Foto Ilustrasi | Flickr

Oleh:  Asmara Dewo

Kampung sudah tenggelam diselimut malam, kaum remaja sibuk dengan bermacam acara. Ada yang hanya menongkrong di warung, berkumpul di rumah teman, atau sekadar mengobrol seru-seruan di tepi jalan. Kendaran juga hilir mudik dari satu kampung ke kampung lainnya. Malam Minggu seperti biasa, selalu disambut antusias oleh kaum muda.

Yanu dan Agus terlihat serius membicarakan hubungan mereka. Sesekali gadis berusia 17 tahun itu tertunduk lesu, si lelaki berusaha menguatkan pujaan hatinya. Tapi tak mampu juga membesarkan kembang kampung itu.

“Jangan hanya karena hubungan ini kamu tidak kuliah, kan kamu mau jadi guru di kampung ini. Lanjutkanlah pendidikan kamu di kota, kalau memang jodoh kita pasti menikah. Kamu baik-baik di sana, dan mas akan menunggu kamu,” Agus menyakinkan sekali lagi, “percayalah, Yanu, mas akan setia.”

Yanu menatap lekat-lekat cinta pertamanya itu. Air matanya sudah basah. Pekan depan ia harus mendaftar kuliah, dan akan terus melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Sesuai impiannya. Sedangkan Agus tak punya kesempatan untuk kuliah, ia hanya tamat SMA.

“Sayang sekali, keluarga mas tidak seperti keluarga kamu,” kata Agus, “kalaupun mas di posisi kamu, tentu mas memilih pendidikan daripada hubungan yang seperti ini.”

Mata hitam Yanu membulat. Penuh curiga dalam tatapannya.

“Bukan maksud mas tidak menyayangimu, atau meninggalkan kamu, Yanu. Tapi pendidikan juga masa depan,” tegas Agus.

“Tapi, Mas… Mas harus janji akan menungguku. Kapanpun aku harus kembali. Bisa Mas pegang janji itu?” suara Yanu keluar serak.

“Semampu Mas, Yanu,” janji Agus.

Yanu tersenyum, ia pandangi lelaki itu.

“Kamu semakin cantik kalau sedih dan ngambek, Yan,” Agus menggawil hidung Yanu.

Yang digoda tersipu malu. Muka Yanu memerah seperti warna bata. Lalu mencubit perut si penggoda.

“Awww… sakit, Yan!” teriak Agus, “sejak kecil nggak pernah hilang kebiasaan mencubit kamu, Yan. Bagaimana nanti kalau kamu jadi guru. Ah… tentu akan menjadi guru paling galak sekabupaten.”

Hilang sudah kesedihan Yanu. Ia tertawa lebar giginya yang putih gemerlapan terlihat jelas. Agus memang pintar sekali menghibur Yanu. Ia tahu bagaimana menyentuh hati Yanu agar riang kembali.

“Hmmm.. besok bagaimana kalau kita pergi ke pantai. Mau?” usul Agus.

Yanu mengangguk cepat, “Jam berapa?”

“Keindahan pantai itu di saat pagi hari. Bagaimana kalau besok jam tujuh kita berangkat?”

“Ya, Mas, permisikan sama Pakde sekalian,” pinta Yanu.

“Tenang, itu pasti,” ucap Agus mantap, lalu ia seruput teh hangat, “manis, seperti yang buat. Eittt! Jangan dicubit lagi!” Agus sudah menghindar. Yanu tertawa terpingkal-pingkal melihat Agus melompat.

“Ampun, Yan, kalau cubitan kamu, ampun. Mending ditimpuk batu sekalian daripada dicubit kamu.”

Mereka tertawa-tawa di beranda rumah. Sedangkan orangtua Yanu sedang asyik menonton televisi. Tak terasa hari sudah malam, suara jangkrik berderik semakin kencang. Agus pamit pulang.

***

Di saat sinar mentari lembut menyapu tepian Samudera Hindia, ombak bergulung tinggi menghantam karang. Nelayan terlihat sibuk menarik krendet. Beberapa ekor lobster terperangpakap di dalam jaring tersebut. Agus dan Yanu baru tiba di pantai. Yanu terkesima melihat pandangan indah di depannya.

“Di daerah kita ini, Yan, sebenarnya sangat indah. Dan benar-benar indah,” Agus menatap wajah Yanu, kemudian menatap luasnya Samudera Hindia, “kamu pernah dengar di laut ini juga ada ikan hiu atau lumba-lumba. Kamu percaya?” ditatapnya lagi wajah Yanu.

“Ya, aku pernah dengar. Dan aku juga percaya apa yang dibilang warga kampung. Termasuk juga aku percaya ucapan dan janjimu, Mas,” Yanu mendelik ke Agus. Disusul senyuman. Semakin jelas lesung pipi Yanu.

“Warga kampung di sini menyebutnya Pantai Timang. Itu tebing di ujung sana, yang seperti pulau, mereka juga menamainya Pulau Timang.” Agus melangkahkan kakinya, “yuk, kita ke sana!”

Yanu mengejar Agus dari belakang. Wajahnya berseri-seri, “Mas tunggu!”

“Jadi perempuan jangan terlalu manja! Kamu harus mandiri! Jalan begitu saja minta ditunggu,” sahut Agus cuek sambil tertawa.

Yanu hanya bisa menggeram dan kesal, “Irrrhhhh…”

“Naik apa kita ke sana, Mas?” tanya Yanu.

“Ini, naik ini!” Agus menunjuk gondola tua yang terbuat dari kayu.

Yanu menelan ludah. Tak percaya jika harus menyebarang ke pulau itu hanya naik gondola yang ditarik dengan tali tambang.

“Kamu jangan takut. Gondola ini kokoh dan kuat. Sudah bertahun-tahun warga di sini memanfaatkannya,” Agus menjulurkan tangannya, “sini! Pegang tangan Mas!”

Dengan gemetaran terpaksa memegang tangan Agus dan melompat ke gondola tua.

“Oke, Mas, siap!” seru Agus pada petugas yang menarik gondola. Para petugas itu bertubuh kekar, kulitnya hitam disengat panas. Di seberang sana juga terlihat para petugas menarik tambang itu penuh semangat.

“Bagaimana? Seru, kan?” tanya Agus, “buka mata kamu, Yan!”

“Duh… aku benar-benar takut, Mas,” mata Yanu masih terpejam.

“Percayalah, nggak apa-apa! Kamu lihat sekarang!” Agus terus memaksa.

Pelan-pelan dibukanya mata Yanu. Sebelah mata kanannya sudah terbuka, disusul dengan mata kirinya. “Wowww… ini keren, Mas,” teriak Yanu.

Ombak berputar-putar berbentuk pusaran di bawah gondola itu. Menghempas ke karang ke sana kemari. Buih-buih putih berserakan di laut berwarna biru. Angin berdesauan pekakkan telinga anak manusia yang dimabuk asmara.

“Uuuuu….” Yanu terus berteriak kegirangan di atas gondola yang semakin laju meluncur ke pulau seberang.

“Kita, sampai, Yan,” kata Agus yang sudah melompat dari Gondola.

Mereka mengelilingi Pulau Timang itu. Rambut Yanu tergerai indah disapu angin. Sesekali ia merapikan anak rambutnya yang menutupi mata. Ia bentangkan tangannya dengan mata terpejam, sinar lembut mentari pagi membelai wajahnya. Gadis remaja itu merasakan hangat mentari, ia sambut dengan senyuman.

Agus yang berada di sampingnya ikut tersenyum. Ia pandangi wajah perempuan yang dicintainya itu begitu dalam. Lama, begitu lama. Yanu sendiri tak menggubris, ia terhanyut oleh keindahan, ketenangan, dan kelembutan sang mentari pagi. Yanu masih tersenyum bersama alam di pagi itu.

“Kamu suka di sini,” Agus mendekati Yanu. Kini ia bersisian cukup dekat dengan Yanu, “kalau kamu memang suka, setiap kamu pulang dari kota, kita ke sini lagi.”

“Iya, aku mau,” Yanu mengangguk, namun masih memejamkan matanya.

“Terlalu senangkah kamu di sini, sampai kamu melupakan mas?” kata Agus dengan nada menggoda.

Yanu menyeringai, ia tak perduli godaan Agus.

“Baiklah, mas tunggu sampai mata kamu terbuka. Di saat pertama kali kedipan mata kamu melihat dunia, hanya ada wajah seseorang yang tak pernah kamu lupakan,” Agus menggeser tubuhnya tepat di depan Yanu, “sampai kapan kamu bertahan seperti itu,” ia tersenyum lebar.

Mata hitam Yanu terbuka. Bulu matanya yang lentik terlihat jelas saat membuka matanya. Berbinar mata Yanu, terang, sangat terang seperti sang matahari. Ia pun membalas senyum Agus.

“Ya, aku tidak akan pernah melupakan wajah itu,” lirih suara Yanu terdengar, seperti berbisik, namun Agus menangkapnya dengan jelas sekali.

***

“Ndok, bagus-bagus koe kuliah, ingat orangtua yang susah cari duit. Tapi koe nggak usah terlalu khawatir tentang biaya kuliah, yang penting koe belajarnya yang baik. Jangan kecewakan kami,” pesan Ibu Yanu lagi, “nah, sampai di kota, pilihlah teman yang baik, jangan salah memilih teman. Kalau salah memilih teman, bisa buruk untuk koe sendiri. Bisa-bisa terganggu pelajaran koe,” dipeluknya erat-erat putrinya, ubun-ubunya diciuminya berkali-kali.

“Inggih, Buk, Yanu ingat pesan Ibuk,” Yanu membalas pelukan erat ibunya.

“Sungguh-sungguh belajarnya, jangan ingat-ingat kampung ini terus. Mulailah dengan kehidupan baru di kota, jadi mahasiswi yang terbaik. Belajarlah terus menulis, asah bakat koe. Sejak dulu, dulu sekali, mbah-mbah kita sudah meninggalkan warisan melalui tulisannya,” berat suara Bapak Yanu terucap, “ingat-ingat ini, Ndok! Saat kita hidup, mungkin hanya seberapa peninggalan harta kita, tapi kalau sudah meninggal, pastikan harta kekayaan kita melimpah, yaitu sebuah karya yang tak tergerus oleh zaman.”

“Yanu janji, Pak!” Dipeluknya bapaknya kemudian.

“Jangan menangis lagi, Ndok! Gadis jawa memang lembut, tapi hatinya juga harus sekokoh tebing Gunungkidul. Nah, koe, putri bapak harus kuat, kuat seperti perempuan-perempuan Jawa lainnya,” sambungnya lagi, “koe juga jangan minder hidup di kota. Orang kampung sama orang kota itu sama saja. Sama-sama punya otak untuk berpikir.”

Yanu menyeka air matanya, ia mengangguk mantap menatap bapak dan ibunya. Kembang kampung itu sekali lagi memeluk satu persatu-satu orangtuanya, kemudian ia keluar dari beranda rumah. Dilihatnya Agus yang sudah menunggu lama di depan rumahnya. Sepucuk surat tergenggam di tangannya.

“Kamu baik-baik di kota, kejar impianmu,” Agus menghampiri Yanu, ia selipkan surat ditangan pujaan hatinya, “nanti kamu baca sampai di kota. Selamat jalan, doa mas tak akan pernah putus untukmu.”

Tak kuasa Yanu mendengar ucapan Agus, air matanya sudah merembes lagi. Untuk berucap sesuatu pun sudah tak bisa lagi. Hanya mengangguk pasrah.

“Yuk, Yan, hari sudah siang,” Ani memapah sahabatnya masuk ke mobil pick-up. Dan Yanu menatap Agus dengan wajah yang tersiksa.

Pick-up itu sudah memutar di halaman rumah Yanu, suara mesinnya menderung keras, asap hitam mengepul, dan suara klakson terdengar pelan berbunyi.

“Harus sabar, Ndok! Mau jadi orang sukses harus sakit-sakit dulu, termasuk juga sakit masalah perasaan,” kata Bapak Ani sambil menyetir lihai pick-up tua kesayangannya.

Tiba di kota setelah 3 jam perjalanan, dua sahabat itu pun langsung beristihat di kamar kos. Bapak Ani yang mengantarkan mereka, tidak bisa berlama-lama di kota, ada muatan yang harus diangkut di kampung.

Yanu keluarkan surat dari kantong, dan ia mulai membacanya.

Yanu, kembang hatiku…

Mas mohon padamu, jangan bersedih, apalagi berlarut-larut dalam duka. Jangan siksa dirimu sendiri dengan egomu. Sungguh, Yanu, itu betul-betul tidak baik untukmu. Tataplah masa depan dengan wajah terbaikmu, dengan senyuman yang selalu kau pancarkan untuk dunia.

Kelak, kau akan menjadi seorang guru, guru yang sinarnya terang benderang tak tersaingi malam. Terangilah dunia ini dengan ilmumu. Sekali lagi, Yanu, mas pinta padamu, belajarlah di kota baik-baik! Kau seorang kembang kampung, tak harumnya saja semerbak mewangi di tanah leluhur kita, tapi ilmumu, ilmumu juga yang harus memberi kehidupan pada generasi selanjutnya di kampung kita.

Dan mohon maaf, inilah surat terakhir kalinya yang bisa mas sampaikan. Esok, selasa pagi, Mas sudah berangkat ke ibu kota. Kita saling mendoakan, kita saling mendukung, dan kita sama-sama mengejar impian masing-masing. Satu yang harus kamu tahu, ini semua demi kebaikan kita.

Masmu

Agus. 

[Asmarainjogja.id] 

Untuk lebih memahami cerita ini, ssilahkan dibaca:

Kanjeng Ratu Kidul dan Dua Sahabat 

Terjebak di Dalam Gua

Surat Cinta ke-247

 

 

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas