Kereta Api antik yang mengangkut penumpang menuju Tuntang | Foto AIJ

Asmarainjogja.id – Kalau  mendengar sekilas Kota Ambarawa, kira-kira apa yang langsung  melintas pada pikiran kita? Apakah kita langsung tertuju pada masa sejarah pejuang hebat kita melawan dan mengusir penjajah? Jika iya, begitu jugalah dengan saya, saat pertama kalinya menjejakkan kaki di kota sejarah ini.

Ini kedua kalinya kami berkunjung ke Kota Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dan agenda singkat kami menuju Museum Kereta Api Ambarawa. Salah satu tempat wisata sejarah di kota ini cukup familiar sebenarnya, begitu juga di kalangan wisatawan asing. Hanya saja promosi wisata sejarahnya kurang gencar.

Keseruan naik kereta Api antik dengan bahan bakar uap dari Ambarawa ke Tuntang tentu akan menjadi pengalaman yang tak mungkin terlupakan begitu saja. Ya, kami pun terpikat untuk mencoba sensasi di atas kereta api antik  tersebut sembari menatap pemandangan yang indah. Huuu… pasti keren., begitulah yang ada di benak saya.

Stasiun Kereta Api Ambarawa merupakan stasiun yang dialihfungsikan menjadi wisata sejarah Museum Ambarawa. Dulunya kereta api ini dibuat untuk transportasi masa penjajahan Belanda, seperti  mengangkut para prajurit perang, dan mengangkut barang. Disesuaikan pada waktu-waktu yang dibutuhkan.

Museum Kereta ApiKursi kereta sudah penuh, ketinggalan deh  | Foto AIJ

“Maaf, Mas, tiket ke Tuntang sudah habis. Nanti jam dua (pen: pukul 14:00 wib) baru  ada  lagi dan siap untuk berangkat,” kata petugas penjual  tiket  pada kami, Minggu (19/6/2016).

Hah? Kening kami berkerut mendengar kata si Mbak penjual tiket. Saya lihat pukul sebelas kurang. Dan akan berangkat lagi pukul empat belas. Sangat lamaaa!!! Itu berarti kami harus menunggu selama empat jam. Waduhh… mana bisa, cinnnn! Sebab kami juga ada acara di Yogyakarta lagi.

Stasiun AmbarawaPenumpang bisa menunggu kereta di sini | Foto AIJ

“Oke deh, kalau begitu tiket untuk masuk saja,” kata saya.

“Sepuluh ribu perorangnya, Mas,” jawabnya sambil memberikan dua tiket masuk Museum Stasiun Ambarawa. 

Kalau untuk tiket kereta api dari Stasiun Ambarawa ini ke Stasiun Tuntang dikenakan tiket Rp 50.000 per orang pulang pergi. Cukup mahal memang. Namun mahalnya tiket tersebut mungkin disesuaikan juga dengan biaya operasi dan perawatan. Ya, maklum sajalah namanya saja kereta api antik. Lama perjalanan sekitar satu jam, dan jarakanya sekitar 7 km. Nah, kalau mau sewa satu gerbong juga boleh. Jadi kereta api itu berangkat hanya gerombolan-gerombolan yang menyewa saja. Wah… tentu itu lebih seru lagi ya, kan? 

Stasiun AmbarawaInterior ruangan di Museum Ambarawa | Foto AIJ

Nah, karena hanya berada di sekitar museum kereta api yang dibangun 18 Mei 1873 lalu, jadi kami hanya bisa menatap  benda-benda sejarah yang berkaitan dengan kereta api antik ini. Misalnya saja seperti  mesin cetak tiket, alat press tiket, dan bangunan loket yang dibuat dari kayu jati penuh. Di sana juga terdapat ruangan-ruanngan bercorak khas Belanda, seperti jendelanya yang lebar. Di dalam ruangan itu terdapat mesin hitung tua, dan berbaga furniture di dalamnya, misalnya lemari, meja,  kursi, dan cermin.

Cat dinding ruangan itu berwarna putih, untuk pintu dan jendelanya dicat hitam. Sedangkan furniture yang mengisi ruangan tersebut berwarna cokelat. Interior ruangan peninggalan Belanda tersebut memang keren dinilai dari seninya. Minimalis dan terkesan sederhana, namun memberikan nuansa nyaman dan tetap indah.  

Benda-benda peninggalan sejarah pada masa Belanda Raja Williem 1 di stasiun ini lainnya adalah timbangan. Yang namanya timbangan berarti untuk menimbang berat beban ya, kan? Saya berkeyakinan kuat, setiap pengunjung yang datang ke sini, dan melihat timbangan tersebut, pasti deh segera menimbang badannya. Tanpa terkecuali, baik yang kurus maupun yang gemuk. Seperti si kawan contohnya, ia langsung menimbang berat badannya. Huhh… lumayan berat, hehehe.

Roda Rel kereta api bergerigiRoda Rel kereta api bergerigi  | Foto AIJ

Tidak jauh dari timbangan kuno itu, terpampang roda rel bergerigi. Roda bergerigi ini cukup unik lho, di Indonesia sendiri hanya ada dua, yaitu di Sawah Lunto, dan Ambarawa. Begitu juga dengan jalur rel kereta api bergerigi yang masih aktif. Nah, untuk di dunia hanya ada di Swiss, India, dan tentu saja Indonesia.

Museum Kereta Api AmbarawaCeria di lokomotif CC 5029 | Foto AIJ

Untuk objek foto juga bagus di sini, waktu kami berkunjung, banyak fotografer dengan modelnya yang berpose di antara lokomotif antik yang tetap cantik tersebut. Terutama bagi kamu yang hobi sekali bergaya berlatar belakang kereta api klasik, Museum Kereta Api Ambarawa meski kamu masukkan ke daftar list berpose berikutnya. Pasti cantik!

Penulis:  Asmara Dewo

Baca juga:  Mengarungi Rawa Pening dengan Sampan (Edisi Seru)

Menelusuri Alam Nirwana di Candi Gedong Songo   

Nirwana Sunrise Borobudur di Bukit Punthuk Setumbu 

Gabung di media sosial kami:  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas