Ilustrasi salesman| Foto Istockfoto

Asmarainjogja.id – Kerbau kalau belum dipecut tidak bergerak membajak sawah, tega atau tidak  Pak Tani pun terpaksa memecut si kerbau. Memang kasihan kalau kita tidak biasa melihatnya, namun lebih kasihan lagi kalau Pak Tani tidak bisa makan karena tak ada sawah yang bisa di panen 3 bulan kemudian.

Keterpaksaan dan kesakitan bisa memaksa hewan untuk bekerja sesuai harapan si tuan, dan ternyata manusia pun demikian. Contohnya saja orang yang kelaparan belum makan seharian rela melakukan apa saja untuk mengisi perutnya. Sampai orang gila pun kalau sudah kelaparan mengorek sampah mencari sisa makanan. Semua itu dilakukan hanya demi bertahan hidup.

Tahukah Anda manusia yang tidak produktif itu terkadang karena tidak ada keterpaksaan. Misalnya saja seorang sarjana yang menganggur di rumah, tidak ada kegiatannya selain tidur-tiduran atau bermain-main seharian. Kalau dia lapar tinggal ke dapur, tidak punya uang tinggal minta sama orangtua, kakak, atau siapapun yang bisa ‘ditanduknya’. Begitu saja bertahun-tahun, kalau ditanya kenapa tidak kerja, jawabnya, “Belum ada yang pas kerjaannya”.

Wuihhh… elit benar, kan, alasannya? Memangnya si doi seorang profesional apa? Padahal zaman sekarang itu kalau mau kerja tidak harus sesuai disiplin ilmu. Cukup banyak sarjana yang bekerja tidak sesuai gelarnya, sarjana hukum jadi seorang marketer, atau sarjana IT jadi supervisor restoran. Jika dihubung-hubungkan sebenarnya tidak nyambung, bahkan bisa jadi tidak pernah dipelajarinya di kampus dulu. Dan faktanya adalah sulitnya mencari pekerjaan membuat seseorang itu harus bisa beradapatasi dengan hal-hal baru.

Itu kalau memang niat bekerja, tapi kalau tidak niat, ya, memang susah, kalaupun ada lowongan kerja sesuai bidangnya, eh, ternyata tidak diterima. Tahu penyebabnya apa? Biasanya pihak perusahaan itu merekrut orang-orang yang sudah berpengalaman, jadi sarjana pengangguran tadi karena tidak punya pengalaman kerja maka lamarannya ditolak. Sakit memang ditolak dari lamaran kerja. Biar tidak terlalu kecewa, coba, deh, kita menilai itu dari sudut pandang perusahaan?

Misalnya ada 2 pelamar kerja, yang pertama sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan sebelumnya, sedangkan yang kedua sama sekali tidak punya pengalaman kerja. Jika yang kedua tadi diterima, pihak perusahaan akan melatihnya terlebih dahulu dari awal, dan itu tentu saja membutuhkan waktu yang lama. Sementara dunia bisnis tidak mau yang lama-lama. Jika pelamar sudah punya pengalaman, ngapain juga harus repot-repot memilih pelamar yang non-skill? Tidak punya pengalaman kerja sama saja tidak ber-skill.

Misalnya Anda sebagai bos di perusahaan tidak mau rugi waktu, dana, dan menaggung risiko, bukan? Sama halnya dengan perusahaan yang menolak pelamar kerja yang tidak punya pengalaman kerja. Anda yang mungkin lamarannya berkali-kali ditolak, jangan sakit hati, cobalah berbesar hati dan sadar diri. Cari kekurangan sendiri, jangan suka menyalahkan orang lain, perusahaan, atau siapapun yang sering dijadikan kambing hitam. Biasanya orang yang selalu menyalahkan orang lain adalah orang yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, jadi dia kerap mencari pembenaran dengan menyalahkan orang lain. Hal ini sering terjadi pada jiwa-jiwa pengangguran.

Jadi bagaimana sebaiknya? Jika pertanyaan ini sudah muncul di pikirannya, maka selangkah sudah maju. Sebenarnya jawabannya sangat mudah, jika Anda saat ini sudah bertahun-tahun bergelar sarjana pengangguran, maka cobal hilangkan gengsi Anda. Caranya adalah ‘buang’ semua atribut kesarjanaan, kesombongan, dan sok kaya. Jika 3 hal ini sudah dihilangkan, maka langkah kaki Anda akan enteng untuk siap bekerja di bidang apapun. Misalnya saja ada pekerjaan menjadi salesman, tidak ada salahnya untuk dicoba. Biasanya untuk menjadi salesman ijazah SMA masih berlaku.

Sebagian orang menganggap bekerja menjadi seorang marketer itu tidak elit, apalagi produk yang dijual tidak berkelas, seperti obat-obatan yang aneh-aneh, atau produk elektronik cina yang tidak populer di negara kita. Jika Anda berpikiran sama, maka buang jauh-jauh penilain buruk seperti itu. Perlu diinggat! Perusahaan bertaraf Internasional pun butuh seorang marketer. Bahkan marketer itu adalah ujung tombaknya perusahaan. Meniadakan marketer sama saja dengan tidak siap untuk memasarkan produk di tengah masyarakat luas.

Sebab itulah tidak ada salahnya jika Anda mengawali karir melalui bidang marketing. Soal gaji sebenarnya tidak bisa disepelekan, selain punya gaji pokok, juga ada tambahan bonus sesuai produk yang terjual. Bahkan jika target tercapai bisa dapat bonus yang lebih besar lagi. Kalau dihitung-hitung sebenarnya bonus-bonus dari hasil penjualan produk bisa lebih besar dari gaji pokoknya.

Mereka yang notabenenya seorang marketer betah di posisi ini karena penghasilannya cukup bagus. Jauh berbeda dengan karyawan biasa yang gajinya tetap. Marketer semakin banyak hasil penjualannya  maka semakin besar pula gajinya setiap bulan. Bahkan ada yang bisa mendapat uang masuk setiap harinya. Keren, ya, seorang marketer itu? Keren dong pastinya.

Apakah Anda sepakat semakin luas pergaulan maka rezeki pun semakin mudah didapatkan? Jika sepakat, maka sesungguhnya marketer itu pergaulannya sangat luas, tidak ada istilah pandang bulu baginya, semua yang berpotensi membeli produknya dirangkul. Tak heranlah marketer itu punya kenalan di mana-mana, dari ujung ke ujung kenal siapa dia. Keuntungannya adalah semakin dikenal banyak orang peluang direkomendasikan pun terbentang luas.

Nah, jika Anda suatu hari nanti sudah bosan bekerja, ilmu marketing itu juga bisa diterapkan di kemudian hari. Bisa jadi Anda memulai bisnis baru, karena sudah bosan digaji orang, maka Anda pun mendirikan bisnis kecil-kecilan. Di sinilah betapa maha pentingnya ilmu marketing yang selama ini Anda lakukan, sekarang saatnya mengeluarkan jurus marketing untuk usaha sendiri. Pada dasarnya ilmu marketing itu sama saja, yakni menguasai cara ampuh menjual produk ke konsumen. Jika Anda ketika bekerja dulu menjadi marketer mobil, tak jauh berbeda dengan Anda yang saat ini (mungkin) berjualan sembako. Sama-sama menerapkan ilmu cepat laku.

Bagaimana, berani menjadi seorang marketer? Siap untuk melepaskan jubah pengangguran selama ini? Ayolah, jangan terbiasa manja, mungkin saat ini keluarga Anda masih sanggup membiayai kebutuhan Anda, tapi siapa yang berani jamin di tahun depan, 2 tahun kemudian, atau 3 tahun yang akan datang. Pecut diri Anda agar melangkah seperti kerbau, jika tak bergerak juga biarkan diri Anda kelaparan di perantauan, biar pintar mencari makan. [Asmara Dewo]a

 

Baca juga:

Jangan Jadi Pebisnis Online yang Katrok

Inilah Pentingnya Nama Brand dalam Bisnis

Ramadhan, Bulan yang Tepat Memulai Jualan

Lima Cara Ini yang Menaikkan Omzet Bisnis Saya



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas