Aksi mimbar bebas SMI Komisariat Univ. Widya Mataram | Foto SMI Komsat UWM Yogyakarta

Asmarainjogja.id – Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Komisariat Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menggelar mimbar bebas untuk menyambut hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2017 nanti. Tema yang diusung pada kegiatan tersebut adalah “Membangkitkan Semangat Perjuangan Persatuan Gerakan Mahasiswa Untuk Melawan Kapitalisasi Pendidikan, Dan Wujudkan Demokratisasi Kampus”.

Belasan mahasiswa yang terdiri dari berbagai fakultas tersebut menyuarakan aspirasinya di “Bundaran Revolusioner” kampus yang berbasis budaya itu. Isu-isu yang diangkat seperti kasus drop out 22 mahasiswa Universitas Proklamasi 45 (UP 45) Yogyakarta yang menuntut transparansi dana kampus, biaya pendidikan kuliah yang semakin tinggi, pembungkaman ruang-ruang diskusi mahasiswa, sampai penjualan buku di kelas oleh dosen UWM Yogyakarta sendiri.

SMI Komisariat UWM Yogyakarta mendukung penuh perjuangan mahasiswa UP 45 yang sampai saat ini masih menuntut keadilan, “Kita sebagai mahasiswa tentunya tidak membiarkan teman-teman kita di UP 45 berjuang sendiri. Kita harus bersama mereka, berjuang bersama-sama. Saya masih ingat apa yang dibilang Ketua Yayasan Universitas Widya Mataram, Bapak Mahfud MD, mahasiswa wajib hukumnya menuntut keadilan,” kata Asmara Dewo dengan lantang di hadapan mahasiswa lainnya, Kamis (19/10/2017).

Meskipun di terik panas matahari, semangat perjuangan mereka tak surut. Selain orasi yang disampaikan secara bergiliran bagi setiap anggota, pembacaan puisi juga menambah semangat persatuan kaum intelektual tersebut. “Apakah suaramu sudah usang dimakan jaman? Idealismu luntur dikikis kemewahan, akankah kau mengulang cerita lama? Di mana suara lantangmu menggetarkan istana penguasa?” ujar Nur Cahya membacakan puisi perjuangan.

Selanjutnya orasi dilontarkan oleh Agnes Gultom, mahasiswi asal Medan itu mengkritik dosen UWM Yogyakarta yang berjualan buku, dan ketidakpastian kapan gedung baru dibangun, sementara setiap mahasiswa baru dipungut biaya pembangunan saat pendaftaran.

Hijab

 

“Dari setiap fakultas banyak dosen menjual buku yang menyebabkan mahasiswa yang tidak membeli buku terancam mengulang kembali mata kuliah tersebut. Dan permasalahan pemindahan bangunan UWMY yang tidak jelas kapan akan dipindahkan mengombang-ambingkan mahasiswa,” kata Agnes yang disambut riuh teman perjuangannya.

Aksi kegiatan mahasiswa tersebut ditutup oleh beberapa tuntutan yang dibacakan langsung oleh Ketua Komisariat UWM Yogyakarta, Faisal Tanjung.

“1. Lawan kapitalisasi pendidikan, 2. Lawan kebijakan anti demokrasi di lingkungan pendidikan! (Cabut SK drop out massal, cabut pembekuan UKM/BEM dan kebijakan anti demokrasi lainnya), 3. Cabut UU NO. 20 thn 2003 tentang Sisdiknas, 4. Cabut UU No.12 thn 2012 tentang pendidikan tinggi, 5. Berikan kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berorganisasi, 6. Libatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan kebijakan di kampus, 7. Transpransi biaya pendidikan,” kata Faisal dalam aksi tuntutan.

Mahasiswa Fakultas Fisipol itu juga memberikan solusi agar ke depannya pendidikan Indonesia jauh lebih baik, dan rakyat bisa sejahtera.

“1. Wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, dan bervisi kerakyatan, 2. Nasionalisasi aset-aset strategis di bawah kontrol rakyat, 3. Bangun industrilisasi mandiri di bawah kontrol kelas pekerja, 4. Wujudkan reforma agraria sejati,” pungkas Faisal.

Rep. Asmara Dewo

Baca juga: 

Mahfud MD: Wajib Hukumnya Mahasiswa Menuntut Keadilan

Rektor Universitas Widya Mataram Membocorkan Rahasia Rekuitmen Ketenagaakerjaan di Acara Wisuda

6 Karakter Dosen, Nomor 5 Paling Geram Mahasiswa



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas