Kanjeng Ratu Kidul | Foto Merbabu.com

Oleh:  Asmara Dewo

Matahari sudah ditelan garis horizon di langit barat, sempurna gelap kampung di pesisir pantai selatan. Ombak samudera hindia semakin kencang, ombaknya tinggi, setinggi lima meter. Berdebam menghantam karang, buihnya berserakan ke tepi pantai.

Setiap setahun sekali warga di sana mempersembahkan hasil panen mereka, bersama utusan dari istana, juru kunci, dan tokoh-tokoh yang berpenguruh di kampung itu memberikan sesaji pada penguasa pantai selatan.

Sudah sejak sore tadi di pantai itu begitu ramai, mulai dari para pedagang bunga, penjual makanan, penjual mainan anak-anak, dan hiburan. Penduduk mengadakan pesta besar-besaran menyambut malam satu suro.

Melantun syahdu nan indah suara seorang wanita membaca Ayat suci Al-Qur’an dari rumahnya, diikuti anak laki-lakinya yang berumur sepuluh tahun. Menggema nada terindah di bumi menyodok langit malam menggetarkan makhluk langit.

Dan sosok pria berpeci putih di ruang tamu begitu khidmat membaca tafsir Al-Qur’an karangan ulama masyur dari Mekkah.

Kanjeng Ratu Kidul

Baca juga: 

Jakarta Belum Berakhir

Jurang Keluarga

Cinta Ayah

Tamu tak diundang mengendap-endap dari daun pintu rumah, badannya gempal, wajahnya bulat, pipinya tembem seperti bakpau. Kepalanya nongol dari balik pintu mengucap salam takut-takut.

“Itu koe, Pujang?!” tanya tuan rumah setelah menutup bukunya.

“Inggih, Pak,” sahut Pujang nadanya gemetar.

Pria berwajah tenang dan lembut itu menyuruh masuk tamu kecilnya, “Wah… mau kemana? Ganteng koe malam ini, Pujang.”

Pujang menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, matanya yang bulat mendelik kanan-kiri.

Tuan rumah tahu betul sikap bocah di depannya ini, ia tak menanya ulang, lalu masuk ke kamar.

Istrinya melepaskan telekung, anak semata wayangnya melipat sarung dan meletakkan begitu saja ke rak pakaian.

“Siapa yang datang, Pak?” tanya Dimas.

“Konco koe, Pujang,” tanya bapaknya lagi, “kalian mau ke acara labuhan?”

“Inggih, Pak,” Dimas mengangguk.

“Yowess… hati-hati!”

“Dimas, jangan pulang malam-malam! Jangan basah-basahan juga! Nanti masuk angin!” Ibu Dimas melotot mengingatkan anaknya.

“Inggih, Buk,” jawab Dimas, suaranya tampak begitu senang karena mendapatkan izin dari orangtuanya.

Dimas buru-buru keluar menjumpai sahabatnya yang sejak kecil itu.

“Lama betul koe, Dimas. Aku nunggu lama,” seru Pujang sebal.

“Ahhh… koe nggak sabaran. Aku ngaji dulu!” Dimas langsung menuju pintu, “ayo cepat!”

Pujang yang kepayahan menggerakkan badannya buru-buru mengejar Dimas.

“Dimas, koe nggak usah pakai sepedamu, kita boncengan aja. Aku baru dapat hadiah sepeda dari bapakku,” kata Pujang Bangga, “koe mau coba?!”

Dimas yang melihat sepeda baru Pujang matanya membesar, ikut senang.

“Naik, Jang!” perintah Dimas yang sudah melompat ke sepeda baru Pujang, “senteri jalan!”

Pujang mengeluarkan senter dari tas kecilnya. Kompak. Seperti pilot dan copilot yang meneorobos awan-gemawan di langit biru.

“Balap, Mas! Jangan kayak wedok,” Pujang mengejek Dimas. Dimas hanya mendesis, kaki kecilnya mengayuh beban yang cukup berat.  

Setengah jam dari perkampungan mereka menuju ke tepi pantai, tempat acara labuhan ritual Jawa dari turun temurun kakek moyang mereka. Di siang hari pantai itu sangat ramai dikunjungi para wisatawan, baik dari dalam negeri, maupun dari luar negeri. Dan sekarang di malam satu suro, berlipat-lipat keramaiannnya. Sudah seperti lautan manusia saja.

“Untunglah kita belum terlambat,” kata Pujang, “koe kayak wedok gowet sepedanya,” Pujang menggerutu.

“Hei, badan koe itu beratttt, tau?!” Dimas menyahut, matanya melotot.

Pujang hanya tertawa, pura-pura tak mendengar.

“Ayo cepat, Dimas, nanti acaranya habis. Kita nggak kebagian,” Pujang menarik-narik lengan sahabatnya.

Kanjeng Ratu Kidul

Baca juga: 

Jalan Cinta Liza

Insya Allah Aku Bisa Mencintaimu

Karena Roya

Dua bocah itu menerobos di sela-sela warga kampung yang merumuni juru kunci yang sedang duduk di atas pasir. Juru kunci itu mulutnya komat kamit membacakan mantera. Di sampingnya berdiri tegak begitu tinggi sesajen yang akan dilepaskan ke Pantai Selatan.

“Dimas, sini! Duduk di sini kita!” Pujang menggeret Dimas ke depan. Tepat berhadapan dengan juru kunci yang berseragam adat Jawa itu.

“Jang, koe tau mereka baca doa apa?” tanya Dimas.

“Sssttt… jangan keras-keras!” perintah Pujang dengan wajah sok dewasa, “itu doa biar Kanjeng Ratu Kidul dengar doa warga kampung kita.”

Dimas tak begitu puas jawaban Pujang, ia tanyai lagi, “Biar supaya apa?”

“Ah… koe kayak bukan orang Jawa aja. Koe tau kampung kita selamat, aman sentosa, dan berkah, karena Kanjeng Ratu Kidul,” jawab Pujang dengan mantap.

“Tapi… tapi…” Dimas terbata-bata ingin berucap sesuatu.

“Tapi apa?!” sahabat yang bertubuh gemuk itu melirik Dimas penuh curiga.

“Kampung kita begini, aman sentosa, penuh dengan keberkahan, kata ibukku karena Gusti Alloh,” ucap Dimas mengingat kata ibunya suatu ketika usai mengaji.

Pujang terdiam sejenak, keningnya berlipat. Matanya tajam mengarah Dimas.

“Yoo… yoo…” Pujang mengangguk-angguk, “biar koe tau, Dimas, Kanjeng Ratu Kidul itu hebat. Dia yang menguasai seluruh pantai selatan ini, semua makhluk tunduk dengannya. Ikan paus, ikan lumba-lumba, semuanya. Semua hewan laut bisa diperintah oleh Kanjeng Ratu Kidul. Hebat, kan?”

Dimas ber-oh saja, namun ia tetap antusias mendengar cerita-cerita hebat penguasa pantai selatan yang sudah dibumbui oleh sahabatnya itu.

“Kalau Kanjeng Ratu Kidul marah sama warga kampung kita ini, mudah saja ia datangkan tsunami ke kampung kita,” ujar Pujang dengan suara menakut-nakuti Dimas.

Dimas seperti seorang murid yang hanya mengangguk-angguk saja apa yang disampaikan oleh gurunya. Tak membantah, apalagi menentang balik ucapan.

“Kayak tsunami di Aceh?” seru Dimas.

“Ha, iya. Di laut Aceh sana, nggak ada Kanjeng Ratu Kidul, makanya kena tsunami. Kalau ada, mana mungkin Kanjeng Ratu tega menyuruh ombak menghamtam warganya. Koe tau, kan, banyak yang mati di Aceh?”

“Iya-iya, banyak yang mati,” Dimas menyahut cepat.

“Itulah, Dimas, kita harus bersyukur, pantai kita dijaga oleh Kanjeng Ratu. Dia baik juga hebat,” Pujang dengan bangganya memuji penguasa pantai selatan itu.

Dimas selalu senang mendengar bicara yang hebat-hebat. Selalu ingin mendengar tokoh-tokoh hebat seperti di komik atau di film-film.

Kanjeng Ratu Kidul

Baca juga:

Menunggu Alam di Malioboro

Sebuah Janji pada Ayah

Yang Hilang yang Tak Hilang

“Jang, mana lebih hebat Kanjeng Ratu atau Gundala?” tanya Dimas lagi.

Kali ini Pujang bingung menjawab, Gundala merupakan tokoh utama kartun di komik yang paling ia sukai.

“Kanjeng Ratu… eh… Gundala… eh…” jawab Pujang tidak pasti.

Dimas tertawa mendengar jawaban Pujang yang bingung. Skak mat!

Juru Kunci mendelik ke arah Dimas yang terbahak-bahak. Tidak marah, namun tatapannya sangat tajam. Mulutnya tetap komat-kamit merapal doa.

Pujang langsung memiting Dimas, lalu membisikinya, “Udah kubilang, jangan berisik, Dimas!”

Waktunya pun tiba, persembahan itu segera dilepaskan di pantai. Juru kunci berjalan menuju pantai, yang diikuti para pemanggul yang menggotong sesembahan dengan batang bambu. Sesembahan itu cukup berat, mereka tergopoh-gopoh memikulnya.

Kerincingan terus berbunyi-bunyi nyaring, desauan angin menyatu dengan suara kerincing. Ombak besar dan tinggi. Angin pantai dari selatan menerpa wajah warga kampung yang siap-siap berebutan apa saja yang didapat dari sesembahan itu di pantai.

“Sabar dulu! Sabar dulu, Mas, Mbak!” salah satu anggota dari juru kunci   memberi arahan.

Warga kampung sudah tak sabar, ingin mengambil apa saja yang didapat dari sesembahan tersebut.

“Dimas, koe cari aja apa yang koe bisa dapat. Itu bisa buat kita hebat, sakti,” Pujang mengingatkan, tubuh mereka yang kecil sudah terjepit-jepit dari orang dewasa.

Setelah mendengar aba-aba dari juru kunci, sesembahan itu pun langsung di lepas. Byurrr… ombak menelan sesembahan tersebut. Hilang ditelan lautan. Kemudian ombak berikutnya menepikan sisa-sisa sesembahan itu. Langsung saja para warga berebutan mencari apa yang menurut mereka berharga.

“Koe dapat apa?” tanya Pujang sambil menyeka matanya yang pedih kena air pantai.

“Tadi cumat dapa tomat, aku buang lagi,” desis Dimas, matanya liar ke sana kemari dengan senter di tangan. Ia balik tanya pada Pujang, “koe sendiri?”

“Uang!” jawab Pujang tersenyum.

Lama dua sahabat itu mencari apa saja yang mereka dapat, begitu juga warga kampung lainnya. Setelah letih mereka pun ke tepi, lalu duduk di atas pasir.

“Capek..” desis Pujang. Kemudian ia menghadap ke Dimas, “koe jangan sedih, nih, ambil satu!”

Dimas girang bukan kepalang, cepat-cepat ia ambil uang itu dan memasukkannya ke kantong, “Makasih, Jang!”

Wajah Pujang semakin bulat tersenyum.

“Basah pakaian kita,” Pujang mengepak-ngepakkan kaos hitamnya.

“Ya, basah semua,” kata Dimas menyusul, tiba-tiba ia ingat sesuatu, “mati aku, Jang! Ibukku pasti marah-marah, Jang. Aku nggak boles basah-basahan. Pulang kita sekarang, Jang!”

Pujang yang masih letih, kesal digeret-geret sahabatnya itu, dengan terpaksa ia menuruti kemauan Dimas. [Asmarainjogja.id]

 

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta

 

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas