Faisal SP | Doc. Bintang Inspirasi

Asmarainjogja.id – Pembahasan tentang mahasiswa bukan lagi sebuah hal yang baru diperbincangkan, ia telah menjadi wacana yang telah berulang  sebelum kemerdekaan, pasca kemerdekaan dan zaman reformasi. Peran mahasiswa sangat vital dalam sebuah peradaban, pasalnya mahasiswa adalah bagian dari pilar penting sebuah negara, yang menjadi salah satu bagian dari pengontrol kebijakan rezim yang berkuasa.

Jikalau   kita  merajut kembali sejarah bangsa ini tentunya tidak terlepas dari peran penting pemuda, salah satunya sering disebut juga mahasiswa. Bagaimana tokoh kemerdekaan adalah sebagian besar pemuda dan mahasiswa, mereka adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, sebab ketika kita berbicara tentang pemuda maka mahasiswa pun masuk ke dalamnya.

Sejarah telah membuktikan bagaimana pemuda Indonesia bersama-sama berjuang menuntut kemerdekaan, sebut saja Soekarno, Mohamad Hatta, Tan Malaka dan H.O.S. Cokro Aminoto. Para tokoh besar tersebut adalah bagian dari pemuda dan mahasiswa yang ambil andil dalam memerdekakan bangsa ini dari cengkraman penjajah belanda.

Saat penjajah menggerogoti bangsa ini, dengan begitu picik dan tidak berperikemanusiaan, munculah tokoh-tokoh pemuda progresif   revolusioner dan juga gerakan-gerakan pemuda yang turut ambil andil dalam melawan penjajah. Golongan itu rela mengorbankan segalanya demi terwujudnya bangsa yang bebas dan beradab.

Namun tidak  hanya sampai di sana, ketika Nusantara merdeka dan akhirnya menjadi sebuah neara yang disebut Indonesia. Hanya saja tidak menjadi jaminan bahwa bangsa ini telah sejahtera dan keluar dari penjajahan sepenuhnya. Karena setelah kemerdekaan dari penjajahan secara fisi,   alih-alih membuat  rakyat sejahtera 100 persen, ternyata masih jauh panggang dari api.

Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), bulan September 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 26,58 juta orang (10,12 persen), berkurang sebesar 1,19 juta orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 27,77 juta orang (10,64 persen).

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2017 sebesar 7,72 persen turun menjadi 7,26 persen pada September 2017. Sementara persentase penduduk miskin di daerah pedesaan pada Maret 2017 sebesar 13,93 persen turun menjadi 13,47 persen pada September 2017.

Selama periode Maret 2017–September 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 401,28 ribu orang (dari 10,67 juta orang pada Maret 2017 menjadi 10,27 juta orang pada September 2017), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 786,95 ribu orang (dari 17,10 juta orang pada Maret 2017 menjadi 16,31 juta orang pada September 2017).

Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan garis kemiskinan makanan, terhadap garis kemiskinan pada September 2017 tercatat sebesar 73,35 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi Maret 2017, yaitu sebesar 73,31 persen. Ini tentunya sangat menyedihkan, bedanya sebelum kemerdekaan diproklamirkan tahun 1945, rakyat masih menderita dengan penjajahan secara fisik, (baca BPS)

Rakyat di negeri ini tidak lagi menderita penjajahan secara terang-terangan dalam bentuk kerja paksa, tapi kemelaratan ekonomi. Toh, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan rakyat hanya diantar ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Selepas itu rakyat mau masuk atau tidak, kedalam ruang kemerdekaan secara seratus persen itu tergantung rakyat Indonesia.

Realitas ketidaksejahteraan rakyat bisa dilihat sejak presiden pertama Soekarno berkuasa sejak tahun 1945-1967. Bukan memberikan kesejahteraa,n malah menciptakan Tri Tura ( tiga tuntutan rakyat) pada 10 Januari 1966. Pasalnya saat itu kesenjangan ekonomi yang semakin menjadi-jadi di negeri kita. Hal ini memicu gerakan mahasiswa dari berbagai kalangan pemuda dan mahasiswa yang revolusioner, dan juga progresif.

Pada tahun 1965 tepatnya bulan Oktober, hanya selang beberapa hari setelah peristiwa G 30/S/PKI, muncul kelompok   organisasi mahasiswa, antara lain:   Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Sekretariat Organisasi Lokal( SOMAL), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mereka mendesak agar Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang merupakan wadah untuk menghimpun organisasi mahasiswa ekstra universitas di masa Orde LamaUntuk melakasanakan kongres dalam rangka menyikapi keterpurukan negara Indonesia saat itu.


Hijab

Namun usulan tersebut ditolak oleh beberapa organisasi yang yang pro terhadap Soekarno. Tidak hanya sampai disitu, gerakan mahasiswa terus berlanjut dan berhasil menumbangkan Soekarno Pada tahun  1967.

Walaupun saat itu juga memang telah lemah kekusaan Orde Lam, namun semua  tidak lepas dari peran pemuda dan mahasiswa. Sehingga runtuhlah kekuasaan rezim Rode Lama.

Waktu terus bergulir, saat rezim orde lama ditumbangkan, masuk masa baru dengan harapan yang lebih baik pada rezim  berikutnya. Masa pemerintahan yang di kenal dengan orde baru, atau di masa presiden baru yaitu Soeharto, sosok yang muncul sebagai pahlawan, dalam menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan yang lebih jauh.

Saat pemerintahan Presiden Soeharto atau yang dikenal dengan Rezim Orde lama yang menjabat saat pembacaan Supersemar  pada tanggal 12 Maret 1967 sebagai pejabat presiden. Dan setahun kemudian dilantik menjadi presiden pada tanggal 27 Maret 1968 oleh MPRS.

Pada masa jabatannya mulailah masuk investasi asing dari berbagai negara, salah satunya adalah Amerika Serikat, dengan kontrak tambang emas yang berada di Mimika Papua. Kontrak tersebut ditandatangani oleh presiden Soeharto, pada 17 April 1967.

Presiden Soeharto juga terkesan mebebaskan pihak swasta atau kapitalis untuk mengusai negeri ini, tentunya bisa dilihat dari berbagai kebijakannya, salah satunya adalah tentang Freeport. Membiarkan pihak asing mengeksploitasi kekayaan alam kita, sama saja menjual negeri secara tidak langsung. Sebab seharusnya kekayaan dikelola oleh negara dan dinikamati oleh rakyat.

Masa pemerintahan Orde Baru juga semakin menjadi-jadi kolusi, korupsi dan nepotisme, terus merambah ibarat racun yang siap membunuh, bagaiamana tidak?! Rezim Soeharto yang dikenal otoriter dan diktator. Lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya daripada rakyat Indonesia.

Rezim ini juga terkenal dengan berbagai kebijakan yang membungkam daya kritis pemuda dan mahasiswa, dengan kebijakan NKK dan BKK. Yang membuat mahasiswa semakin di batasi ruang geraknya. Walaupun presiden Soeharto berkusa hingga 31 tahun, yaitu dari tahun 1967-1998, dengan kekuasaan yang selalu otoriter dan mengandalakan militer dalam menghadapai rakyat.

Namun ia bisa ditumbangkan juga oleh mahasiswa. Pada masa ini muncul lagi gerakan rakyat yang terhimpun dari pemuda dan mahasiswa untuk menjatuhkan rezim Soeharto. Dan akhirnya presiden Soeharto lengser dari singgasananya. Tetapi perjuangan mahasiswa belum bisa dikatakan berhasil sebab pada saat turunya Soeharto, bagian dari pada orde lama masih ada didalam pemerintahan pasca reformasi.

Ini juga bisa dilihat bagaimana Kapitalisme masih terus merajai negeri Indonesia. Bagaimana Freeport masih terus berlanjut. Era yang disebut reformasi ternyata tak mampuh mengubah secara keseluruhan, ia hanya mampuh meminggirkan pengusanya. Akan tetapi sistem penjajahannya masih terus berlanjut.

Sekarang di era reformasi, yaitu sebuah jaman yang memberikan kebebasan tanpa otoriterisasi seperti rezim sebelumnya ternyata tidak menghasilkan apa-apa, hanya segelintir kecil perubahan. Sangat tercerminkan bagaimana diera ini banyak wilyah Indonesia mulai meminta melepaskan diri salah satunya dalah Timor-timor.

Penguasa juga terus berganti dari BJ. Habibie sampai Jokowi. Justru kondisi sekaran semakin lama semaki terpuruk. Belum lagi generasi telah kehilangan identitas juga krisis moral. Mahasiswa yang tadinya agen perubahan yang siap bertempur di jalan, kini sibuk menikmati sejuknya ruang ber AC tanpa memikirkan kondisi rakyat di luar sana.

Sehingga gerakan mahasiswa terkesan telah mati, tidak lagi masif seperti pada zaman-zaman sebelumnya. Dimana kesolidan mahasiswa dalam menuntut kebenaran begitu solid, sekarang malah gerakan-gerakan dan kelompok-kelompok mahasiswa sibuk dengan urusan bendera masing-masing.

Belum lagi gerakan-gerakan mahasiswa bukan malah berbaur dan sama-sama berjuang, justru malah sibuk bertikai satu sama lain. Tak kalah repotnya pragmatisme di kalangan pergerakan mahasiswa juga terus tertanam. Sehingga bukan mencari solusi tetapi sibuk bagaimana mendapat posisi.

Organisasi bukan lagi wadah perjuagan, namun hanya tempat menggalang kekuatan demi kepentingan segelintir orang. Sungguh menyedihkan,  padahal perjuangan mahasiswa belum selesai. Malah semakin hari semakin berat. Tentunya karena Kapitalisme terus bercokol di negeri ini.

Oleh sebab itu, kita perlu merekonstruksi kembali gerakan mahasiswa. Demi menggalang kekuatan melawan penjajahan. Perlunya satu visi dan misi yang sama untuk menjadikan tolak ukur penyatuan solusi untuk melawan penjajahan gaya baru atau Neo Imperialisme.

Tidak hanya itu, perlawanan tidak cukup hanya sebatas menumbangkan kekuasaan dan mengganti penguasa, tapi harus mengganti sistem secara keseluruhan dari sistem Kapitalisme, menjadi sistem yang memanusiakan manusia. bukankah kita telah belajar dari tragedi 98? Yang hanya menjatuhkan penguasa, ternyata tidak cukup membawa negeri ini menjadi lebih baik.

Tentunya memerlukan perubahan secara menyeluruh. Namun perubahan ini tidak mudah, perlulah insan-insan yang sabar dan tangguh berjuang di luar sistem. Dan bukan malah terlibat politik praktis dalam sistem demokrasi hari ini yang telah kacau. Itu bukan solusi! Malah menceburkan diri dalam kubangan lumpur.

Hanya orang bodohlah yang mau jatuh ke lubang yang sama, begitulah kata pepatah lama. Presiden ganti presiden ternyata bukan solusi, sebab akar permasalahannya bukan pada orangnya saja, namun juga akibat sistemnya. Bagaimana sistem demokrasi kapitalisme yang begitu mahal dalam konstestasi politik, inilah penyebabnya, mengapa penguasa lebih memilih menguntungkan diri pribadi.

Mari bersama-sama merawat NKRI juga merawat nalar sehat, dmi kemerdekaan rakyat yang hakiki.

Penulis: Faisal PS, mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Widya Mataram, dan aktif di Komunitas Menulis Bintang Inspirasi.

Baca juga:

Tiga Motivasi Perjuangan

Pudarnya Nasionalisme Akibat Paham Radikalisme

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus

Mahasiswa Dapat Nilai D Salah Siapa?

Dosen Bolos Kuliah

Memahami Lagi Arti Pendidikan untuk Anak-anak Kita



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas