Generasi Indonesia | Foto Istimewa

Oleh: Asmara Dewo

Beberapa hari yang lalu, di tengah pagi, air mata itu sempat menetes, alunan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Indonesia Pusaka, Tanah Airku, Gugur Bunga, dan Kebrar Kebyar lagu dari Gobloh terdengar syahdu nan hening. Bagaimana saya tidak mellow, ketika saya benar-benar merasakan, “Indonesiaku dikoyak”?

Apakah ini terlalu berlebihan? Mungkin jika teman-teman yang belum merasakan bagaimana hati, tenaga, dan pikiran demi satu impian bangsa, Indonesia bisa menjadi sebuah negara yang hebat, maju, bermartabat, berdaulat, sejahtera, dan tentu saja negara yang relijius. Dan semua itu seakan sirna, disebabkan sebuah masalah yang serius menghantam negara kita.

Mungkin juga saya dianggap sok nasionalis, sok pancasilais, dan sok idealis? Ya,   sadar sadar sekali, hanya segelintir kaum muda saat ini benar-benar serius memikirkan bangsa ini, memikirkan negara Indonesia. Jadi wajar, jika ada yang menilai negatif ketika saya harus katakan, “Saya mellow, sedih, sebab Indonesia terkotak-kotak. Tak ada lagi persatuan, tak ada lagi persaudaraan, semua yang bersebrangan menjadi permusuhan.”

Tidak mengapa, andai pun dinilai seperti itu, suatu hari nanti, mereka akan tahu dan sadar, apa yang pernah ditulis ini bukan bualan belaka, apalagi sekadar menarik simpati di tengah kekacauan rusuh di tengah bangsa.

Sepertinya saya tidak menyebutkan apa penyebab kacaunya negara kita belakangan ini? Penyebab bentroknya antar golongan? Penyebab saling menghina, yang menyentil SARA? Tidak perlu disebutkan lagi, karena teman-teman pasti sudah tahu itu semua.

Sampai detik ini, hanya satu yang membuat saya terus bertanya-tanya, “Kenapa karena hanya satu orang, bangsa ini bisa terpecah belah? Kenapa karena satu orang, bangsa ini terkotak-kotak? Kenapa karena satu orang, kita saling sikut, tonjok-tonjokkan? Kenapa?! Kenapa bisa seperti ini, bung?”

Sebagai penganut Muslim, tentu saya sangat tersinggung, dan marah jika agama saya dinistakan? Mungkin teman-teman begitu, bukan? Namun permasalahan soal dugaan penistaan agama itu terus menjalar kemana-mana. Bahkan parahnya karena soal ini pula, bisa jadi saudara dan sahabat sendiri jadi salah paham. Ingat, hanya karena satu orang.

Sepertinya bukan saya saja seperti itu, teman-teman juga sepertinya  merasakannya? Ketika mungkin karena pembelaan kita, orang lain yang berbeda akidah ikut pula tersinggung, ikut marah, dan atas karena itu semua jadi jaga jarak. Hilang keharmonisan persaudaraan dan persahabatan.

Jauh-jauh hari saya juga katakan, di lubuk hati yang terdalam, tak secuil pun membenci agama lain, tak ada senoda pun membenci suku bangsa lain, dan tak ada niat pun ingin menyakiti orang lain. Namun, sebagai seorang Muslim, sebagai seorang WNI, saya punya hak untuk marah, menuntut, karena agama saya sudah dinistakan. Tak perduli apapun risikonya, saya harus menuntut soal agama yang tertanam di dada ini. Ini soal akidah, bung, tak ada seorang pun yang boleh mengusik keyakinan di setiap manusia.

Dan saya orang yang tahu berterimakasih, tak akan pernah melupakan orang-orang yang pernah berbuat baik, dan membuka jalan kehidupan saya. Dibesarkan dilingkungan heterogen, membuat saya paham bahwa manusia tercipta beragam dengan keyakinan dan keunikannya. Dibantu pula bukan hanya dari seagama sendiri, bahkan orang yang sama sekali tak dikenal. Ketika kebaikan manusia yang membukan pintu orang lain, tentu memberikan kehidupan yang lebih baik lagi pada seseorang.

Adalah saya orang yang pernah dibukakan pintu oleh sesosok Ketua Komunitas Tionghoa di Kandis, Riau. Yang kini beliau sudah almarhum. Beliaulah sosok yang membuka jalan, hingga akhirnya saya sempat mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Meskipun pendidikan itu berujung pahit. Tapi bagi saya, semua ilmu yang sudah didapatkan, sekuat-kuatnya, semampu-mampunya, bisa berguna bagi kehidupan manusia.

Lalu bagaimana mungkin saya lupa diri? Atau pula membenci orang Tionghoa? Tidak ada! Bahkan setiap saya menulis opini tentang bentrokan antar golongan, selalu saya sisipkan kalimat persatuan, agar pembaca bisa mengambil kebijakan dan pemahaman soal perbedaan.

Bagi saya, siapa yang bersalah, mutlak pada individunya. Bukan yang lain, bukan suku bangsanya, bukan agamanya, atau bukan dari golongannya. Karena setiap manusia mempunyai otak dan hati yang dimilikinya masing-masing. Lain halnya orang gila, itu adalah kesalahan kita semua, sebab membiarkan orang gila berkeliaran di tengah umum.

Mengenai agama juga begitu, tidak pernah membenci agama lain. Memburuk-burukkan, memusuhi, memerangi, atau lain sebagainya untuk memecah belah bangsa. Saya sadar, sesadar-sadarnya, bahwa perbedaan agama itu sudah ditentukan Allah SWT. Karena itu pula agama tidak boleh diganggu gugat, dicampuri, bahkan sampai mengaduk-aduk agama lain.

Sudah saya singgung di atas tadi, sejak kecil saya berteman dengan siapa saja, beragam agamanya. Sama dengan Islam, Muslim itu ada yang baik, ada pula yang buruk. Begitu juga dengan umat agama lain di negeri kita, Indonesia Raya. Sampai detik ini sahabat-sahabat saya juga banyak yang non-Muslim, dan tetap berhubungan baik.

Nah, belakangan ini mungkin saja sahabat, kerabat, dan kenalan yang berbeda agama dengan saya, ada yang tersinggung, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mohon pula dibukakan pintu maaf untuk saya, soal postingan di Facebook, ataupun di tulisan-tulisan pada situs yang saya kelola. Saya sadar betul, sejak mencuatnya kasus penistaan agama di tanah air ini, saya kerap menulis soal pembelaan agama, dan menuntut agar si terduga diadili seadil-adilnya.

Meskipun tulisan yang selama ini mungkin pahit dibaca, dan membuat berang, namun semua itu ditulis dari niat yang tulus. Agar ke depannya, sebagai pelajaran yang bisa kita petik bersama-sama. Tidak mengusik agama lain, dan tidak menghinakan agama lain. Bukankah kita juga tahu, bahwa hukuman juga sebagai didikan untuk manusia agar lebih baik lagi?

Kita adalah generasi muda yang menggenggam harapan dan impian bagi bangsa yang kita cintai ini. Tidaklah mungkin kita bisa berdampingan hidup jika saling mencurigai, memusuhi, dan menyimpan dendam di hati. Padahal kita sebagai generasi muda harus bersatu padu, menyingsingkan lengan baju, dengan segala kemampuan yang kita miliki untuk mengantarkan Indonesia menuju lebih baik lagi.

Bung, kita sudah tertinggal jauh oleh negara sebelah? Masihkah kita berkutat soal permusuhan yang tiada habisnya? Dan itu karena satu orang, yang jelas sekali melukai umat Muslim.

Sudah sepatutnya, kita menjadi generasi pemersatu bangsa, bukan generasi pemecah bangsa. Jika pun kita berbeda dalam apapun itu, setidaknya kita bisa menghargai perbedaan itu sendiri. Karena setiap manusia pun tidak ada yang sama. Coba bayangkan di setiap pada diri kita menularkan persatuan, menularkan pemahaman kebersamaan, dan menolak tegas permusuhan dan peperangan. Saya yakin, seyakin-yakinnya, bangsa ini tidak akan mudah diadu domba, dikotak-kotakkan, apalagi dijadikan alat kepentingan di balik oknum yang mendapat keuntungan.

Kitalah generasi muda itu, sekelompok  generasi yang membawa perubahan dan keberkahan bagi setiap manusia. Tanpa terkecuali. Tak memandang apa agamanya, tak memandang apa suku bangsanya, dan tak memandang golongannya, karena kita satu, Indonesia. [Asmarainjogja.id]

Baca juga:

SBY yang Difitnah, Malah SBY yang Mau Dilaporkan Pengacara Ahok

Ahok dan Pengacaranya yang Mengusik SBY, Kenapa SBY Dibilang Berlebihan?

Jebakan Batman untuk KH Maruf Amin dari Pengacara Ahok

Lima Tuduhan Keji ke Susilo Bambang Yudhoyono

 

Wisata baru di Mangunan, Watu Goyang

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas