Ilustrasi anak-anak yang bekerja | Foto Antara

Asmarainjogja.id – Mendidik anak sejak kecil agar mandiri itu sangat baik, ini akan menjadi bekal hidupnya kelak ketika dewasa. Mandiri itu cakupannya sangat luas, namun kali ini saya akan menceritakan anak-anak yang mulai mandiri soal keuangan. Mungkin sebagian orang menilai jika masih anak-anak sudah mencari uang adalah sesuatu yang tidak wajar.

Alasan mendasar adalah masa-masa seperti itu adalah masa paling bahagianya anak-anak, seperti bermain, belajar, mulai berinteraksi lebih dekat lagi dengan teman-teman sebayanya, dan lain sebagainya yang menyenangkan. Tapi bagaimana jika anak-anak itu harus memilih mencari uang jajannya. Malas bekerja itu artinya tidak punya uang. Maka mau tak mau harus ikut bekerja.

Anak-anak yang menyadari kehidupan sulit keluarganya pasti akan paham, ia tidak mau turut membebani orangtuanya, apalagi menyusahkannya dengan sengaja. Terlebih lagi seorang anak yang tahu bahwa selain mencari uang juga penting, pendidikan juga tak kalah pentingnya. Jadi tantangan terberat dia adalah mampu bekerja, dan tetap melanjutkan pendidikannya.

Keren tidak anak-anak seperti itu? Kalau saya bilang, sih, keren. Luar biasa malah. Sebenarnya banyak sekali anak-anak yang mulai mandiri sejak anak-anak, salah satunya adalah saya.

Kenapa saya bisa merasakan kegetiran hanya sekadar melihat anak-anak di jalanan, di pasar, dan di tempat-tempat keramaian saat mereka bekerja? Sebab saya masih kecil sudah pernah mengalaminya, kalau tidak salah masih kelas 4 SD saya sudah mencari uang sendiri.

Waktu itu setiap hari Minggu saya ikut jualan ayam potong dengan abang ipar saya di Pasar Garut, daerah Riau. Dan setelah masuk SMP setiap hari Kamis saya ikut jualan ayam potong dengan abang kandung saya di Pasar Minggu, Kandis, sedangkan hari Minggu tetap jualan bersama abang ipar. Saya ikut jualan mulai   pagi sampai siang hari, sebab saya harus sekolah pukul 13.00.

Itu artinya sejak kelas 4 SD sampai tamat SMP saya sudah berjibaku di pasar. Berjumpa banyak orang, mulai dari pedagang, preman, pengemis, tukang sulap, tukang judi, dan lain sebagainya. Karena sudah pandai bekerja, jadi sejak saat itu saya tidak terlalu kesulitan soal uang. Gaji saya dikasi abang ipar saya sekali ikut jualan ayam potong sebesar Rp 25.000, dan terkadang bisa juga lebih, sampai 30.000. Gaji yang diberikan abang saya karena ikut jualan setengah hari Rp 15.000.

Dan kerennya lagi  kalau ikut jualan ayam potong itu ada uang masuknya. Uang masuknya dari hasil penjualan jantung atau lemak, selain itu dari jasa membersihkan ayam, kalau ada ibu-ibu yang membawa ayam kampungnya sendiri dari rumah. Uang masuk ini bisa sampai Rp 15.000.

Mungkin tidak terlalu besar bagi orang lain, tapi bagi saya sudah besar sekali. Uang gaji itulah untuk jajan sekolah, keperluan sehari-hari, dan lain sebagainya kebutuhan anak-anak di usia seperti itu. Jika orangtua saya telat membayar uang SPP atau buku, maka uang tak seberapa itulah yang menutupinya. Sebenarnya juga keluarga saya bukan miskin, malah bisa dibilang cukup lumayan, hanya saja permasalahannya adalah tidak terlalu perduli terhadap anak-anaknya.

Di balik ketidakpedulian keluarga itu ternyata kakak saya melebihi dari ibu saya soal keperdulian terhadap adik-adiknya. Bahkan bisa dibilang sejak kecil sampai tamat SMA kakak saya itulah yang mengurus segala keperluan saya, sampai harus repot-repot pula mengurus administarsi ketika saya ikut mendaftarkan Secaba TNI AD. Kakak bagi saya adalah ibu kedua di rumah. Uniknya, boleh jadi kakaklah yang paham betul watak adiknya, bukan yang lain.

Dan pada saat SMA saya juga harus mencari uang sampingan untuk uang jajan sekolah. Sebab lagi-lagi uang kiriman dari keluarga macet. SMA semester dua saya sekolah di Lubuk Pakam, di sana saya tinggal bersama keluarga juga. Meskipun keluarga jauh, tetaplah bayar uang kos. Sebab karena rumah yang berada di depan SMA Negeri 1 Lubuk Pakam tersebut memang kos-kosan.

Anak-anak lain mungkin gengsi jika punya pekerjaan sampingan sebagai petugas kebersihan sekolah. Terlebih lagi ketika itu saya sudah mulai remaja, sudah SMA kelas dua. Di mana anak-anak lain gengsinya setinggi langit. Kalau memang keluarganya orang kaya mungkin tidak masalah, tapi kalau keluarganya miskin, kan, tidak cocok pakai gengsi segala. Karena sejak kecil saya sudah mencari uang sendiri, jadi tidak ada istilah gengsi-gengsian.

Teman-teman SD tahu saya jualan ayam di Pasar Minggu, Kandis, Riau. Teman-teman SMP saya tahu juga saya jualan ayam di sana. Sedangkan teman-teman SMA sebagian juga tahu saya punya tugas membersihkan sekolah di SMA Negeri 1 Lubuk Pakam, dan saya sekolah di SMA 5 Muhammadyah.

Enaknya sudah pandai mencari uang sejak sekolah adalah saya tidak terlalu ketergantungan soal uang. Jika dikirimia uang dari keluarga disyukurin, kalau belum ditransfer paling pakai uang sendiri untuk biaya sekolah, itu kalau uangnya ada. Apesnya kebutuhan untuk saya sendiri kurang.

Sudah kuliah apa lagi, jangan tanyakan soal kerja, mulai dari kerja bangunan, marketer, sampai staff di supermarket sudah saya kerjakan. Nasib buruknya adalah toh, saya tidak tamat juga kuliah dari STIH Graha Kirana Medan. Ini bukan karena saya bodoh, tapi karena masalah uang. Jika diingat-ingat sekarang ini sejak dulu saya selalu bermasalah dengan uang pendidikan. Lelah kalau ingat-ingat masa kegetiran tersebut.

Nah, sejak 2 tahun lalu saya sudah bersumpah tidak mau bekerja lagi dengan orang lain, apa saya salah? Ada yang menilai saya adalah pemuda pemalas, yang tidak mau bekerja. Oh, mereka tidak tahu atau mungkin lupa, sejak SD saya sudah pandai mencari uang sendiri. Bandingkan dengan anak-anak sekarang, apa yang sudah dilakukannya ketika masih SD? Jangan pikir enak bantu jualan ayam potong itu, kerjaannya tak jauh berbeda dengan orang dewasa. Maka sesuai juga dengan gaji saya ketika itu.

Perlahan tapi pasti bisnis yang saya bangun mulai berkembang, hasil yang selama ini diperjuangkan mulai nyata. Soal keuangan tidak lagi terlalu sulit, meskipun sebenarnya belum cukup, tapi paling tidak itu lebih hebat dibandingkan ketika saya pernah bekerja di Yogykarta. Duduk manis di depan laptop, tulis ini, tulis itu, promosi barang ke berbagai media, barang dibeli, uang ditransfer, keuntungan langsung dikantongi. Nyaris saya mencari uang tidak mengeluarkan keringat.

Hanya saja otak saya tidak henti-hentinya berpikir, bagaimana cara membangun bisnis agar bisa lebih besar lagi. Selain itu berbagai kendala yang membuat saya tidak bisa tidur. Terkadang saya sempat berpikir ternyata lebih lelah bekerja hanya mengandalkan otak daripada otot.

Kalau kita bekerja yang cenderung menggunakan otot, ketika lelah hilang, semua bisa kembali seperti semula. Sedangkan bekerja yang mengandalkan otak 90 persen, jika otaknya sudah kelelahan sulit kembali seperti semula. Biasanya ini terjadi seperti stress sampai frustrasi.

Di masa-masa sulit, saya juga sempat frustrasi. Kacau sekali ketika itu, tidak bisa berbuat apa-apa lagi, pikiran buntu, pesimis, dan mudah tersulut emosi yang berujung marah-marah. Ketika nasib mulai berpihak ke saya, maka kehidupan perlahan berubah, masa depan cerah sepertinya sudah bisa “diintip”. Maaf, ini bukan sombong tapi keyakinan kuat bagi seorang pejuang seperti saya.

Maka disimpulkan ketika saya masih anak-anak saya bekerja pakai otot, sedangkan ketika sudah dewasa menggunakan otak. Kalau ditanya mana lebih enak, tentu bekerja pakai otak jauh lebih enak dibandingkan pakai otot.

Sedangkan dari uangnya sendiri tentulah yang menggunakan otak, apalagi selain menulis saya berbisnis. Ketika saya masih duduk-duduk saja bisa dapat keuntungan. Coba kalau saya tetap bekerja pakai otot, tidak keluar tenaga berarti tidak ada gaji.

Mengenai pendidikan yang tak pernah diabaikan, sepertinya nasib baik kembali memeluk saya, jika tidak ada halangan saya kembali masuk kelas. Seperti yang sudah disinggung di atas tadi, saya rajin mencari uang salah satunya untuk pendidikan, jadi itu salah satu motivasi saya bekerja keras sejak kecil. Kita harus yakin impian itu memang harus diperjuangkan, meskipun tak juga sampai. Paling tidak terus diperjuangkan.

Sebaik-baiknya perjuangan adalah yang diperjuangkan meskipun kalah, sedangkan seburuk-buruknya perjuangan adalah yang menyerah di tengah jalan. Sejak kecil saya sudah memperjuangkan pendidikan, meskipun sempat tertunda saat kuliah di Medah, namun perjuangan itu tak pernah padam. Dan ketika ada kesempatan pendidikan lagi maka langsung saya sambar.

Sebuah perjalanan panjang yang masih terus diperjuangkan, memang benar ternyata, kekuatan perjuangan anak manusia tak bisa dikalahkan oleh apapun dan siapapun, kecuali Sang Maha Kuasa. Jika Dia ridho, bumi beserta isinya mengamini. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Hamba yang Memikirkan Surganya Saja

Maaf, Mak, Lebaran Ini Aku Tak Pulang

Bulan Ramadhan, Waktu yang Tepat Belajar Menutup Aurat



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas