Tessa dan Ilo (Ilustrasi) | Foto by Lovetoknow

Oleh: Asmara Dewo

Sudah lima bulan hubungan keluargaku morat-marit, di rumah istana megah ini aku merasa seperti pria jongos. Apakah perasaanku saja atau bagaimana? Aku tidak tahu pasti, namun yang jelas perlakuan mereka berubah drastis sejak beberapa bulan yang lalu.

Ilo anakku yang berumur empat tahun, tak pernah lagi aku yang mengantarkannya ke TK. Kalau tidak Tessa yang mengantar, mertuaku. Pernah suatu ketika ucapan mertuaku itu cukup menampar hatiku.

“Sudah biar papa yang antar, urus saja tulisan-tulisan kamu yang tak bermanfaat itu di kamar!” ia langsung menggendong Ilo, mendengar kakeknya berucap seperti itu, Ilo tampak sedih. Mau bagaimanapun, ia mulai tumbuh besar, dan mulai paham apa yang terjadi pada ayahnya, ibunya, dan kakek-neneknya.

Baca juga:  Cinta Ayah

Sebenarnya ini bukan pertama kali ucapan seperti itu terlontar dari mulut mertuaku, tapi cukup sering. Namun ini cukup keras sekali, di depan anakku Ilo.

“Ilo, di sekolah jangan nakal, ya?! Nanti papa yang jemput Ilo. Ayo salam tangan papa,” aku mendekati Ilo yang di gendong kakeknya.

Tak sempat tangan Ilo meraih tanganku, Kakeknya sudah buru-buru keluar dari ruang tengah, masuk ke mobil, dan mobil dinas itu pun keluar dari garasi. Tessa yang menyaksikan di Senin pagi itu hanya diam saja, kemudian ia menyusul ibu mertuaku di kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah jutek Tessa dan ibu mertuaku hanya melintas saja di depanku saat akan berangkat bekerja. Teh manis yang kuseruput benar-benar pahit di pagi itu.

Dan sejak keharmonisan keluargaku dengan Tessa sudah kacau balau, aku juga jarang di rumah, makan pun sudah sering di luar. Sampai di rumah kalau malam hari, aku hanya mengintip Ilo di kamarnya, ia sudah tertidur pulas, memeluk Tessa. Dan aku pun menyiapkan naskah novelku, atau beberapa tulisan yang harus di-posting setiap pagi di website yang sudah kukelola setahun terakhir.

Baca juga:  Jalan Cinta Liza

“Reva, sebentar! Papa mau bicara sama kamu,” panggil mertuaku di ruang teve, Ibu mertuaku juga ada di sana, majalah Kartini yang ia baca diletakkan di atas meja.

Sepertinya aku akan di sidang yang ke sekian kalinya. Kucoba sekuat bathinku agar tak masuk kata-kata tajam ke hatiku lagi. Sekuatnya.

“Mau sampai kapan kamu begini terus?” kata mertuaku di balik tatapan tajam dari kacamata putihnya, “sebagai pemimpin keluarga, kamu tidak akan mampu menjaga keutuhan keluarga. Dalam keluarga itu butuh biaya...”

“Iya, Pa, saya tahu,” aku langsung memotong.

“Papa belum selesai bicara. Dengarkan dulu!” ia langsung menyela.

“Dengar baik-baik, Reva. Mertua mana yang seperti papa ini? Kurang apa lagi papa dan mama sama kamu? Papa sudah kasi pekerjaan yang begitu baik sama kamu, kamu hanya tinggal nurut sama paman, beres!” ia diam sejenak, ucapnya kemudian, “tapi lihatlah, apa yang kamu balas? Kamu malah pilih keluar kerja! Itu memalukan, bahkan kamu sudah mencoreng nama keluarga besar ini dari tulisan busuk kamu, Reva!”

Baca juga:  Insya Allah Aku Bisa Mencintaimu

“Maaf, Pa, saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya menuliskan apa yang terjadi dalam pembangunan itu. Tidak betul itu, jika pemerintah dan perusahaan membangun, tapi merugikan warga sekitar. Saya benar-benar tidak tega. Saya merasa, sejak kecil saya dari keluarga miskin yang hidup di pinggiran kota. Sungguh sakit sekali digusur, Pa,” aku membela diri.

“Nak, cobalah pahami ucapan papa?!” ibu mertuaku ikut bicara, “ini bukan masalah warga kecil atau orang kaya, atau apapun itu. Paman dan papa hanya menjalankan tugasnya masing-masing. Papa sebagai pejabat di kota ini sudah sesuai menjalankan Undang-undang, begitu juga paman sebagai devoloper kota. Jadi tidak ada masalah lagi dalam hal itu.”

Sulit sekali bicara dengan mereka, mereka tidak akan paham, dan memang tidak mau paham.

“Sekarang saya harus mengurus menantu sendiri, seorang menantu yang menusuk keluarga saya sendiri. Itu yang kamu balas dengan keluarga ini? Sekarang kamu berkaca! Papa seperti kamu apakah bisa mendidik Ilo? Suami seperti kamu apa bisa membahagiakan Tessa?” nada Papa semakin meninggi.

“Iya, Pa, saya mengerti. Saya juga berusaha mengembalikan keuangan keluarga saya seperti semula. Dan secepatnya tidak menjadi beban keluarga ini,” ucapku.

Baca juga:  Karena Roya

Bukan malah merendah suara mertua yang semakin tua ini, tapi semakin tinggi saja nada ucapannya.

“Dengan apa? Dengan menulis? Kamu pikir bisa hidup menulis di zaman sekarang ini? Ayo mikir!” ditahannya napasnya begitu dalam, “sekarang begini, ya, Reva, urusan kerjaan kamu biar papa bicarakan sama paman. Itu bisa diatur. Kamu bakal bisa kerja di sana lagi. Urusan paman itu papa yang urus, dan yang penting kamu harus mau berkerja dengan paman, ikuti perintahnya dan jangan menulis yang macam-macam lagi!”

Bekerja dengan hama negara, sama saja menjadi hama di antara mereka.

“Maaf, Pa, saya tidak bisa bekerja dengan paman lagi. Saya tidak cocok bekerja dengannya.”

“Jadi sekarang mau kamu apa, sih, Reva? Kalau kamu tidak bisa diatur, kamu bisa angkat kaki dari rumah ini!”

“Kamu tenang dulu, Reva, bukan itu maksud papa,” ibu mertuaku mengelus pundakku, ia mencoba menenangkan, “ya sudah, kamu turuti saja kata papa, ya? Biar semuanya baik-baik saja.”

“Tidak apa-apa, Ma, saya bisa paham, dan benar-benar paham,” aku berdiri, “terima kasih, Pa, Ma.”

Baca juga:  Menunggu Alam di Malioboro

Bergegas aku berjalan ke kamar Ilo.

“Tessa, bangun,” bisikku pada Tessa.

“Iya, kenapa, Bang?” Tessa mengucek-ngucek matanya.

“Kita bicara di kamar, jangan di sini!” aku menarik tangan Tessa ke kamar kami, “kita harus pindah, Tessa, malam ini juga!”

Tessa terbengong mendengar ucapanku.

“Pindah apa? Memangnya kenapa, sih, Bang?” kata Tessa lagi, “ada masalah?”

“Iya, papa usir kita dari rumah ini, kamu kemasin pakaian dan barang-barang kebutuhan Ilo,” kataku sambil memasukkan pakaian dari lemari ke koper.

“Bang, papa sudah biasa begitu, itu nggak sunggguh-sungguh. Mana mungkin dia usir anaknya sendiri? Dan mungkin juga papa cuma sedikit kesal sama Abang. Udahlah jangan dimasukin ke hati? Biar Tessa yang bicara sama Papa sekarang!” belum sempat kutarik tangan Tessa, ia sudah keluar dari kamar.

Setelah barang-barang dan pakaian sudah beres. Aku ke ruang tengah menyusul Tessa.

“Tessa, Yuk!”aku memanggil Tessa.

“Kamu mau ajak kemana anak kami?!” sahut mertuaku. Tessa sendiri tak menjawab. Dia hanya menangis dipelukan mama.

“Kalau kamu mau pergi, ya silahkan pergi! Jangan bawa anak dan cucu saya!”

Baca juga:  Sebuah Janji pada Ayah

Aku tak menghiraukan kalimat apa yang keluar dari mertuaku, aku hanya ingin mendengar suara dari Tessa.

“Tessaaa...” aku mendekati Tessa.

“Kamu jangan paksa anak saya! Pergi! Pergi dari sini!” pria yang kuanggap seperti almarhum papaku sendiri kali ini benar-benar marah denganku. Tubuhku terhempas vas bunga karena didorongnya.

“Tessa,” aku berdiri memanggil lagi Tessa.

Namun Tessa hanya diam saja, air matanya terus bercucuran.

“Pergiiiii!” aku diseret keluar pintu oleh pria tua itu.

Baca juga:  Yang Hilang yang Tak Hilang

“Cukup, Pa!” tiba-tiba suaraku membentak, “aku bisa sendiri berjalan dan keluar dari rumah ini! Tessa, secepatnya aku jemput kamu dan Ilo,” teriakku dari luar pintu. [Asmarainjogja.id]



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas