Foto Ilustrasi Flickr

Oleh:  Dewi Sekar Rahayu

Putra Adinata biasa disapa Nata. Pemuda tampan yang sedang duduk di cafe sembari menikmati secangkir kopi dan sepotong cake coklat kesukaannya. Tak sengaja pandangannya terpaku oleh setangkai mawar merah dan mengingatkannya pada masa lalunya. Sebuah kisah dengan sahabat kecilnya bernama Rainasti Az-zahra. Ia adalah gadis  cantik, sekaligus sahabat kecil Nata yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Sebab Nata telah kehilangan adik perempuan satu-satunya saat usianya baru 8 bulan.

Rain, itulah panggilan akrab si gadis cantik tersebut. Anak satu-satunya dari teman ayahnya yang tinggal satu kompleks dan rumah mereka pun saling berhadapan.

Sedangkan Rain biasa memanggil sahabat kecilnya itu dengan panggilan Nata.

Nata  sangat dekat dengan Rain. Sejak kecil mereka sudah akrab dan bermain bersama, hingga satu sekolah dari SD sampai SMA. Mengapa ia dipanggil Rain oleh Nata?

Gadis ini sangat suka dengan hujan tetapi dia takut suara petir dan akan terserang flu bila ia sudah menghabiskan waktunya bersama hujan. Nata  heran mengapa ia sangat menyukai hujan? Dan takut dengan petir?.

Saat duduk di bangku SMA tepatnya kelas 11, Rain mulai berubah, ia sangat manja dengan Natau. Sampai suatu hari Rain  berkata, “Nat,   kau tau kan aku tidak pernah dekat dengan laki-laki selain kau? Dan aku juga tidak pernah merasakan apa itu pacaran?”

“Iya, aku tau putri hujan,” dengan nada datar ia berkata lagi, “terus kenapa? Emangnya ada masalah?”

Gadis cantik itu menjawab, “Tidak ada masalah, sih, tapi aku ingin seperti gadis lain yang merasakan keromantisan yang selali diberikan mawar. Kira-kira kau mau tidak memberiku setangkai mawar merah setiap kau ingin bertemu denganku?”

Nata terheran-heran dengan permintaan aneh Rain, “Apa? Setangkai mawar merah setiap bertemu denganmu? Bisa rugi aku nanti, uang jajanku akan berkurang hanya untuk membelikanmu mawar merah! Kau kenapa sih? Permintaamu aneh? Pokoknya aku tidak  mau.”

Tapi Rain terus merayu sahabatnya itu. Karena  kasihan akhirnya Nata  pun mengiyakan permintaan Rain.

Mulai keesokannya setiap bertemu Rain, baik itu saat mau berangkat sekolah, pergi mengerjakan tugas, pergi nongkrong, bermain, dan pulang sekolah Nata selalu memberikan setangkai mawar merah. Sesuai permintaan Rain. Pernah suatu malam saat Nata ingin mengajaknya menonton, tetapi ia lupa membawa setangkai mawar karena toko langganannya saat itu sudah tutup.

Nata terus mengetuk pintu memanggil, “Rainnnnn! Rainnnnnn! Ini aku nata kita pergi nonton, yuk!”

Dengan sengaja Rain belum membuka pintu. Dia tanya apakah Nata membawakan bunga untuknya dari balik pintu, “Nat, kau bawa mawarku tidak?”

Sembari menepuk jidat Nata menjawab, “Astaga Rain aku lupa, tokonya udah tutup tadi. Sudahlah, ayolah kita pergi! Besok kau akan kuberikan dua tangkai sekaligus. Ayolah temani aku menonton film terbaru kesukaanku, Rain! Aku janji, deh, akan memberikanmu mawar besok, pagi-pagi sekali.”

Dengan kesal Rain menjawab, “Aku tidak  mau menemanimu malam ini. Kau saja lupa membawakan mawarku, kau pergi saja sendirian! Aku tidak  ingin keluar denganmu tanpa mawar.”

Begitulah keras kepalanya Rain, dan juga yang sangat teguh atas kemauannya. Sehingga tak seorang pun yang mampu menghalangi keinginannya.

Dengan kecewa Nata kembali pulang dan membatalkan niatnya untuk menonton. Ia sadar, ini semua salahnya karena kelalaiannya sendiri. Lupa membeli mawar.

Keesokan paginya Nata menjemput Rain untuk pergi sekolah. Seperti biasanya mereka pergi dengan motor kesayangan Nata  dan tak lupa setangkai mawar yang sudah ia beli saat pagi sekali di toko langganannya.

Setelah jam pulang sekolah ia menunggu Rain di parkiran sekolah. Nata menunggu selama 30 menit. Rain belum juga datang, padahal awan hitam semakin tebal yang memberi tanda alam bahwa sebentar lagi akan hujan. Dan benar saja setelah 5 menit kemudian akhirnya hujan turun sangat lebat. Sedangkan Rain belum juga datang, padahal sudah tidak ada lagi siswa di sekolah itu, tanpa pikir panjang lagi Nata langsung pergi menuju taman kota dan yakin sekali bahwa Rain sedang berada di sana.      

Setelah sampai di taman dengan keadaan yang basah kuyup, Nata mencari Rain di setiap sudut taman.

“Rainnnnn... sini! Ayo pulang! Hari hujan lebat sekarang, nanti kau sakit. Ayolah, bunda sedang menunggumu di rumah, kau sudah dari tadi bermain hujan, kan? Sekarang ayolah ikut denganku pulang!”

Rain menjawab dengan hati yang tengah gembira, “Iya, Nat, sebentar lagi, aku sudah lama tidak merasakan hujan seperti ini. Aku sudah sangat merindukan hujan. Tenang saja aku tidak akan sakit hanya karena hujan, kau tau kan aku ini Iron Girl?

Ya, Rain selalu mengatakan bahwa dirinya kuat seperti tokoh animasi yang ada di film Marvel Iron Man, tapi karena dia seorang gadis remaja  maka ia menyebut dirinya Iron Girl.

Dengan sabar Nata menunggu Rain. Dia berteduh di halte yang berada di taman dengan keadaan yang tengah kedinginan.

Tak lama suara petir menggelegar,   Nata langsung berlari menuju Rain. 

“Rain, kau nggak apa-apa?! Ayo pulang sekarang!” Nata menarik lengan Rain.

Karena ia tahu Rain akan menangis ketakutan bila mendengar petir. Akhirnya Rain mau diajak pulang. Putri hujan itu bersin-bersin dengan wajah ketakutan.

Setangkai mawar terus diberikan pada Rain kapanpun dan di manapun saat Nata bertemu dengan Rain.  Nata pernah bertanya, “Rain, sampai kapan aku tetap terus memberimu mawar? Nanti jika kau punya suami tentu suamimu akan marah bila aku memberikanmu setangkai mawar setiap kali aku menemuimu.”

Rain malah tertawa, “Hahaha… tenang saja semua akan berakhir jika aku sudah tak lagi berada di sampingmu, Tuan Nataku.”

Nata sudah biasa mendengar jawaban Rain seperti itu. Sebab itu pula ia hanya manggut-manggut saja.

“Iya, deh, iya, Putri Hujan.”

Sampai suatu hari Nata yang tak pernah tau bahwa Rain yang memiliki penyakit jantung semenjak duduk di bangku SMP.

Rain, gadis cantik sahabat kecilnya, Putri Hujannya yang selalu meminta setangkai mawar merah kini harus meninggalkannya dan juga kedua orangtuanya. Nata sangat terpukul setelah Rain terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dan kini ia harus merelakan sahabat kecilnya untuk pergi selama-lamanya.

Setangkai mawar merah yang dibawa oleh Nata itu diletakkan di atas makam Rain. Nata sangat sedih karena tidak ada lagi Iron Girl, tidak ada lagi Putri Hujan, dan tidak ada lagi setangkai mawar merah.

Tanpa sadar Nata meneteskan air mata dan dengan cepat ia menghapus air mata dan menyeruput kopinya. Lalu membayarnya ke kasir dan keluar dengan mengalihkan pandangan dari mawar merah. Kemudian Nata pergi ke toko bunga langganannya dulu, setelah dari sana ia buru-buru menuju ke pemakaman. [Asmarainjogja.id]

Baca juga cerita mini Dewi lainnya:

Rahasia Terbesar Cinta Ayah

Ayah, Sungguh Aku Merindukanmu

Memahami Arti Berjuang dari Perjalanan ke Danau

Gara-gara si Penyontek

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas