Ilustrasi Hati yang remuk | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Saat terbayang wajahnya, hati semakin teriris, mengenang kisa dengannya, hati semakin sakit, dan setiap menyebut namanya hati pun bertambah pedih. Hati ini sudah remuk tak bersudahan.

Sungguh… sangat menyakitkan. Benci sekali dengan keadaan yang begini, selalu mengganggu, tak bisa hilang semua tentangnya di hidup ini. Dulu, memang mencintainya, tapi kini berubah menjadi benci.

Sebuah kebencian yang mengkristal, bukan karena ia tak baik, bukan pula karena ia menyakiti, namun semua itu terjadi karena cinta berujung duka.

Apakah Anda pernah mengalami hal seperti di atas? Jika pernah, itu artinya Anda belum bisa move on dalam hidup. Soal hati, terkadang lebih rumit dari segala permasalahan hidup. Karena hati ini pula, banyak orang kehidupannya lebih buruk dari sebelumnya. Kenapa bisa begitu? Tentu saja bisa, hati di tubuh memengaruhi ucapan, pikiran, dan tindakan, dan ketika hati sudah terganggu, maka yang lainnya ikut bermasalah.

Sebenar tidak sulit-sulit amatlah bagaimana menyikapi hati jika dilanda kegalauan seperti itu, hanya saja bagi yang terserang virus cinta ini harus bisa menaklukkan hatinya dulu. Menaklukkan hati, maksudnya bagaimana, sih?

Kalau Anda pernah membaca novel-novel Tereliye atau quotesnya, ia selalu berpesan pada pembacanya, berdamailah dengan hati sendiri. Berdamai dengan hati ini maksudnya adalah peluk erat rasa sakit, dan kebencian itu, jangan membenci apapun yang menyakiti, lalu hadapi segala persoalan hati dengan bijak.

Misalnya begini, mungkin Anda mengalami kasus seperti di atas tadi, lalu Anda membencinya. Apakah dengan membencinya setengah mati, ataupun dendam, bisa mengobati hati Anda yang luka? Tidak bisa, kan?! Malahan semakin sakit, sakit sekali. Jadi sungguh benar apa yang dibilang Tereliye, berdamailah dengan hati, maka hidup kita pun menjadi damai.  

Baca juga:

Pemuda Kita yang Hebat (Karena Cemburu)

Memahami Keadilan Pria dalam Cinta Segitiga

Di Luar Tampak Rapuh, Padahal Hati Wanita Lebih Kokoh dari Tembok Cina

Lantas bagaimana jika terlanjur sudah bertahun-tahun pula menaruh benci dan dendam pada orang yang pernah disayangi?

Jawabannya, jangan gengsi untuk memulai berkomunikasi dengannya. Cobalah kembali menyapanya, tanya kabar, apa kegiatannya sekarang. Jika masih kuliah, sudah semester berapa, lancar tidak kuliahnya? Jika bekerja, begitu juga, bagaimana pekerjaannya sekarang, sudah naik gaji belum? Hehehe. Intinya menyapa dia terlebih dahulu.

Namun harus ingat, jangan pernah mengungkit masa lalu. Kenangan itu biarlah disimpan di dalam hati saja, sebagi pengalaman terbaik sebagai pelajaran hidup, agar tidak salah dalam bersikap. Berbicara saja tentang hari  ini, dan cerita masa depan, pasti lebih seru. Nggak pake mellow-mellow lagi, deh.

Jika dia ternyata sudah punya pasangan hidup bagaimana? Kan, sangat menyakitkan menyapanya lagi?

Tidak juga, itu namanya terlalu berlebihan. Toh, kalau dia sudah menikah misalnya, sederhana saja menyikapi, itu artinya dia bukan jodoh Anda. Nah, kalau bukan jodoh, berarti dia bukan yang terbaik buat Anda.

Lalu sebaliknya, kalau dia ternyata masih single bagaimana?

Ya, itu artinya masih ada kesempatan. Tapi alangkah baiknya, lupakanlah soal itu, fokus saja dulu dengan  silahturahmi awal ini. Sudah disinggung di atas, masalah jodoh biarlah cinta itu mencarinya sendiri. Kalau ternyata memang jodoh Anda, dia tidak akan kabur lagi, kok.

Hmmm, terus kalau dia tidak mau berkomunikasi lagi bagaimana dong? Telpon nggak diangkat, kirim pesan nggak dibalas.

Kalau dia seperti itu, bisa jadi Anda yang salah cara mengawali silaturahmi. Mungkin Anda salah kata dalam mengirim pesan. Dia itu, kan, kisah lalu, jadi sekarang ini tentu dia sudah banyak berubah. Perubahan ini pula yang membuat dia tidak respek pada Anda. Jadi mulailah seperti orang yang baru berkenalan. Dengan kata sopan, tidak menyinggung, dan bijak.

Nah, kalau Anda sudah menerima semua itu, pasti deh, galau-galau tidak karuan tersebut hilang dengan sendirinya. Apalagi saat ini Anda sudah dewasa, sudah cocok banget gendong anak, duh, masih galau seperti remaja, kan malu banget sama usia sendiri, dan sama anak ABG. [Asmara Dewo]

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas