Foto Ilustrasi | Chairunnisa Darus

Malam itu langit hampir memerah, angin pun melengkapi dengan desahannya yang lembut. Tidak ada bintang di sana, namun bukan kelabu.

“Jack!” sapa ocha hampir memecahkan lamunannya, “malam ini cukup dingin, jika kita diam saja tentu akan menambah kedinginan, setidaknya kita harus bergerak membunuh malam.”

Sinar kebiruan dari pupil mata Jack menatap Ocha, seakaan tahu maksud gadis tersebut tentang apa yang dia inginkan.

  “Lalu?” Jack bergumam pelan. Ocha seakaan merasa sedikit tertantang dengan jawaban jack yang singkat namun menggigit.

  “ada ide?” Ocha tersenyum. Dan Jack pun turut tersenyum, tanpa harus menjawab pertanyaan. Mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan kedua anak manusia itu pada malam, aspal, dan sebuah motor tua. 

Rintikan hujan, mulai turun ke bumi. Membasahi setiap jengkalnya tanpa  terkecuali. “Okay ... kita siap!” Jack menyapa Ocha yang sudah siap sedari tadi di boncengan. “Yeaaaaaahhhh ... ready Jack!” jawab Ocha dengan riangnya.

Brrrmmmmm…brrrmmm…brrrmmmm… gas pun mulai ditari dan asap knalpot butut mulai berhamburan menyatu dengan malam. Kedua anak manusia tersebut menghempas malam, melewati jalan demi jalan menelusuri lorong-lorong yang pada siang hari mungkin sebagian besar tidak dapat di lalui karena padatnya aktivitas. Namun, seakaan malam hanya milik anak muda ini. Mereka dengan warasnya tertawa, bercerita, bergumam memecah kebisuan yang belum tentu di miliki oleh mereka yang terlanjur tekun dengan dunia.

Semakin dingin, hujan pun semakin pecah. Kini tiada lagi rintik, namun deras nya sudah mengguyur mereka yang sama sekali tiada takut dengan namanya hujan. Tapi dalam hati, Jack takut jika Ocha akan sakit karena dampak dari hujan tersebut. Begitu juga dengan Ocha. Sama-sama perduli, namun sudah terlanjur menyatu dengan malam dan hujan. Mungkin tiada arti lagi dengan berteduh. 

“Ocha, masih aman?” Jack bergumam dengan bibir yang sudah mulai menggigil. “Amaaaaan,” Ocha bergumam pelan berselimut dingin. 

Lalu mereka tersenyum dan melanjutkan petualangan yang semakin seru.

Mata Ocha sedikit terbelalak, melihat sesuatu yang mungkin bisa menjadi tempat untuk sebuah keseruan mereka, “Hey, Jack Lihat di sana!” ucapnya lagi, “bagaimana kalau kita ke sana?” Ocha menunjuk suatu tempat kepada Jack.

“Okay, kita akan ke sana,” seru Jack sambil terus menaikan gas motornya agar sedikit melaju lebih kencang.

Mata mereka berbinar, dibias cahaya lampu malam yang berkelap seakan seperti bintang, mereka pun terlihat bersinar. Walau dengan keadaan yang sudah kuyup, tapi tidak mengurangi sedikit pun senyum ikhlas di bibir mereka.

Di atas jembatan besi, dengan raungan keras kereta-kereta baja, mereka berteriak melepas lelah dan penat, serta mencari kehangatan dengan sebuah jeritan.

“Jaaaaaaaaaaaaaaaaaacccccckkkkkk! Kita keren!” teriak Ocha.

Jack menatap Ocha dengan mata berbinar dan berujar, “Yeaaaah kita keren Ocha, keren sekali.” Lalu Ocha pun tersenyum hangat mendengar balasan dari ucapan Jack.

Namun Jack berseru lagi, “Ocha! Jeritnya jangan kekencangan,” sapa Jack menatap Ocha, “tuh liat di sana!” Jack menunujuk seseorang yang sudah berdiri tegap menatap mereka berdua.

“Uupsss ...” desah Ocha. Seorang satpam jembatan menatap mereka dengan dingin.

“ Dasar bocah.. “ gerutu satpam tersebut.

Bahagia menjadi begitu sederhana bagi Jack dan Ocha. Menyatu dengan Hujan dan Malam sudah menyempurnakan sebuah rasa. Lalu malam tersebut, di tutup dengan mimpi agar semua terasa seperti nyata kembali.

Penulis: Chairunnisa Darus

 



style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="6860358734"
data-ad-format="auto">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas