Ilustrasi | ATYPEEK VIA GETTY IMAGES

Oleh: Asmara Dewo

Icow  masih tertidur lelap, sedangkan Eki sudah pulang dari kampus. Dilihat sahabatnya masih tidur, ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Sudah maklum. Ia sangkutkan tasnya di gantungan, lalu mengambil laptop, membuka akun youtube, mendengar lagu dari band favoritnya. Battle Simphony dari Linkinpark menggema di kamar.

Enam panggilan tak terjawab di hape Icow. Hape itu berdering lagi, Eki melihatnya,  Azzam memanggil. Pasti ada urusan penting, kalau tidak mana mungkin Azzam berkali-kali menelpon Icow, begitu di benak Eki.

“Cow, ada telpon dari Azzam. Sepertinya penting,” Eki menggusar tubuh Icow.

Icow hanya meracau, tak perduli, dan memicingkan matanya lagi lebih erat. Telpon kembali berbunyi, tak berhenti, membuat pekak telinga.

“Azzam menelpon, Cow!”

“Azzam?”

“Iya, Azzam,” tegas Eki.

“Oh, aku lupa. Ada aksi hari ini. Kenapa kau tidak bangunkan sejak tadi?” Icow sudah melompat dari kasur, tergesa-gesa memakai kemeja dan jinsnya. Langsung ke kamar mandi, membasuh mukanya, dan perintahkan Eki untuk mengabarkan ke teman lainnya, “Ki, beritahu Pati, dan Salman, sekarang aksi di depan Angkasa Pura. Aku tidak sempat beritahu kalian tadi malam.”



“Oke, siap!,” Eki sudah menyambar hapenya, mengirim pesan ke Pati dan Salman, “Ali bagaimana? Tidak diajak?”

“Ah, mahasiswa seperti dia cuma mementingkan diri sendiri. Negara ini terguncang pun mungkin dia tidak perduli. Kita saja yang bergerak.”

“Siap, Comandante!”

Eki bergantu baju, menggenakan kaos hitam Che Guevara, sang revolusioner dari Argentina untuk pembebasan dunia.

“Kau tidak makan dulu?” tanya Eki.

“Nanti sajalah. Bawakan saja beberapa potong roti dan susu. Adakah di kulkas?” jawab Icow yang sudah melangkah keluar kamar.

“Ada, aman itu,” sahut Eki, “kau tunggu di mobil.”

Di dalam mobil Icow menelpon Azzam, meminta maaf karena tidak menerima panggilannya.

“Maaf, Bung, aku ketiduran. Baru bangun, tapi ini sudah siap geser ke sana,” kata Icow menelpon Azzam.

“Tidak apa-apa, Bung, santai saja! Kami juga belum gerak. Yang penting kawan-kawan bisa hadir, dan siap mendobrak gerbang Angkasa Pura,” suara Azzam terdengar padat dari seberang telpon.

“Siap, satu komando, Bung!”

Hape dimatikan, Eki sudah masuk dengan membawa bingkisan makanan dan susu UHT.

“Apa kata kawan-kawan?” tanya Icow, mulutnya penuh menguyah roti sobek.

“Mereka sudah jalan. Kebetulan mereka masih di kampus.”

“Oh, baguslah.”



Mobil SUV putih Icow berderung, menjejaki Jln. Parangtritis menuju Jln. Solo-Yogyakarta, kantor Angkasa Pura I. Semakin kencang mobil itu membelah jalanan. Musik revolusioner, Hasta Siempre mengiringi perjalanan mereka.

“Aku baru dengar lagu ini, siapa penyanyinya, Cow?”

“Lagu Hasta Siempre, ciptaan Carlos Puebla, yang dinyanyikan Nathalie Cardone. Kenapa? Bagus lagunya?” kata Icow, matanya tajam melihat jalan di depan. Kendaraan di depan satu persatu dilalui.

Eki memangguk, “Ya, lagu yang bagus.”

Sekitar lima ratusan aksi massa sudah berkumpul di tepi jalan sekitaran kantor Angkasa Pura. Mereka tergabung dari berbagai mahasiswa di bawah organisasi progresif dan revolusioner, juga dari berbagai elemen masyarakat dan bantuan hukum. Bendera berkibar gagah dari organisasinya masing-masing, banner-banner dibentang tinggi agar bisa dibaca siapa saja yang melihatnya.

Tuntutan aksi massa, seperti Hentikan Pembangungan NYIA!, Jangan Gusur Kaum Petani! Warga Tidak Butuh Bandara Tapi Butuh Sawah, Matinya Demokrasi di Rezim Jokowi-Kalla, Usir Setan Tanah, Tolak Investor di Tanah Yogyakarta, Stop Kriminalisasi Aparat ke Warga Temon, dan masih banyak lagi tuntutan lainnya.

Koordinator Lapangan aksi massa sudah mengumumkan agar berkumpul di barisan. Suaranya keras menggelegar dari megaphone. Tanpa diperintah beberapa kali, aksi massa sudah berkumpul membentuk empat baris memanjang. Wajahnya penuh semangat perjuangan untuk warga Temon yang tertindas, tergusur, dan teraniaya karena pembangunan NYIA yang tak sesuai prosedur hukum dan kemanusiaan.

“Kawan-kawan massa aksi, buktikan bahwa kita adalah aksi massa yang terdidik, terpimpin, dan terorganisir,” kata Korlap aksi massa, matanya merah, wajahnya serius, tegang, “bagaimana, siap satu komando?”

“Siap!” jawab aksi massa serentak penuh semangat.

“Baik, saya tes semangat kawan-kawan. Satu komando…” ucap Korlap lagi, tangannya teracung menunjuk langit biru.

“Satu tujuan,” sambut aksi massa.

“Hidup mahasiswa, hidup rakyat, hidup petani, hidup buruh, hidup nelayan, hidup kaum miskin kota, dan hidup perempuan yang melawan!” tangan kiri Korlap mengepal keras meninju langit yang dibalas massa dengan ‘hidup’.

“Selamat siang, kawan-kawan seperjuangan, kawan-kawan yang masih berkomitmen di garis perjuangan rakyat. Seperti yang sudah kita ketahui, kawan-kawan, Angkasa Pura dengan segenap pasukan Satpol PP, Polri, dan TNI, sudah menciderai rasa kemanusiaan. Mereka dengan semena-mena memaksa warga di sana untuk keluar dari rumahnya sendiri. Padahal masih banyak warga yang menolak menjual tanahnya ke Angkasa Pura. Artinya, kawan-kawan, secara tidak langsung, mereka sudah menjadi perampok di negeri ini. Dan merekalah bentuk asli perampok dengan undang-undang. Yang kita ketahui juga undang-undang itu adalah cacat hukum,” orasi awal Korlap menyemangati aksi massa.

“Kriminalisasi yang dilakukan oleh aparat tentunya menggambarkan wajah aparat hukum seperti algojo. Yang mana siap menghantam siapa saja demi perintah sang tuan. Tuan pemodal dan Tuan Penguasa daerah dan Pusat. Hukum yang dibanggakan di negeri ini sudah menjadi rahasia umum, hukum tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Selalu warga kecil kalah dengan hukum yang dipermainkan oleh penguasa. Kita, sebagaimana mahasiswa, sebagai warga yang menuntut keadilan dan penghentian pembangunan NYIA yang rawan gempa dan tsunami, dituduh pula sebagai provokator dan pengacau oleh pemerintah. Padahal kita hanya menuntut hak, tidak lebih dan tidak kurang. Apakah hanya berdiam diri saja ketika mereka menindas warga yang menjadi korban NYIA?”



“Tidak! Harus kita lawan!” sahut aksi massa, tangan kirinya mengepal ke atas.

“Baik, kawan-kawan, aku tangkap komitmennya.”

Para pihak keamanan sudah bersiap-siap mengawal aksi tersebut, lengkap dengan senjata di tangan. Beberapa ekor anjing pelacak berjaga-jaga yang dipandu sang tuan. Ada yang mengawal di halaman gedung, ada pula yang mengawal di barisan aksi massa. Pihak keamanan menjaga ketat, antisipasi terjadinya chaos  pada aksi massa. Pegawai Angkasa Pura tampak panik dari depan gedung, bersiaga penuh, pimpinan kepercayaan perusahaan tampak panik, keluar masuk gedung, dan sesekali berkoordinasi dengan pihak keamanan.

“Sebelum kita mulai aksi ini, mari kita ucapkan sumpah mahasiswa, sebagai janji perjuangan kita bersama. Siap, kawan-kawan mengucapkan sumpah mahasiswa?” tanya Korlap menantang.

“Siap!”

“Ikuti kata-kata saya, sumpah mahasiswa Indonesia, kami mahasiswa Indonesia bersumpah,” kata Korlap yang diikuti aksi massa, “bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.”

“Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan,”sahut aksi mahasiswa serempak mengucap sumpah. Sumpah Mahasiswa itu menggelegar penuh semangat perjuangan, sebuah sumpah bagi mahasiswa untuk terus berjuang bersama rakyat dari penguasa zalim.

“Sebelum kita menuju ke gerbang, ayo, kawan-kawan, kita nyanyikan lagu darah juang bersama-sama,” perintah Korlap yang sudah naik di atas mobil komando.

Di sini negeri kami

Tempat padi terhampar

Samuderanya kaya raya

Tanah kami subur Tuhan

Di negeri permai ini

Berjuta rakyat bersimbah luka

Anak kurus tak sekolah

Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami

Untuk membebaskan rakyat.

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda, relakakan darah juang kami

Padamu kami berjanji.



Lagu Darah Juang karya John Tobing yang kerap dinyanyikan setiap aksi oleh mahasiswa itu memberikan ruh semangat perlawanan pada masa orde baru. Atsmosfir aksi massa dalam tuntutan penghentian pembangunan NYIA semakin kentara. Wajah-wajah para aksi terlihat tenang, penuh penghayatan, sampai-sampai bulu kuduk merinding bagi yang mendengarnya. Tampak pula beberapa di antara anggota aksi massa matanya berkilat-kilat.

Icow dan Eki yang baru datang langsung masuk ke barisan, matanya liar mencari Salman dan Pati di tengah kerumunan barisan. Saling bersalaman dengan aksi massa lainnya, menanyakan kabar dan sebaliknya, basa-basi sesama aktivis mahasiswa yang jarang berjumpa.

Azzam sebagai Koordinator Umum aksi massa tentu tahu siapa saja yang masuk ke barisan. Pria berdarah Timur Indonesia itu dengan tongkat di tangan menghampiri Icow dan Eki.   Mereka terakhir kali berjumpa saat di pemakaman Limo.

“Hai, Cow, Ki, apa kabar kalian?” sapa Azzam dengan nada ramah dan senyumannya yang khas, “Pati dan Salman di barisan depan,” dia menyalami satu persatu aktivis didikannya, dan dibalasan dengan jabatan yang erat.

“Sehat, dan siap menduduki kantor Angkasa Pura,” jawab Eki, lalu tertawa kecil.

“Ah, kalian, ini cuma aksi kecil-kecilan,” balas Azzam santai, tangannya masih memegang tongkat yang dipungutnya di tepi jalan. Tongkat itu dihentak-hentaknya di aspal.

“Siaplah, kita turuti komando saja,” Icow menimpali.

Korlap kembali memberikan aba-aba, dengan suara yang lebih kuat dari mikrofon di atas mobil komando, “Lima langkah revolusi jalan!”

Re.. vo.. lu.. si.. re.. vo.. lu.. si.. re.. vo.. lu.. si.. gemuruh kata revolusi oleh aksi massa diiringi derap langkah menuju gerbang Angkasa Pura. Pihak keamanan semakin siaga, jurnalis sudah mengambil beberapa foto dan video untuk bahan berita mereka. Massa aksi terus bergerak sembari mengucapkan yel-yel mengikuti mobil komando.

Di atas mobil komando, beberapa di antara mereka menyampaikan orasinya. Yang sesekali dijawab dengan aksi massa ‘lawan!’, ‘hancurkan kapitalisme!’. Icow dan Eki merengsek ke depan mencari Pati dan Salman. Kedua sahabatnya itu mengangakat banner tuntutan, dan menyahuti orasi.

“Oh, di sini kalian ternyata,” Icow menepuk lembut bahu Pati.



Pati menoleh, menjabat tangan Icow dan Eki. Disusul dengan Salman. Gelora aksi itu memompa semangat perlawanan empat sahabat itu. Mereka berjalan lagi mengikuti komando dari Korlap dan berhenti tepat di depan gerbang Angkasa Pura. Para pegawai beserta security  bersiaga penuh di balik gerbang. Orasi terus dipekikkan mengutuk tindakan Angkasa Pura yang tidak berkeprimanusiaan dalam proses pengosongan lahan.

Korlap yang dikenal garang itu pun memanjat pagar, berorasi di atas yang sempat disuruh turun oleh pihak Angkasa Pura. Bukan seorang aktivis sejati kalau mau diatur-atur begitu. Sembari menunjuk-nunjuk batang hidung pegawai angkasa pura, “Lihat pakaian mereka rapi, sepatu mengkilap, rambut dicukur rapi, pakai parfum wangi. Itu semua digaji dari uang rakyat. Tapi mereka inilah pengkhianat-pengkhianat bangsa, yang merampok kehidupan warga Temon.”

Kuping para pegawai panas dituding pengkhianat bangsa, beberapa yang masih muda sempat emosi membalas dengan teriakan. Tapi selalu dihalangi oleh seniornya, khawatir akan memicu chaos.  Para jurnalis tak membiarkan momentum seperti itu, mengambir foto dan merekam.

“Kalau mereka hidup di zaman revolusi kemerdekaan, mereka akan ditangkap, diadili di sidang rakyat, dan satu per satu kepala mereka didor,” katanya lagi penuh nada ancaman.

Orasi Korlap memang membuat nyali menciut bagi pihak perusahaan. Dengan matanya yang selalu merah dan wajah yang garang. Siapa pula yang betah menatap tampangnya lebih dari lima detik? Cukup sekilas pandangan saja membuat orang gentar menatapnya.

Orasi selanjutnya bergiliran yang diwakili setiap organisasi dan perwakilan elemen masyarakat. Suara-suara lantang penuh perlawanan yang ditujukan ke Angkasa Pura dan pemerintahan tiada habisnya, bergulir sampai beberapa jam kemudian. Sesekali mereka memblokir Jalan Solo-Yogyakarta sehingga membuat macet lalu lintas sampai enam kilometer. Para sopir mengomel, klaksonnya berbunyi ribut di jalan yang macet total. Tentu saja itu semua terjadi akibat dari penolakan petinggi Angkasa Pura untuk menjumpai aksi massa.

Aparat keamanan semakin sibuk turut menjaga lalu lintas supaya aman terkendali, dan juga mengawal aski massa yang mulai beringas. Seorang polisi juga sempat ribut dengan anggota aksi karena mencoba mengaturnya. Mana mungkin didengar. Sia-sia. Hingga dipisahkan oleh Kordum dan dibicarakan baik-baik.

“Kawan-kawan, orasi selanjutnya akan disampaikan oleh Icow,” Korlap mengumumkan.

Icow bergegas keluar dari barisan kerumunan yang memblokir jalan. Meraih mikropon di atas mobil komando, “Terimakasih, Bung Tobu.”

“Selamat siang menjelang sore, kawan-kawan,” sapa Icow. Matanya menyapu ke barisan aksi massa.

“Bagaimana, kawan-kawan, apakah kawan-kawan masih semangat?” tanya Icow yang dibalas serempak aksi massa, masih. Kepalan tangan kiri mereka masih kokoh meninju langit.

“Hidup mahasiswa! Hidup rakyat! Hidup petani! Hidup buruh! Hidup nelayan! Hidup kaum miskin kota! Dan hidup perempuan yang melawan!,” tangan Icow tak kalah kuat mengepal ke atas. Suaranya tegas dan nyaring dari sound  sistem.



“Sebelum saya menyampaikan orasi ini, saya ucapkan terimakasih dan salam hormat yang setinggi-tingginya kepada kawan-kawan semua yang masih bernyali dan berkomitmen berjuang demi rakyat untuk menolak pembangunan NYIA,” kata Icow lantang mengawali orasinya, “selanjutnya saya juga berterimakasih kepada para pihak jurnalis yag juga turut hadir di sini. Kita tahu, merekalah yang punya peran penting mengabarkan ke masyarakat luas untuk menuliskan berita penting terkait kontroversinya pembangungan NYIA. Kita berharap pula agar para jurnalis menuliskan beritanya secara objektif, dan menjadi medianya rakyat, bukan medianya pejabat, korporat, apalagi aparat.”

Jurnalis dari berbagai media memotret, merekam, lalu mendengarkan secara seksama orasi Icow. Icow yang masih menggenakan kemeja putih yang digulung sampai ke siku itu memberi jeda sejenak orasinya, menarik napas dan melihat tenang aparat keamanan, pegawai Angkasa Pura, dan aski massa.

“Beberapa hari yang lalu, ada pernyataan Sultan yang mengusik hati saya sebagai mahasiswa. Beliau mengatakan ‘urusannya opo mahasiswa?’ saat menanggapi perjuangan mahasiswa bersama warga Temon yang menolak penggusuran. Saya kehabisan cara untuk memahaminya, kenapa beliau bisa mengatakan demikian? Padahal kita tahu, kawan-kawan, apa fungsi mahasiswa di tengah-tengah masyarakat. Melebur dengan masyarakat untuk memperjuangkan haknya adalah salah satu fungsi mahasiswa. Selagi masyarakat masih terus berjuang, maka mahasiswa harus dan terus bersama masyarakat. Ini jelas dalam sumpah mahasiswa, kecuali mahasiswa cupu yang tak pernah berikrar sumpah mahasiswa. Atau jangan-jangan tak tahu apa itu sumpah mahasiswa?” ucap Icow. Para aksi massa tampak tersenyum merendahkan, dan tertawa kecil saat Icow menyebut mahasiswa cupu tak tahu Sumpah Mahasiswa.

“Kawan-kawan, mahasiswa adalah manusia yang kritis. Kritis karena pikiran-pikirannya yang tajam menguraikan berbagai persoalan masyarakat. Di pundak mahasiswa itu pula bertumpu amanah seluruh rakyat Indonesia agar bangsa dan negara bisa jadi lebih baik lagi. Sistem sekarang yang amburadul ini mengakibatkan penderitaan rakyat berkepanjangan, maka tugas mahasiswalah yang membereskannya. Karena pemerintah kita sudah tidak mampu lagi menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana yang dicita-citakan founding father kita,” lanjut Icow. Aksi massa mendengar lebih takjim.

“Sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, mengatakan setiap yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap manusia yang berpikir. Nah, mahasiswa sebagai manusia yang berpikir tentu menyikapi persoalan pembangunan NYIA. Jadi saya tidak habis pikir bagaimana bisa Sultan mengatakan urusan mahasiswa apa di sana?” suara Icow masih lantang dari atas mobil komando. Dia berhenti sejenak, mengatur napas.

“Pembangunan NYIA di Temon, Kulonprogo, dalam analisis kawan-kawan perjuangan, banyak melanggar regulasi. Yang pertama, Perpres Nomor 28 Tahun 2012 tentang Tata Ruang Pulau Jawa-Bali, yang menyebutkan Kulonprogo menjadi salah satu wilayah yang rawan bencana alam. Selanjutnya Perda Provinsi DIY Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DIY, menyebutkan sepanjang pantai di Kulonprogo ditetapkan sebagai kawasan rawan tsunami, lihat di Pasal 51 huruf g. Bahkan Perda Kulonprogo Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah, lebih detail menjelaskan bahwa kawasan rawan tsunami salah satunya meliputi Kecamatan Temon. Bisa dilihat di Pasal 39 ayat 7 huruf a,” ujar Icow.



“Jadi kita bisa menilai bahwasanya pemerintah dan pengusaha mengundang sendiri bencana alam kepada warga. Warga miskin yang pastinya menjadi korban pertama, sementara para pejabat dan konglomerat kapitalisme hanya mendapat keuntungan dan tinggal di tempat yang nyaman dan aman. Bagaimana menurut kawan-kawan, apakah kita biarkan masyarakat menjadi tumbal atas keserakahan penguasa dan pengusaha?” tanya Icow.

“Tidak! Kita lawan!” balas aski massa. Suara lain juga berteriak, “hancurkan kapitalisme!”

“Warga di sana yang menolak digusur tidak boleh dilanggar hak asasi manusianya, karena ini jelas sebagaimana amanah Pasal 28 a Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi ‘setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Selanjutnya pada Pasal 28 g mengatakan ‘setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, harta dan benda yang di bawah kekuasaanya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat dan tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Jadi menjadi haknya warga pula jika mereka bertahan di rumahnya. Kalau dipaksa harus keluar meninggalkan rumahnya dengan alasan konsinyasi yang tidak disepakati, itu adalah perampokan. Betul tidak, kawan-kawan?” tanya Icow lagi kepada aksi massa.

“Betul” jawab aksi massa. “Perampok mereka,” celetuk salah satu di antara mereka.

“Yang cukup penting, kawan-kawan yang ingin saya sampaikan, sebelum ada perampasan lahan di sana. Warga menanami lahannya dengan sayuran dan tanaman palawijaya. Mereka menanam cabe, singkong, semangka, padi, dan lain-lain. Tanaman itu tumbuh subur di tanah leluhur mereka. Hasil panen mereka bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan bisa lebih. Tapi karena ada perampasan lahan yang dilakukan pemerintah dan pengusaha, maka sumber kehidupan warga dicabut sampai ke akar-akarnya. Yang mana sebelumnya mereka bertani, menggarap lahannya sendiri, dengan hadirnya NYIA, maka mereka menjadi pekerja. Bahasa kasarnya menjadi budak-budak perusahaan kapitalis. Sudah jelas untuk memenuhi kebutuhan keluarganya mereka harus bekerja, karena tak ada lagi lahan yang bisa digarap, dengan terpaksa mereka memberikan dengan segenap tenaga, pikiran, dan waktunya ke perusahaan. Awalnya mereka produsen, ya, petani adalah produsen, akhirnya menjadi budak-budak perusahaan. Dan tidak ada yang bisa menjamin kehidupan mereka lebih baik. Toh, kalau mau bicara kesejahteraan, selama ini warga sudah sejahtera dengan menggarap lahannya sendiri,” tutur Icow dengan nada geram yang semakin meninggi.

Bersambung… [Asmarainjogja.id]

Baca cerita sebelumnya di sini:

Rahasia Ana



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas