Fajar Mubarok | Doc. Pribadi

Asmarainjogja.id – Sering kita mendengar bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Menjadi pengubah tentunya tidak mudah, ada pintu yang harus dilewati untuk mengambil amunisi, dengan amunisi ada energi untuk beraksi.

Hidup dan ujian senantiasa beriringan. Tak terlepas dari kehidupan mahasiswa yang diterpa berbagai uji coba. Jangan mengaku pembela sebelum diuji terlebih dahulu, melewati ujian adalah amunisi untuk mengubah dunia.

Ujian bisa apapun rupanya, layaknya ketika ingin mencapai lantai dua harus melewati anak tangga, tidak bisa langsung mencapai puncaknya, orang-orang yang berproses akan menikmati hasilnya. Bagi mahasiswa berarti dia siap membela.

Menjadi kesatria kampus tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada jalan yang harus dilewati dengan konsisten, memang benar berangkat dari mau atau tidak. Tapi perlu juga dukungan dari eksternalnya.

Untuk mendidik para mahasiswa sudah pasti dengan cara yang berbeda dari biasa, karena bukan lagi anak SMP ataupun SMA. Mungkin sering kita mendengar bahwa pendidikan internal kampus hanya 25% saja, bagi saya menyoroti persoalan ini yang utama.

Hidup di lingkungan SMP ataupun SMA, tak seperti hidup di lingkungan kampus. Jika menyoroti cara mendidik, maka SMP dan SMA masih perlu disuapi, berbeda dengan mahasiswa yang harus mencari sendiri, di sinilah jargor 25% berlaku.

Untuk menilai benar tidaknya jargon tersebut harus dilihat dari faktanya, apakah benar atau tidak ? Dalam arti apakah benar kampus hanya memberikan 25% pelajaran? Atau justru lebih atau bisa jadi tak sampai 25%.

Mengapa kita harus mendudukan persoalan ini secara serius? Karena 25% inilah yang akan menentukan cara mengajar para dosen. Dan tak jarang dosen pun memperingatkan bahwa dia hanya memberikan 25% pelajaran, artinya jargon ini sudah menjadi budaya kampus.

Dari itulah kita bisa mengambil dua poin. Pertama, benar kampus hanya memberikan 25%, kedua, kampus tidak memberikan tetapi lebih dari 25% pelajaran terhadap para mahasiswanya.

Jika kampus memberikan 25% pelajaran lalu standarnya apa? Apa yang bisa dijadikan alat ukur untuk menentukan bahwa dosen memberikan 25% pelajaran kepada mahasiswanya. Sampai sekarang standar itu tidak jelas.

Maka kita hanya bisa menilai dari fakta yang terindra. Bahwa yang disebut 25% adalah ketika dosen memberikan bahan ajar secara garis besarnya saja, inilah standar yang bisa kita pakai untuk menentukan jargon 25%, yaitu dari faktnya.

 

Maka menimbulkan pertanyaaan, apakah cukup dengan begitu membuat mahasiswa terdorong untuk mencari sisanya? Jika kampus mentrasfer 25% berarti 75% nya harus mahasiswa cari secara mandiri.

Lalu apakah 25% tersebut diberikan sepenuhnya kepada mahasiswa? lagi-lagi kita hanya bisa melihat dari faktnya, dan realitasnya 25% itu tidak diberikan seluruhnya kepada mahasiswa.

Mengapa? Karena nyatanya dosen mengajar tidak fokus terhadap materi akan tetapi ngelantur kemana-mana. Sudahlah 25%, tidak diberikan sepenuhnya pula, mau jadi apa negara, tak lama lagi bisa hancur dunia persilatan, bro.

Inilah yang disebut mendidik dengan cara yang tak terdidik. Mahasiswa butuh ilmu, bukan curhatan rumah tangga bapak atau ibu dosen, yang begitu kami juga bisa meniti karir sendiri pada saatnya nanti.


Hijab

Jika 25% saja tidak diberikan sepenuhnya, apa bedanya dengan mereka yang tak mengenyam bangku universitas. Kalau mau mereka pun bisa mencari sendiri dengan mempelajari buku-buku yang berhamburan   perpustakaan atau di toko buku.

Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara. Lantas apa yang bisa diharapkan dari omongan ngelantur para dosen itu, tidak ada! Pertanyaannya cerdasnya di mana?

Mahasiswa dipakasa mencari sendiri, 75% pelajaran yang harus dikumpulkan. Dari sini kampus melahirkan dua tipe mahasiswa. pertama, yang benar-benar mencari sendiri 75% nya, dan dua, yang malas untuk mencari selebihnya.

Sekarang kita bisa memasuki poin kedua, yaitu apakah kampus memberikan pelajaran lebih dari 25% atau justru kurang 25%. Dari realita yang telah dipaparkan d iatas maka bisa disimpulkan bahwa kampus memberikan kurang dari 25%.

Mendidik dengan Cara yang Idealis

Dunia  kampus seharusnya memperhatikan empat aspek penting dalam mendidik para peserta didiknya yaitu aspek lingkungan, kurikulum, dosen yang kompeten dan tujuan pendidikan.

Keempat aspek inilah setidaknya yang harus ada dalam dunia kampus. Pertama, apa tujuan dari pendidikan itu sendiri, kita tahu tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

Tujuan pendidikan adalah yang paling utama, karena apapun yang tidak memiliki tujuan, akan tidak jelas arah fokusnya. maka kampus harus menentukan apa apa tujuannya.

Dengan begitu berarti pendidikan harus diarahkan kesana sepenuhnya, maka harus ada keseriusan dari pihak kampus untuk mendidik peserta didiknya. Maka harus ada aspek kedua yaitu dosen yang kompeten

Dengan adanya dosen yang kompeten maka proses belajar mengajar dalam dunia kampus akan selaras dan dosen tidak memberikan materi yang ngelantur kesana-kemari. Karena ilmunya sudahlan mumpuni.

Akan tetapi tidak cukup hanya dengan tujuan dan dosen kompeten saja. tentu harus ada sistem yang mengatur di sana, itulah kurikulum yang akan mengatur kehidupan kampus. Kurikulum inilah yang paling utama maka tidak bisa ketika kampus menerapkan kurikulum sekuler.

Tentu harus kurikulum yang mengarahkan para peserta didiknya menjadi insan yang berakhlak dan bertaqwa. bukan melahirkan keluaran yang materialistik, yang mengharapkan dunia dan mengataskan dari segalanya.

Yang terakhir lingkungan yang baik. karena mahasiswa tidak terlepas dari kehidupan sosial, oleh karena itu ketika dosennya kompeten dan tujuannya sudah jelas begitu juga kurikulum yang baik tidak cukup. Maka aspek lingkungan juga harus diperhatikan.

Penulis: Fajar Mubarok, mahasiswa hukum Universitas Widya Mataram, dan aktif di komunitas menulis Bintang Inspirasi.

Baca juga:

Bahaya Dampak Globalisasi (Teror Hoax)

Apa Kabar Gerakan Mahasiswa Sekarang?

Mati-Hidup Gerakan Mahasiswa

Tiga Motivasi Perjuangan

Pudarnya Nasionalisme Akibat Paham Radikalisme

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas