jelas, makhluk absurdnya yang nyata. Kadang bisa berwajah malaikat, didukung penuh banyak pengikutnya, berbicara lantang nasionalisme, bahkan menjabat di bagian terpenting bagian pemerintahan. Tapi sejatinya dia adalah mafia.

Sebenarnya mafia di Indonesia ini banyak sekali, tak hanya ada di pinggang, punggung, kepala pemerintahan saja, tapi juga ada di bagian luang lingkup terkecil di tengah masyarakat. Mungkin Anda pernah mendengar istilah mafia minyak? Atau juga mafia kayu? Bagaimana mungkin mafia-mafia kelas teri ini bisa terus melanjutkan bisnis haramnya kalau tidak ada backingnya? Andai saja pendekar keadilan kita , mulai dari kecamatan, kabupaten, kota, provinsi, serius ingin membasmi mafia kecil ini, ya, gampang saja.

Hijab

Tidak usah bicara mafia e-KTP, mafia kecil saja tidak bisa ditangani? Sampai sekarang apakah kita pernah mendengar bos mafia narkoba tertangkap? Tidak pernah?! Yang ditangkap keroco-keroconya, alias keset kaki si bos. Masih ingat kasus Freddy Budiman, kaki tangan mafia narkoba yang pernah berkicau sebelum mati? Untuk memuluskan bisnis haram itu ia menyogok sampai milyaran ke oknum aparatur negara. Yang disuap bukan oknum kelas teri, tapi kelas kakap.

Maka wajar bisnis narkoba tak akan pernah berakhir, bisa jadi sampai kiamat. Mimpi di siang bolong berharap generasi kita bisa selamat dari narkoba, kalau penegak hukumnya sendiri bermain di belakang panggung. Dan setelah Freddy Budiman dieksekusi mati, cuapan yang sempat menggemparkan negeri ini pun menguap begitu saja.   Itulah Indonesia, negeri para mafia. Hanya anak buah alias si keset kaki yang ditumbalkan untuk membuat nama harum.

Itu mafia yang benar-benar jelas, nah, mafia absurd di pemerintahan jauh lebih sulit mengungkapnnya? Apakah ada kasus besar yang merugikan negara diusut sampai tuntas? Tidak ada?! Aparatur negara yang benar-benar ingin mengungkapkan kasusnya selalu dihalangi, baik secara langsung, maupun tak langsung.

Di negara kita Indonesia, negerinya para mafia ini, lembaga apa lagi yang bisa dipercaya selain KPK? Tidak ada?! Itu pun KPK terus dihantam bertubi-tubi dari kanan-kiri, depan-belakang. Bisa jadi kalau si mafia ini penguasa tertinggi dia akan membubarkan KPK.

Lihatlah penyidik senior KPK, Novel Baswedan, pendekar keadilan ini harus menerima konsekuensinya sebagai pemberantas mafia? Nyaris, mata beliau hampir buta karena disiram air keras. Setelah 100 hari lebih, pelaku penyiraman air keras itu pun sampai detik ini belum ada titik terang. Bayangkan, petugas yang membela negara, yang membela uang rakyat dari tangan perampok (mafia), begitu menderitanya saat menjalankan tugas?

Anehnya, kasus-kasus seperti teroris begitu mudah diusut, dalam tempo 3 bulan saja sang teroris pun tertangkap. Tapi kenapa kasus penyiraman Novel Baswedan tidak bisa diselesaikan juga? Jangan heran karena negara kita memang negaranya mafia. Siapa saja yang bergabung di jaringan mafia akan selamat, kalau berseberangan, siap-siap   menunggu giliran yang akan dimusnahkan.

Mengerikan sekali negeri ini. Omong kosong kalau negara kita disebut negara hukum, karena hukum itu sendiri permainannya para mafia.

Saat ini ada 2 kasus besar yang ditangani KPK? 1. Kasus BLBI yan merugikan negara sebesar 3,7 triliun, dan 2. Kasus E-KTP yang merugikan negara sebesar 2,3 triliun. Itu uang banyak sekali, dan tentu saja itu adalah uangnya seluruh rakyat Indonesia. Nah, ketika ada aparatur negara yang ingin menyelamatkan uang dari tangan mafia, nasibnya sekarang begitu tragis. Untung saja semangat beliau memerangi para mafia tak pernah goyah, bahkan semakin semangat untuk terus berjuang demi menyelamatkan uang rakyat.

Apakah Anda sudah mendengar saksi kunci kasus mega e-KTP yang diduga bunuh diri di Amerika Serikat? Berdasarkan keterangan saat ini Johannes Marliem menembakkan kepalanya sendiri dengan pistol. Apakah benar ia bunuh diri? Sementara ia adalah saksi kunci yang akan membeberkan kasus e-KTP dengan bukti-bukti yang diimiliknya. Meski begitu KPK terus bekerja untuk menyelesaikan kasus ini sebaik-baiknya.

Di Indonesia menjadi orang baik, jujur, berprinsip, menjalankan amanah negara ternyata taruhannya nyawa, dan itu dicelakai oleh saudara sebangsanya sendiri, yakni saudara bergelar mafia. Mengerikan. Jangan berharap besar kepada penegak hukum lain di negeri mafia ini, karena bisa jadi orangnya itu-itu juga. [Asmarainjogja.id]

Baca juga:

Hati-hati Minum Obat Tidur Bisa Ditangkap Polisi 

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas