Jakarta Belum Berakhir | Foto Indeksberita

Oleh: Asmara Dewo

Ibu Kota menjanjikan sebuah harapan, ibu kota adalah perubahan nasib, ibu kota adalah surganya mengais rezeki, begitulah yang ada di benak sepasang suami istri yang sudah menjejakkan kakinya di Jakarta selama lima tahun.

Namun kini semua tinggal puing harapan, impian mereka menjadi orang yang berhasil sudah terkubur bersama reruntuhan rumah yang diluluhlantakkan dengan backhoe. Pagi tadi alat berat yang dikirim dari Pemprov DKI Jakarta bersama pasukan loreng dan pasukan malaikat seragam cokelat mengamankan bangunan liar tempat tinggal mereka.

Hanya termangu, mata basah suami istri itu menyaksikan penggusuran pemerintah untuk Jakarta lebih maju. Sejak pergantian gubernur yang baru ini, memang sering sekali terjadi pembongkaran bangunan liar di Jakarta. Bahkan terkadang pula sang gubernur itu tak ada musyawarah terhadap warga sekitar yang akan ditertibkannya.

“Mas, jadi kita mau pindah kemana?” tanya Laksmi pada suaminya, kemudian ia duduk di samping sembari menidurkan si kecil di pangkuannya.

Wirja tak menjawab, matanya memicing meneropong puing-puing reruntuhan rumah yang sudah dibangunnya sejak dua tahun silam. Ia pun berdiri mencari batang-batang broti yang bisa digunakan. Paku-paku di batang broti ia cabuti dengan palu. Kemudian ia tokok-tokok paku yang bengkok itu untuk diluruskan.

Tak hanya Wirja, tetangga sebelah yang dianggap seperti orangtua mereka sendiri pun masih tampak sibuk di reruntuhan rumahnya.

“Wir, udah jangan sedih, kan kita bisa tinggal di rumah susun, toh?” tegur Pakde Darmo dari sebelah.

Pakde Darmo satu kampung dengan Wirja, mereka sama-sama dari Yogyakarta, tepatnya di ujung sebelah Selatan Kota Pendidikan itu, Gunungkidul.

“Bingung, Pakde. Tabungan tahun lalu dibongkar untuk perbaiki rumah ini. Sekarang ya beginilah jadinya,” sahut Wirja.

Pakde Darmo lalu mendekati Wirja, ia melangkah pelan-pelan melawati batang-batang kayu yang masih tumpang tindih, triplek-triplek, papan yang sudah berpatahan, perabotan rumah yang hancur berkeping-keping sebab tak sempat diselamatkan.

“Kamu butuh uang, Wir? Pak De pinjami. Tenang… jangan pikirin pulangkannya. Yang penting kamu bisa jualan lagi,” ucap Pakde Darmo sambil menepuk pelan pundak Wirja.

“Tapi kan nggak bisa jualan di rumah susun, toh, Pak De,” jawab Wirja. Ia memasukkan paku-paku yang tadi ia luruskan di kantong plastik, “menurut Pakde gimana?”

“Ya udah kamu bisa jualan keliling, kan? Buat aja gerobak di sepeda. Kamu mulai jualan somay keliling!”

Wirja terdiam sejenak, ia pandangi wajah Laksmi dan putranya yang tertidur pulas.

“Sulit Pakde, kayaknya kami mau pulang kampung aja,” lirih suara itu keluar dari mulut Wirja.

Orang tua berbadan gempal dan berambut sudah putih itu mengernyitkan dahinya, “Oh… jangan! Kamu harus bertahan di Jakarta ini. Nggak boleh nyerah gitu! Ingat lho, Wir, di kampung juga susah cari uang.”

Gunungkidul di mata orang luar memang menyuguhkan pantai-pantai yang indah, samudera biru, tebing-tebing yang menjulang tinggi, dan ombak yang begitu dahsyat dari angin selatan. Selain itu juga memiliki panorama alam yang sangat eksotis.  

Tapi siapa yang tahu… jika kabupaten tersebut merupakan kabupaten termiskin yang ada di Yogyakarta. Tanah yang tandus, sulitnya air, menjadikan warga di sana sulit berkembang untuk maju menyaingi daerah-daerah lainnya.

“Seperti yang Pakde bilang di mana pun kita menginjakkan kaki selalu ada rezeki yang keluar dari bumi. Yang penting mau berkerja keras, tetap semangat mengais rezeki, dan bantu dengan doa. Bukan begitu, Pakde?”

Pakde Darmo mengangguk-ngangguk dengan mata terpejam. Janggutnya yang putih bergoyang-goyang di dagunya. Ia betulkan kopiah putih yang sempat miring di atas kepalanya.

“Gini lho, Wir, kalau kamu balik kampung berarti kamu harus memulai hidup baru. Butuh modal lagi untuk semuanya. Kamu juga bilang, di kampung kamu juga tinggal serumah sama mbah. Nah, untuk itu semua, tentu kamu pakai uang, kan?” kata Pakde Darmo lagi, “jadi mending uang yang mau kamu bawa ke sana dijadikan modal dulu untuk jualan di sini. Insya Allah… kalau Pakde juga murah rezeki jualannya dan umur panjang bisa bantu, kalau kamu butuh uang.”

Wirja menggelengkan kepalanya, wajahnya tertunduk lesu. Ia sudah merasa malu, sebab selalu dibantu Pakde Darmo selama ini. Bahkan hutangnya enam bulan yang lalu belum terbayar. Kini mau diberi pinjaman lagi. Kapan lunasnya hutang? Begitulah pertanyaan yang selalu menghunjam ke hatinya sebelum tidur di atas bayang reot satu-satunya di kamar.

“Kan udah Pakde bilang jangan banyak mikir, apa lagi mikirin hutang. Pakde ini bantu biar kamu bisa jadi orang seneng di Jakarta. Kamu pikirin masa depan anakmu, Teguh, sekolahkan tinggi-tinggi dia nanti kalau udah besar. Biar jadi orang pintar, nggak kayak kita ini. Moga-moga nanti kalau udah besar si Teguh bisa jadi orang hebat, orang besar di Jakarta. Kalau bisa jadi gubernur di kota ini, biar orang-orang kayak kita ini nggak digusur-gusur lagi,” setelah bicara panjang lebar, Pakde Darmo tertawa kecil.

Wirja yang mendengar Pakde Darmo pun ikut tertawa pula. Tertawa karena memang lucu atau hanya tertawa karena begitu memilukan nasib yang menimpanya? Entahlah… hanya Wirja dan Tuhan saja yang tahu.

“Coba panggil Laksmi ke sini!” suruh Pakde Darmo pada Wirja.

Wirja mengangguk mengiyakan, lalu melangkahan kakinya yang tampak begitu berat ke tepi jalan.

“Pakde Darmo mau bicara serius sama kita,” ucap Wirja pada Laksmi.

Saat ibunya berdirinya Teguh menangis. Putra satu-satunya yang berumur dua tahun itu cepat-cepat Wirja gendong dari istrinya.

“Biar sama mas aja,” lalu Wirja mendiamkan anaknya, “ning nong… ning nong… ning nongggg…. Teguh…. Teguh… Teguhhh… anak ayah nggak boleh cengeng! Kalau cengeng diganggu tuyul. Ning nong… ning nong… ning nonggg.. anak ayah nggak boleh nangis! Kalau nangis didatangi genderuwo…”

Teguh yang masih kecil itu hanya tertawa melihatkan gigi geripisnya. Tangan yang mungil menjawil-jawil hidung ayahnya. Sambil berjalan menuju Pakde Darmo, Wirja bermain-main dengan anaknya. Ia tertawa-tawa saat hidungnya ditarik-tarik oleh teguh. Selain Laksmi selama ini yang menyemangati hidup di Jakarta, Teguh pula satu-satunya alasan bagi Wirja tetap bertahan di kehidupan kerasnya ibu kota.

Seperti yang pernah dijanjikan pada Laksmi setahun yang lalu, “Teguh nasibnya nggak boleh kayak kita. Keluarga ini harus bisa berubah.”

“Iya, pakde,” sapa Laksmi pada Pakde Darmo. Sepasang suami-istri itu duduk di depan orang tua yang selalu berwajah ceria.

“Begini Laksmi, udah Pakde nasihatkan sama suamimu, jangan balik kampung. Pakde juga bersedia bantu modal yang kalian butuhkan. Jadi nanti Wirja bisa jualan keliling. Kalau kamu nggak keberatan bisa juga bantu-bantu bukde di pasar. Teguh juga dibawa sekalian, nggak apa-apa. Gimana…. Laksmi, mau, kan?”

Laksmi tak langsung menjawab, ekor matanya melirik Wirja. Sebagai seorang istri, Laksmi memang wanita yang selalu menurut apa kata Wirja. Tak pernah membantah perintah suaminya, apalagi berani melawan apa yang sudah ditetapkan oleh Wirja. Jika ada sesuatu yang menurutnya tidak benar, dengan lembut ia menegur suaminya.

Begitulah sosok Laksmi yang hanya tamatan SD itu sebagai seorang istri terhadap suaminya yang berpendidikan tak kalah rendahnya. Meski begitu, sepasang suami istri itu bertekad untuk menyekolahkan anaknya sampai setinggi-tingginya.

Ucap Laksmi suatu ketika pada Wirja, “Mas, Teguh nanti kita kuliahkan di mana? Tapi kalau bisa jangan di Jakarta, bagusnya di Yogyakarta aja. Di UGM itu bagus, kan, Mas?”

“Terserah sama Teguh aja, di UGM bagus. Yang penting kuliah,” jawab Wirja ketika itu.

“Gimana, Laksmi, mau, kan?” desak Pakde Darmo.

“Terserah, Mas Wirja aja, Pakde,” Laksmi lagi-lagi melirik suaminya.

“Nah, itu artinya Wirja, Laksmi setuju. Sekarang kembali ke kamunya?” tatapan Pakde Darmo mengarah ke Wirja.

Setelah beberapa detik hening, Wirja pun mengangguk. Ia menciumi Teguh, dan merangkul Laksmi. Lalu mencium tangan Pakde Darmo.

“Terimakasih banyak, Pakde, terimakasih…” ujar Wirja. Begitu juga Laksmi , ia mencium punggung tangan Pakde yang sudah dianggapnya sebagai sosok pengganti ayahnya.

“Udah… udah.. jangan berlebihan. Yang jelas sekarang, di Jakarta ini kalian belum berakhir. Masih ada kesempatan untuk jadi orang berhasil,” Pakde Darmo menyemangati suami istri tersebut. Teguh yang tidak tahu apa yang terjadi hanya menyeringai, sesekali ia tertawa. [Asmarainjogja.id]

Baca juga:  Jurang Keluarga

                  Cinta ayah



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas