Matahari tenggelam di Bukit Paralayang

Asmarainjogja.id-Langit di ufuk barat mulai menguning, semburat jingga dari sela-sela awan yang menutupnya. Perlahan raja siang meneduhkan bumi Kesultanan dengan sinar lembutnya sebelum kembali ke peraduannya. Sebentar lagi ia akan ditelan garis horizontal menyisakan gelap bagi perindu matahari terbenam. Kapan lagi bisa menatapnya? Atau sekadar melihat wajahnya yang keemasan?

Waktu yang sempit, kami harus buru-buru agar tidak ketinggalan momen sunset dari Bukit Paralayang. Hari sudah menjemput malam, motor dipacu dengan kecepatan lebih. Matic yang ditunggangi itu sedikit meraung saat menanjaki perbukitan yang cukup tinggi. Sampailah di parkiran, padat kendaraan berjejer rapi di sana. Tak hanya roda dua, roda empat pun ambil bagian di parkiran tersebut.

Setelah membayar uang parkir Rp 3.000, kami cepat melangkahkan kaki  di jalan bebatuan mendaki bukit. Ramai sekali pengunjung di atas bukit itu, dengan berbagai kamera jenis apa saja ada di tangan mereka. Bahkan hanya sekadar selfy dengan kamera smartphone juga ikut meramaikan. Tak hanya sekadar mengabadikan matahari tenggelam dengan foto, beberapa orang dari salah satu stasiun televisi swasta pun mengabadikannya dengan video.

Sebaiknya menunggu matahari terbenam itu sejak pukul 16:30 wib sudah ready di tempat, ini untuk wilayah Yogyakarta. Ya, setiap tempat kan berbeda-beda, kalau di daerah Sumatera, mungkin sekitar pukul 17:30 wib. Matahari yang bisa kami saksikan nyaris sudah hampir tenggelam. Terlambat beberapa menit saja, huhhh… pasti tidak sempat untuk mengambil foto-foto yang sahabat travel lihat ini. Jangankan menit, detik saja sang matahari itu bergerak cepat lho.

Sunset di Bukit ParalayangSunset di Bukit Paralayang/Watubukit | Foto AIJ

Dari Bukit Paralayang ini memang menyaksikan matahari tenggelam benar-benar dengan cara yang sempurna. Bagaimana tidak? Tak hanya matahari terbenam saja dapat dilihat dari sini, namun hamparan Laut Selatan yang begitu tersohor dapat dilihat juga. Jejeran pantai di Bantul dapat terlihat jelas. Mulai Pantai Parangtritis, Pantai Parangkusumo, Pantai Cermin, Pantai Depok, dan seterusnya. Garis pantai terlihat meliuk-liuk bagaikan seekor ular tanpa kepala dan ekor, begitu panjang tiada batas. Sungguh mengharukan.

Hari kian gelap, kerlap-kerlip lampu jalan, perumahan, pertokoan, dan perhotelan, di Parangtritis menambah dramatis  panorama alam kala senja itu. Semakin gelap, semakin eksotis, semakin hilangnya sang matahari, kegelapan itu pun semakin memberikan kesan yang berbeda. Bintang di langit juga sudah bermunculan, dan sang bulan lebih mendahuluinya. Satu persatu para perindu matahari tenggelam meninggalkan Bukit Paralayang. Hanya beberapa orang saja masih setia di sini berteman dengan angin yang mulai dingin menusuk tulang.

Sunset di Bukit ParalayangDan Matahari pun sudah tenggelam menyisakan semburat di langit barat | Foto AIJ

Ahhh… entah kapan bisa menikmati senja seperti ini? Esok lusa belum tentu, sebab sang matahari tak pernah bisa ditebak anak manusia. Kadang ia bisa begitu elok dengan semburatnya sebelum tenggelam di kaki langit barat, kadang pula tidak ada tanda-tanda sama sekali, ia sudah hilang begitu saja, dan hari pun berganti malam. Lalu kita pun bertanya-tanya: “Kok nggak ada sunset-nya, ya?

Bukit Paralayang ini juga dikenal dengan Watugupit. Hanya saja lebih populer bukit paralayang sebutannya. Ya, sebab bukit ini sebagai landasan paralayang di Yogyakarta. Letak Bukit Paralayang ini berada di Desa Giri Jati, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Daerah ini memang perbatasan antara Kabupaten Bantul dan Gunungkidul.

Rute menuju ke bukit paralayang ini dari Yogyakarta sangat mudah. Ikuti saja Jln. Parangtritis sampai menembus Pantai Parangtritis. Nah, sampai di sana, tampak dari pantai perbukitan di sebelah timur, di sanalah Bukit Paralayang. Sahabat travel tinggl melanjutkan jalan lagi menuju ke sana, nanti akan dijumpai persimpangan jalan. Maka pilihlah jalan ke kanan! Ikuti terus jalan yang semakin menanjak tersebut sampai dijumpai warung. Di sanalah lokasinya. Bila kesulitan lebih baik tanya warga di sana saja! Sebab setahun yang lalu saya ke sini pernah tersesat di simpang tadi, hehehe.[]

Penulis:  Asmara Dewo 

asmara dewoBaca juga:  Lukisan Merapi dari Spot Riyadi 

Seutas Senyuman di Bukit Teletubies








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas