Ilustrasi pekerja buruh | Foto Sourch Viva

Asmarainjogja.id – Berjualan adalah salah satu profesi yang mulia di bumi ini, selagi berjualan dengan jujur, baik, dan tetap berpegang teguh pada norma agama dan negara. Bahkan, Nabi Muhammad Saw ketika masih anak-anak sudah ikut berdagang dengan pamannya, Abu Thalib. Sampai ketika dewasa, beliau tetap berjualan, hingga nabi pun beristri seorang Siti Khadizah, seorang saudagar yang kaya.

Bisa dibilang kisah Nabi Muhammad selain menjadi seorang rasul, ia juga menggeluti dunia perdagangan. Budaya dagang ini pun sampai sekarang masih tetap berlanjut di Arab Saudi. Meskipun gersang kerontang buminya, namun rakyatnya masih sejahtera jika dibandingkan dengan Indonesia.

Bahkan menurut sejarahnya, awal masuknya Islam ke Nusantara melalui dunia perdagangan, dari saudagar Muslim. Jadi sebenarnya berdagang bukan hal yang tabu lagi dalam kehidupan ini, terutama bagi seorang Muslim. Namun sayangnya, profesi berdagang dinilai tidak keren di mata masyarakat. Benarkah begitu?

Ya, tentu saja benar, kalau profesi ini keren di tengah-tengah masyarakat Indonesia, tentunya orang kita lebih memilih menjadi pedagang daripada bekerja di perusahaan atau di pemerintahan. Lihatlah, masih minim pengusaha baru yang muncul di negeri kita. Yang tampak, hanya pemain lama saja, dan etnis itu-itu saja. Padahal mengais rezeki di dunia perdagangan penghasilannya jauh lebih besar dari karyawan.

Budaya kita menganut, semakin tinggi anak di sekolahkan, maka disuruh menjadi seorang pekerja, bukan sebaliknya! Membuat lapangan kerja. Tak heran, Indonesia kesulitan mencari pekerjaan, karena budaya kita memang menjadi pekerja, bukan menjadi pengusaha.

Kesenjangan sosial pun semakin tajam, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Siapa yang pantas disalahkan karena ini semua? Pemerintah, pengusaha, atau menuduh Tuhan tidak adil? Kitalah yang sesungguhnya salah, salah memahami konsep mengais rezeki.

Baca juga:

Reseller Pemula, Produk Tak Laku, dan Strategi Promosi Jitu

Memahami Tiga Karakter Pembeli Indonesia

Lima Dasar Utama Pedagang Cina Sukses di Indonesia

Bayangkan, sudah tidak punya ijazah sarjana, tidak memili skill tertentu, bekerja pula di perusahaan dengan gaji di bawah UMR, bagaimana mau mengubah nasib kalau begitu? Toh, yang gajinya sesuai UMR juga tidak bisa dibilang nyaman mengahadapi perekonomian Indonesia yang tidak stabil ini.

Jadi satu-satunya cara untuk mengubah kesenjangan sosial ini adalah menggeluti dunia perdagangan. Siapapun dari kita harus punya usaha masing-masing. Apapun yang diperjual belikan, intinya sesuai konteks di atas tadi, tidak melanggar hukum agama dan negara.

Menjadi seorang pedagang tidak harus menjadi sarjana, tidak sekolah sama sekalipun bisa berdagang, asal bisa hitung dan baca tulis dasar. Kalau dibilang menjadi pedagang harus pandai berjualan ini juga keliru. Berdagang itu sederhana, ada barang yang dijual, tawarkan, jadilah transaksi jual beli. Di mana susahnya? Masa iya kalah sama mbah-mbah yang jualan di pasar tradisional, malu kita kalau begitu.

Semakin tinggi kita sekolahnya, maka manfaatkan segala ilmu pengetahuan untuk mengembangkan jualan. Saudara kita, orang Tionghoa suruh anaknya sekolah tinggi-tinggi bukan disuruh jadi karyawan di perusahaan orang lain. Tapi disuruh belajar bagaimana manajement penjualan yang lebih baik lagi sesuai zamannya. Sudah tamat kuliah mendirikan usaha, atau juga mengembangkan usaha orangtuanya. Ingat! Mereka juga kuliah, lho.

Nah, kita disuruh kuliah tinggi-tinggi sama orangtua agar bekerja di perusahaan. Budaya ini jika terus menerus diwasiatkan ke anak-cucu, maka bangsa ini selamanya menjadi bangsa pekerja, sebuah bangsa yang miskin. Lihatlah juga, saking sulitnya bekerja di Indonesia, TKI menyebar ke seluruh penjuru dunia. Mengais rezeki di negeri orang.

Alasannya apa bekerja di negeri orang? Pada umumnya adalah karena masalah ekonomi. Tamatan SMA bekerja di Indonesia, ya, kita tahu sendirilah, berapa gajinya? Sedangkan di luar negeri dengan ijazah SMA bisa 4 kali lipat penghasilannya. Tapi ya, begitu, tentu lebih enak bekerja di negeri sendiri dibandingkan di negeri orang lain.

Lain cerita di Yogyakarta, kota ini meskipun UMRnya sangat kecil Rp 1.300.000 (tahun 2016), namun pekerja di sini cukup kretif. Mereka double job. Selain bekerja di satu tempat, juga bekerja di tempat lain. Sehingga penghasilan perbulannya tidak jauh dengan kota-kota lainnya.

Baca juga:

Meragukan Rezeki Tuhan

Jangan Mau Jadi Ummat yang Miskin!

6 Alasan Kenapa Jualan Jilbab Itu Sangat Menguntungkan

Itu bagi yang bekerja, bagi yang berwirausaha home industrinya berjalan, produk-produk mereka laris manis. Bahkan mereka memasarkan produknya sampai ke penjuru Indonesia, dengan memanfaatkan internet. Sangat kreatif di Kota Kesultanan ini. Jadi tidak bisa juga dibilang Kota Yogyakarta adalah kota yang miskin.

Mahasiswa di sini juga tidak gengsi, meskipun mereka S1, S2, namun tidak malu berjualan apa saja yang penting halal. Tidak percaya?! Silahkan datang ke Sunmor di Minggu pagi. Bertebaran mahasiswa berjualan di sana untuk menambah uang saku kuliah. Ganteng-ganteng, cantik-cantik, kreatif, tidak gengsi, dan sungguh membanggakan sekali.

Inilah calon-calon generasi yang bisa mengubah Indonesia suatu hari kelak, mereka paham betul bahwa dunia perdagangan mampu mengubah wajah Indonesia. Semoga dengan geliatnya pengusaha-pengusaha muda bisa mengurangi (bila perlu hilang secepatnya) kesenjangan sosial di negeri ini. [Asmara Dewo]

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas