Kopi Merapi | Credit foto malaspulang.id

Oleh: Asmara Dewo

Aku  menatap punggungmu sembari mengikuti langkah kakimu. Langsung menuju meja pesanan, sementara aku mencari meja kosong. Saat itu tamu kafe sangat ramai. Agak kesulitan melihat mana kursi yang bisa kita duduki. Oh, untungnya beberapa tamu itu sudah beranjak dari kursinya. Aku sudah siap-siap mengganti posisi mereka. Hanya beberapa detik saja setelah mereka pergi aku langsung duduk. Maklum di Kopi Merapi masih kekurangn kursi. Padahal pengunjungnya setiap hari ramai, apalagi di musim libur atau akhir pekan.

Paku bumi yang paling fenomenal di Jawa, Gunung Merapi, terlihat gagah menjulang tinggi. Pucuknya tertupi awan putih yang menggumpal-gumpal. Berlatar langit biru, pemandangan hijau di utara menjadi pusat perhatian semenjak kurebahkan badan di kursi. Menghirup udara segar di lembah merapi seolah-olah menjadi obat rinduku ke alam. Maklum sudah lama tidak traveling. Memang sekarang bukan waktunya traveling, tapi dengan pemandangan indah di depan sembari menyesap kopi, itu cukup menggantikan hobiku.

Kulihat Icow masih mengobrol dengan salah satu karyawan, sepertinya mereka sudah lama kenal. Agar tidak bosan menunggu Icow dan pesanan, aku lanjutkan lagi membaca novel Tereliye. Aku semakin penasaran dengan akhir kisah mereka, apakah Tegar masih mencintai Rosie sepenuhnya seperti di saat mereka remaja? Mencintai dengan sepenuh jiwa, tanpa ada seseorang yang menghalangi cinta mereka. Berakhir bahagia atau berakhir duka? Tapi kubiarkan rasa penasaran itu berkecamuk di dada. Lebih lanjut membaca daripada menerka-nerka.



Beberapa menit kemudian kau sudah duduk di depanku. Meja yang mengilap menjadi pembatas kau dan aku. Posisi yang seperti itu sungguh indah bagiku, meskipun orang lain, atau juga dirimu sendiri menganggap itu hal yang biasa. Normal-normal saja. Sama seperti pengunjung lain. Sekali lagi aku ungkapkan, itu momentum yang membuatku bahagia luar-dalam. Dengan ekor mataku kau sudah membuka novel dari karya yang kau puja-puja, Pramoedya Ananta Toer.

“Kamu curang, kamu sudah baca duluan,” kau menggerutu.

Aku tertawa kecil saat kata-kata itu terucap, “Salah kamu sendiri, kenapa lama banget.”

Kau ikut tertawa. Tawa yang paling aku kenal sejak dulu, di mana saat kita pertama kali berjumpa di OSPEK, yang kau sebut-sebut hari pembodohan mahasiswa. Menatapmu saat membaca adalah pemandangan yang indah. Apakah aku terlalu berlebihan menilainya? Tapi aku ada alasannya, begini, saat kau membaca telihat tubuhnya terikat. Bergerak seperlunya saja. Mulutmu komat-kamit tanpa suara. Dalam tempo beberapa detik saja, satu halaman sudah kau tamatkan. Dan pada waktu-waktu tertentu, mulutmu berhenti bergerak, lalu menegakkan kepala, sembari memicingkan mata. Aku tahu kau tampak memikirkan sesuatu terkait cerita pada novel tersebut. Nah, di saat seperti itulah kamu cowok yang sempurna di bawah kolong langit ini. Kamu adalah patung hidup yang tampan, hahaha. Maaf-maaf, tidak bermaksud apa-apa.

Bintang Inspirasi

Setelah berpikir, kau melanjutkan kisah novel itu, aku juga begitu. Meski kau tak sadar aku selalu memerhatikanmu. Bahkan kedipan matamu saja aku tahu. Atau sudah berapa kali kau meregangkan otot-otot lehermu karena pegal menunduk. Tidak perlu aku catat, Cow, karena otakku cepat mengkalkulasikan semua itu secara otomatis. Tidak perlu diperintah lagi. Entahlah, Cow, definisi seperti apa lagi yang bisa kucatat dalam diary ini, terlalu sulit menjelaskannya. Hanya saja, aku berani katakan, aku cinta kamu. Meskipun dalam diam. Tanpa kau tahu. Tanpa menyakiti orang lain. Dan semua itu kubiarkan bermuara di hatiku. Tak kuasa menahan puasa mengobrol, aku harus membuka basa-basi lagi. Biar hubungan kita terus menghangat.

“Cow, menurutmu cinta itu apa?” tanyaku. Novel kututup sejenak.

“Cinta?”

“Iya, cinta?”

“Bagiku cinta itu menjaga,” jawabmu yang begitu sederhana.

Aku masih bingung jawabanmu yang masih absurd, “Cinta itu menjaga kamu bilang. Menjaga seperti apa?”

“Menjaga siapa yang kita cintai.”

“Lalu jika kita tidak mencintainya, artinya kita tidak menjaga?” aku kejar terus kau dengan pertanyaan.

“Cinta itu luas cakupannya. Cinta pada umumnya seperti itu, jika cinta secara khusus, seperti pasangan kekasih, aku tidak mengomentari hal yang begituan,” kau tertawa.

Tidak mengomentari cinta antara pasangan kekasih. Oke, aku bisa maklum tipe cowok sepertimu yang tidak perduli dengan hal remeh begitu.



“Lalu cinta penting versimu seperti apa? Boleh aku tahu?” ucapku yang ingin sekali membongkar isi kepalamu. ISI KEPALAMU.

Kau tidak langsung menjawab. Novel pun kau tutup, kau letakkan dengan lembut di atas meja. Dan menatapku lekat-lekat. Air mukamu berubah serius. Lebih jelasnya menegangkan.

“Banyak manusia yang menghamburkan kata-kata cinta, pada pasangan kekasih, pada orangtua, pada guru-guru, pada rakyat yang digunakan politikus, pada sesama manusia. Pada saat itu pula mereka pamrih atas cinta yang diberikan. Cintanya harus menguntungkan. Jika tidak menguntungkan, maka kata-kata cinta itu tak diucapkannya. Malah tak diterapkan sebagaimana maksud cinta itu sendiri,” begitu penjelasanmu soal cinta.

Aku mendengarkan terus penjelasan berikutnya, apakah soal cinta kita satu persepsi. Atau malah berbeda. Jika satu persepsi, kemungkinan cintaku bisa menyatu dengan cintamu. Dan bermuara pada satu hati. Hati yang saling bertautan atas nama cinta.

“Lalu?” aku mendesakmu.

“Cinta harus ikhlas. Dibalas atau tidak cinta kita, cinta harus tetap berjalan sebagaimana dari awal tujuan mencintai. Jika kita menyerah karena cinta tak berbalas, maka kita bukan pecinta. Pecinta itu punya risiko, risiko menderita atau bahagia. Selama dalam penderitaan itu kita tetap memegang teguh prinsip cinta sejati, maka sewaktu-waktu orang yang dicintai pun memahami cinta yang kita bawa. Meskipun terkadang sampai akhir hayat cinta itu tak terbalaskan. Namun paling tidak, cinta itu terbukti, teruji sekian lama, dan tidak sedikit pun berubah. Selamanya sang pecinta menjaga hatinya. Apalagi cinta itu terbalaskan, sudah pasti orang yang dicintainya akan dijaganya. Selamanya,” senyummu menutup penjelasan soal cinta.

Aku terkagum-kagum mendengar kata yang sangat indah darimu. Tak sedikit pun terbersit di benakku, kau begitu dalam memahami soal cinta. Mungkin itu pula kau punya prinsip yang tegas, dan agak tempramental. Dan boleh jadi karena cintamu terlalu dalam pada sesuatu atau seseorang yang kau cintai. Ya, Cow, aku mulai paham cara berpikirmu.

“Wah, hebat sekali pemahamanmu soal cinta. Aku benar-benar salut padamu. Jarang-jarang cowok sepertimu, Cow. Berbahagialah cewek yang mendapatkan hatimu,” pujiku dengan tulus.

“Kamu berlebihan,” sahutmu biasa saja, “menurut kamu sendiri, cinta itu apa?”

Sebelum aku jawab, karyawan Kopi Merapi dengan sopan permisi menyajikan kopi dan camilan. Kamu sempat mengobrol dengannya, aku memperhatikan cara komunikasimu dengan orang lain. Ternyata dengan siapa saja kamu memang cowok yang ramah. Wajar cewek-cewek kampus diam-diam menitipkan salam padamu. Ada yang malu-malu, bahkan ada pula yang tak berani saat bertatapan langsung karena gerogi. Oh, kau cowok yang memesona bagi kaum Hawa.

Setelah karyawan itu pergi aku pun menjawab pertanyaanmu tadi, “Cinta itu seperti anak sungai mencari ibu muara. Sejauh manapun mengalir, sebesar apapun bendungan di depannya, dan sesulit apapun lika-liku tekstur tanah yang dilaluinya, anak sungai terus mengalir sejauh-jauhnya. Itulah kenapa cinta seperti anak sungai. Ia tak memiliki sifat menyerah. Berusaha sampai pada tujuannya. Karena ia memang terbentuk dari alam.” Kataku. Begitulah pemahamanku soal cinta.



Apakah persepsi cinta kita sama? Aku juga belum bisa menemukan persamaan dan perbedaannya. Kau mengangguk-angguk, aku pikir kau setuju dengan pernyataanku. Tanganmu menggapai tangkai mug yang menyerbak aroma kopi yang khas, lalu menyeruputnya perlahan. Aku mengikuti gaya minummu. Kau melirikku. Dan kita tertawa bersama. Saat itu aku dan kau, sehangat kopi merapi. Kita begitu mesra mendefinisikan soal cinta, cinta yang di kemudian hari akan terbuktikan.

21 Oktober 2017.

Anata menutup buku diary kakaknya. Hanya jelang beberapa menit saja, ia sudah tertidur pulas. Jam menunjukkan pukul dua dini hari.

***

SUV putih Icow melintas di Kota Magelang dengan kecepatan normal. Lalu lintas tidak begitu padat. Bisa dibilang lengang. Gunung Sumbing seolah-olah mengikuti perjalanan mereka. Mentari pukul tujuh begitu lembut menyapa. Di balik kacamata hitam, Uni mencari info terkait Rawa pening dari handphone-nya.

“Oh, ya.. ya…” Uni bergumam.

“Bagaimana? Aman, toh?”

“Aman. Banyak nelayan juga kok di sana. Ya, paling tidak kalau terjadi apa-apa, pastinya mereka bisa bantu kita,” Uni menyengir. Terlihat gigi putihnya yang bersih.

“Baguslah,” sahut icow datar.

“Lagi pula ada rompi pelampung juga, kok. Jadi aman terkendalilah. Kamu jangan khawatir, say,” ucap Uni gemas. Tangannya mencubit pelan pipi Icow.

Refleks, Icow menyibak tangan Uni. Dan Uni malah tertawa.

“Fokus! Fokus menyetirnya!” goda Uni lagi, “kamu lucu kalau begitu.”

Mereka tak sempat sarapan, Uni sudah menelpon Icow berkali-kali di kala sinar mentari pertama kali terbit. Terasa perut mereka lapar, Uni mengambil beberapa potong roti dan susu UHT dari tasnya.

“Untuk ganjal perut,” Uni menyodorkan roti ke Icow. Sebelum disambut Icow, “aku suapi saja, ya?” potongan roti sudah dihadapkan ke mulut Icow.

Dengan lahap Icow menguyah roti cokelat dari tangan Uni. Bergantian. Uni juga mengisi perutnya yang sudah berontak. Susu UHT menjadi penutup sarapan sederhana mereka di mobil.

“Kalau kita mampir lagi, tidak seru kesiangan di sana. Rawa Pening paling indah itu di saat pagi hari,” kata Uni lagi, “makanya aku desak kamu agar kita berangkat pagi-pagi sekali.”



“Iya, jadi tidak sempat sarapan,” gerutu Icow.

Uni malah tertawa, “Lha, ini barusan sarapan.”

“Telat, Nona!”

“Yang penting sarapan. Ah, kayak bukan anak petualang saja. Malu-maluin, deh.”

“Anak petualang, anak rimba, anak gunung, kalau telat sarapan, ya, lapar,” Icow terus mengomel.

Uni menaikkan dagunya, “Hmmm, katanya pembela kaum proletar, pembela kaum miskin, dites lapar begitu saja sudah tidak kuat,” Uni tertawa mengejek.

Icow langsung menatap Uni sekilas lalu kembali melihat jalan.

“Kalau kamu capek, kita bisa gantian nyetirnya, kok,.”

“Tidak usah!” tolak Icow.

Icow menambah kecepatan mobilnya. Setiap ada kendaraan di depan disalip. Melesat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Kini mereka sudah berada di daerah Secang. Jika tidak ada halangan, tidak sampai sejam mereka akan tiba di Rawa Pening.

Tiada hari tanpa pamer foto ke Instagram. Uni kembali mengisi album foto di Instagramnya. Fotonya dengan Icow yang sedang menyetir langsung diunggah. Terlihat bibir Uni meruncing di foto itu. Karena memang cantik, foto dijelek-jelekan pun netizen akan selalu memuji paras Uni.

“Apa, sih, untungnya unggah foto seperti itu di IG?” tanya Icow. Ini pertanyaan yang kesekian kali sebenarnya. Jawaban dari Uni selama itu pula tidak membuat paham Icow.

“Cuma iseng-iseng saja,” kata Uni enteng, “ihhh, kamu rewel, deh.”

Jemari Uni begitu cepat membalas komentar para  fans-nya.

“Kamu tidak tahu begitu dahsyatnya pengaruh IG di kalangan netizen. Coba kamu tahu, pasti kamu tidak membiarkan peluang itu.”

“Oh, karena kamu banyak dapat endorse produk dari IG, itu maksudmu?”

“Salah satunya.” Jawab Uni singkat.

“Aku tidak habis pikir zaman sekarang ini mendapatkan uang dari hal yang begituan. Cenderung membodohi manusia lainnya,” dengan tegas Icow mengatakan ketidaksukaan hobi Uni selama ini.

“Membodohi? Maksudnya?” mata Uni menyalang.

“Iya, membodohi. Apa faedahnya bagi follower  kamu melihat foto begituan coba?! Jika tidak ada faedahnya, itu sama saja menghabiskan waktu orang lain agar melihat fotomu. Menghabiskan paket data orang lain juga. Bukankah itu kategori membodohi orang?” suara Icow meninggi.

“Terserah kamu, deh. No comment!” jawab Uni ketus. Wajahnya langsung cemberut. Keningnya berlipat, “tapi… paling tidak, aku tidak minta uang lagi ke ortuku kalau cuma jajan kuliah, dan beli keperluan pribadi. Tidak seperti kamu yang masih minta uang jajan,” balas Uni.

Merasa terusik karena ucapan Uni, Icow pun menyerang dengan ucapan-ucapan menusuk.

“Kamu pikir aku masih minta-minta uang jajan. Ada jutaan hasil honor tulisanku. Tapi aku tidak pamer sepertimu, yang bangga mendapatkan uang dari endorse. Padahal jalannya membodohi netizen. Sayang, netizen kita masib banyak yang bodoh mau saja mengikuti akun sepertimu.



Uni terdiam. Untung saja kacamata hitamnya masih menggantung di hidung mancungnya, kalau tidak Icow akan tahu ada buliran bening yang mengambang di matanya. Jika sudah diam begitu, Icow tahu Uni betul-betul tersinggung. Tapi bukan Icow, kalau hanya persolan begitu menyembah-nyembah meminta maaf.

Dasar cewek hedonis, bathin Icow. Dasar cowok sok idealis, bathin Uni. Mereka sama-sama saling mengumpat di dalam hati.

Setelah hampir sejam mereka tak berbicara. Uni dengan matanya yang basah, akhirnya buka suara. Kekesalannya dilemparkan begitu saja, “Eh, Cow, tas dan buku yang aku beli untuk anak-anak TB itu juga dari hasil endorse. Kalau hasil endorse itu kamu bilang dari jalan pembodohan, yang menerima juga ikutan bodoh dong. Kamu selaku pendidik di sana termasuk bodoh, Cow.”

Raut wajah Icow semakin mengencang, kilatan matanya terlihat marah, “Kamu mengungkit pemberian itu? Aku juga sudah melarang, tidak usah kataku. Kamu saja memaksa diri. Dan sekarang kamu ungkit tas dan buku yang sudah kamu berikan?!”

“Aku tidak mengungkit. Tapi kenyataannya memang seperti itu!” Uni tak kalah meninggi suaranya.

Suara ban mobil berderit keras. Rem mendadak membuat Uni hampir terlempar ke depan. Untungnya sabuk pengaman terikat di badannya.

“Sialan!” umpat Uni.

“Sekarang maksud kamu apa?!” bentak Icow. Giginya bergemeretak.

“Tidak ada!” teriak Uni.

“Sekali lagi aku tanya, apa maksud kamu ungkit-ungkit pemberian itu ke anak-anak TB?”

Suara Icow bergetar. Marah. “Kalau kamu mau, sekarang bisa aku ganti?”

Uni terdiam. Bingung harus berkata apa lagi.

“Aku tidak bermaksud begitu?” akhirnya suara Uni terucap pelan.

Mata mereka beradu pandang.

“Kamu belum menjadi manusia seutuhnya. Mengungkit pemberian yang pernah kamu lakukan. Aku transfer ke rekeningmu semua belanja anak-anak TB kemarin, ” ucap Icow, “kirimkan nomor kamu sekarang!”

SUV putih Icow sudah berbalik arah. Pulang. Padahal beberapa puluh meter Rawa Pening sudah di hadapan mereka. Tampak dari kejauhan, Rawa Pening begitu indah. Tenang. Gunung-gemunung menjadi latar rawa yang sebagiannya ditumbuhi enceng gondok. Sayang, mereka tidak menikmati keindahan alam di pagi itu.

“Kita pulang!” kata Icow kesal.



Uni tidak menyahut, bibirnya terkatub rapat. Kesekian kalinya air mata Uni menetes deras. Buru-buru ia elap dengan tisu. Icow tak perduli, menangis atau tidak, bagi Icow obrolan tegang mereka tadi cukup menggambarkan keseluruhan watak Uni. Jauh terbalik dengan prinsip Icow.

Kencang mobil Icow membelah jalan. Klakson berbunyi terus menerus. Kendaraan di depan menepi, memberikan celah mobil Icow yang menyalip. Umpatan sopir lain pun meneriaki Icow. Dia tak perduli, yang penting cepat sampai ke Yogyakarta. Icow terlihat jijik melihat Uni. Tak sekalipun ia memandang perempuan yang mencintainya.

“Kamu salah paham, Cow,” terdengar lirih suara Uni.

“Cukup. Tidak perlu penjelasan lagi. Sekarang aku tahu siapa kamu sebenarnya,” bentak Icow.

Kasarnya suara Icow terlontar membuat Uni semakin sedih. Tangisan pecah. Uni sesenggukan, bahunya terangkat.

“Maafin aku, Cow, maafin aku,” mohon Uni. Tangannya berusaha meraih lengan Icow.

“Tidak!” Icow menepis tangan Uni.

***

Bersambung…  [Asmarainjogja.id] 

Baca cerita sebelumnya:

Bertukar Novel Tereliye dan Pramodeya Ananta Toer



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas