Pesantren tempo dulu | Foto Istimewa

Asmarainjogja.id – Pendidikan adalah cikal bakal suatu kemajuan bangsa, jika ingin memajukan negara, pendidikannya harus diutamakan. Hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi, sudah harga mati. Nah, untuk itulah kesadaran pentingnya pendidikan harus benar-benar dipahami dan dipraktikkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dan kita tahu betul, pendidikan belum merata di negeri kita ini, masih banyak anak-anak  kita di tepian atau di pelosok negeri yang belum maksimal atas keadilan pendidikan. Selain itu, pendidikan juga masih impian belaka bagi rakyat miskin, baik di kota maupun di desa. Sehingga dampaknya adalah pesimis dan sinislah yang terjadi.

“Ngapain sekolah, toh, orang-orang pintar banyak menjadi pencui. Korupsi uang rakyat.”, pernyataan sinis ini pernah Anda dengar? Atau juga seperti ini: “Ngapain kuliah, banyak, kok, sarjana yang menganggur. Habis-habiskan duit aja.”. Mungkin yang lebih membingungkan lagi seperti ini: “Pendidikan nggak penting, yang penting ibadahnya bagus.”

Kalimat-kalimat seperti di atas tadi membuktikan bahwa pemahaman pendidikan di tengah masyarakat kita harus diluruskan. Kita harus memahami setiap kasus yang terjadi, entah itu di perpolitikan, di tengah sosial, atau luang lingkup keagamaan, contohnya koruptor yang notabenenya berpendidikan, tidak harus serta merta menyalahkan sekolahnya. Ada tokoh agama, atau ustdaz yang korupsi, menipu, dan lain sebagainya, maka jangan pula menyalahkan agamanya.

Soal pengangguran di negara kita memang sangat memilukan, dikuliahkan tinggi-tinggi dengan biaya super mahal, eh, ujung-ujungnya jadi pengangguran. Orangtua mana yang tidak sedih? Tapi harus kita ketahui, banyaknya sarjana pengangguran tentu lebih banyak lagi pengangguran yang tidak berpendidikan tinggi. Jadi tidak cocok juga kalau pengangguran itu hanya dilabeli ke orang pendidikan tinggi saja.

Tapi yang jelas, orang-orang terdidik yang bisa memanfaatkan ijazah dan skillnya memiliki kedudukan yang lebih terhormat di perusahaan daripada yang minim pendidikan formal. Dan peluang promosi jabatan lebih terbuka lebar bagi yang punya gelar. Ini tidak bisa dipungkiri lagi di dunia pekerjaan. Terkadang ada istilah iri-irian di antara karyawan. Karena pemimpin perusahaan lebih mengutamakan pekerjanya yang berlatar pendidikan tinggi. Benih-benih benci dan menjatuhkan bisa jadi karena hal kecil seperti ini.

Dalam kehidupan ini yang terpenting adalah agama. Apapun pembahasannya. Meski begitu bukan berarti agama dijadikan tameng agar menolak pendidikan formal. Bahkan agama itu sebenarnya adalah ‘pendidikan’, mendidik umatnya agar bertakwa kepada Allah SWT. Lha, jadi bingung sekali kalau agama dipisah-pisahkan dengan pendidikan itu sendiri.

Belajar agama pada siapa saja itu bagus, selagi belajar agama pada orang yang tepat. Karena itu pula ada sebagian organisasi Islam yang secara tak langsung mendidik jamaahnya. Dan ini tentu saja sangat bagus. Bahkan kalau dipikir-pikir, di zaman nabi saja tidak ada sekolah. Sekarang kita bisa merasakan manfaat perkembangan Islam. Nah, perkembangan Islam ini salah satunya adalah pendidikan formal.

Jadi semakin mantap kalau pendidikan agama di keluarganya bagus, di lingkungannya bagus, dan di pendidikan formalnya juga bagus. Dua ulama masyur kita, pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, dan pendiri Muhammdiyah KH Ahmad Dahlan, juga berjuang dalam pendidikan Islam. Buktinya ialah Pesantren Tebu Ireng di Jombang yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1899, dan Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah di Yogyakarta yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918.

Alumninya jelas orang-orang hebat di negeri kita, bahkan bisa jadi guru kita belajar agama dari benih-benih pendidikan Islam tersebut. Ilmu itu terus mengalir sejauh-jauhnya hingga menempel di kepala dan hati. Kita yang sedikit cerdas dan memahami secuil agama juga boleh jadi dari para perjuangan pendidikan agama beliaulah.

Betapa sedih beliau jika jamaahnya sekarang ini malah mengabaikan pendidikan, terlebih lagi menyepelekan atau menghinakan pendidikan Islam itu sendiri. Mungkin sebagian dari kita tidak terlalu paham soal perjuangan pendidikan, namun setidaknya harus paham betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan kita. Selain menguntungkan bagi diri sendiri, juga bisa bermanfaat pada orang lain, bangsa, dan dunia.

Catatan terpentingnya adalah pendidikan formal tentu mempermudahkan lagi bagi anak kita yang ingin belajar demi menggapai impiannya dan memuliakan keluarganya. Sangat disayangkan jika anak-anak kita mengabaikan pendidikannya karena kita sendiri yang menjeremuskannya. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Pelajar Brutal Kita Sudah Seperti Anggota TRIAD dan Yakuza

Cara Memantik Agar Anak Sekolah Rajin Membaca

Jangan Jadi Murid Pembantah! Meskipun Gurunya Galak

Ingat Orangtua Sebelum Belajar, Biar Wisuda Kelar!



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas