Gapura Keraton Ratu Boko | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Asmarainjogja.id – Di abad ke-8, bumi Yogyakarta, yang dahulunya dikuasai Kerajaan Mataram kuno sampai sekarang masih membuktikan kekuasaanya. Sejarah mencatat, salah satu dari wangsa Syailendra, Raja Rakai Panangkaran menancapkan sejarah emasnya di sini.  

Menjejaki sejarah Rakai Panangkaran, bisa ditelusuri dari Candi Kalasan (Candi Tara), Candi Sari, dan Keraton Ratu Boko. Untuk Keraton Ratu Boko sendiri belum begitu jelas, siapa yang membangunnya. Namun Raja Rakai Panangkaran turut tercatat di peninggalan situs yang berdiri megah di atas bukit 196 mdpl tersebut.

Turun temurunnya generasi Jawa mengisahkan Keraton Ratu Boko ini adalah tempat tinggalnya Ratu Boko. Ratu di sini bukan berarti perempuan, namun seorang laki-laki. Mungkin tidak asing lagi mendengar Roro Jonggrang? Nah, Ratu Boko inilah yang disebut-sebut ayahnya Roro Jonggrang. Jika Candi Prambanan merupakan tempat ibadah bagi keluarga kerajaan beserta rakyatnya, maka Keraton Ratu Boko yang saat ini masih terlihat adalah tempat tinggalnya.

Ini merupakan legenda rakyat, tidak bisa dipercaya seutuhnya, namun kita bisa saling mengatikan antara satu kisah dengan kisah lainnya, yang diperkuat dengan bukti peninggalannya.  Dalam kisah-kisah rakyatJawa, Keraton Ratu Boko begitu megah berdiri di atas bukit, pemandangan di sana begitu indah, alamnya subur, rakyatnya makmur, dan konon ceritanya lagi perempuan-perempuan dari daerah ini terkenal parasanya yang begitu cantik.

Keraton Ratu Boko

Megahnya gapura Keraton Ratu Boko | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Rasa penasaran inilah yang menggugah hati agar menyempatkan diri mengunjungi Istana Ratu Boko yang terletak di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebenarnya secara administratif, situs sejarah yang cukup populer ini terletak di dua perdukuhan, pertama Dukuh Dawung di Desa Bokoharjo, dan Dukuh Sumberwatu di Desa Sambirejo.

Menuju ke sana, hamparan hijau sawah terbentang luas, begitu hijau nan subur menyejukkan mata memandang. Gugusan perbukitan di sebelah timur Yogyakarta ini terlihat perkasa seakan-akan membentengi Kota Kesultanan. Akses jalannya pun begitu bagus dan mulus, meskipun setiap kendaraan harus meraung di jalan perbukitan yang juga curam.

Tiket masuknya hanya Rp 25.000 per orang. Sedangkan tiket masuk bagi anak-anak Rp 10.000. Nah, untuk biaya parkir motor Rp 3.000, dan mobil Rp 5.000. setelah memberesi urusan administrasi, saya langsung menelusuri Keraton Ratu Boko. Pohon menjulang tinggi berdaun rimbun memayungi setiap langkah kaki. Dan beberapa anak tangga harus dilewati, tidak begitu tinggi. Tapi lumayan membuat napas naik turun. Wisata di sini sudah dikelola cukup profesional, ada musholla dan kamar mandi yang bersih disediakan bagi pengunjung.

Luas keseluruhan objek wisata Keraton Ratu Boko sekitar 25 hektare. Bisa dibayangkan betapa luasnya area ini. Rerumputan hijau membentang luas di setiap celah lahan kosong. Kursi-kursi minimalis juga berjejer rapi diduduki pengunjung yang sedang istirahat. Bisa dibilang, pengelolaan situs Ratu Boko tak kalah dengan Candi Prambanan. Hanya saja, nama wisata ini belum begitu santer di Indonesia.

Wisatawan asing sepertinya masih sepi di sini, pada tanggal 25 Desember 2016 kunjungan saya ke sini, minim sekali turis. Apa saya kurang memperhatikan atau baagimana? Namun begitulah yang saya dapatkan. Meski begitu, Kraton Ratu Boko ini sejak tahun 1995 sudah dicalonkan ke UNISCO sebagai situs warisan dunia, seperti yang dikutip dari Wikipedia.

Kemegahan Situs Ratu Boko di zaman dulu, bisa dilihat saat pertama kali melihat gapura yang begitu gagah. Ada dua gapura berdiri kokoh di sana, yang pertama dengan tiga pintu, dan kedua dengan lima pintu. Menaiki gapura kedua, pengunjung disuguhkan anak tangga. Biasanya di gapura kedua inilah para pemburu fotografi memburu sunset di Ratu Boko. Kalau cuaca lagi mendukung, memang mengabadikan golden sunset di Yogyakarta, di tempat inilah salah satunya. Atau sekadar berfoto ria di lembayung senja menutup malam liburan.

Sayangnya, saat itu sunset tak nongol dari langit barat, semburat jingga pun tidak, hanya sekadar foto biasa sajalah untuk dikantongi sebagai dokumen perjalanan. Tapi tidak masalah, mungkin suatu hari nanti bisa membidik si bundar oranye dari gapura Keraton Rato Boko.

Di situs Ratu Boko ini ada 8 titik yang bisa wisatawan datangi. Pertama, gapura tadi, selanjutnya Candi Pembakaran, Paseban, Pendopo, Miniatur Candi, Pemandian, Keputren, dan Goa. Inilah kenapa alasannya dinamai Kraton atau Istana Ratu Boko, seperti yang disebutkan di atas. Bangunan itu semua membuktikan bahwa situs ini dihuni oleh seorang raja. Namun yang pasti raja itu tidak diketahui. Hanya tutur kata legenda dari masyarakat, yaitu Ratu Boko.

Tercatatnya nama Raja Rakai Panangkaran atau Tejahpurnapane Panamkarana di prasasti Abhayagiri Wihara berangka 792 masehi. Dalam prasasti tersebut mengisahkan Rakai Panangkaran (746-784 masehi), dan menyebut suatu wihara di atas bukit yang bernama Abhyagiri Wihara (wihara di bukit yang bebas dari bahaya).

Rakai Panangkaran ketika itu mengundurkan diri menjadi raja karena menginginkan ketenangan rohani dan fokus terhadap keagamaan. Salah satu bentuk keseriusannya terhadap agama ia mendirikan bangunan suci Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Untuk agamanya sendiri belum begitu jelas, karena minimnya catatan sejarah tentang Raja Rakai Panangkaran.

Apakah Rakai Panangkaran beragama Buddha atau Hindu? Namun pakar sastra Jawa kuno, Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka, menyebutkan bahwa Raja Rakai Panangkaran berpindah agama, dari agama Hindu Syiwa ke Buddha Mahayana. Mungkin itu juga penyebabnya di Keraton Ratu Boko terdapat peninggalan berupa arca Dewa Syiwa, lingga, dan yoni.

Apakah Ratu Boko dari legenda rakyat itu juga merupakan sosok Raja Rakai Panangkaran? Bisa jadi. Namun saya pribadi hanya menduga saja.

Pendopo di Rau Boko

Pendopo di Keraton Ratu Boko | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Bangunan yang terlihat masih utuh adalah pendoponya, dari kejauhan kemegahannya sudah terasa. Bisa dibayangkan, jika pendoponya saja seperti itu, bagaimana lagi istananya jika masih utuh? Tentu lebih hebat lagi pastinya.

Baca juga:

Pesona Candi Banyunibo di Tengah Hamparan Hijau

Singgahlah ke Candi Barong di Perbukitan Batur Agung

Kemegahan Puzzle dan Cantiknya Candi Kalasan bagi Peminat Fotograpi

Candi Sari yang Semakin Tua dan Memukau

Tepat di belakang pendopo terdapat miniatur candi. Meskipun ukurannya kecil, namun cukup menggambarkan sebuah candi, dan lengkap dengan candi perwara (candi yang ukuran lebih kecil yang biasanya mendampingi candi utama).

Tempat Pemandian keluarga raja di Ratu Boko

Tempat Pemandian keluarga raja di Ratu Boko | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Dari atas miniatur candi ini terlihat pula tempat pemandian yang dulunya sebagai mandi raja, ratu,   selir atau putri. Keputren juga sangat jelas dari sini tergambar dengan latar belakang perbukitan dan hutan yang permai. Keputren itu sebagai kompleks tempat tinggal ratu, selir raja, dan putri raja. Karena itu pula tempat pemandian yang seperti kolam renang lokasinya berdekatan dengan keputren.

Tempat pemandian keluarga raja tersebut tampak pula pintu-pintu yang masih kokoh, di atasnya dihiasi kalamakara yang menyeringai. Kalamakara ini merupakan sosok ukiran kepala raksasa yang dipercaya menjaga suatu bangunan. Misalnya saja yang terdapat di candi, di istana, atau di bangunan lainnya, seperti tempat pemandian keluarga raja ini.

Baca juga:

Tebing Breksi, Wisata Eksotis yang Berbeda di Yogyakarta

Bagi Kaum Pemburu Candi, Sudah Pernah ke Candi Ijo Belum?

Gua di Ratu Boko

Gua di Ratu Boko | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Selepas dari sana, saya berjalan lagi menuju gua yang tidak jauh dari pendopo. Gua ini tidak seperti gua-gua pada umumnya, kedalamannya sekitar 3 meter. Gua itu di zamannya sebagai tempat bersemedi. Ada terdapat dua gua di sana, yang pertama di bawah, dan satunya lagi berada di atas. Sepertinya tempat semedi ini belum seutuhnya dibuat. Tampak pada cara pembuatannya masih dalam proses penyelesaian.

Gardu pandang di Ratu Boko

Dari  Gardu pandang di Ratu Boko ini, terlihat candi pembakaran, gapura, dan pemandangan indah | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Paling asyik untuk menatap segala keindahan dan pusat keramaian pengunjung ada di gardu pandang di sebelah selatan gapura. Di sana ada gardu pandang yang memang asyik untuk berlama-lama bersantai ria. Nah, dari sini terlihat jelas candi pembakaran jenazah, dan gapura Keraton Ratu Boko.

Kolam di belakang tempat pembakaaran jenazah juga terlihat dari atas, kabarnya kolam itu baru ditemukan beberapa bulan yang lalu. Mungkin fungsi kolam itu sebagai salah satu sumber air bagi Istana Ratu Boko, mengingat keberadaan bangunan ini berada di atas bukit. [Asmara Dewo]

Padusi



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas