Ketua MUI KH Ma'ruf Amin | Foto Istimewa

Artikel Terkait

Oleh: Asmara Dewo

Sebagai orang yang salah, apalagi statusnya sudah terdakwa, manusiwai sekali membela diri. Tidak ingin disalahkan, apalagi dipenjara, siapa yang mau coba? Meskipun nyata sekali kesalahannya. Tapi bebalnya manusia yang tidak mau mengakui kesalahan, malah mencari pembenaran atas segala yang terjadi atas kekeliruan ataupun kesalahannya.

Sama halnya denga Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang sudah menistakan agama Islam lewat pidatonya, “Jangan mau dibohongi pake surat Al-Maidah ayat 51, yang macam-macam itu,” kata Ahok di Kepulauan Seribu, 27 September 2016 lalu.

Ayo yang waras, boleh juga dinilai oleh non-Muslim ucapan Ahok ini menghina agama tidak? Kalau tidak, berarti setiap ayat suci penganut agama lain juga boleh digitukan dong? Hmmm… jangan sampai, sebab jika setiap WNI punya sikap seperti itu, genderang perang sudah dimulai antar agama di negeri tercinta kita Indonesia Raya.

Sejak itu, umat Muslim di penjuru Indonesia marah terhadap Ahok, jutaan Muslim melebur menjadi satu di bawah Monas, Jakarta, untuk menuntut saudara Ahok agar diproses secara hukum seadil-adilnya. Bahkan karena aksi damai ini pula, dunia menyorot Indonesia, terutama dari negara-negara Islam yang ikut terusik atas pernyataan Ahok itu.

Nah, setelah berjalannya sidang Ahok yang ke-8, turut dihadirkan pula saksi ahli, satu di antaranya adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin. Dalam sidang tersebut beliau menyampaikan beberapa hal penting untuk menegaskan bahwa Ahok menghina Islam dan ulama.

“Ucapan itu (pidato Ahok di Kepulauan Seribu, pen) penodaan karena (Ahok) memosisikan Alquran sebagai alat menyebar kebohongan dan yang (biasa) menyampaikan ayat itu kan ulama, maka kesimpulannya penodaan alquran dan ulama,” ujar KH Ma’ruf Amin di depan majelis hakim, Selasa 31 Januari 2017, seperti yang dikutip dari Liputan6.

Dalam kesaksian itu, beliau juga memfokuskan pada 3 kata Ahok, yakni "Dibohongi pakai Almaidah", “Kami tidak bahas tafsir, yang dibahas kata-katanya. Sepotong kalimat itu saja 'dibohongi pakai Almaidah',” kata beliau lagi.

KH Ma’ruf Amin yang juga sebagai Rais AAM Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan atas kesaksiannya di depan pengadilan, tidak harus ada niat atau apapun pada diri Ahok, namun pada kata-katanya.

“Tidak perlu mengetahui niat seperti apa, hati (hanya) Allah SWT yang tahu,” tegas beliau pada hakim.

Namun Ahok membantah dirinya menghina ulama, “Saya tidak pernah menghina ulama.”

Mantan Kader Gerindra itu pun tak terima atas saksi yang dinyatakan KH Ma’ruf Amin. Ahok juga mengatakan bahwa KH Ma’ruf Amin tidak pantas menjadi saksi ahli, “Saudara saksi sudah tidak pantas jadi saksi.”

Ahok menilai Ketua MUI tersebut dekat dengan mantan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hubungan dekat itu dituduhkan bahwa SBY sempat menelpon KH Ma’ruf Amin untuk mengeluarkan fatwa dan juga agar Agus Yudhoyono diterima di organisasi Islam yang dipimpinnya.

Karena menurut Ahok lagi, KH Ma’ruf Amin mendukung Cagub urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono, putra sulung SBY. Cagub nomor 1 tersebut merupakan rival berat Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Ketika ditanyakan hal itu, dengan tegas KH Ma’ruf Amin tidak mendukung paslon manapun. Karena persoalan ini murni masalah agama bukan politik.

Tim kuasa hukum Ahok juga sempat menyatakan bahwa mereka menyimpan bukti rekaman obrolan melalui handphone tersebut.

Dengan arogannya Ahok mengancam KH Ma’ruf Amin ke ranah hukum, karena dianggapnya memberikan keterangan palsu.

"Dan saya berterima kasih, saudara saksi ngotot depan hakim bahwa saksi tidak berbohong, kami akan proses secara hukum saksi," tegas Ahok.

Kalau diperhatikan, setiap yang menjadi ahli saksi di persidangan Ahok ini pasti berujung dengan laporan balik dari tim kuasa Ahok. Sepertinya tim Ahok memang sengaja menyerang para ahli saksi agar bisa dituntut pula ke pengadilan.

Nah, mengenai ancaman Ahok ke Imam Besar Nahdlatul Ulama itu tentu membuat kemarahan lagi bagi umat Islam, khususnya warga NU sendiri. Sebab Imam mereka akan dituntut Ahok. Padahal jelas sekali, tugas seorang MUI adalah memberikan pernyataan yang benar, jelas, yang semuai itu merujuk ke Al-Qur’an, Hadist, dan rapat para ulama.

Entah sadar atau tidak, saat ancaman itu keluar dari mulut Ahok di persidangan tersebut, namun yang jelas, kata-kata yang menyakiti lagi umat Islam itu terekam jelas. Ahok yang kita ketahui temperamental memang kerap mengeluarkan ucapan yang tidak pernah dipikirkannya. Karena itu pula, ia sampai digeret ke pengadilan atas pidatonya yang menghina Islam tersebut.

Hal ini juga tersebarnya di media sosial umat Muslim siaga 1. Entah apa maksudnya, apakah keadaan Islam saat ini benar-benar terancam? Entahlah, yang jelas ulama semakin dikekang, dikerdilkan, dan umat Islam tersudut-sudut tidak bergerak atas pembelaan dan perjuangannya,

Namun yang uniknya lagi adalah tim kuasa Ahok, Humphrey Djemat mengklarifikasi pernyataan kliennya.

“Statement Pak Ahok yang mengatakan 'Kami akan proses secara hukum saksi untuk membuktikan bahwa kami memiliki data yang sangat lengkap...' Itu ditujukan kepada saksi-saksi pelapor pada persidangan yang lalu dan bukan kepada Bapak Ma'ruf Amin," kata Humphrey, Rabu (1/2/2017). Seperti yang disitat dari Tribunnews.

Lucu sekali memang, apa yang membaca berita bodoh? Atau yang menyaksikan persidangan Ahok yang ke-8 itu tuli dan buta, jika tidak bisa menilai atas ucapan Ahok itu kepada siapa?

Dan yang memusingkan lagi adalah kenapa pula mereka bisa (mengklaim) menyimpan rekaman obrolan itu? Berarti mereka sudah menyadap nomor hape SBY dan Ketua MUI. Jika tidak benar, itu artinya sudah mencemarkan nama baik mantan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah ini hanya gertak atau benar? Kita tunggu sidang Ahok yang ke-9. [Asmarainjogja.id]

Baca juga:

Ketika Ulama diajari Agama

Apakah Kapolri Sudah Menentang Fatwa MUI?

Mereka yang Alergi dengan Islam

Ahok Seperti Bocah Nakal, Mengakui Kesalahan, Tapi Menolak Hukuman

Wisata baru di Mangunan, Watu Goyang



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas