Foto Ilustrasi Flickr

Asmarainjogja.id-Berbagai definisi tentang cinta. Namun yang paling adil, cinta itu adalah mencintai dan dicintai. Jika hanya mencintai saja, atau sebaliknya, maka itu bukan cinta.

Sekian banyak problema cinta karena ketimpangan dari kedua insan. Dalam rumah tangga misalnya, sering kali seorang istri yang menjadi korban cinta. Apakah itu menjadi hal yang lumrah? Jika sakitnya seorang istri itu hal yang biasa?

Pria dan wanita, suami atau istri, tentu saja harus saling mencintai dan dicintai. Jika hanya seorang istri saja yang mencintai suaminya, atau suaminya saja yang mencintai istrinya. Maka hubungan keluarga seperti itu tidak harmonis, bahkan juga rawan perceraian.

Terutama bagi sepasang suami-istri yang baru mengarungi bahtera rumah tangga. Tingkat keegoisan masih tinggi, juga belum mengenal lebih dekat siapa  sebenarnya orang yang dicintainya itu.

Di lain kasus, ada juga sepasang pria dan wanita yang sama sekali belum pernah kenal, lalu mereka menikah. Misalnya seperti yang diajarkan agama Islam kepada umatnya untuk ta’aruf. Tidak saling mengenal sebelumnya, bisakah saling mencintai dan dicintai?

Kalau menelisik era zaman orangtua dulu, kebanyakan kisah cinta mereka sering kali dijodohkan. Dan bisa disaksikan sendiri, hubungan cinta mereka utuh, langgeng sampai tutup usia.  

Nah, zaman sekarang itu sukanya putus-sambung, lalu putus-sambung lagi. Begitu terus selanjutnya. Seperti layangan saja. Maka timbullah pertanyaan, kapan nikahnya? Dan parahnya lagi, menjalani hubungan (pacaran) bertahun-tahun. Eh, nikah baru tiga bulan, langsung cerai.

Sebenarnya cinta itu simple, tidak begitu rumit seperti di film-film drama melankolis. Tapi pelakunya saja yang berlebihan, terlalu mendramatisir hubungan. Jalani saja sewajarnya sebagai manusia yang mencintai sesama manusia, dan lurus terhadap jalan yang sepatutnya ditempuh. Beres.

Nah, seperti ta’aruf atau jodoh. Bisakah hubungan seperti itu bisa bertahan dan semakin kuat? Kenapa tidak? Cinta itu bisa ditumbuhkan, dirawat, dipupuk, dan terus dijaga sampai sepanjang masa. Sekuat-kuatnya. Semampu-mampunya. Hingga suatu hari takdir semesta yang memisahkan. Karena cinta itu sendiri adalah logika.

Seperti yang sudah disinggung di atas, sejoli itu harus mencintai dan dicintai. Kalaupun ada permasalahan yang cukup pelik dalam hubungan, selalu ada cara untuk menyelesaikannya.

Bicarakan dengan baik-baik, bila perlu minta pendapat serta bimbingan pada orangtua. Juga tidak lupa berdoa kepada Sang Maha Cinta agar ditaburkan cinta-Nya yang penuh kesejukan.

Cinta yang kokoh adalah cinta yang adil. Dan itu diraih dari saling mencintai, juga dicintai. Jangan berharap pada satu saja, meski keduanya. Suami mencintai istri, suami pun dicintai istri.

Jika demikian seterus-terusnya, insya Allah, bahtera rumah tangga itu akan mengarungi samudera kehidupan luas. Tahan badai, iklim ekstrem dan ombak yang ganas. Hingga sampailah bahtera yang dinahkhodai suami itu pada tujuannya.

Penulis: Asmara Dewo 

Baca juga artikel lainnya: 

Pria Suka Marah-marah, Ini yang Harus Dilakukan Wanita

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas