Foto ilustrasi | By volunteers.org

Oleh: Asmara Dewo

“Pegang kuat tanganku,” Icow berusaha sekuat tenaga menahan berat badan Pati, “tenang, Pati, tenang,!”

Badan Icow terseret beberapa senti, sementara badan Pati yang gempal tergantung-gantung di bibir jurang. Kakinya yang tadi meronta-ronta perlahan mulai tenang. Salman, Eki, Limo, begitu tangkas menahan Icow. Sementara Ali turut memegang tangan Pati yang terus melemah. Tentu saja Ana dan Uni tidak berdiam diri melihat kepanikan sahabat-sahabatnya, mereka juga berusaha menyelamatkan Pati sebisa mungkin.

Beberapa detik telah berlalu tak menghasilkan pertolongan yang baik. Berat badan Pati tak kuasa diimbangi tujuh sahabatnya yang berusaha mati-matian mengeluarkan seluruh tenaganya.

“Lepaskan cariernya, Pati!,” Ali berteriak.

Yang diperintah langsung perlahan-lahan melepaskan cariernya. Carier itu pun melesat hilang di antara semak belukar. Bugghhh… terdengar pelan suara carier mendarat di bawah sana.



“Tetap tenang, sahabatku,” Ali mencoba menyemangati Pati, “aku akan turun ke bawah.”

Ali mengikatkan dirinya dengan tali ke batang pohon yang menjorok ke bibir jurang. Setelah dicobanya cukup kuat, pelan-pelan Ali merayap menuruni badan jurang yang cadas. Bebatuan yang tak kuat diinjak Ali pun berjatuhan.

“Hati-hati, Ali!” teriak Ana.

Setelah mendekati Pati, Ali juga mengikatkan tali ke badannya, “Ini tidak begitu sulit, sahabatku.”

Pati masih terengah-engah berusaha bernapas. Ada peluang ia masih di bumi manusia ini.

“Yes,” Ana bergumam.

“Kawan-kawan, ayo tarik lebih kuat,” perintah Ali yang mendorong badan Pati dari bawah.

Kali ini seluruh tenaga mereka dikeluarkan, merah padam wajahnya, urat dan otot-otot mereka terlihat jelas. Mereka berhitung sembari terus menarik Pati. Satu dua tigaaa!…  diulang-ulang sampai Pati berada di atas.

“Sedikit lagi,” ujar Eki dengan suara tercekik.

Akhirnya Pati sampai di atas dengan selamat. Betapa girangnya para sahabatnya, tak sia-sia mengeluarkan seluruh tenaga demi Pati.

“Ternyata belum waktunya kau pergi, kawan,” Limo mencandai Pati.

“Terimakasih, kawan-kawan, terimakasih. Aku belum mati.”



Uni menyodorkan botol ali ke Pati, “Minum dulu.”

“Bagaimana jika aku tidak selamat… bagaimana jika aku tidak selamat,” Pati mengulang kalimatnya berkali-kali.

“Sudahlah, Bro. Yang penting kita semua selamat,” Eki menepuk pundah Pati.

“Kalian jalan terus mengikuti jalan setapak ini, tidak jauh dari sini, di sana ada tempat beristirahat yang luas. Aku akan ke bawah mengambil carier Pati,” Ali menyuruh teman-temannya.

“Terimakasih, Li, terimakasih banyak, Li. Tolong temukan carierku,” Pati menjabat tangan Ali kencang-kencang dengan wajah serius.

“Aku akan menemani kamu, Li,” Salman menawarkan diri.

Ali mengangguk. Mereka berjalan putar arah dari sebelumnya. Setelah beberapa langkah meninggalkan teman-temannya, Salman berbisik ke Ali,

“Bagaimana jika Pati tak bisa kita selamatkan? Apakah dia akan mati?”

“Kau akan tahu jawabannya setelah kita menemukan carier di bawah sana,” sahut Ali yang terus melangkahkan kakinya.

“Oke,” kata Salman, “terus apakah kita masih melanjutkan petualangan ke Pulau Kalong?”

“Soal itu aku tidak bisa putuskan. Tentunya atas kesepakatan kawan-kawan lain. Terlebih lagi dari Pati. Andai Pati bilang ‘tidak’, ya, sudah kita batalin saja. Tidak baik juga dipaksa-paksa, kan?”

“Betul juga, kawan.”

Dua tubuh itu telah hilang dari pandangan para sahabatnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima belas. Sesuai perintah Ali, setelah mulai segar kembali mereka menelusuri jalan setapak itu. Di bawah dedaunan pandan berduri, mereka hati-hati melangkah. Jalan setapak itu tidak seburuk sebelumnya, hanya saja mereka harus melewati pandan berduri yang begitu luas.

“Buah yang menggugah selera,” Pati mengeluh, menatap lamat-lamat buah yang kemerahan di batang Pandan.

“Kau lapar?”Icow menoleh ke Pati, “sepertinya kita juga akan sampai. Di sana kita bisa makan mie dan ngopi sambil menunggu mereka.”

“Ya, setuju” Eki sepakat usulan Icow.



Langkah kaki mereka semakin cepat, sekitar 20 meter tampak sabana yang menghijau di ujung sana. Beberapa pohon tampak menjulang tinggi, daunnya tidak begitu lebat, tapi bercabang beranting banyak. Ilalang bergoyang-goyang diembus angin samudera, sinar surya tertutup awan di angkasa. Suasana yang begitu nyaman di tepian laut selatan pada titik tertinggi seperti itu.

Tiba di pucuk tertinggi mereka menghempaskan tubuhnya di rerumputan hijau. Dari puncak itu pemandangan sekitar tak sehelai daun pun yang menutupinya. Lautan luas terbentang tanpa pembatas   terlihat jelas. Sedangkan pemandangan di arah utara, terlihat perbukitan yang ditumbuhi berbagai pepohonan. Tanaman warga seperti kacang tanah, jagung, ubi kayu, dan lain-lain, tampak sumbur dari kejauhaan.

“Kita dirikan tenda satu saja. Untuk memasukkan barang-barang di sana,” Icow sudah menancapkan frame tenda.

“Dari puncak sini, tanaman warga begitu subur. Kenapa dari laporan pemerintah, Kabupaten Gunungkidul daerah paling miskin di Yogyakarta?” tanya Limo ke siapa saja yang ingin menjawabnya.

“Boleh jadi tidak semua lahan bisa ditanami oleh warga di sini,” kata Ana, “Lihat saja tanah yang kita pijak ini, ya, betul rerumputan hijau, tampak sehat. Tapi tujuh langkah ke depan sudah tanah keras dan bebatuan.”

“Hmmm, ya.. ya, masuk akal,” Limo bergumam, “hanya saja aku masih penasaran, dengan karakter tanah seperti ini kenapa tidak ditanami yang sesuai saja dengan jenis tanamannya?”

“Maksudmu?” Ana balik tanya.

“Begini, di Arab Saudi, padang pasir menjadi tempat mereka berpijak. Secara tidak langsung mereka tergantung dengan padang pasir tersebut,” Limo menjelaskan, “dan mereka cukup kreatif, bisa menanam kurma, yang kemudian bisa membantu perekonomian warganya. Kurma yang seringg kita makan saat di bulan ramadan, sebagai bukti Arab Saudi bisa mengekspor kurma ke negara kita.”

“Penyesuaian?” Eki berpikir keras.

“Aku juga pernah baca di berita, Kalimantan yang berlahan gambut itu bisa ditanami palawijaya. Jadi aku pikir, petani meski lebih kreatif melihat lahannya. Mereka harus berinovasi,” tutur Ana.

Icow yang hanya diam saja mendengar teman-temannya mengobrol diam-diam menyimak. Dan Uni membantu Icow memasak. Tugas Uni memotong bawang, cabai, dan menyiapkan bumbu lainnya untuk masak mie instan. Sejak tadi Pati tidak tertarik dengan obrolan kawan-kawannnya, ia malah tertidur pulas. Suara dengkurnya cukup keras.



“Cow, bagaimana menurutmu, apakah kita lanjut?” tanya Uni.

“Terserah teman-teman saja,” jawab Icow, lalu mengantarakan beberapa cangkir kopi ke sahabatnya yang sedang asyik mengobrol, “kau, mau kopi atau teh?” Icow kembali mengambil air panas dari kompor.

“Aku mau apa yang kau mau, hihihi,” jawab Uni.

“Baik, aku tahu kau lebih suka teh. Aku akan buatkan untukmu.”

“Cowok yang baik,” puji Uni.

“Terkadang, puji-puji seperti itu membuat orang niatnya jadi berubah,” kata Icow lagi, “sebaiknya manusia itu tak perlu dipuji, sehingga apapun yang dilakukannya di kemudian hari bukan karena pujian atau pamrih. Atau apapun untuk kepentingannya. Kita hidup ini memang lebih suka dipuja-puji. Lihat saja mahasiswa kampus, haus akan puja-puji, akibatnya organisasi intra melempem kayak kerupuk.

Uni hanya diam, melihat komat-kamit mulut Icow. Dan Icow terus melanjutkan,

“Jika mau kita bahas kembali, sebenarnya apa, sih, fungsi lain dari mahasiswa itu?” yang ditanya tak menjawab, Icow lagi-lagi menerangkan, “salah satu fungsi mahasiswa adalah membawa perubahan. Ya, perubahan, kampus kita yang masih berwatak feodal dan komersil, sudah seperti leasing itu, pelan-pelan harus dihapuskan.”

Lagi-lagi Uni bergeming, kesukaannya kepada Icow memang ketika sahabatnya itu bicara panjang lebar tanpa hilir.

“Sumpah, aku tidak habis pikir terhadap organisasi intra. Kalau mereka cuma bisa jadi panitia, panitia, dan panitia, tanpa pernah turun ke jalan bersama mahasiswa lainnya, juga masyarakat. Sebaiknya mereka bentuk bisnis EO saja. Nah, kita tahu mereka sebagai panitia di acara-acara yang tidak penting di kampus, sementara tugas pokok sebagai organisasi intra dalam mewujudkan perubahan itu tidak pernah dikerjakan. Sebagai contoh, organisasi intra sudah sepaputnya menegur rektor ketika uang SPP dinaikkan. Itu satu contoh saja yang harus dikerjakan, tapi lihatlah ketua-ketua organisasi cupu itu tak sedikit pun membahas persoalan tersebut,” Ico semakin geram jika berbicara soal kampusnya.

“Kemudian panitia-panitia tadi pun ketika mengundang seorang pembicara, tak pernah pula kulihat mereka mengkritisi pembicara itu. Apakah pembiacara itu, meskipun mantan DPR, mantan KPK, Bupati, atau Polri tak keliru menyampaikan materinya? Belum tentu! Jika kita ingin habis-habisan berargumen dengan pembicara itu, bisa jadi akan jadi tontonan seru. Tontonan yang juga sebagai pendidikan bersama. Seperti Rocky Gerung bilang, perdebatan-perdebatan di kampus harus diaktifkan. Bahkan calon presiden harus diuji misi dan visinya di kampus,” kata Icow lagi.



“Cow… Icow, aku cuma memujimu, kataku tadi kau cowok baik, itu saja. Kenapa seperti orasi kau menanggapinya. Hihihi,” Uni tertawa.

Icow pun ikut tertawa. Entah prinsip seperti apa yang Icow pegang, dia sentimentil soal puja-puji. Melihat mereka tertawa cekikian, Eki, Limo, dan Ana menoleh mereka keheranan.

“Kenapa kalian? Seru sekali tertawa?” Limo menoleh.

“Iya, bahagia sendiri-sendiri, nih,” Eki menyindir.

“Sudah biarkan saja,” ujar Ana tak menghiraukan lagi.

Eki menatap mata Ana dalam-dalam.

Di sebelah timur dua kilo meter dari mereka, Ali dan Salman melewati semak belukar yang belum pernah ditempuh oleh siapapun. Bebatuan setinggi mereka di kanan-kiri ditumbuh gulma yang menjuntai. Ali begitu yakin letak jatuhnya carier tepat di hadapannya, namun saat mereka di sana tidak ada. Salman yang menyibak semak-semak juga belum menemukannya.

“Coba cari lebih teliti lagi,” Ali memencarkan diri, “aku coba cari ke arah sana.”

Berulang-ulang mereka mencari carier Pati, dan berulang-ulang pula hasilnya nihil. Mereka hampir putus asa, pencariannya tak membuahkan hasil. Sementara hari mulai sore. Ali melihat-lihat ke atas, samping kanan-kiri, dan ke mana saja matanya bisa melihat. Begitu buas menyisir. Pun Salman lebih teliti lagi di setiap jejak langkahnya.

“Seharusnya carier itu ada di sini,” Salman mengeluh, “memangnya apa isi carier Pati? Kalau memang tidak ditemukan. Bagaimana kalau kita tinggalkan saja?”

Mendengar usulan Salman, Ali menggeleng dan lebih tajam lagi matanya memburu. Dia mendongakkan lagi kepalanya ke atas, lalu ada senyum harapan tersirat di wajahnya.

“Hm… iya… iya,” Ali bergumam.

“Ada apa?” Salman penasaran.

“kau lihat itu, dari sini memang tidak terlihat langsung cariernya. Tapi aku yakin carier itu menyangkut di sana,” ujar Ali penuh optimis menunjuk tebing di atasnya.

“Kau, yakin?” Salman belum percaya begitu saja, “tapi kalau memang kau yakin, kita bisa memanjatnya.”

“Tidak usah! Kau tunggu di bawah, biar aku yang panjat.”

Mereka mendekati tembok raksasa alam tersebut. Salman menunggu Ali yang mulai memanjat bagaikan Spyderman. Tanpa alat pengaman seperti tali atau peralatan lainnya. Tangan Ali yang kokoh menempel dinding batu itu seperti ada lemnya. Sesekali ia menggseser kakinya ke kanan-kiri. Gemulai sekali terlihat, Ali seperti menari di tebing yang tinggi itu. Begitu cepat melesat sampai ke atas Ali tersenyum.



“Ini cariernya,” Ali mengangkat Carier Pati.

“Oh, syukurlah,” Salman turut senang, “lemparkan saja ke bawah!”

Carier itu dilempar Ali ke bawah, dan Salman mendekati carier pati. Tidak begitu lama Ali turun tanpa halangan apapun. Kemudian mereka saling berpandangan satu sama lain. Ada pertanyaan yang sama di kepala mereka, yaitu apa isi carier Pati? Kenapa Pati begitu berharap cariernya ditemukan. Apakah isinya barang-barang berharga? Mungkin dompet, kartu-kartu penting, atap apa?

Dengan wajah penuh rasa penasaran merela membuka carier Pati. Salman yang tak sabaran cepat-cepat melepaskan tali penutup carier, kata Salman,

“Cuma beberapa potong pakaian.”

“Coba bongkar lagi sampai ke bawah!” Ali menyuruh Salman lagi, “aku jadi curiga dengan Pati.”

Setelah dibongkar lipatan pakaian itu, mata mereka terbelalak melihat apa sebenarnya yang membuat isi carier Pati tampak penuh dan berat. Salman geleng-geleng kepala dan berkata,

“Kalau cuma isinya snack, cokelat, kacang, buah, minuman kaleng, dan apa ini,” Salman mengangkat sesuatu, “kau tahu apa ini, Li?”

Ali terkekeh melihat apa yang dipegang Salman, “Jimat pati sejak kecil.”

“Jimat? Maksudmu?”

“Itu cuma buntelan kain hitam yang dikasi tali. Biasanya dikalungkan, atau paling tidak dibawa kemana pun pergi oleh pemiliknya,” Ali menerangkan sembari meraih benda aneh milik Pati.

“Isinya apa? Dan gunanya untuk apa?” Salman terus bertanya.

“Isinya itu tulisan ayat suci. Biasanya orang-orang yang percaya dengan jimat yang seperti itu untuk melindungi mereka dari mara bahaya.”

“Jadi Pati selamat terperosok ke jurang karena ini?” Salman kembali meraih jimat hitam itu dari tangan Ali.

Ali tertawa lagi, “sekarang siapa yang kautanya? Jika ke aku? Tentu saja kujawab tidak. Setiap kejadian di atas bumi ini selalu berkaitan dengan Maha Pencipta. Sebab Dia Yang Maha mengetahui di balik cerita, kisah-kisah, dan kejadian-kejadian yang dialami manusia. Dia, selalu punya rencana di setiap langkah kaki anak manusia.”

“Aku tidak percaya, di zaman modern seperti ini masih ada manusia yang percaya dengan kekuatan benda gaib,” Salman memasang kalung itu ke lehernya.

“Jangan kau pakai!,” Ali melepaskan kalung itu dari lehernya dan memasukkannya ke carier, “sudah kita pulang saja. Biarkan benda itu tetap pada carier Pati.”

Kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju tempat semula, di mana teman-teman yang lain sudah menunggu di atas sana. Waktu sekarang sudah pukul enam belas, hari tampak semakin sore. Langit biru mulai berganti dengan langit kepucat-pucatan.

“Jadi bagaimana, apakah kita tetap ke Pulau Kalong?”

“Kita bicarakan nanti,” jawab Ali mempercepat langkah kakinya.

Bersambung…  [Asmarainjogja.id]

Baca cerita sebelumnya:

Cerita di Tepi Samudera 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas