Ilustrasi ujian di kampus | Foto Gettyimage

Asmarainjogja.id – Orangtua mengutus anaknya untuk melanjutkan pendidikannya agar ia semakin cerdas, dan juga agar otaknya terus berkembang untuk bersaing di kehidupan modern ini. Perkara cepat sukses atau tidak ketika si anak baru tamat kuliah itu urusan belakangan. Paling tidak jika si anak memang bisa diandalkan dan jeli mengambil peluang di sekitarnya, kesuksesan tentu ada baginya, terlepas apapun bidang studi yang digelutinya.

Dalam proses menuntut ilmu itu pula tentunya banyak kendala yang harus dijalaninya, mulai dari dosen yang bolos mengajar, fasilitas belajar yang tidak mendukung, sampai minimnya dukungan dari kampus itu sendiri. Meski begitu, peran terpenting untuk mendapatkan nilai tentunya dari mahasiswa itu sendiri. Kita tidak pungkiri juga cukup banyak mahasiswa yang malas belajar, pasif di kelas, tidak suka membaca, alergi diskusi, dan tidak perduli dengan mata kuliahnya. Itu semua bisa berdampak pada hasil ujian.

Jika sudah mendapat nilai D, maka itu salah siapa? Jika orangtua tahu anaknya mendapatkan nilai D di beberapa mata kuliahnya tentulah kesal. Mengingat biaya pendidikan mahal, waktu yang dijalani sia-sia, dan lain sebagainya yang merugikan. Bisa dibayangkan lagi, si mahasiswa ini kuliah di Yogyakarta, sedangkan kampung halamannya di sudut timur Indonesia, atau di sudut barat Indonesia. Jauh-jauh dikuliahkan, eh, dapat nilai D saat nilai ujian keluar.

Memang ada semester pendek (SP) untuk perbaikan nilai, tapi itu juga bayar, bukan gratis. Maka dapat disimpulkan ialah mahasiswa itu sendiri yang rugi. Sudahlah tidak memahami materi kuliah dengan baik, ditambah pula dapat nilai D, dan harus keluarkan uang untuk biaya semester pendek.


Hijab

 

Apa peran dosen dan Kampus?

Mahasiswa memang bukan anak sekolah lagi, yang harus ‘dipecut’ pantatnya agar rajin belajar. Karena sudah mahasiswa itu artinya belajar karena 100 % keinginannya sendiri, tidak dipaksa-paksa, atau belajar agar dapat nilai tinggi. Belajar bagi mahasiswa tentunya untuk bekalnya dikemudian hari, jika ia mahasiswa hukum, mungkin ia akan menjadi seorang pengacara, jaksa penuntut umum, atau hakim. Bayangkan jika mahasiswa tadi dasar-dasar ilmu hukum saja tidak tamat, hasil ujian dapat nilai D, bekal apa yang akan dibawanya kelak?

Dosen sebagai orangtua pendidikan sepatutnya tak hanya mengajarkan materi kuliah saja, tapi mengupayakan agar anak didiknya bisa menggapai impiannya. Sebagai dosen ia harus mengikuti perkembangan pendidikan mahasiswanya. Dosen sebagai pintu ilmu pengetahuan itu pula, memang mempunyai tanggungjawab besar terhadap mahasiswanya. Jika mahasiswa cerdas, itu karena keberhasilan mahasiswa itu sendiri, yang dibantu atas dorongan pendidikan oleh dosen. Sebaliknya jika mahasiswa itu guooblokk yang salah adalah dosen dan kampusnya.

Kok yang disalahkan dosen dan kampus? Jelas sebab kita tahu tujuan mahasiswa itu kuliah agar menjadi insan yang cerdas, karena itulah ia belajar lagi (kulisah), mengingat pada awalnya ia adalah insan yang ‘guoblokk’. Toh, jika ia tetap ‘guooblokk’, berarti yang salah dosen dan kampus. Keberhasilan suatu kampus itu dinilai dari seberapa banyak mencetak generasi cerdas yang bisa memengaruhi bangsa dan negara. Bukan dari jumlah mahasiswa yang banyak tapi diisi oleh sekumpulan insan-insan ‘guooblokk’, baik dari mahasiswa, maupun dari para dosen.

Mahasiswa Harus Sadar Diri

Nasib kita sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Begitu juga dengan kesuksesan, jika bukan kita yang menjemputnya maka tidak akan ada yang memberinya secara cuma-cuma. Semuanya itu tumbuh ketika mulai menyadari betapa maha pentingnya sebuah pendidikan. Mungkin saat ini ada mahasiswa yang sombong, baginya pendidikan itu tidak penting, toh, orangtuanya kaya raya, yang bisa menjamin masa depan yang cerah.

Oke, jika orangtuanya masih tajir, tapi ketika orangtua perekonomiannya jatuh, alias bangkrut, dan si anak tidak punya bekal apa-apa, baik dari dari segi kemampuan maupun dari pendidikannya, maka dijamin si anak itu berpeluang menjadi sampah masyarakat. Yes, sebab apa yang bisa dilakukannya untuk bertahan hidup, padahal sehari-hari kita butuh uang untuk makan. Dan karena dahulunya ia mahasiswa ‘guooblok’, komunikasinya amburadul, pengetahuannya sempit, tidak pandai bersosialisasi, sombong pula.

Apalagi dari keluarga miskin, sudah sepatutnya sadar diri. Inilah kesempatan yang terbaik mengubah kehidupan keluarga dari segi ekonomi di masa depan, dan juga sebagai status sosial keluarga agar tampak lebih terhormat di tengah-tengah masyakarat. Sebenarnya pendidikan itu tidak hanya mengubah nasib sendiri, tapi turut serta keluarga besarnya.

Belajar itu adalah hak setiap manusia, haknya setiap mahasiswa untuk terus menggali ilmu pengetahuan. Maka gunakan dan kejar hak belajar tersebut, entah itu mahasiswa kere, mahasiswa super tajir, ataupun mahasiswa jadi-jadian. Yang jelas pendidikan harus didapatkan sebaik-baiknya, karena dari pendidikan itu pula lahirlah insan-insan cerdas seperti yang sudah disinggung di atas tadi.  

Bagaimana mendapatkan nilai yang baik itu?

Jawabannya sudah pasti belajar sebaik-baiknya. Ikuti mata kuliah dengan benar (kehadiran), aktif di kelas, pahami materi, kerjakan tugas dari dosen, dan menjawab soal ujian dengan benar. Simple sekali memang. Tapi faktanya adalah masih banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai D. Meskipun   memang ada beberapa kasus penilaian itu tidak adil, kasus seperti ini sudah sepatutnya diperjuangkan oleh mahasiswa itu sendiri. Ya, hitung-hitung belajar memperjuangkan haknya.

Untuk mendapatkan nilai bagus itu, juga tidak mengorbankan perjuangannya untuk rakyat. Karena mahasiswa yang disebut-sebut sebagai kaum intelektual juga harus bisa menjadi ‘advokat’ bagi rakyat, membela, memperjuangkan, dan sebagai ‘polisi’ untuk mengawal, menertibkan, dan mengamankan pemerintahan itu. Ia tidak hanya duduk dikelas merebutkan nilai, tidak pula hanya berkutat soal pelajaran, tapi selalu mawas terhadap penderitaan masyarakat di sekitarnya.

Hijab

 

Semakin ia peka terhadap isu-isu di tengah masyarakat, itu akan memicu ia lagi belajar dengan sebaik-baiknya, karena mahasiswa tipe seperti itu sadar bahwa bermodalkan kemauan, keberanian, massa, dan solidaritas saja tidak cukup untuk memperjuangkan hak-hak rakyat, tapi juga harus dilengkapi dengan kecerdasan.

Selain itu agar mahasiswa tidak jenuh belajar, tentunya di kampus itu ada fasilitas kegiatan positif. Biasanya Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) menampung mahasiswa yang tertarik pada UKM yang dipilihnya.

Misalnya si mahasiswa senang menari, maka UKM Seni Tari cocok sekali menjadi tempat ia belajar dan mengekspresikan dirinya. Selain itu menjadi nilai plus di mata dosen atau kampus ketika mahasiswa kreatif tadi bisa tampi di acara-acara kampus. Apalagi bisa menjadi perwakilan kampus di acara-acara nasioal atau internasional, tentunya itu akan menjadi pengalaman yang hebat. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Dosen Bolos Kuliah

Memahami Lagi Arti Pendidikan untuk Anak-anak Kita

Pelajar Brutal Kita Sudah Seperti Anggota TRIAD dan Yakuza

Hakikat Belajar untuk Membekali Anak di Masa Depannya

Cara Memantik Agar Anak Sekolah Rajin Membaca



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas