Ilustrasi Puisi | Foto Istimewa

Oleh: Asmara Dewo

Sedan  putih anggun masuk di halaman rumah yang dihiasi berbagai anggrek berwarna-warni. Tak hanya bunga-bungaan saja di sana, ada pula dua pohon beringin yang dibonsai di pot besar. Tampak ranum buah mangga dari pohonnnya yang tidak terlalu besar. Menambah sejuk rumah klasik Jawa itu terlihat. Kicauan burung kutilang menyambut tamu yang baru saja keluar dari mobil. Dari gazebo halaman rumah itu, seorang ibu paruh baya tersenyum hangat. Dia letakkan gunting dan pisau yang tadi digunakan memangkas ranting bunga, lalu berjalan tak sabaran memeluk tamunya.

“Apa kabar, Nak?” kata perempuan itu dengan pelukan yang begitu erat, “lama kamu tidak ke sini? Dan bagaimana kabar orangtuamu?”

“Alhamdulillah, Bu, saya sehat-sehat saja. Begitu juga degan ibu-bapak. Titip salam juga untuk Ibu, pesannya jaga kesehatan,” kata Uni tak kalah erat memeluknya. Luka di bagian kaki dan punggungnya sudah mengering. Ia lalu memberikan bingkisan kue bolu yang dibelinya di tengah jalan.

“Kirim salam balik, ya, jaga kesehatan juga. Kapan-kapan kita akan kumpul bersama,” perempuan itu pun menggandeng tamunya masuk ke ruang tamu.

“Oh, Uni, bagaimana kabarmu, Nak?” suami perempuan itu tak kalah antusias menyambut tamunya.




Jawaban sama seperti apa yang disampaikan Uni oleh tuan rumah sebelumnya. Jelang beberapa menit, teh hangat dan cemilan sudah terhidang di atas meja. Mereka berbicara panjang lebar layaknya seperti keluarga sendiri. Sampai setengah jam kemudian, sosok yang dicari belum juga muncul.

“Bu, Icow, mana? Sejak tadi tidak kelihatan?”

“Icow sekarang lebih banyak mengurung diri di kamar, tidak banyak bicara, dan suka melamun. Mungkin masih trauma, kali, ya?” keluh perempuan itu, yang tak lain Ibu Icow, “sebagai sahabat dekatnya, mungkin kamu bisa membuat Icow seperti dulu lagi.”

“Seumur hidup Icow, memang kali ini ia kehilangan sahabatnya. Tentu saja Icow tidak mudah melupakan bayangan mereka. Kami sebagai orangtua paham betul terhadap Icow, oleh sebab itu pula kami membiarkannya dulu,” timpal Bapak Icow, “dia memang terlihat tegar, enerjik, penuh semangat, optimis, kalau bicara berapi-api, bertindak selalu cepat, tapi kalau hatinya sudah kacau, dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dan berpengaruh ke orang-orang di sekililingnya.”

Uni mengangguk, sedikit banyaknya ia juga paham karakter sahabatnya itu. Hanya beberapa orang saja yang bisa memahami watak Icow. Keluarganya dan Uni, itu pun masih sebagian. Sahabat dan orang-orang di sekitarnya masih menerka-nerka, apa sebenarnya yang ada di kepala Icow.

“Ibu tadi sempat memanggil Icow di kamarnya, tapi tidak disahutnya. Lalu ibu buka pintu, tidak ada. Entah kemana anak itu.”

“Mungkin ke kali, coba susul sana!” kata Bapak Icow.

“Baik, Pak, Bu, saya langsung ke kali saja,” Uni pamit, sebelum beranjak dari kursi, ia melihat koran yang tergeletak di atas meja dengan judul cerpen Sahabat yang Pergi oleh Adiwidya Prabu Kusuma. Cerpen Icow, terbersit langsung di benak Uni.

“Saya bawak, ya, Pak?” Uni menyambar koran itu.




Dari samping rumah Icow, Uni berjalan menuju Kali Code, jaraknya hanya dua ratus meter. Menuju ke Kali Code, atap rumah di sana berwarna-warni, warganya selalu tersenyum ramah bagi siapa saja yang melintas di sana. Anak-anak sekitar juga tak kalah ramah, baik, lucu, kalau sore begini terlihat sibuk bermain. Ada yang bersepedaan, bermain bola, main engklek, mandi di pinggir kali, dan lain-lain yang membuat mereka senang.

“Halo, Mbak, Uni!” sapa gadis kecil berkepang dua. Gigi geripisnya terlihat jelas.

Sudah, Mbak, Uni lagi,  ucap Uni di hatinya. Uni bahasa Minangkabau artinya kakak. Uni itu hanya nama panggilan, karena ia anak keluarga Minangkabau. Nama asli Uni adalah Fatimah Husein Sikumbang. Orangtuanya sudah menetap di Yogyakarta sejak puluhan tahun silam.

“Halo juga, Bunga! Hati-hati, jangan kencang-kencang,” Uni menyapa balik gadis kecil itu.

Yang disapa sudah melaju, rambutnya yang bergepang dua tergurai-gurai diterpa angin. Bersama kawan-kawannya, mereka sudah hilang di balik tikungan gang. Uni kembali berjalan di tepian jalan Kali Code.

Perkiraan Uni meleset, dia mengira Icow duduk bersedih hati meratapi kesedihan dengan menatap aliran Kali Code sampai petang tiba. Ternyata keliru, Icow bersama tiga bapak-bapak membersihkan sampah yang menyangkut di sungai. Meskipun sisa luka di tubuhnya masih terlihat jelas. Kegiatan ini sudah sejak lama Icow lakukan. Saat itu Icow gelisah bagaimana jika terus menerus sampah menumpuk di Kali Code, pasti berbahaya, dan juga bisa jadi sumber penyakit. Yang tak kalah pentingnya adalah menjaga kelestarian dan keindahan Kali Code.

Karena melihat ketiga bapak itu selalu membersihkan Kali Code, maka Icow pun jadi ikut-ikutan.  Peduli Kali Code itu keselamatan bersama, begitulah pesan yang pertama kali ia dapatkan ketika mengangkut sampah di sana.

“Hai, Cow!” teriak Uni, tangannya yang panjang melambai ke udara.

“Hai, Uni,” balas Icow, wajahnya tampak basah kecipratan air. Dia berbicara sebentar dengan ketiga bapak itu, menangkupkan tangan, tanda mohon izin.

“Dari rumah tadi?” tanya Icow yang sudah duduk di samping Uni.

Uni mengangguk manja, “Oh, iya, aku tadi lihat Bunga, lho, main sepedaan sampai ke sini.”

Icow cuek saja mendengar laporan soal lasaknya gadis kecil tetangganya itu main sepeda. Karena memang sudah biasa. Di sana anak-anak memang keluyuran bersepedaan sampai jauh saat sore hari. Ujar Icow,

“Tidak apa-apa, dia sudah biasa begitu.”

“Dicari teman-teman, tuh?” Uni mencoba membahas soal lain.

“Oh, ya?”

“Kapan bisa kumpul?”

“Terserah.”

“Yahhh, terserah. Tapi hapemu nonaktif terus.”

“Lagi malas saja.”

“Jadi bagaimana dong?” Uni mulai kesal.

“Apanya?”

Kalau sudah begitu tandanya Icow malas cerita. Uni paham betul nada suara dan gestur badan Icow.




“Aku sudah baca cerpenmu,” Uni menunjukkan koran yang baru dikeluarkan dari tasnya.

“Oh, cerpen itu.”

“Aku suka ceritanya. Mengharu biru,” puji Uni.

“Syukurlah kalau begitu,” kata Icow, pandangannya tak terlepas dari aliran Kali Code yang kehijauan.

Uni masih mencari-cari topik pembicaraan apa yang bisa memancing Icow agar antusias mengobrol. Memang sulit bagi Icow untuk memaksanya bicara jika topiknya tidak membuat ia tertarik. Dua menit berlalu, mereka berdua terdiam. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sampai menit ketiga hanya gemericik kali code yang bersuara, mulut Icow dan Uni seperti digembok.

Sampai mereka dikejutkan oleh suara yang tak asing lagi. Suara gadis kecil berkepang dua yang ternyata lalu lalang sejak tadi. Katanya, “Cieehhh… ciehhhh… yang berdua-duan di kali.”

“Apa-apaan, sih, Bunga,” Uni tersipu malu. Pipinya memerah. Malu. Tepatnya malu-malu harap. Kalau sudah begitu, wajah Uni tambah cantik dan manis. Sekaligus juga lucu.

Icow tak meresponnya, hanya tersenyum sepintas. Menoleh sebentar.

“Iihhhh.. Mas Icow jadi cuek, deh,” wajah Bunga terlihat kesal. Ia kayuh sepedanya lagi, lalu hilang di balik tikungan gang.

Icow menyeringai, lalu menoleh ke Uni, “Bunga, bocah yatim yang selalu riang. Salah satu murid kami yang cerdas. Banyak tanya. Ketika belajar mengarang, karangannya yang paling panjang. Tapi juga menyebalkan, kalauu dia sudah merajuk. Obatnya cuma es krim, salah satu dari kami harus beli es krim. Tentu tidak satu, setidaknya ada enam temannya yang menunggu kedatangan es krim.”




Uni mendengar sungguh-sungguh, cerita bocah yang selalu menyapanya di saat berkunjung ke Rumah Icow atau berpapasan di Kali Code. Ia membayangkan wajah Bunga yang ceria, tertawa, berselimutkan kebahagiaan. Dan menularkan rasa kebahagiaan itu ke sekitar warga di tepian Kali Code.

“Aku selalu semangat mengajar di sana karena ada harapan. Ya, harapan dari tujuh bocah itu suatu hari nanti membawa perubahan pada kehidupan mereka, sekitarnya, dan tentu saja bangsa yang besar ini,” kata Icow dengan nada penuh keyakinan, “kita tidak bisa berharap banyak terhadap generasi sekarang. Mereka, kita, sudah tercemari doktrin pendidikan rezim orde baru. Sehingga kita lahir dengan budaya pendidikan saat ini. Ah, kau, tentu paham maksudku.”

Uni hanya mengangguk, lamat-lamat menatap wajah Icow yang dibasuh matahari sore. Membiarkan Icow menyampaikan isi kepalanya saat itu. Bunga dengan kawanannya melaju lagi di hadapan mereka, tertawa melihatkan giginya yang tak beraturan. Melambaikan tangan. Hilang lagi.

“Mereka memang tujuh anak saja. Tapi dengan kecerdasan, kemauan, kegigihan, keberanian, dan pendidikan yang benar, mereka akan tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin hebat di masa yang akan datang. Sehingga memberi pengaruh terhadap orang lain. Di sanalah dimulai regenerasi yang dicicil secara serius melepaskan penjajahan modern yang menimpa negeri kita. Kapitalisme dan Imprealisme.”

Kini Uni mendongakkan wajahnya lebih dekat, “Kau menginginkan mereka seperti apa?”

“Tidak seperti apa-apa. Kami membiarkan mereka tumbuh dan berkembang seperti anak-anak normal lainnya. Pergi sekolah, bermain, dan setiap minggu masuk di kelas kami. Itu saja, tidak lebih. Proses alam yang mengatur watak mereka. Di pihak mana mereka akan berdiri berjuang, di barisan rakyat atau di barisan penjajah.”

“Terlalu ekstrem bagi seorang perempuan, Cow,” ucap Uni takut-takut.

Icow tertawa kecil, “Itu bagimu, tidak bagi bunga yang terbentuk dengan pengalaman-pengalamannya.”

Lampu di sekitaran Kali Code mulai menyala satu per satu. Gunung Merapi di sebelah utara Yogyakarta, remang dari kejauahan. Di langit Mataram pesawat hendak mendarat di Bandara Adi Sucipto. Adzan berkumandang dengan merdunya. Menggetarkan hati bagi seorang Mukmin sejati. Icow dan Uni beranjak dari sana. Pulang.

“Ada acara malam ini, Cow?” Uni menoleh ke belakang sebelum masuk ke mobil.

“Tidak ada.”

“Ke kafe, yuk?” ajak Uni, wajahnya memohon diamini.

“Lain waktu saja. Hati-hati!” kata Icow memasang wajah maaf.

Uni mengangguk, masuk ke pintu mobil. Mesin berderung keluar dari halaman. Klakson berbunyi sekali lagi. Icow kembali ke kamar. Merenungkan diri mengingat tiga pekan yang lalu.

Jenazah Limo dan Ana ditemukan tiga hari kemudian oleh tim SARS dan tim lainnya, yang juga dibantu oleh warga setelah hari naas itu. Kedua jenazah biru, luka-luka, dan tampak menggelembung. Pada batok kepala Limo robek besar, kakinya luka karena terjepit karang. Sedangkan Ana, wajahnya tidak tergores luka atau lebam sedikit pun, malah seperti terlihat tersenyum. Hanya saja di dadanya penuh dengan luka dalam.

Saat ditemukan jenazah mereka, raungan tangis pecah dari sanak famili, kerabat dan sahabat. Tidak ada yang sedikit pun yang mengira atau tanda-tanda, mereka meninggalkan keluarga tercinta untuk selama-lamanya. Tuhan sudah menjemput mereka di waktu yang tepat, takdir mereka ditelan ombak, begitu kata Ali kepada sahabatnya. Tapi bagi Icow, itu karena kelalain mereka, kurang waspada, dan tidak mampu menghitung jarak aman saat mendirikan tenda di bibir pulau. Sebab itu pula, Icow belum mampu memaafkan dirinya sendiri. Kekeliruan seumur hidupnya membaca situasi.




Di tengah isak tangis keluarga Ana, seorang gadis menangis tersedu-sedu memeluk jenazah Ana. Icow heran sekaligus takut, apakah ia tak salah lihat. Ia kucek matanya berkali-kali, benar itu Ana yang menangis. Sekali lagi Icow pastikan dengan menampar pipinya. Dia tidak sedang bermimpi, ia sadar seratus persen. Dia dekati gadis itu, dengan mata melotot penasaran,

“Ana!”

Yang dipanggil tidak begitu menghiraukan, hanya menoleh sekali. Kembali menatap lekat-lekat jenazah di depannya. Menangis sejadi-jadinya.

“Ana!” Icow memanggilnya lagi.

Yang dipanggil menggeleng lembut. Air matanya terus berjatuhan. Tak kuasa kehilangan saudarinya.

“Dia bukan Ana, tapi saudara kembarnya. Namanya Nata,” bisik Eki yang menyusul di tengah kerumunan.

“Kenapa aku tidak tahu? Ana tidak pernah cerita,” Icow keheranan, tak yakin ada saudara kembaran Ana.

“Bagaimana kau tahu, kau tidak begitu perduli terhadap Ana. Hatinya, perhatiannya, dan segala-galanya tentangmu,” Eki berbisik geram.

“Maksudmu?”

“Bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan ini semua, sahabatku,” Eki merangkul Icow membawa keluar kerumunan.

Icow tersadar dari lamunannya, setelah ibunya masuk ke kamar membawakan makan malam.

“Ibu panggil dari luar tapi tidak disahut, ya, sudah ibu masuk saja,” dibelai rambut anak semata wayangnya, “makan dulu, Nak! Jangan banyak melamun.”

Icow memegang erat tangan ibunya, tersenyum, “Icow baik-baik saja, Bu. Hanya evaluasi diri.”

“Baiklah. Ibu keluar dulu.”

Di kamar Icow yang berukuran empat kali lima meter persegi dipenuhi poster-poster tokoh besar. Seperti Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Tirto Adi Soerjo, Semaoen, Tjokroaminoto, Soekarno, Widji Thukul, dan Chairil Anwar. Sedangkan tokoh luar seperti Karl Marx, Lenin, Maxim Gorky, Che Guevara, dan Fidel Castro. Ada juga tiga poster filsuf di dinding, Sokrates, Plato, dan Aristoteles.

Buku-buku juga terpajang rapi di rak, mulai dari sastra, sejarah, biografi, ensiklopedia, kamus, tutorial, sampai koleksi novel dari zaman klasik sampai modern. Baik dari terjemahan sampai karya masyur anak bangsa Indonesia sendiri.




Bi, kucing Icow, menyusui ke empat anaknya di keranjang dengan tenang di pojok kamar. Matanya yang bulat menatap Icow sembari menyusui dan mendengkur. Icow sesekali membalas pandangan hewan peliharaannya itu dengan senyum. Lalu termenung lagi.

Icow mengambil gitar yang tergantung di dinding, memetiknya. Bunyi petikan terdengar indah, tapi berhenti sejenak, tangannya mencatat di buku. Dipetiknya lagi sembari memilih kata-kata yang tepat dengan melodi gitarnya. Icow sedang menciptakan puisi, meskipun harus diakuinya, inilah karya puisi cengeng yang baru dibuatnya. Di saat hati yang galau, sedih yang sudah beberapa pekan menghinggap di sanubarinya.

Samudera Hati

Kata mereka takdirmu bersama samudera

Kata mereka hidup ada batasnya

Kata mereka cerita manusia berbedabeda

Kata mereka anak manusia di bawah kuasa-Nya

Delapan sahabat berlari riang di tepi pantai

Pasirnya lembut diinjak kaki-kaki kecil

Deburan ombak bergemuruh syahdu

Kicauan burung menari di angkasa

Buki-bukit menghijau kokoh menjulang

Petani senyum baru memanen

Cukup untuk beberapa bulan ke depan

Nelayan bahagia baru pulang berlayar

Membawa ikanikan segar dari tengah laut selatan

Lihatlah, Ana!

Betapa indah alam semesta

Manusianya berjuang hidupmati dari lautan

Lihatlah, Ana!

Betapa gagahnya anak manusia

Bertahan hidupmati memperjuangkan hak dan kewajiban

Lihatlah, Ana!

Hewan dan tumbuhan yang senantiasa mendampingi anak manusia

Di saat suka maupun duka

Lihatlah, Ana!

Anak-anak nelayan penuh harapan

Membawa perubahan di masa yang akan datang

Ah, kau sudah tenang di sana

Mengintip dari kelambu alam yang berbeda

Ana, enam sahabatmu ini akan mengenangmu

Dari cerita-cerita yang ditulis, dari puisi-puisi yang tersurat, dari rapalanrapalan yang menembus waktu

Kau, kami benamkan di samudera hati

Selamanya… selamanya..

Sekali lagi kau intip, lihatlah kau akan tersenyum sendiri

Perjuangan anak manusia untuk manusia

Janji kami, janji dari sebuah persahabatan.

Bersambung… [Asmarainjogja.id]

Baca cerita sebelumnya di sini:

Bencana di Pulau Kalong




 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas