Ilustrasi Jenazah | Foto Shutterstock

“Rumah itu hening, tak terdengar suara orang membaca yasin. Padahal rumah tersebut salah satu keluarganya ada yang meninggal. Atau jangan-jangan jenazah ayahnya sudah dimakamkan, ya? Tapi ia baru saja meninggal 4 jam yang lalu?” pikir Nimas.   Pikiran gadis berkacamata itu terganggu karena penasaran.

Dua jam yang lalu setelah sholat zuhur gadis itu mendengar pemberitahuan dari masjid bahwa salah satu keluarga di kampung mereka terkena musibah, pak sutardji meninggal dunia.

Seorang bapak gendut berkulit hitam yang menyeramkan dan suka marah-marah itu meninggal karena sakit diabetes. Gadis   itu kaget mendengar kabar tersebut.

Karena yang ia tau bapak itu tak pernah terlihat baik pada siapapun, wajahnya pun menyeramkan sekali. Nimas pernah melihat dan bertemu bapak itu, saat ia ingin menyapa sembari menyunggiingkan senyum tipis malah bapak itu memasang wajah cemberut dan memalingkan wajahnya.

Sejak saat itu Nimas sedikit kesal karena sikapnya tak mencerminkan bahwa dia sedang hidup bersosialisasi.

Nimas yang tengah sendirian di rumah menunggu ayahnya pulang kerja, dan ibunya yang belum pulang dari rumah iparnya yang baru saja melahirkan. Ia mengurung diri saja di kamar sampai kedua orangtuanya pulang.

Setelah ayahnya pulang, Nimas memberitahukan berita tadi siang, “Yah, Pak Sutardji meninggal dunia, Ayah tidak pergi melayat?”

“Iya, ini ayah mau pergi melayat, tapi ayah mau mandi dulu,” jawab Ayahnya.

“Oh… iya, Yah. Nimas mau pergi dulu, ke rumah Tiara,” ujar sigadis.

“Iya, tapi jangan lama-lama! Nanti ikut ibu melayat juga!” balas ayahnya.

“Ngg,ak lama kok,” sahut gadis berkacamata itu.

Setelah Ayah Nimas pergi melayat, tak lama Nimas dan Ibunya pulang secara bersamaan.

“Nimas, ikut ibu melayat, ya!” kata ibunya

“Iya, Bu, ini Nimas mau mandi, tunggu bentar,” jawab Nimas.

Sesampainya di depan rumah pak Sutardji mata gadis itu terbelalak dibalik kacamata bulatnya. Ia heran kenapa tidak ada satu pun ada orang yang membaca Yasin? Bahkan keluarganya saja tidak ada yang mau mengaji, sebenarnya ada apa ini? Satu per satu pertanyaan itu muncul di benak Nimas.

Ibu dan Nimas meraih Yasin yang ada disamping mereka dan membaca hingga selesai, dan kemudian berpamitan pulang.

Setelah sampai di rumah, Nimas segera mandi dan sholat. Seperti biasa makan malam bersama. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulut mereka sampai akhirnya selesai makan.

Gadis cantik berkacamata itu pun mengajukan pertanyaan yang membuat ia penasaran sedari tadi.

“Yah, tadi kenapa, kok, nggak ada orang mengaji,” Tanya Nimas dengan polosnya.

“Nak, kamu tahu, kan, semasa hidupnya, almarhum nggak baik dengan orang yang ada dilingkungannya. Dan almarhum   juga kurang peduli dengan anak-anaknya. Terlebih lagi untuk mengajarkan perkara agama yang seharusnya sangat penting dalam hidup kita,” jawab ayahnya.

Nimas begitu takjim mendengar jawaban dari ayahnya.

Lanjut ayahnya lagi, “Kita itu harus selalu menebar kebaikan kepada siapapun, agar orang yang ada disekitar kita senang dengan keberadaan kita. Inilah alasannya ayah selalu keras terhadapmu masalah agama, baik itu sholat dan perkara lainnya.   Karena ayah dan ibu berharap kelak jika kami sudah tiada, kamulah yang mengirimi kami do’a, kamu yang ikut memandikan kami, kamu yang ikut mengkafani kami, kamu yang ikut menyolatkan kami, dan kamu yang setiap saat mengirimkan doa.”

“Maaf, Yah, sekarang Nimas mengerti. Tapi pak Sutardji kan anaknya banyak. Kenapa nggak ada yang membaca surat yasin untuknya? Apa mereka nggak pandai mengaji?” cecar Nimas lagi.

“Sayang, ayah tak tahu pasti hal itu, tapi yang ayah tau anaknya tidak terlalu peduli pada beliau dan tak ingin mengaji sama sekali untuk beliau. Mungkin juga karena anak-anaknya terlalu sakit hati atas perlakuan istri keduanya,” jawab ayah sembari menatap putri kesayangannya itu.

“Ya, sudah, kamu belajar sana! Pesan ayah, jadi manusia yang berguna dan menebar kebaikan pada siapapun, ya, Nak! Dan jangan pernah dendam pada siapa pun. Teruslah belajar untuk meraih surga-Nya Allah, tetap menjadi anak sholehah seperti yang ayah dan ibu harapkan,” pesan ayah Nimas.

“Iya, Yah, Nimas janji. Terima kasih nasihanya.”

Kini Nimas tersadar bahwa dalam hidup bukan hanya sekedar mengejar duniawi. Bahwa pada dasarnya manusai akan hidup kekal di akhirat. Meraih kesuksesan didunia itu perlu. Namun, meraih sukses di akhirat dan mendapat surganya Allah itu lebih penting!  [Asmarainjogja.id]

 

Penulis  Dewi Sekar Rahayu, siswi SMKN 1 Kandis, Riau.

Baca juga cerita Dewi lainnya:

Gadis Embun Pagi

Air Mata Bahagia Airin di Pelukan Ayah

Mawar untuk Rain

Rahasia Terbesar Cinta Ayah



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas