Khaira | Foto Ilustrasi, Lovesick Lullabies, Flickr

Guntur menggelegar dengan hebatnya, sesekali kilat menyambar-nyambar terangi beberapa detik gelapnya malam. Hujan tiada henti sejak sore tadi, padahal ini bukan di musim penghujan.

Reranting berpatahan, daun-daun yang berserakan jatuh dari dahannya pun terhanyut air yang meluap di halaman rumah. Pohon di jalan tepat di depan rumah itu tumbang, para satgas taman kota tampak sibuk menyingkirkan pohon besar yang melintang itu.

Para sahabat Khaira baru saja pulang meninggalkan rumah yang diselimuti duka, hampir setiap tiga hari sekali mereka mengunjungi Khaira. Membawa makanan kesukaannya, menghiburnya, dan bergurau agar Khaira bisa tertawa dan tersenyum. Sulit sekali menggelitik agar gadis berusia 22 tahun itu bisa ceria seperti dulu, tertawa renyah sambil terpingkal-pingkal bersama para karibnya.

Sejak kejadiaan nahas itu, Khaira hanya mengurung diri di kamar. Jika tiba-tiba ia mengingat nama itu, ia teriak-teriak sambil mengutuki nama lelaki yang paling dibencinya di muka bumi. Badannya kian kurus mengering, sahabat sejak kecilnya itu menyuapi agar ia mau makan. Khawatir jika terus keadaanya seperti ini, fisiknya akan melemah, dan jatuh sakit. Setelah diajak berbicara namun yang diajak bicara hanya membisu, lelaki itu pun keluar dengan wajah lesu.

“Bapak sudah bingung, Nak, bagaimana agar Khaira bisa normal kembali. Berbagai cara dari keluarga, kerabat, dan sahabatnya yang lain sudah dilakukan. Tapi tak ada juga perkembangan yang baik untuk Khaira,” lirih suara ayah Khaira mengadu pada lelaki itu. Matanya menerawang ke langit-langit rumah berharap ada cara yang yang mujarab untuk gadis semata wayangnya.

“Khaira keadaannya semakin memburuk, ia susah sekali diajak bicara. Tatapannya kosong dan hanya mengangguk jika ibu mengajaknya berbicara. Ya Allahh…. kenapa bisa seperti ini jadinya,” timpal ibu Khaira dengan suara setengah menangis.

Hening sejenak, obrolan itu berhenti, hanya ada suara hujan yang terdengar dari luar. Di ruang tamu itu ada orangtua khaira dan lelaki yang berusia 25 tahun yang sudah dianggap bagian dari anggota keluarga. Ia adalah tetangga Khaira dan juga sahabatnya sejak kecil. Denting jam sudah menunjukkan pukul dua puluh.

“Lantas dengan si Roy sendiri gimana, Pak?” tanya lelaki itu hati-hati.

Mendengar nama Roy, wajah ayah Khaira memerah, “Lelaki bejat itu memang pantas dipenjara bersama kawan-kawannya. Nggak rela bapak punya menantu punya sifat binatang seperti itu. Biarlah anak itu lahir tanpa ayah, biar bapak dan ibu yang mengasuhnya kelak.”

“Saya sendiri juga bingung, Pak, memikirkan Khaira, saat ini… dan juga masa depannya nanti. Walau bagaimana pun, Khaira masih muda, masih ada kesempatan menggapai impiannya. Dan kita memang harus mendukungnya. Bagaimana pun caranya,” kata lelaki itu tegas.

“Benar yang kamu bilang, Mam. Jangan biarkan Khaira begini terus. Kalau Khaira sedih dan menangis saja di kamar, ibu pun jadi sedih setiap harinya. Begitu juga dengan bapak, sekarang bapak sudah jarang masuk kantor. Ya, walaupun atasan kantor bapak bisa paham. Tapi kan nggak mungkin begini terus,” suara letih dari Ibu khaira jelas terdengar, kemudian katanya lagi, “Nak Imam ada cara bagaimana agar Khaira bisa percaya diri lagi, dan bisa menikmati hidup seperti anak-anak gadis lainnya?” tanya Ibu Khaira serius pada lelaki yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.

Imam diam beberapa saat untuk memulai jawabannya di depan orangtua Khaira. Apakah sudah mantap yang selama ini dipikirkannya untuk membahagiakan keluarga Khaira, juga dirinya sendiri. Sebelum ia menjawab Ayah Khairah bangkit dari kursi.

“Astagfirulahhhh… sudah jam berapa ini? Mari Buk, Mam, sholat Isya dulu kita!” Ayah Khaira bergegas ke belakang, kemudian disusul oleh istrinya juga Imam.

Panjang sekali doa yang dimohonkan oleh kedua orangtua Khaira. Terdengar pula isak tangis dari wanita berumur 42 tahun itu. Dan lelaki muda dengan wajahnya yang tenang dan cerah itu memejamkan matanya sembari menengadahkan tangannya, memohon pada Allah agar memantapkan hatinya dalam keputusan yang diambilnya.

Setelah sholat berjamaah itu mereka kembali duduk di ruang tamu, sedangkan Ibu Khaira membuat teh di dapur, yang sebelumnya memastikan putrinya baik-baik saja di kamar. Wajah ibu yang mulai menua itu kembali sedih saat menatap Khaira. Khaira yang tahu ibunya di pintu kamar, hanya mematung tanpa menoleh sedikit pun pada ibunya.

Setelah mengatur napasnya dengan baik, Imam pun menyampaikan sesuatu yang sempat tertunda tadi, “Pak, mohon maaf sebelumnya, sejak dulu keluarga kita sudah menjaga hubungan ini dengan baik, begitu juga saya dan Khaira. Kami bersahabat sejak kecil, begitu juga sampai sekarang. Khaira sendiri sudah menganggap saya seperti abangnya, begitu juga saya sebaliknya, menganggap Khaira seperti adik sendiri. Orangtua saya juga begitu sayangnya dengan Khaira, mereka pun menganggap Khaira seperti putrinya sendiri.”

Mendengar penjelasan Imam panjang lebar, Ayah Khaira begitu takzim mengikuti tutur kata lelaki yang sudah dianggap anaknya sendiri. Kemudian Imam melanjutkan maksudnya.

“Jadi, Pak, saya mohon restu dan izin Bapak untuk menikahi Khaira,” tutup Imam.

Tampak terkejut orang tua yang mulai beruban itu, seperti tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Selain terkejut, semburat kebahagiaan juga terpancar di wajahnya yang selama ini mendung.

“Apa bapak tidak salah dengar, Nak? Kamu mau menikahi Khaira?!” tanya Ayah Khaira sembari mendekatkan wajahnya pada Imam.

“Betul, Pak, saya siap menikahi Khaira,” jawab Imam dengan teguh.

Bergetar nampan yang dipegang oleh Ibu Khaira, tak kalah kagetnya ia seperti suaminya. Cepat-cepat ia meletakkan gelas berisi teh di atas meja, lalu duduk di samping suaminya.

“Sudah kamu pikirkan matang-matang, Nak? Dan bagaiman juga pendapat orangtuamu?” tanya Ibu Khaira dengan tatapan mata yang berbinar.

“Insya Allah beliau setuju, Buk. Yang jelas saya sendiri sudah memutuskan ini jauh-jauh hari sebelumnya. Lagi pula saya sudah dewasa untuk memilih jalan hidup. Saya juga tahu betul bagaiman orangtua saya, tentu beliau akan merestui niat ini pula,” tutur Imam dengan nada kebijakan.

“Alhamdulillahh…” ucap kedua orangtua Khaira serempak.

“Baiklah, Nak, tentu bapak menerimamu sebagai suami Khaira. Bagaimana? Ibu setuju juga, kan?” Ayah Khaira melirik istrinya. Kemudian istrinya dengan wajah terharu mengangguk.  

“Kalau begitu, mari, Nak, kita sampaikan kabar gembira ini pada Khaira,” Ibu Khaira bergegas menarik tangan suaminya, juga menyuruh Imam mengikutinya.

Sesampai di kamar Khaira, betapa terkejutnya mereka. Tubuh putih Khaira bersimbah darah di atas kasurnya. Nadi tangan kirinya nyaris putus, dan tangan kanannya tergeletak memegang sebilah silet yang begitu tajam. Sontak Ibu Khaira menjerit mengejar putri semata wayangnya. Ayah dan Imam juga panik mengejar Khaira yang nyawanya sudah di ujung tanduk. Bergegas pula Imam langsung menggendong Khaira ke mobil.

“Kita harus bawa Khaira ke rumah sakit!” teriak Imam.

Orangtua Khaira mengikuti Imam dari belakang. Beberapa detik kemudian, mobil dinas Ayah Khaira sudah menembus jalan kota yang diguyur hujan dengan lebatnya. Imam memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi dan hati-hati.

***

Tiga hari kemudian Khaira sudah sadar, ia mulai bisa tersenyum dan berbicara dengan nada lemah. Selama itu pula Imam di sisi Khaira, tak pernah absen menemani keluarga ini. Di saat itu pula ada orangtua Imam yang sedang serius membicarakan niat Imam untuk memperistri Khaira.

“Mau tambah lagi?” tanya  Imam setelah menyuapi sarapan Khaira di pagi itu.

Khaira menggeleng.

“Hmmm… baiklah,” Imam meletakkan mangkuk berisi sup jangung itu di nampan, kemudian ia duduk lagi di samping Khaira.

“Khaira kamu harus seperti ini terus, selalu tersenyum, dan ceria menyambut pagi yang cerah ini. Kamu ingatkan sewaktu kita masih kecil, setiap hari Minggu kita menunggu matahari dengan cahayanya yang lembut itu di halaman rumah kita? Waktu itu kamu mengembangkan kedua tangan sambil berlari-lari mengejar arah matahari terbit. Ingat kamu?” cerita Imam mengulang kisah kecil mereka.

“Iya, aku ingat,” jawab Khaira dengan senyumnya yang manis.

Sinar mentari pagi itu menembus jendela kaca rumah sakit. Wajah Khaira yang semakin cerah sebab terbasuh sinar mentari pagi menambah keelokan wajahnya. Pipinya yang selalu merah semakin jelas, dan membuat gemas bagi siapa saja yang memandangnya. Ia tersenyum, ada rasa kebahagiaan yang kini timbul pada dirinya, setelah beberapa bulan terkahir, derita menyelimuti hari-harinya.

“Oh ya, apa ibu sudah bilang sama kamu? Bahwa kita akan…” tak sempat Imam meneruskan kalimatnya, Khaira mengangguk dengan lekukan senyum yang menawan.

“Kamu bersedia?” tanya Imam lagi.

Khaira menggangguk lagi, lalu ia balik tanya, “Sungguh Abang ingin menikahiku? Bisa mencintai dengan segala kekuranganku? Dan yakin tidak menyesal di kemudian hari?”

Deretan pertanyaan itu dijawab dengan tenang dan penuh wibawa oleh Imam, “Ya, betul Khaira, aku akan menikahi kamu. Dan insya Allah aku bisa mencintaimu dengan tulus dan ikhlas karena Lillahi taala.”

Khaira menghela napas panjang, dan ia rebahkan lagi kepalanya di bantal. Senyuman dan keceriaan di wajah Khaira kini diintip sang mentari yang kian merangkak naik.[asmarainjogja.id]

Penulis:  Asmara Dewo


Baca juga cerpen lainnya:  Karena Roya 

Menunggu Alam di Malioboro

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas