Tereliye | Foto Asmara Dewo, asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Tereliye kembali launching novel terbarunya yang berjudul Tentang Kamu. Di sejumlah daerah, penulis paling produktif Indonesia saat ini kembali mengadakan greet and meet mengenai novelnya tersebut.

Nah, di Yogyakarta, 6 November 2016 lalu saya kembali bersua dengan Tereliye di salah satu pusat perbelanjaan buku di Kota Kesultanan ini. Jujur saja, saya salah satu termotivasi sekali menulis karena Tereliye.

Ketika itu saya ikut seminar menulis dua kali di Medan, pertama di Kampus UMSU, dan kedua di Kampus USU. Itu terjadi sekitar tiga tahun yang lalu. Namun, ucapan-ucapannya selalu terngiang di kepala, dan saya simpulkan pesannya menulislah untuk kebaikan. Dan ini saya gigit kuat-kuat ketika saya menulis, kebaikan apa yang mau saya sampaikan lagi di lembaran artikel saya.

Kalau pemuda dan pemudi lain memuja-muji artis hebat Indonesia, saya lebih suka berdekatan dengan penulis. Meskipun itu hanya dari membaca postingannya di situs, kalau TereLiye di fanpagenya, dan melalui novel-novelnya. Dengan begitu, saya merasakan lebih dekat dengan penulis, dan selalu ingat apa-apa saja yang pernah ia sampaikan.

Baca juga:

Mungkin Anda Berikutnya Menjadi Penulis Seperti Raditya Dika

Menjadi Penulis Serba Tahu Seperti Tereliye dan Asma Nadia

Acara yang saya hadiri sudah mulai sejak tadi, mendengus kesal tidak ada tempat duduk di depan. Baiklah, asal dengar suaranya itu cukup baik. Mungkin bagi yang belum pernah berjumpa dengan Tereliye, pasti dikira penulis yang satu ini sombong, atau juga tidak asyik. Sebenarnya Tereliye itu cukup ramah, baik, lucu dan tidak sombong.

Kalau mendengar dia bicara di acara-acaranya, kamu bakalan tertawa-tawa pegangin perut. Ya, humor Tereliye ini cukup tinggi.

Mengenai Tereliye, menurut pengakuannya di acara meet and greet, ia sudah menulis sejak kecil, di usia sembilan tahun. Wow… Sembilan tahun sudah mulai menulis. Tentu kita tahu, di usia sembilan tahun menulis karya seperti apa? Namun, itu langkah yang sangat baik bagi seseorang untuk memulai karir di dunia literasi.

Ada seorang anak perempuan bernama Luna, dapat kesempatan bertanya langsung dengan Tereliye, sekaligus bonus foto bersama. Tereliye penulis yang tidak suka difoto dengan fansnya.

“Nama kamu siapa?” tanya Tereliye dengan nada kekanakan.

“Luna, Om,” jawabnya singkat.

Tereliye tersenyum, lalu mulai mengakrabi si gadis kecil ini, “Kamu tahu arti nama kamu?”

“Nggak tahu, Om,” Luna menggeleng.

“Luna itu nama yang bagus, artinya bulan, bulan purnama,” kata Tereliye, disambut sorak-sorai para fansnya. Luna sendiri air mukanya sudah merah jambu, senang, terharu, dan mungkin juga malu.

“Oke, kamu mau Tanya apa sama Om?” tanya Tereliye kemudian.

“Om nulis novel sejak kapan?”

“Om nulis novel sejak tahun 2006,” jawab Tereliye.

Tereliye

Meet and greet bersama Tereliye dalam acara launching novel Tentang Kamu, di Gramedia, Jl. Sudirman, Yogyakarta | Foto Asmara Dewo, asmarainjogja

Itu artinya Tereliye sudah sepuluh tahun menulis novel. Selama itu ia sudah banyak sekali melahirkan karya novelnya. Kalau saya tidak keliru dan salah hitung , sekitar tiga puluhan. Wow… bayangkan selama sepuluh tahun, menghasilkan karya sebanyak itu.

Dan beberapa novelya juga sudah diflmkan, seperti: Hapalan Sholat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari Surga. Dan Novel Serial Anak-anak Mamak: Eliana, Burliyan, Amelia, Pukat, yang tayang di sinetron beberapa tahun lalu.

Baca juga:

Tiga Motivasi Menulis ala Tere-Liye

Tujuan Menulis yang Sebenarnya dari Seorang Penulis

Ini Alasannya Kenapa Penulis Hemat Bicara

Apa salah satu rahasia kesuksesan, kreatifitas, dan betapa produktifnya Tereliye dalam menulis novel? Tereliye juga mengakui, bahwa karya-karyanya tidak sehebat novelis lainnya yang ada di Indonesia ini. Itu jika dibandingkan dengan para novelis hebat di tanah air. Maaf, saya tidak menyebutkan namanya, karena kurang etis.

Bahkan saat novelis lain menilai karya tereliye biasa-biasa saja, Tereliye pun mengakui: “Novel Tereliye memang biasa-biasa saja.”

Ketika direspon oleh penulis lain, bahwa novel Tereliye begitu-begitu saja, Tereliye juga mengakuinya: “Novel Tereliye memang begitu-begitu saja.”

Dan ketika salah satu novelnya, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dijadikan bahan skripsi. Si penulis skiripsi memuji-muji kehebatan Tereliye menulis, terutama alur cerita maju-mundur. Alur flashback yang sempurna, puji penulis skripsi tersebut. Alur cerita maju-mundur memang menjadi ciri khas Tereliye di setiap novelnya.

Nah, bagaimana tanggapan Tereliye? Tereliye malah geli sendiri dan tertawa dipuja-puja begitu. Ia menulis alur cerita maju-mundur karena tidak sengaja, bingung mau menuliskan cerita selanjutnya, namun karena harus tetap menulis, dibuatlah cerita masa kecil sang tokoh utama. Seperti novel di Negeri Para Bedebah. Nah, ketika sudah dapat ide lagi, mulailah ia melanjutkan cerita sang tokoh.

Itu salah satu rahasia Tereliye menulis novel yang jarang diketahui novelis lainnya, dan juga pembaca setianya. Dalam rumus Tereliye tidak ada istilah writer’s block. Tereliye bilang itu cuma alasan, dan penulis yang malas.

Eh… kamu penulis, pernah mengalaminya yang begituan?

Setelah membaca artikel ini cobalah hilangkan “doktrin sesat” writer’s block itu. Maaf ini bukan sombong, saya saja tidak suka ungkapan itu, dan tidak pernah mati ide karena alasan yang dibuat-buat. Selain terpaksa karena harus mengisi konten situs, juga karena kebiasaan. Kalau sudah ditanamkan kebiasaan seperti itu maka kita tidak mengenal lagi istilah  writer’s block.

Kata Tereliye lagi, menulis seperti memasak. Setiap hari memasak, rasanya kan lebih enak. Karena tahu mana bumbu-bumbu untuk memasak. Sama halnya dengan menulis rajin menulis, tulisan pun semakin bagus.

Ia juga berpesan :“Boleh-boleh saja menulis karena ingin kaya atau ingin populer.”

Karena saat ini novelis yang novelnya best seller memang sudah jadi milyoner dan seperti artis yang sangat terkenal.

“Tapi setelah mendapatkan uang, tidak ada semangat lagi untuk menulis, karena uang sudah didapatkan. Jadi menulislah untuk kebaikan dan perubahan,” pesan Tereliye di acara Greet and Meet kepada pesertanya. [Asmara Dewo]

 

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas