Pernikahan Liza (Ilustrasi) | Foto Flickr

“Sepertinya ini belum berakhir, baiklah, aku kasi kamu kesempatan lagi bicara dengannya,” Reno menarik pelan tangan Liza keluar dari riuh pesta pernikahannya.

“Aku nggak ngerti maksud kamu!” Liza berusaha mengelak. Ia takut jika suaminya akan marah dan membuat kacau suasana pesta malam itu. Padahal tadi pagi ia bersumpah untuk tidak menghianati cinta suci mereka di depan para wali.

Wajah Reno tampak tenang, walaupun di hatinya ada rasa geram yang luar biasa. Langkah kaki mereka berhenti di kolam renang. Tidak ada seorang pun berada di kolam renang itu, sepi, bahkan alunan musik pesta, hanya terdengar samar-samar.

“Maksud kamu apa membawa aku ke sini, Reno?” tanya Liza sambil merapikan  gaun putih pengantinnya.  Liza belum mengerti juga apa maksud suaminya tersebut.

Reno diam sejenak, ia menghela napas panjang. Kakinya melangkah mondir-mandir di depan Liza. Sesekali ia memegang dahinya, kemudian matanya menatap kosong air kolam renang berwarna biru itu. Mereka diam. Tak ada suara dari kedua sejoli itu, hanya suara jangkrik yang terdengar.

“Maafkan aku kalau masih ada ucapan atau tindakanku yang salah,” ujar Liza dengan suara lemah di depan suaminya, “bicaralah jika ada yang memang harus kamu sampaikan!” lalu Liza memegang tangan suaminya begitu erat.

“Aku bingung harus memulainya dari mana? Atau ini perasaanku saja,” pria berwajah tenang itu mencoba membuka suaranya sejak ia diam beberapa menit yang lalu, “tttapi… tapi… ini benar-benar yang aku takutkan suatu hari nanti.”

Reno mencoba menerka-nerka hati istrinya. Apakah masih ada rasa cinta Liza pada Dimas? Saat melihat binar mata istrinya menatap Dimas, dan Dimas pun membalas tatapan Liza, tampak ada binar mata yang berbeda. Di saat itu juga, buliran bening dari Mata Liza menetes yang langsung ia hapus dengan cepat. Hanya Reno yang tahu itu. Sementara Dimas sendiri tak sempat memberi ucapan atau menyalami kedua pengantin tersebut, ia sudah berlalu dan bergabung dengan teman-temannya.

“Aku tidak pernah memaksa kamu untuk menjadi istriku, Liza. Dan tak pernah juga untuk merayu keluargamu, agar kita bisa menjadi suami-istri. Tidak! Tidak pernah, Liza!” dengus napas Reno mulai menggebu, “jadi tolong hargai aku sebagi suamimu dan keluarga besarku, juga keluargamu!”

“Aku tidak mengerti, maksud kamu apa?” tangan yang ia genggam begitu erat Liza lepaskan seketika.

“Baik… baik, kamu tunggu di sini! Biar aku panggil Dimas. Kalian bicaralah secara terbuka di sini! Dan kamu tenang saja! Aku tidak akan mencampuri urusan kalian berdua. Ya, walaupun kini aku menjadi suamimu. Tapi tidak mengapa, karena aku tidak bisa mencintai wanita yang masih belum seutuhnya mencintaiku,” Reno kembali masuk.

“Reno! Reno!” teriak Liza, sementara suaminya sudah berlalu dengan langkah terburu-buru.  

“Ya Tuhan.. kenapa bisa seperti ini? Tolong ya Allah… berikanlah yang tebaik bagi kami semua,” desah Liza, matanya tertutup dengan wajah menengadah ke langit bertabur bintang.

Dimas seorang pria yang tak bisa luput dari bayangan Liza. Sekalipun kini Liza sudah menjadi istri orang lain. Seorang sahabat sejak kecil, juga seorang pria yang selalu ada saat Liza dalam keadaan duka maupun bahagia. Perasaan cinta dan kasih sayang itu telah lama bersemai di hati mereka, hanya saja kata cinta tak pernah terucap dari bibir kedua anak manusia itu.

Almarhum ayah Liza hanya menyadari Dimas adalah sosok pelindung bagi Liza. Keberadaan Dimas di tengah keluarga Liza sudah seperti abang kandung Liza sendiri. Namun, siapa sangka jika anggapan keberadaan Dimas di tengah keluarga itu bukan malah menyatukan cinta mereka, namun memisahkan dan menyakitkan hati satu sama lain.

Niat tulus Dimas belum sempat disampaikan pada almarhum ayah Liza, sementara wasiat almarhum telah diumumkan pada keluarga agar Liza segera dinikahkan oleh kerabat terdekat sendiri. Dengan Reno yang tak lain adalah sepupu dari anak bibi Liza.

“Bukankah ini sudah kita bicarakan, Reno?! Dan aku sudah menerima ini semua, kan? Lalu kurang apa lagi aku?!” rentetan pertanyaan terlontar dari Dimas. Langkah kaki mereka berderap mendekati Liza.

“Nah, sekarang silahkan kalian putuskan kembali keputusan yang kemarin! Mungkin ada yang menyesal atau bagaimana? Ya, aku tidak tahu. Yang jelas, aku akan menerima keputusan kalian untuk terakhir kalinya malam ini,” kata Reno, matanya menyipit menatap mata Dimas dan Liza, katanya lagi, “oh ya, jangan khawatir! Kita di sini bukan anak-anak lagi, yang main tebak-tebakan, harus jelas dan berakhir. Oke silahkan bicara! Dan aku menunggu kalian di sana.”

Liza berusaha menarik lengan Reno namun tangan suaminya sudah menepiskannya dengan cepat. Dan Dimas sendiri hanya mematung, serba salah ingin berbicara atau melakukan apa. Tentu saja kejadian ini tidak mengenakkan hatinya, juga Liza dan Reno.

“Oke, kalau itu mau kamu!” teriak Liza dari kejauhan. Reno yang mendengar hanya menyeringai.

“Maafkan aku, Dimas! Aku sudah menjadi wanita yang paling bodoh di dunia ini. Aaaku… aku.. sudah bingung harus bagaimana lagi? Adalah kesalahan terbesar bagiku, kenapa aku harus memendam perasaan ini padamu,” lirih suara Liza yang dipaksa keluar dari tenggorokannya.

“Dengarlah, Liza, nggak ada yang salah atas ini semua. Aku juga bodoh nggak bisa berkata jujur bahwa aku mencintai kamu. Tapi apakah harus dengan ungkapan cinta kita bisa mengerti perasaan kita masing-masing? Tentu nggak, kan? Nah, jalan kisah kita sudah diukir oleh Sang Maha Cinta seperti ini. Aku juga bukan pria yang kuat, harus merelakan wanita yang dicintai menikah dengan pria lain, tapi mau gimana lagi? Nggak mungkin juga harus teriak-teriak, marah-marah, atau mencari orang untuk dipersalahakan, apa lagi aku harus berlari menjauhi kenyataan yang  sebenarnya. Nggak bisa, Liza! Sungguh aku juga nggak kuat! Aku lemah…” kata Dimas berusaha menenangkan Liza.

Dimas kemudian melirik ke arah Reno. Di seberang kolam renang itu Reno merokok dengan tergesa-gesa. Kepulan asap dari rokoknya menutupi mukanya yang selalu tampak tenang. Tenang? Di luar mungkin iya, namun di hati siapa yang tahu? Hanya anak manusia itu sendirilah yang tahu benar perasaan tenang, gelisah, atau cemas. Puntung rokok itu dimatikan di asbak, kemudian Reno menghidupkan rokok lagi di bibirnya.

“Lihatlah Reno, Za! Dia adalah sepupu yang baik, seorang suami yang baik pula untukmu. Dan tak mungkin juga almarhum ayah keliru memilihkan suami untuk putrinya. Tidak mungkin, Za! Yakinlah apa yang aku bilang! Aku sendiri nggak percaya bahwa pria yang ada di depanmu ini lebih baik darinya. Sudahlah! Kita terima ini semua, ya? Sebab ini adalah yang terbaik untuk kita,” lagi-lagi Dimas membujuk dan membesarkan hati Liza.

“Ini bukan masalah baik atau buruk, pantas atau nggak pantas, tapi ini menyangkut perasaan, Dimas. Ini soal pilihan hati!” bantah Liza, sambungnya lagi, “aku yakin jika almarhum juga tahu perasaan kita yang sesungguhnya, tentu ayah setuju dan merestui hubungan kita. Aku yakin betul itu, Mas.  Alamarhum nggak  mungkin tega mengabaikan pilihan putrinya, nggak mungkin!”

Dimas menggelengkan kepalanya, mata cokelatnya terpejam sejenak. Ia sisiri rambutnya yang rapi dengan jemari sambil meremas-remas kepalanya. Lalu tubuhnya membelakangi Liza, dan berjalan menjauhi sahabat wanitanya sejak kecil itu. Tiba-tiba air matanya menetes.

“Dimas, Tunggu!” Liza mengejar Dimas. Ketika Reno melihat Dimas pergi, ia pun berlari menyusulnya.

“Sudahlah, Liza! Tolong biarkan aku pergi!” Dimas memohon dengan suara parau, “semakin sakit kalau begini terus.”

“Ya, aku tahu. Aku juga sakitttt… tapi aku berusaha jujur dan apa adanya,” Liza mencegat Dimas.

Dimas tak menghiraukan sama sekali apa kata Liza, ia terus menghindarinya, dan gesit mengelabui Liza, dan berlari kecil-kecil meninggalkan wanita itu. Begitu juga dengan Reno, ia berusaha menghentikan Dimas.

“Jadilah pria jantan! Bukan jadi pria pecundang!” Reno menarik kerah kemeja Dimas, “Kamu tahu Dimas aku berusaha agar semua ini tuntas? Ini belum selesai! Kamu jangan pergi begitu saja!”

“Jangan mengajariku soal jadi pria, Reno! Kamu sendiri yang pecundang!” Dimas membalas dengan mencekik leher Reno, dasi kupu-kupu yang digenakan Reno pun terlepas. Kini mereka saling menatap buas, dengan tangan masing-masing mencekik leher lawannya.

“Kamu sendiri, kenapa tidak kamu tanyakan pada Liza, siapa pria yang dia cintai selama ini sebelum kalian menikah? Bukankah itu tindakan pria pengecut!” suara Dimas menggeram keras. Dan Reno hanya terdiam, tak membalas ucapan Dimas.

“Hentikan! Tolong hentikannn!” Liza melerai mereka, “kalian berdualah yang sesungguhnya pengecut! Puas kalian!” bentak Liza, kemudian tangisan Liza pecah.

“Cukuppppp! Jangan siksa aku lagi! Kumohon…” Liza mengerang di antara Dimas dan Reno.

Tangan mereka yang saling mencekik pun mengendor dan terlunglai lemas. Keduanya hanya saling menatap tanpa suara. Reno merapikan kembali kemeja dan jas hitamnya. Sementara Dimas mengusap-usap wajahnya. Mereka sama-sama salah tingkah, bingung harus mau bicara apa lagi.

“Kalau kalian begini terus, baiklah aku nggak memilih, dan nggak mau dipilih. Dengar kalian?! Mungkin lebih baik aku mati,” lantang suara Liza mengejutkan kedua pria di depannya.

“Liza, kamu bicara apa, sih?” Reno mendekati Liza, “maafkan aku… maaafkan aku, Liza.”

Dimas juga menyusul, “Jangan pernah kamu bilang itu lagi!”

Reno menatap kedua mata Dimas dan Liza yang beradu, buliran bening dari kedua mata mereka melelehkan hati Reno, “Bismillah…” pelan suara Reno keluar, “detik ini juga aku ceraikan kamu Liza. Ya, semoga ini keputusan yang benar kuambil, dan semoga Allah juga berkenan atas kehendakku ini.”

Sontak kaget Dimas dan Liza mendengar apa yang baru saja Reno ucapkan.

“Bukan! Bukan itu seharusnya! Jangan asal bicara kamu, Ren!” ujar Dimas.

“Nggak ada yang asal bicara, Mas, ya inilah keputusanku. Kalian saling mencintai, dan aku yang salah. Seharusnya aku bisa bijak mengetahui dan memahami Liza. Ahhh… sudahlah! Yang penting aku bisa lega sekarang,” lalu Reno tersenyum pada Liza, “kamu sepupuku, Za, aku akan tetap menyayangimu. Urusan keluarga biarlah aku yang bicara dengan mereka. Kalian tenang saja! Semua pasti beres!”

“Sungguh?! Apa aku nggak salah dengar?” tanya Liza.

Reno mengangguk, lalu mengelus kepala Liza.

“Terima kasih, Reno, terima kasih…” Liza memeluk Reno, berkali-kali ia mengucapkan rasa terima kasihnya.

Dimas tersenyum bercampur haru menatap Reno. Begitu juga Reno, ia pun memeluk Dimas, “Tolong kau jaga Liza dengan sebaik-baiknya!” bisik Reno pada Dimas.

Dimas mengangguk mantap, “Ya, aku janji. Insya Allah aku bisa menjaganya.”

Air mata Liza yang kini jatuh bukan air mata kesedihan, namun air mata kebahagiaan. Cinta yang terpendam selama ini dibuka oleh Maha Cinta. Dan kini Liza baru sadar ternyata doa-doa atas cintanya didengar.[]

Penulis:  Asmara Dewo 

Baca juga cerpen seru lainnya: Insya Allah Aku Bisa Mencintaimu 

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas