Angin | Doc. Pribadi

Asmarainjogja.id -- Kalau kita lihat secara objektif di sana akan terlihat perbedaan yang sangat jauh antara kampus dan kandang, walaupun dua-duanya sama-sama tempat hunian, namun beda konteks. Kandang itu ditempati oleh hewan-hewan ternak yang tujuannya dieksploitasi oleh si pemiliknya, apakah kita mau seperti itu? Tentu tidak, kan? Kita ini manusia yang mempunyai akal pikiran yang diciptakan oleh sang pencipta agar kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Yang harus kita miliki   sebagai mahasiswa yang katanya kaum intelektual harus aktif dan progresif. Kita yang ada di kampus bukan di kandang   harus mempunyai jiwa kritis yang diimbangi dengan solusi yang kita tawarkan, Kita jangan nggeh-nggeh wae (iya-iya saja) kalau orang Jawa bilang “Hidup ini jangan seperti air yang mengalir, hanya benda mati dan yang lemah lah yang mau mengikuti arus”.

Tapi di sini tugas kita sebagai mahasiswa harus lebih peka, janganlah kita acuh tak acuh dan tak mau tahu. Kira-kira ada yang dirasa kurang cocok maka kita harus bertindak, misalnya dalam suatu kebijakan yang dirasa banyak merugikan masyarakat dan menguntungkan penguasa maka nalar kita sebagai mahasiswa harus terangsang dan berani mengambil sikap. Sikap apa itu? Setidaknya kita mempertanyakan perihal yang terjadi, lalu dengarkan penjelasan dan kita harus ada di tengah-tengah barisan masyarakat sebagai garda terdepan dalam membela masyarakat.

Sekali lagi saya katakan, masyarakat kampus ini bukan hewan dan bukan pula benda mati, di sana hidup para kaum intelektual para calon penerus bangsa. Mereka bebas berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat, sebagaimana yang diamanatkan dalam konstitusi kita UUD 1945. Kalau di kandang penghuninya harus nurut sama tuannya, kalau di kampus tidak, sekiranya dosen tidak beres dalam mengajar mahasiswa berhak mengkritisi dosen tersebut. Dosen bukanlah Tuhan yang selalu benar.

Baca juga:

Bahaya Dampak Globalisasi (Teror Hoax)

Apa Kabar Gerakan Mahasiswa Sekarang?

Mati-Hidup Gerakan Mahasiswa

Pudarnya Nasionalisme Akibat Paham Radikalisme

Sebenarnya bukan masalah etika yang tidak bagus juga, ya? Tapi begini, kalau berbicara etika mahasiswa jangan diajari lagi untuk sopan dan santun. Sebab sopan dan santun itu sudah tumbuh dari kecil, dari didikan orang tua di rumah. Jadi mahasiswa yang turun ke jalan yang berteriak-teriak itu mungkin sebagian masyarakat banyak yang menilai negatif. Tapi di sinilah akan saya luruskan, jadi begini, mahasiswa yang turun ke jalan dan berteriak itu adalah panggilan hati nurani, mungkin hatinya sedang teriris dan butuh pengaduan agar rintihan hatinya dapat di dengarkan. Janganlah dulu berharap tuntutan dipenuhi, suaranya sudah didengar saja mahasiswa senangnya bukan main.

Kita harus bisa menganalisis segala kebijakan yang ada di kampus, yang sekiranya merugikan bagi mahasiswa kita harus mengkritisi. Apalagi kalau semua kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa malah tidak melibatkan mahasiswa dalam membuat kebijakan. Untuk menerapkan sistem demokrasi janganlah jauh-jauh mengibaratkan sebuah negara, dari yang skala kecil saja dulu, yaitu salah satunya lingkaran kampus.

Beda, ya, kandang dengan kampus, kalau di kandang penghuni kandang diberi makan dan minum lalu harus menurut apa kata tuannya, sedangkan di kampus kita mahasiswa sebagai penghuni tidak pula diberi makan lalu harus nurut. Kita tidak butuh makan muapun minum di kelas, tetapi penghuni kampus   mebutuhkan diberi ilmu, yang mana ilmu nanti itu akan bermanfaat di kemudian hari nanti. Tapi jangan salah juga, ilmu yang didedikasikan tidak semuanya benar dan bisa kita terima, maka guru terbaik adalah dengan cara membaca buku, perbanyak referensi untuk menambah wawasan.

Yang sederhana harus kita perhatikan adalah lingkungan kampus sebagai hunian kita, apakah semuanya sudah baik-baik saja? Jangan tahu nya kita bayar uang kuliah saja namun tidak pernah tahu kemana aliran dana tersebut. Semua harus bersifat transparansi, jangan ada yang di tutup-tutupi sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Biaya pendidikan yang semakin hari semakin mahal apakah sudah di imbangi dengan fasilitas yang diberikan kepada khalayak ramai.


Hijab

Sederhananya adalah biaya yang semakin tahun semakin mahal apakah sudah diimbangi dengan kualitas dosen yang mengajar? Kita membayar uang kuliah tak lain dan tak bukan adalah untuk menggaji dosen, namun apakah yang diberikan dosen kepada mahasiswa sudah maksimal? Tentu belum. Masih seringnya dosen yang terlambat untuk masuk ke kelas, ada juga dosen yang seperti tidak betah berlama-lama di ruangan dan tidak mengajar sesuai porsinya.

Permasalahan lain yaitu masih banyaknya dosen yang jarang mengajar di kelas dengan dalil banyak kesibukan di luar sana. Dosen seperti ini sebenarnya niat tidak mengajar? Kadang timbul pertanyaan di benak saya seperti itu. Sungguh kasihan juga para mahasiswa yang berharap mendapat banyak ilmu di dunia pendidikan yang katanya lebih tinggi, namun malah seorang dosen yang benar-benar tidak sportif dalam mengajar dan mendididk mahasiswa dan mahasiswinya. Kalau saya bilang ini blunder.

Sekali lagi pesan saya jangan samakan kampus dengan kandang yang tidak punya aturan, bahkan aturanlah yang dilanggar oleh dosen sendiri. Masih adalagi masalah yang belum disebutkan di kampus, yaitu sering sekali mahasiswa yang di-PHP (pemberi harapan palsu) oleh dosen, mahasiswa yang sudah datang dan di janjikan kuliah sesuai jam, eh, tiba-tiba sekian lama menunggu dengan gampangnya dosen membatalkan jam mengajar dengan alasan ada urusan.

Segampang itukah membuat kami sedih, marah, dan rasanya ingin menangis, ditambah lagi dosen yang memberikan tugas walaupun yang bersangkutan tidak hadir. Dosen tidak datang mengajar, eh, malah suruh mengerjakan tugas. Yang lebih gawat lagi tugas harus cepat dikumpul, telat sedikit tamatlah sudah. Hal-hal sepeti ini harus dihetikan, sudah saatnya kita bersuara menuntut keadilan. Segera kita bangun dari tidur! Bangkit dari zona nyaman.

Itulah salah satu tulisan saya tentang masalah kampus yang berjudul “Kampus Bukan Kandang”, semoga memberi maanfaat kepada para pembaca dan juga untuk penulis. Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca. Hidup mahasiswa![]

Penulis: Angin, mahasiswa administrasi Universitas Widya Mataram Yogyakarta, dan aktif di komunitas menulis Bintang Inspirasi. 

Baca juga:

Pendidikan? Bisnis yang Tidak Pernah Rugi

Kampusku Kampusmu Kampus Kita

Mendidik dengan Cara yang Tak Terdidik



 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas