Ilustrasi Muslimah Bercadar | Foto Flickr

Oleh: Asmara Dewo

Muslimah yang tidak berjilbab nyinyir (iri) terhadap muslimah yang berjilbab atau berhijab. Mereka kerap menilai Muslimah berjilbab sok alim, sok suci, dan lain sebagainya. Padahal timbulnya rasa iri itu terkadang karena tak mampu. Maka abaikan! Tinggalkan ocehan seperti itu!

Lebih-lebih seorang pria Muslim nyinyir mengomentari wanita muslimah yang berjilbab, pada dasarnya dia lelaki yang tak bisa memimpin wanita yang jadi tanggungjawabnya. Misalnya istri dan anaknya tidak memakai jilbab. Kalaupun memakai jilbab hanya ditutupkan di kepala, rambut di depan terlihat jelas. Ketika ada angin, jilbab yang disangkutkan di kepala pun terbang melayang.

Maka ocehan pria seperti itu abaikan! Karena dia sendiri saja tidak mampu menjadi iman keluarga yang baik. Tidak perduli pria itu siapa, pejabat negara, ulama, atau yang sok paham betul soal agama. Jangan heran ada keluarga ulama yang anaknya tidak menutup aurat. Keluarga presiden apa lagi.

Berjilbab, berhijab, atau berkhimar semata-mata demi menutup aurat wanita. Yang sesuai perintah Islam (pada umumnya), menutup dari ujung kaki sampai ujung rambut, terlihat hanya wajah dan telapak tangan. Pakaiannya pun tidak ketat, tidak tembus pandang, dan tampak longgar. Sedangkan jilbabnya menjulur panjang menutupi dada. Ada pula yang memakai cadar, alias menutup wajah. Ini juga lebih baik. Sangat baik malah.

Yang sering dicibir adalah Muslimah bercadar, seolah-olah berpakaian seperti itu dianggap aneh, asing, atau yang lebih ekstreme lagi diduga yang macam-macam. Istri teroris, keluarga teroris, dan lain sebagainya. Apa hubungannya bercadar dengan teroris? Lantas ketika ada teroris yang istrinya bercadar, apa lantas semua bercadar itu bahaya? Tentu tidak, kan? Teroris, ya, teroris, Islam ya, Islam. Teroris manusia. Islam adalah agama. Manusia pasti salah. Sedangkan agama Islam adalah sumber kebenaran.

Bahkan yang buat kuping panas lagi adalah wanita Muslimah yang bercadar diejek seperti ninja. Kalaupun pakaiannya memang seperti ninja, lantas kenapa? Memangnya mengganggu orang lain? Memangnya dia teroris? Harus dijauhi, diledekin, atau dianggap membahayakan Indonesia. Hak dia mau memakai apa, toh? Bukankah Indonesia menganut paham demokrasi? Kalau wanita itu saja tidak sibuk mengurusi hak orang lain, lantas kenapa orang lain yang sibuk mengurusi hak wanita bercadar?

Kacau negara ini, Bung, Pak, Buk De, Mbak, kalau yang sudah berpakaian sesuai syariat Islam diolok-olok. Sementara yang "telanjang" tidak dikomentari, diimbau, apalagi dibina. Orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh lebih senang sepertinya dengan wanita yang berpakaian "setengah telanjang". Apa karena mengomentari “wanita liar” itu dianggap menjatuhkan martabat? Sementara mengomentari wanita yang berpakaian sesuai syariat dianggap hebat? Dianggap nasionalisme? Dianggap pula sudah demokratis tulen seperti negara barat?

Keliru!

Jika kita memang perduli terhadap negara dan agama, yang baik-baik janganlah dikomentari negatif. Bangsa ini mudah sekali diprovokasi. Jika kita secara tak langsung mengejek wanita bercadar, wanita yang ingin bercadar pun sudah tak semangat lagi. Bagus mana menutup seluruh aurat atau berpakaian "setengah telanjang"? Ayo berpikir waras!

Nah, kalau istri atau anak presiden tidak memakai jilbab! Itu urusan dia, mereka, jangan ditiru! Jika istri atau anak ulama tidak memakai jilbab, itu keluarga mereka, jangan ditiru! Abaikan karena mereka tidak menaati berpakaian yang dianjurkan Islam, yang dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadist.

Tirulah dan taati apa yang dianjurkan dalam Al-Quran dan Hadist. Insya Allah akan mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Jangan perdulikan mereka, bisa sesat nanti muslimah Indonesia menuruti orang-orang seperti itu. Ketika sudah berpakaian sesuai perintah Islam, mulailah ucapan dan perilaku dijaga, agar benar-benar mencerminkan seorang muslimah.

Yang lebih penting lagi adalah terus belajar ibadah, memperdalami keIslaman, dan bergaullah dengan Mukminah lainnya. Sering mengikuti pengajian untuk berkumpul dengan Mukmina terbaik di negeri ini. Tak hanya agama saja yang lebih baik, negara pun diisi dengan Muslimah seperi ini akan berdampak kemajuan pada bangsa kita. Bukan sebaliknya diisi dengan “wanita separuh telanjang” di tengah keramaian. Bangga pula! Makin rusak generasi Muslimah Indonesia.  [Asmarainjogja.id]

Baca juga:

Surat Terbuka untuk LGBT Dari Muslimah Bercadar Sheren Chamila Fahmi

6 Alasan Kenapa Jualan Jilbab Itu Sangat Menguntungkan

Menjaga Diri di Tengah Keramaian by Padusi Hijab

Lima Cara Menjadi Menantu Idaman Ibu Mertua

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas