Di Pantai Jungwok kau Bersamanya (Ilustrasi) | Foto AIJ

Seharusnya esok adalah hari kebahagiaan kita, di mana kau dan aku duduk di singgasana cinta atas ikatan suci. Ini adalah impian kita bertahun-tahun sudah, aku ingat betul saat janji yang diucapkan dengan air matamu yang terus mengalir.

“Aku janji, aku nggak akan mengecewakan kamu lagi. Ini adalah janji terakhirku, percayalah?!” serak suara itu, kau paksakan juga.

Duhhh… betapa bodohnya seorang wanita seperti aku, mau saja ditipu dan terus ditipu oleh pria seperti kau. Ah… entahlah, ini terkadang membuatku lupa akal sehat. Sudah tak bisa lagi membedakan mana kesungguhan dan mana bualan belaka.

Pernah juga kaubilang padaku, untuk menerima aku apa adanya. Baik dari sifat burukku, maupun tak kesempurnaan fisikku. Ucapan indah itu menarik senyumku yang kian lama surut akan problema cinta yang pelik. Ya, kau telah berhasil membuatku tersenyum, di malam itu saja.

Hari kian kita rajut bersama, melangkahi jalan-jalan kecil yang sulit hanya untuk sebuah impian. Impian siapa sebenarnya? Aku atau kau? Yang suka sekali mengobral mimpi indah untuk mabuk kepayang. Dan semakin bodohnya lagi, aku selalu turuti apa saja kemauanmu. Terutama ucapan pamungkasmu ini.

“Re, kita sebentar lagi menikah. Nggak mungkin aku menyakiti kamu. Pria mana yang mau menyakiti calon ibu untuk anak-anaknya? Tidak ada, Re! Tidak ada!”

Napasku pun terhenti saat mendengar ucapan pamungkasmu itu. Lagi dan lagi aku bisa memaafkan dan bisa memahami keadaan. Bahkan tanpa malu-malu pula kau membujuk, memohon, merayu di depan orang banyak layaknya anak kecil pada ibunya untuk meminta mainan. Kau seperti itu, sudah kehilangan rasa malu.

“Apa yang harus kumalukan, karena ini adalah bukti cintaku padamu,” ucapmu dengan bangga dalam teriakan di tengah orang ramai.

Inilah bukti cinta dalam perkataan, tindakan-tindakan yang berbanding terbalik dengan janji itu sendiri. Ribuan kali sudah ucapan itu menerobos lubang telingaku, ribuan kali pula kau berjanji tidak mengulangi kejahatan cintamu.

Kau, Roya, dan aku, selalu melingkar dalam hubungan yang panas. Ingin sekali sebenarnya kita cukup bersahabat, seperti sebelumnya. Kita semua seperti dulu lagi, dalam hangatnya persahabatan, bukan seperti sekarang ini, saling curiga, tampak bermusuhan. Dan harus diakui pula aku kalah menundukkan kemauanku.

Sekarang entah mau dibawa kemana hubungan ini?

Deru ombak bergulung tinggi dari samudera Hindia ke tepi Pantai Jungwok. Mengamuk dengan ganasnya menghantam karang. Pecahkan kesunyian suara kecilmu dengannya. Tampak wajah kalian tersenyum bahagia menatap pantai yang membiru sampai ke garis horizontal.

Dan kaki kecilku terpaksa melangkah agar semua ini berakhir. Menyudahi apapun yang terlewati, baik kebahagiaan maupun penderitaan saat menjalani hubungan bersamamu.

“Mesa, sudah jelas semua sekarang! Jangan coba-coba membohongiku lagi!” kutarik kerah bajumu. Kau tampak terkejut, mungkin tak mengira bahwa aku bisa menemukanmu di sini. Pun tak kalah kagetnya Roya cepat-cepat berdiri menjauhi Messa.

“Tenang, Re, jangan salah paham dulu! Ini bukan seperti yang kamu bayangkan!” kau mencoba berkilah dari kenyataan. Seolah-olah aku adalah anak kecil yang harus diajarkan lagi.

“Brengsek! Kamu tahukan, besok kita menikah. Betapa teganya kamu dengan Roya seperti ini!” aku sudah tak bisa mengontrol diri, mataku pun kian tajan menatap Roya, “kamu lagi Roya! Kan tahu kami akan menikah, kenapa masih saja mau merusak hubungan kami.”

Wajah Roya tampak pucat, ucapannya pun  terbata-bata  "Jaaangan sssalah pahammm, Re! Dengarkan penjelasan kami!"

“Dengar dulu, Re! Dengar dulu!” kau menahanku sekuat tenaga di saat syetan-syetan mulai merasuki emosiku.

Kau dan aku pun terjatuh di atas pasir. Andai saja tak bisa kau tangkap, tentu saja rambut roya akan terjambak oleh tangan liarku, lalu kugeret ke pantai. Peduli apa lagi dengan persahabatan, peduli apa lagi yang disebut-sebut sahabat adalah keluarga. Jika begini seorang sahabat, apa masih pantas disebut keluarga?

“Perempuan munafik!” tanganku masih sempat mencakar pipi Roya. Ia mengaduh kesakitan, darah segar menetes di pipinya yang putih. Dan terus berlari menghindariku.

Plakkkk… telapak tanganmu yang besar itu mendarat di pipiku. Semakin marah… aku mengamuk sejadi-jadinya, kucakari wajahmu dengan kuku-kuku tajam. Ya… aku sudah kesetanan. Kita bergumul di atas pasir yang landai itu. Padahal beberapa bulan yang lalu, di pasir putih ini pula kita kejar-kejaran di saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat.

Kau dan aku disinari lembut sang matahari sebelum ia tenggelam meninggalkan siang. Kita tertawa, penuh haru bahagia. Namun sekarang, kita dalam kemarahan dan rasa ingin membunuh satu sama lain.

“Tolong, Re, kamu dengarkan aku dulu!” kamu teriak sekua-kuatnya tepat di telingaku.

Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, aku tersungkur di atas pasir dengan kedua tangan terkunci. Lututmu yang kokoh juga menindih punggung, sembari kedua tanganmu mengunci tanganku.

“Biar aku jelaskan semua! Sebenarnya sejak dulu, ada perasaan kami yang sama, Re. Roya diam-diam mencintaiku. Aku pun sebenarnya mencintainya, namun karena kita semakin dekat, aku semakin bingung. Roya juga sadar kalau terus memaksa perasaannya itu tentu menyakitimu. Pelan-pelan dia menghindar, dan aku juga mulai tahu. Karena itu pula aku ingin tetap menjaga komunikasi dengannya, bersahabat dengannya, seperti tahun-tahun lalu saat kita semua masih kompak bersahabat,” kau coba menjelaskan apa yang terjadi selama ini. Aku hanya diam. Bingung memilih percaya atau tidak.

Kau melanjutkannya lagi, “Aku nggak mau hubungan persahabatan kita semua putus karena urusan perasaan seperti ini. Nah, kamu sendiri, Re, sudah nggak mau berteman kan sama Roya, sejak dia mulai menghindar?! Ayo jawab!”

“Siapa bilang?!” jawabku.

“Halahh… Re… Re… Terkadanng kamu merasa menjadi wanita yang paling benar!” suaramu tampak begitu geram, dan mata tajammu semakin menyayat hati. Roya di sebelah yang tak jauh dari kami, tampak meringis dan terdiam memegangi pipinya yang berdarah.

“Kalau kau pria jentle, seharus bisa memilih! Aku atau Roya? Bukan plin-plan seperti selama ini!” aku membela diri.

“Oh… baik, kalau itu mau kamu sekarang! Sudah kuputuskan untuk memilih.”

Betapa mudahnya kau akan memilih di antara kami. Padahal besok kita akan menikah. Tapi… bisa begitu ringanya keputusan yang keluar darimu, Mesa. Aku diam saja, hanya mendengar apa selanjutnya yang akan ia katakan lagi padaku. Beberapa menit ia diam, tak ada suara terdengar, hanya suara pecahan ombak saja yang ada di tepian Pantai Jungwok ini.

“Re, mau bagaimana pun aku akan tetap menikahimu. Aku sayang kamu, cinta kamu. Walaupun dulu, aku pernah juga mencintai Roya, tapi itu bukan berarti mengingkari janjiku. Dan Roya pun bisa paham. Itu pula kenapa kami memilih tempat ini sebagai perpisahan...” ucapmu yang tertahan di tenggorokan.

“Maksud kamu apa, Mesa! Berpisah bagaimana?” aku mendesakmu agar melanjutkan jawaban itu. Sementara Roya sudah meninggalkan kami.

“Roya nggak sanggup kalau tinggal di sini terus, karena itu pula dia akan tinggal di rumah tantenya di Singapur, dan menetap di sana. Aku membujuknya, biar dia tetap di sini saja. Dia bilang: bisa menerima keadaan ini semua, tapi nggak bisa kuat kalau dihadapi di depan mata. Ya, aku mengerti dia nggak akan bisa menerima pernikahan kita besok, dan nanti malam Roya sudah berangkat ke Singapur.”

“Kamu nggak bohong, Mesa?” tanyaku tak percaya. Kau pun melepaskanku. Lalu membantuku untuk duduk.

“Kamu selama ini cemburu berlebihan. Padahal kami bisa membedakan perasaan cinta dan hubungan persahabatan. Kalau sudah begini, bagaimana coba? Eh… Roya mana?” kau berdiri mencari Roya. Kemudian mengejarnya ke parkiran motor.

Roya… aku bersalah padanya. Namun, saat kulihat binar matamu saat menyebut nama Roya ada yang beda. Dan sungguh sangat berbeda. Aku tahu kau masih mencintainya. Esok kita menikah, aku adalah istri kau. Tapi bagaimana bisa aku menjalani pernikahan bersamau, sebab di matamu sendiri selalu terbayang Roya. Sungguh, Mesa, Kau tak bisa membohongi dirimu sendiri.[asmarainjogja.id]

Penulis:  Asmara Dewo 

Baca juga:  Menunggu Alam di Malioboro

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas