Rektor UWM, Edy Suady Hamid (tengah), Ketua Yayasan UWM, Mahfud MD (kanan) | Foto asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Sudah pukul delapan lebih, pengawas ujian belum juga datang. Mahasiswa yang sudah tak sabar menjawab soal tampak hilir-mudik, keluar-masuk kelas. Sebagian, masih duduk tenang di dalam kelas. Di luar kelas ada pula beberapa mahasiswa yang masih duduk di kantin menikmati kopi hitamnya, sembari mengobrol hangat bersama karibnya.

Kelas lain mungkin saja sudah menjawab setengah soal, sementara kelas III 1 fakultas hukum masih menanti, dan menanti. Wajah-wajah mereka ada yang sudah kesal karena penantian yang cukup lama, ada pula yang cuek bebek. Ini tampaknya keganjilan di Universitas Widya Mataram (UWM), sebuah universitas berbasis budaya kebanggaan masyarakat Yogyakarta.

Mungkin nama kampus ini tidak familiar di mata masyarakat nasional, tapi kampus ini adalah sebuah yayasan pendidikan yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono IX, beserta putra mahkotanya, yang saat ini menjadi Sultan Hamengku Buwono X, dan juga Gubernur D.I. Yogyakarta.

Tak kalah hebatnya lagi adalah Ketua Yayasannya adalah Mohammad Mahfud MD. Siapa rasanya yang tak kenal dengan beliau? Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, mantan Menteri Pertahanan, mantan anggota DPR, dan banyak sekali jabatan strategis yang diembannya. Bahkan sampai saat ini, pria berdarah Madura itu sering nongol di acara-acara exclusive di TV. Jurnalis-jurnalis kerap meminta pendapat padanya, terkait persoalan kasus besar di negeri ini.

Rektor Universitas Widya Mataram sendiri adalah Prof. Dr. H. Edy Suady Hamid, Mec. Pengalaman beliau menjadi rektor tak perlu diragukan lagi, ia pernah menjabat rektor di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, selain itu ia juga pernah menjadi Ketua Asosiasi Universitas Swasta se Indonesia.

Mungkin itu pula sebabnya pihak yayasan melantik beliau beberapa bulan lalu. Dengan harapannya, tentu saja membawa UWM jauh lebih baik lagi, pendidikan yang berbasis kerakyatan, dan solusi bagi generasi muda Indonesia untuk tempat menimba ilmu pengetahuannya. Semoga saja di kepemimpinannya, UWM menjadi kampus swasta terbaik di Yogyakarta.

Kembali ke soal penantian. Akhirnya pengawas datang, namun pengawas itu tak membawa soal ujian MID semester. Ia hanya membawa buku absen ujian. Para mahasiswa disuruh untuk tanda tangan terlebih dahulu. Kemudian ia menjelaskan bahwasanya soal ujian belum ada. Sontak saja mahasiswa di dalam kelas kaget bukan kepalang, bagaimana mungkin ujian mid soalnya belum ada.

Ternyata eh ternyata, si dosen lupa buat soal ujian untuk mahasiswanya. Mungkin juga tidak tahu bahwasnya ada ujian MID semester di kampusnya. Boleh jadi karena saking sibuknya di luar sana, mungkin mengajar di kampus lain, atau sedang melanjutkan pendidikannya, atau mungkin juga sibuk mempraktikkan ilmu hukumnya, dan segala kemungkinan lainnya. Dan yang pastinya adalah 2 mata kuliah ujian saat itu tertunda.

Pengawas ujian menyilahkan mahasiswanya untuk keluar dulu, atau kemana saja sembari menunggu soal sampai pukul 10.00 wib.  

Pertanyaan yang mengusik kita semua adalah bagaimana mungkin bisa terjadi hal yang demikian? Si dosen lupa buat soal. Oke, dosen lupa. Tapi apakah pihak kampus tidak mengingatkan atau juga tidak ‘menodong’ ke dosen menanyakan soal ujian untuk anak-anak? Apa semua para pihak pada lupa, ya?!

Ini adalah sebuah ‘kecelakaan’ dalam ujian. Yang sebaiknya ujian-ujian berikutnya jangan sampai terulang lagi. Pastikan seminggu sebelum ujian, soal sudah harus dicetak, dan siap dibagikan kepada mahasiswa pada jadwal yang ditentukan.

Kalau boleh lagi bertanya apakah ujian MID itu tidak terlalu penting, sehingga bisa abai begitu? Salah seorang dari mahasiswa di sana menuturkan kejadian seperti ini bukan kali ini saja, tapi sudah pernah sebelumnya. Oh, my God, jika pernah demikian kenapa tidak belajar dari yang sebelumnya. Jangan dianggap enteng persoalan ini, jika hal yang begini saja dianggap remeh-temen, bagaimana lagi persoalan lainnya di dalam kampus itu sendiri?  

Sebagian mahasiswa boleh jadi menganggap ini hal yang biasa, tapi tidak bagi mahasiswa yang serius menimba ilmu pengetahuan di UWM Yogyakarta itu. Selain merugikan dirinya sendiri, tapi juga membuktikan bahwa masih terlalu banyak persoalan-persoalan di dalam kampus yang harus dibenahi. Seperti dosen ‘bolos kuliah’, dosen yang jualan buku (tidak beli berdampak ke nilai), dan dosen yang mengajar tidak sesuai materi.

Harus diakui pula, bisa dibilang UWM merupakan satu-satunya kampus akreditasi B dengan biaya pendidikan yang cukup murah, jika dibandingkan dengan kampus-kampus lainnya di Yogyakarta. Meski begitu, bukan berarti kualitas pendidikan dipertaruhkan. Ini menyangkut masa depan seluruh mahasiswa yang kuliah di sana. Kalau merasa tidak rugi dari keuangan, jelas rugi waktu, tenaga, pikiran, sebab menghabiskan waktu selama 4 tahun saat belajar di sana. Rugi uang bisa dicari, ini kalau mempersoalkan biaya pendidikan, tapi jika rugi waktu tidak bisa dikembalikan, toh?

Hijab cantik cuma 15 Ribuan, klik di sini!  www.padusihijab.com 

Nama-nama pemimpin baru di atas tadi sewajibnya membawa spirit baru perjuangan pendidikan di UWM sendiri. Beliau-beliau yang terhormat bolehlah sekali-kali melihat bagaimana proses belajar mengajar di kelas. Dan juga silahkan ke perpustakaan yang terletak di belakang kampus. Mungkin karena terlalu jauh, sehingga tak sempat melangkahkan kakinya di sana.

Sebenarnya kalau kita mau jujur, bahwasanya yang tahu benar situasi kampusnya, terkait proses belajar dan mengajar, juga fasilitas yang tersedia di sana, ya, mahasiswa itu sendiri. Pertanyaannya adalah sudahkah mahasiswa diajak membicarakan kekurangan-kekurangan kampus agar bisa dibenahi bersama-sama? Mulai dari mahasiswa, pegawai, dosen, dekan, wakil rektor, rektor, dan juga ketua yayasan. Sebagai pemilik yayasan, yang pastinya pemegang wasiat dari Sultan Hamengku Buwono IX, sepatutnya tidak membiarkan begitu saja berjalannya proses pendidikan di UWM itu sendiri.

Ini tak hanya persoalan kampus saja, tapi yang paling penting adalah bagaimana terus memperjuangkan cita-cita pendirinya dahulu. Jika kekurangan-kekurangan ini terus dibiarkan, maka sangat disayangkan. Kampus satu-satunya di Indonesia berbasis budaya itu tak akan dikenal lagi oleh generasi muda di masa yang akan datang, karena mereka ogah menimba ilmu yang tidak sesuai harapannya. Menghabiskan waktu pastinya.

Terakhir, ini yang paling penting, dosen salah satu pintu ilmu pengetahuan bagi mahasiswanya. Jika dosen itu tidak bisa membuka pintunya, maka apa yang bisa diambil dari mahasiswa? Ditutup dalam artian bolos mengajar. Sampai-sampai soal ujian anak didiknya lupa dibuat.  

Mahasiswa juga tahu mungkin juga honor di sana kecil, tapi itu bukan alasan untuk tidak mengajar, atau juga sibuk dengan aktivitas lainnya. Kasihanilah mahasiswa yang sungguh-sungguh menuntut ilmu pengetahuan dari dosennya. Bukan malah diabaikan, diterlantarkan, atau dilupakan. [Asmara Dewo]

Baca juga:

hijab

Dosen Bolos Kuliah

Jelang Hari Sumpah Pemuda, SMI Komisariat UWM Yogyakarta Menggelar Mimbar Bebas

Mahfud MD: Wajib Hukumnya Mahasiswa Menuntut Keadilan

Rektor Universitas Widya Mataram Membocorkan Rahasia Rekuitmen Ketenagaakerjaan di Acara Wisuda

6 Karakter Dosen, Nomor 5 Paling Geram Mahasiswa



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas