Faisal SP | Foto doc.Pribadi

Asmarainjogja.id--Pendidikan ibarat ‘pahlawan’, ia muncul untuk membebaskan, menghentikan penjajahan, dan  menghilangkan perbudakan. Darinyalah harapan-harapan kebangkitan muncul, melawan pembodohan juga pembunuhan manusia tanpa hak.

Ia seharusnya mencerdaskan, juga memberikan prinsip kemanusiaan yang memanusiakan manusia, sebagai alat melihat masa depan, merintis pandangan hidup. Ini telah di contohkan bagaimana Rasulullah SAW, yang dididik langsung oleh Malaikat Jibril untuk memberikan sistem pembebasan di kalangan umat manusia yang masih melestarikan perbudakan, dan penyembahan selain Allah SWT.

Dahulu mungkin pendidikan tidak diidentikkan dengan gedung-gedung mewah pencakar langit, masih berbentuk tempat yang luas, mungkin juga belajar dari alam. Tetapi ia mampu mengubah pola pikir bagi mereka yang belajar dengan benar, bagaimana Nabi Ibrahim AS, yang belajar dari alam demi mencari Tuhan.

Dia melihat matahari lalu berkata “inilah Tuhanku”, namun setelah matahari tersebut hilang, maka dia menarik kesimpulan bahwa sang mentari bukan Tuhan, sebab Tuhan tak  mungkin meninggalkan. Itulah proses belajar dan berpendidikan dari alam.

Saya ingin mengajak sedikit kita menarik pelajaran di atas, setelah itu kita coba menghubungkan dengan realitas pendidikan zaman Now. Terutama dunia kampus, yang katanya tempat belajar orang-orang terpilih dengan ilmu tingkat dewa.

Dunia kampus adalah ruang bagi generasi terpelajar melanjutkan proses pencarian ilmu dan membentuk karakter mulia, yaitu tempat mereka memasuki level berpikir dewasa serta mampu melihat masa depan, demi kehidupan yang terbaik.

Definisi sederhana kampus pada hakikatnya adalah jenjang bagi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan tingi, artinya pendidikan yang di atas, setelah pendidikan menengah dan sebelumnya. Tentunya untuk mereka yang telah masuk ke lingkaran kampus mampu memandang lebih jauh dari sebelumnya.

Kampus seharusnya mencetak manusia-manusia yang berbudi luhur visioner, revolusioner, dan militan dalam melihat persoalan kerakyatan. Juga mampu melihat masyarakat sebagai objek kemanusiaan, tidak hanya sebatas masyarakat tanpa arti, agar mampu berperan dalam mengubah masyarakat. Bukan malah memisahkan diri dengan kehidupan bermasyarakat apalagi bernegara.

Peran kampus terlihat cukup penting bagi sebuah negara, sebab di sanalah kaum-kaum terpelajar, belajar berbagai hal secara bebas tanpa tekanan apalagi intimidasi, sehingga mampu memikirkan dunia seluas-luasnya dan sebebasnya-bebasnya. Yang ujungnya menghasilkan kesimpulan kehidupan yang ideal.

Bukan sebaliknya menghasilkan generasi-generasi bobrok, tidak bermoral, juga pecundang. Sebagaimana mulai tercermin di zaman ini, ya, pertengah abad 21. Selamat datang di abad yang semuanya serba terbalik, atau kalau sinetronnya di sebut dunia terbalik. Rasanya itu memang nyata tak hanya sinetron semata.

Dunia terbalik sungguh nyata pada abad ini, yang salah dibenarkan sedangkan kebenaran seolah-olah adalah kesalahan. Semua dipoles sangat rapi dan meyakinkan. Oleh karena itu bagi seorang yang terpelajar seharusnya mampu melihat semuanya secara terang-benderang, begitupula kampus harus menjadi sarana pencarian kebenaran secara objektif.

Namun yang terjadi sebaliknnya, kampus telah menjadi alat pemasok pemikiran keliru ala penguasa, kampus hanya bagian kaki tangan untuk mendukung projek kezaliman penguasa yang zalim.

Bisa dirasakan saat kampus mulai mengajarkan hal-hal yang seolah membela penguasa, walau sebenarnya sebagian kecil kampus dan pengajarnya masih menjaga nalar sehat, namun hanya segelintir. Sedangkan sebagian besar malah sibuk menjadi pendukung kekuasaan, bahkan alat kampanye penguasa yang rakus.

Bagaimana tidak dosen-dosen di berbagai kampus di zaman ini, sebagian besar telah menjadi kaki  tangan penguasa yang sibuk mengajarkan doktrin dan begitu menyesatkan, terutama dalam melihat masyarakat. Mereka malah menggunakan kacamata penguasa yang picik dalam memandang masyarakat.

Dan ini diajarkan pada mahasiswa, bisa ditebak seandainnya mahasiswa yang didoktrin adalah mereka-mereka yang masih terlalu polos, dan belum berdasar pengetahuan sebelumnya. Tentunya menghasilkan pola pikir yang picik dan liicik, sebab mereka telah terpengaruh ajaran sesat penguasa yang diajarkan oleh sang dosen.

Kampus juga hari ini, telah banyak menciptakan generasi-genarasi manut, yang hanya membebek, bagaikan sekelompok bebek yang hanya bisa ikut-ikutan tanpa menguji kebenaran apa yang mereka ikuti. Akibatnya adalah gampang terbawa arus peradaban jahil ala kapitalisme.

Belum lagi mahasiswa  yang belajar dalam sistem yang diterapkan di berbagai kampus di negeri ini, tidak hanya menghasilkan pemuda-pemuda cupu, juga ditambah oleh mereka yang selalu berpikir materi dan mendapatkan pekerjaan semata. Sehinga melupakan dunia organisasi juga perjuangan kerakyatan.

Mahasiswa ditekan harus selalu mengerjakan tugas yang bisa membuat dia lupa akan marwah yang sebenarnya sebagai agen perubahan dan pengontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka dituntut harus segera menyelesaikan kuliah, dan bisa mendapatkan pekerjaan.


Hijab

Untuk melunasi atau mengembalikan biaya kuliah yang telah mereka keluarkan saat berkuliah, karena mahalnya uang kuliah. Sehingg mahasiswa terdesak agar hanya fokus pada kuliah saja. Jangan teralihkan oleh yang lain, apalagi persoalan negera sampai rakyat. bagi mereka ini malah menghambat target kulianya, sebab harus mendapatkan nilai yang bagus dan bisa selesaikan kuliah secapatnya.

Inilah bukti sistem pedidikan demokrasi, kapitalisme, neoliberal, yang tidak berpikir sedikit pun tentang kemanusiaan. Hanya berpikir untung-rugi bagi segelintir orang. Kampus-kampus yang seharusnya menjadi milik negera malah diswastakan, bukan hanya itu kampus-kampus yang katanya milik negara. Terlihat ibarat ladang komoditi bisnis.

Kampus milik negera seharusya diperuntukan bagi warga negara, kini berubah menjadi gedung yang hanya bisa dinikmati untuk mereka yang kaya, oleh biaya kampus negeri ini yang begitu fantastis tentunya bisa menjadi gambaran, sebenarnya untuk siapa kampus-kampus dibangun?

Padahal kampus adalah tempat untuk belajar tentang dunia yang sangat luas, baik belajar tentang ilmu sains, masyarakat, juga tentang negara secara umum, yang tentunya mencetak mahasiswa-mahasiswa tangguh untuk siap bertempur dengan kerasnya peradaban kapitalisme, yang begitu menindas.

Untuk itu perlu adanya reformasi berbagai sistem di kampus, baik dari segi pengajaran hingga cara belajar, juga sistem birokrasi yang tidak anti kritik. Dan memberikan pengajaran yang objektif terhadap para pengeyam pendidikan tinggi.

Yang akhirnya akan menhasilkan generasi yang bermoral, progresif, visioner, juga revolusioner. Tidak hanya sebatas berstatus mahasiwa seperti di era kapitalisme, juga mampu membuat sebuah terobosan baru yang membuahkan pembebasan dari berbagai ketertindasan juga penjajahan, baik secara politik, ekonomi, sosial, juga budaya.

Karena itu Islam telah menawarkan sebuah terobosan sistem pedidikan, yang tak hanya melihat mahasiswa sebatas objek komoditi, namun memandang mereka sebagai insan yang bermartabat. Ini bisa terlihat bagaimana Islam memberikan prestasi dalam dunia pendidikan salah satunya adalah sains, yang telah dicatat rapi oleh sejarah, sebagai prestasi sistem pedidikan Islam yang luar biasa.

Bagaiaman Ibnu Sina, sebagai seorang ilmuan Muslim yang dihasilkan dari sistem pedidikan Islam, yang telah mempunyai peran besar dalam dunia kedokteran. Bahkan karyanya menjadi rujukan bagi dunia dalam hal bedah. Al Khwarijmi penemu angka nol, dalam ilmu mate-matika. Dan masih banyak bukti keberhasilan sistem pendidikan Islam yang lainnnya. Tentunya ini bisa menjadi bukti yang akurat betapa pernah berhasilnya sistem yang benar, yaitu sistem pendidikan Islam.

Ketika sistem pendidikan yang benar diterapkan di kampus, tentunya akan menghasilkan kampusku, kampusmu, kampus kita. yang cerdas juga visioner.[]

Penulis: Faisal SP, mahasiswa hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta, dan aktif di komunitas menulis Bintang Inspirasi 

Baca juga:

Mendidik dengan Cara yang Tak Terdidik

Bahaya Dampak Globalisasi (Teror Hoax)

Apa Kabar Gerakan Mahasiswa Sekarang?

Mati-Hidup Gerakan Mahasiswa

Pudarnya Nasionalisme Akibat Paham Radikalisme



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas