Sesajian yang dipersembahkan di labuhan malam satu suro| Foto asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Di Cepuri, Pantai Parangkusomo para peziarah memohon doa di tempat bertemunya pendiri Mataram Islam, Panembahan Senopati, atau Danang Sutawijaya dengan penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul.

Para peziarah itu dari berbagai kalangan dengan membawa beberapa kantong bunga warna-warni dan bermacam bunga yang dibungkus daun pisang. Ada yang membawanya dari rumah, dan ada juga yang dibeli oleh penjual bunga yang menggelar dagangannya di sekitar Cepuri.

Panitia acara labuhan duduk di atas kursi dengan menyiapkan nampan yang diberikan kepada pengunjung untuk bunga tadi. Kemudian peziarah melepaskan alas kaki dan masuk ke dalam cepuri.

Acara malam satu suro

Para peziarah berdoa atau bersemedi di cepuri dengan kembang atau kemenyan | Foto asmarainjogja

Dengan luas sekitar 80 meter persegi, cepuri dipadati oleh para peziarah dan panitia, semerbak wangi dupa dan bunga-bungaan mengangkasa di langit malam satu suro. Di batu, yang konon dipercaya digunakan tempat duduk Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul, membara merah api membakari kemenyan dan lidi (lidi yang biasa dibakar untuk pemujaan agama Budha) yang ditancap.

Di pintu masuk itu pula terdapat sebuah kotak yang diisi uang oleh peziarah dengan seikhlas hati, tidak ada tarif atau apapun dari pihak panitia.

Setelah keluar dari cepuri juru kunci, beragam sesajian yang dibawa, ada nasi tumpeng, dan sesaji yang berisi buah dan sayuran yang digopong dengan bambu oleh empat orang akhirnya dibawa ke Pantai Parangkusumo.

labuhan malam satu suro

Sebelum dipersembahkan ke pantai, sesajian ini didoakan terlebih dulu di cepuri | Foto asmarainjogja

Ramai sekali warga yang mengikuti acara labuhan ini, mungkin mencapai ratusan ribu yang tersebar di dua titik, yaitu di cepuri dan tepi Pantai Parangkusumo. Di acara malam satu suro, warga dan pengunjung menyaksikan ritual budaya Jawa yang dimulai abad ke-8 ini semalam suntuk berada di Pantai Parangkusumo. Bahkan mereka sengaja sudah menyiapkan tenda-tenda atau tikar yang dibawa dari rumah atau yang dibeli di sini. Lalu digelar di hamparan pasir pantai.

Sedangkan di titik keramaian lainnya, ada orgen tunggal dengan biduan yang bernyanyi di atas panggung yang dibuat sederhana. Para  penjual apa saja juga menjajakan dagangannya di acara malam satu suro ini. Penjual bunga, makanan, minuman, asesoris, jamu-jamuan, mainan anak-anak, alat rumah tangga, dan lain-lain.

Penjual kembang di pantai parangkusumoPenjual bunga untuk sesajian di sekitar Cepuri | Foto asmarainjogja

Lokasi ini juga merupakan tempat-tempat wanita pekerja seks komersial. Di saat malam keramaian ini pula, mereka dengan pakaian seksi berdiri di sekitar cepuri mencari tamu, atau menunggu tamu di depan warung milik bos mereka.

Setelah iring-iringan panitia dan juru kunci sampai di tepi pantai, sesajian itu diletakaan di atas pasir, sedangkan juru kunci dan lainnya mulutnya tampak komat-kamit merapal doa. Bahkan seorang gadis kecil yang sejak tadi ikut, dengan posisi duduk bersemedi memejamkan matanya sembari mengucap doa.

Juru kunci labuhan malam satu suroJuru kunci dengan sesajiannya di hamparan pasir Pantai Parangkusumo | Foto asmarainjogja

Para pengunjung berdesak-desakan ingin melihat lebih dekat, sedangkan para fotografer atau wartawan, blitz kameranya tak henti-hentinya mengabadikan momen sakral tersebut. Dan terlihat juga beberapa warga yang tampak bersemedi merapal doa di sekitar tepian pantai, baik berkelompok maupun perorangan.

Kemudian sesajian yang tingginya sekitar dua meter itu dibawa ke tengah pantai. Pengunjung semakin berdesak-desakan, tak sabaran ingin mengambil beberapa buah, sayur, atau apa saja yang bisa didapat. Juru kunci dan pembantunya kewalahan menghadapi para pengunjung yang saling mendorong. Bahkan sesajian untuk persembahan kepada penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul itu hampir saja terjatuh.  

“Sabar dulu teman-teman, sabar dulu! Doa dulu!” seru salah seorang pembantu juru kunci.

Pengunjung yang berdesak-desakan itu pun mulai mereda. Ombak Pantai Parangkusumo malam itu cukup dahsyat, bergulung-gulung ketepian pecahkan buih ke tepi pantai. Beberapa saat kemudian, sesajian itu pun dipersembahkan ke tengah pantai.

Acara malam satu suro di pantai parangkusumo`

Pelepasan sesajian ke Pantai Parangkusumo sebagai persembahan | Foto asmarainjogja

Byurrrr…. ombak menghantam sesajian. Para pengunjung berebutan mencari apa saja yang bisa didapat. Di tengah-tengah pantai mata mereka liar dengan alat penerang di tangan. Saat ditanya mereka mencari apa, salah satu diantara mereka menjawab, “Apa aja yang didapat untuk bisa dibawa pulang, Mas. Itu bisa datangkan rezeki,” ujarnya pada saya, Sabtu malam (1/10/2016)

Tak henti-hentinya mereka mencari dan terus mencari, sampai saya ke tepian pantai melihat begitu ramainya acara labuhan di Pantai Parangkusumo ini. [Asmara Dewo]



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas