Marco Kartodikromo alias Mas Marco | Foto istimewa

Asmarainjogja.id – Ketika mendengar istilah “Sama Rata Sama Rasa”, kita langsung dibawa ke paham sosialis di dunia. Bahkan kalau diperhatikan juga anak punk Indonesia sering menyebut-nyebut “sama rasa sama rata”.

Apakah raungan dari suara-suara jeritan slogan itu murni dari luar negeri? Ternyata tidak, seorang pribumi asli Indonesia, Mas Marco Kartodikrmo-lah yang menceuskannya melalui sebuah puisi.

Siapakah Mas Marco Kartodikromo? Marco, mengesani nama dari Eropa. Ia mengganti huruf “k” jadi “c” dalam namanya, padahal nama aslinya adalah Marko. Pria kelahiran Cepu, Blora, 1890, itu mulai mengganti namanya saat mulai menulis, dengan tujuan agar Belanda penasaran dengan nama agak ke-eropa-an.

Di zaman awal abad 20, pribumi jarang menulis. Apalagi menulis berupa kritikan. Seperti yang tidak asing lagi kita dengar, misalnya R.A Kartini dan Tirto Adhi Soerjo juga sudah menulis di masa itu. Nah, Mas Marco merupakan salah satu penulis aktif yang penanya sangat tajam menghentak kedaulatan Gubermen.

Mas Marco dari keluarga priyayi. Keluarga priyayi di zaman Belanda itu bisa dibilang enak, tidak sama seperti rakyat biasa. Karena priyayi itu juga keturunan bangsawan, atau lebih dikenal dengan darah raja-raja Jawa. Sehingga Belanda pun masih memberikan rasa hormat, dan mendudukkan mereka di kedudukan yang cukup baik.

Baca juga:  Politik Buya Hamka yang Dibenci tapi Sosok yang Dimuliakan

Biasanya para keluarga priyayi bekerja pada Belanda, mungkin pegawai di pemerintahan atau di perusahaan Belanda. Intinya pekerjaan mereka tidak sama dengan rakyat biasa, selalu lebih di atas. Ada juru tulis, mandor, atau pegawai di kantor Belanda.

Lagi pula anak-anak priyayi juga mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak Belanda. Kalau pernah menonton film Soekarno atau HOS Tjokroaminoto, dua anak bangsa ini juga mengenyam pendidikan Belanda, karena mereka dari kelurga priyayi.

Selain dari keluarga priyayi yang bisa sekolah, adalah anak orang kaya, mungkin saudagar. Jadi pada masa itu rakyat miskin tidak mengecap pendidikan sama sekali.

Sebelum bekerja di koran pertama milik pribumi, yaitu Medan-Prijaji, Mas Marco terlebih dahulu bekerja sebagai buruh di perusahaan kereta api nasional milik Hindia Belanda (nama Indonesia di zaman Belanda) di Semarang. Namun akhirnya ia keluar dari sana karena kebijakan perusahaan itu rasis, termasuk juga dalam memberikan upah.

Bukan rahasia umum lagi orang-orang kolonial menganggap pribumi seperti makhluk hina. Tidak ada sedikit pun menghargai, apalagi menghormati, berbicara selalu kasar, semua pribumi dianggap rendah di mata mereka. Nah, orang-orang priyayi itu lebih dihormati karena menguntungkan Belanda, kalau tidak, tetap saja di mata orang kolonial itu tak berharga.

Kan kita tahu sendiri, terjadinya penjajahan dan perbudakan selama beratus-ratus tahun karena Belanda sendiri diterima dengan tangan terbuka oleh para kaum priyayi. Dan malahan bangga berteman atau bekerjasama dengan orang Eropa, walaupun tetap saja intinya menjajah Nusantara.

Baca juga:  Sang Pemula, Tirto Adhi Soerjo yang Ditakuti Belanda

Karena kebencian Mas Marco terhadap Belanda yang begitu dalam, ia pergi ke Bandung lalu bekerja dengan Raden Mas Tirtho Adhie Soerjo, pemimpin redaksi sekaligus pendiri Medan-Prijaji pada tahun 1907.

Di kehidupan baru ini Mas Marco sebagai orang kepercayaan dan kesayangan Tirtho Adhie Soerjo. Bentuk rasa itu sepertinya didasari oleh perasaan yang sama atas ketidaksukaan mereka terhadap kolonial Belanda. Apalagi Mas Marco sosok yang setia dan cepat belajar dalam penerbitan koran pribumi yang berbahasa Melayu itu.

Dalam novel tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karangan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, nama Mas Marco juga turut hadir di sana.

Dan ada sedikit perbedaan sejarah di sini, di novel Jejak Langkah itu menyatakan bahwa Mas Marco dan Sandiman menulis berita kritikan yang sangat tajam kepada Gubernur Jenderal AWF Idenburg. Mereka menulis berita Gubernur Belanda itu karena pawai iring-iringan untuk melayat menggunakan mobil sampai lima puluhan, yang menurut mereka ini adalah pemborosan uang rakyat.

Mengingat masa itu rakyat pribumi dibudaki dan dibodohi oleh pemerintah Belanda, mulai dari penyewaan tanah yang licik, kerja dengan upah yang sangat rendah, bahkan perlakuan yang tidak manusiawi diterapkan Belanda. Kesejahteraan kolonial di Hindia Belanda adalah dari tenaga, air mata, dan darah orang-orang pribumi itu sendiri.

Namun dari catatan sejarah lain, Tirto Adhi Soerjo lah yang menuliskan berita itu, sehingga sang pemula (istilah dari Bung Pram) ini dibuang ke Maluku oleh Belanda.

Baca juga:  Pesan Pangeran Ario Condronegoro (Kakek R.A. Kartini) dan Karya Tulis Anak-anaknya

Tulisan-tulisan di Medan-Prijaji memang sangat tajam, raja-raja kecil di Jawa saat itu juga tak luput dari berita provakasi mereka, misalnya Bupati Rembang Adipati Djojodiningrat (suami R.A kartini) dan patihnya, Raden Notowidjojo yang menyalah gunakan wewenangnya.

Karena atas kasus tuduhan penghinaan terhadap Gubernur Jenderal AWF Idenburg, Medan-Prijaji dibredel oleh Belanda. Tirtho Adhi Soerjo ditangkap, dan Mas Marco melanjutkan petualangannya berjuang melawan Belanda. Karena Mas Marco juga seorang anggota Serikat Dagang Islam (organisasi pribumi pertama di Indonesia), tahun 1912 ia pun bertolak ke Surakarta bergabung dengan anggota lainnya.

Atas pesan-pesan gurunya, Tirtho Adhie Soerjo, Mas Marco semakin menggebu-gebu saja di dunia tulis menulis dan organisasi SDI. Mas Marco juga mendirikan surat kabar Doenia Bergerak pada tahun 1914, berita-berita tajam juga terus mengalir mengancam kedaulatan pemerintahan Belanda.

Di tahun yang sama Mas Marco mendirikan Inlands Jounalisten Bond di Solo, dan ia sebagai ketuanya. Ini merupakan serikat para jurnalis, kalau zaman sekarang seperti AJI (Aliansi Jurnalis Independent).

Mas Marco juga menulis untuk surat kabar Serikat Islam, di sana ia menulis berupa kritikan terhadap Welvaart Commissie yang bertugas meneliti penyebab kemiskinan pribumi di Jawa.

Dalam tulisan itu Marco menilai komite dalam penelitian untuk mengungkapkan kemiskinan pribumi banyak yang tidak tepat, karena para anggota dalam penelitian tersebut tidak tahu tentang pribumi Jawa.

Apalagi kegeraman Mas Marco terhadap priyayi yang dianggap sebagai penjilat Belanda, karena sudah memberikan informasi yang sesat.

Baca juga:  Cerita Kartini Kecil di Sekolah dan Surat Kartini untuk Nyonya Van Kol

Atas tulisan itu pula, Ketua Serikat Islam, KH Samanhudi mendapat teguran dari Penasihat Urusan Pribumi Pemerintah Kolonial Belanda, Dr Rinkes. Namun karena Mas Marco memang bandal, ia malah menerbitkan berita itu di korannya, Dunia Bergerak, dengan judul: Pro of Contra Dr Rinkes. Dan juga menantang Dr Dinkes melalui artikelnya.

Mas Marco berkali-kali harus berurusan dengan Belanda karena dari tulisan-tulisannya itu. Bahkan Mas Marco mendapat gelar dari belanda Pribumi terpelajar yang tanggung dan wajib dalam pengawasan karena mengancam kedaulatan Belanda.

Selain menulis berita dan artikel, Mas Marco juga melahirkan karya novel, seperti: Student Hidjo, Matahariah, Cermin Buah Keroyalan, dan juga kumpulan puisi.

Hingga akhirnya Mas Marco dibuang ke Boven-Diegun, Papua, di tahun 1926 oleh Belanda karena gerakan dan tulisan-tulisannya yang mengancam kedaulatan Hindia Belanda. Di sana pula jurnalis pemberani dan bandel ini melepaskan napas terakhirnya karena malaria pada tanggal 18 Maret 1932.

Baca juga:  3 Tokoh Bangsa yang Berpesan Kepada Buya Hamka

Berikut syair Mas Marco Kartodikromo Sama Rasa Sama Rata yang fenomenal itu:

Sama Rasa dan Sama Rata

Oleh Mas Marco Kartodikromo 

Sinar Djawa, 10 April 1918

 

Syair inilah dari penjara,

Waktu kami baru dihukumnya.

Di Weltevreden tempat tinggalnya,

Dua belas bulan punya lama.

 

Ini bukan syair Indie Weerbaar,

Syair mana yang bisa mengantar.

Dalam bui yang tidak sebentar,

Membikin hatinya orang gentar.

 

Kami bersyair bukan kroncongan,

Seperti si orang pelancongan.

Mondar mandir kebingungan,

Yaitu pemuda Semarangan.

 

Dulu kita suka kroncongan,

Tetapi sekarang suka terbangun.

Dalam SI Semarang yang aman,

Bergerak keras ebeng-ebengan.

 

Ini syair nama: Sama Rasa,

Dan Sama Rata, itulah nyata.

Tapi bukan syair bangsanya,

Yang menghela kami di penjara.

 

Di dalam penjara tidak enak,

Tercerai dengan istri dan anak.

Kumpul maling dan perampok banyak,

Seperti bangsanya si pengampak.

 

Tetapi dia juga bangsa orang,

Seperti manusia yang memegang.

Kuasa dan harta benda orang,

Dengan berlaku yang tidak terang.

 

Ada perampok alus dan kasar,

Juga perampok kecil dan besar.

Bertopeng beschaving dan terpelajar,

Dengan berlaku yang tidak terang.

 

Dia itulah sama perampoknya,

Minta orang dengan laku paksa.

Tidak mengingat kebangsaannya,

Bangsa manusia di dunia.

 

Hal ini baik kami kuncikan,

Lain hal yang kami bicarakan.

Perkara yang mesti dipahamkan,

Dan akhirnya kita melakukan.

 

Banyak orang tidak mengetahui,

Dua kali kami kena duri.

Artikel wetboek yang menakuti,

Juga panasnya seperti api.

 

Kaki kami sudah lama luka,

Kena duri yang kuinjak-injak.

Juga palang-palang yang kudupak,

Sudah ada sedikit terbuka.

 

Haraplah saudaraku ditendang,

Semua barang yang malang-malang.

Supaya kita berjalan senang,

Ke tempat kita yang amat terang.

 

Buat sebentar kami berhenti,

Di jalan perempat tempat kami.

Merasakan kecapaian diri,

Sambil melihati jalan ini.

 

Jangan takut kami putus asa,

Merasakan kotoran dunia.

Seperti anak yang belum usia,

Dan belum bangun dari tidurnya.

 

Kami sampai di jalan perempat,

Kami berjalan terlalu cepat.

Teman kita yang berjalan lambat,

Ketinggalan masih jauh amat.

 

Kami berniat jalan terus,

Tapi kami berasa haus.

Adapun pengharapan tak putus,

Kalau perlu boleh sampai mampus.

 

Jalan yang kutuju amat panas,

Banyak duri pun anginnya keras.

Tali-tali mesti kami tatas,

Palang-palang juga kami papas.

 

Supaya jalannya Sama Rata

Yang jalan pun Sama Rasa

Enak dan senang bersama-sama,

Yaitu: Sama Rasa, Sama Rata.

Dalam novel Rumah Kaca, Mas Marco teringat mendiang pesan Ayahnya, saat mendengar Tirtho Adhie Soerjo berujar: Jangan bikin mereka lebih kaya dan lebih berkuasa karena keringatmu. Rebut ilmu-pengetahuan dari mereka sampai kau sama pandai dari mereka. Pergunakan ilmumu kemudian untuk menuntun bangsamu keluar dari kegelapan yang tiada habis-habisnya ini. [Asmara Dewo]

Lihat juga:  Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas