Ilustrasi guru galak | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Mau belajar apapun dalam kehidupan ini tak akan bisa mendapatkan ilmu jika memiliki sifat pembantah terhadap guru. Belajar memang sulit, apalagi belajar dari seorang guru yang begitu galak. Namun harus diingat, segalak-galaknya seorang guru tidak akan mau menyakiti muridnya. Guru galak, karena bisa jadi dia dulu belajarnya digalakin oleh gurunya.

Dalam proses belajar itu butuh kesabaran, butuh ketekunan, dan yang paling penting adalah sifat penurut harus dimiliki. Memang, tidak semua guru benar dalam mengajar, sebagai murid juga berhak untuk mengkritik dan memberi saran untuk mengingatkannya. Cara terbaiknya adalah dengan santun, mau bagaimanapun kekeliruan guru, ia tetaplah guru, dari dialah sumur ilmu pengetahuan kita timba.

Bayangkan, jika seorang guru sudah enggan mengajar, ayo pikir mau belajar dari siapa lagi coba?! Guru idealis tidak terpaku pada uang atau jabatan. Ilmu yang ia sampaikan dan dapat diamalkan oleh muridnya, itu adalah kesukesannya dalam hidup. Bagi guru mencerdaskan manusia dalam kehidupan adalah kebahagiaan sejati. Itu lebih cukup dari segudang apapun yang menghampirinya.

Tipe murid bermacam-macam, dan tipe guru hanya satu. Kalau guru yang mengikuti tipe anak bisa tidak efektif dalam belajar. Sederhananya begini, guru di dalam kelas, guru seorang diri, murid ada puluhan banyaknya. Jadi, mau tak mau muridlah yang harus memahami guru, bukan sebaliknya. Jangan jadi murid yang durhaka! Sampai kapanpun murid durhaka tidak akan pernah cerdas dan paham arti sebuah ilmu pengetahuan. Jika tidak mau berubah.

Sebagai murid, mungkin kita nakal, tidak bisa diatur, dan segala macam tingkah laku yang menyebalkan. Ya, itu wajar, sebagai murid, juga sebagai manusia yang masih memahami proses dalam pelajaran. Tapi inilah yang harus diingat, sampai kapanpun dan di manapun, jangan pernah jadi murid pembantah! Meskipun senakal-nakalnya jadi murid. Sekali saja guru merasa disakiti, ia mengajarnya sudah tidak sepenuh hati lagi. Bisa dibilang hanya menyampaikan kewajibannya saja sebagai guru.

Ilmu pengetahuan tidak melulu mengandalkan otak, tapi juga hati. Baik guru ataupun murid, itu sama saja. Biar ilmu pengetahuan kita setinggi langit, biar otak kita secerdas penemu paling fenomenal sepanjang sejarah, tapi jika tidak memiliki etika yang baik, ilmu tinggallah ilmu, hanya sebatas itu, tidak lebih dan tidak kurang. Namun sebaliknya, jika sudah cerdas, jenius tingkat dewa, ditambah pula berbudi baik, ilmu kita pun tak hanya mememengaruhi dunia, tapi memengaruhi sepanjang umat manusia dalam kehidupan ini.

Inilah artinya paduan otak dan hati dalam proses belajar-mengajar untuk sekarang, dan hari esok. Nah, membantah adalah masalah etika. Etika berarti hatinya sudah rusak. Jika hati rusak ilmu apapun yang masuk tertolak. Tak ada ilmu yang bisa diserap kalau hati sudah tidak senang. Keberhasilan dalam belajar adalah kebahagiaan. Bahagianya antara guru dan murid. Yang penting untuk diingat adalah murid harus lebih mengalah, sebab muridlah yang meminta belajar, bukan guru yang mencari murid untuk mengajar. Bersyukurlah bagi siapa saja yang sudah mendapatkan pelajaran, apapun itu. Kita harus sadar, masih banyak sekali orang-orang yang ingin belajar tapi terbendung oleh uang, waktu, ruang, dan ketidakberdayaan lainnya.

Baca juga:

Ini Manfaat yang Didadapatkan Anak Jika Menjadi Anggota OSIS

Ingat Orangtua Sebelum Belajar, Biar Wisuda Kelar!

Menumbuhkan Minat Menulis Siswa di Ekskul Sekolah

Sebagai murid, segalak-galaknya guru, itu adalah cara dia mendidik agar muridnya lebih cerdas dari dia. Kalau juga ngotot tidak menerima guru bermental seperti itu, pilihan lainnya agar tetap bisa belajar adalah mencari guru yang sesuai pada keinginanan hati. Jangan memaksa diri pada guru yang tidak disuka! Dan jangan membantah pada guru yang ada! [Asmara Dewo]

Gabung di Twitter kami:   

Video populer:

 

Video terbaru:



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas