Candi Gedong Songo menakjubkan yang menatapnya | Foto AIJ

Asmarainjogja.id – Saat memasuki kawasan Candi Gedong Songo, mata saya langsung tertuju pada puncak  Gunung Ungaran. Tinggi sekali. Dan di sebelah kanan saya, terlihat candi dengan latar belakang hutan cemara.

Para pengunjung tampak sedang bersantai ria duduk beralas tikar di rerumputan hijau menghadap gunung-gemunung di depan mereka. Gunung Telomoyo, Gunung Andong, dan Gunung Merbabu, menjadi panorama yang indah dipandang dari sini. Tak hanya Cuma itu, Rawa pening sebuah danau yang melegenda itu pun dapat terlihat cukup jelas.

Para pemandu wisata kuda tak mau ketinggalan momen dari pengunjung yang cukup ramai siang itu, dengan ramah mereka menawarkan paket wisata kuda. Tak terkecuali kami, namun kami memilih trecking menelusuri situs sejarah dan menikmati setiap jengkal alam nirwana  Ungaran tersebut.

Candi Gedong Songo merupakan nama kompleks candi yang tersebar dari bawah sampai ke atas di lereng Gunung Ungaran. Itulah yang membedakan Candi Gedong Songo dengan candi lainnya di Nusantara. Jadi untuk menggenapi keseluruhan candi, pengunjung harus mendaki dari kompleks candi pertama sampai terakhir, yang berada di leher Gunung Ungaran. Wissshhh… benar-benar memicu adrenalin.

Rasa penasaran kian menggebu di dada, kami langsung menguak Candi Gedong yang pertama. Di kompleks Candi Gedong pertama hanya ada satu gedung candi, di belakangnya terdapat puing-puing bebatuan candi yang menumpuk. Di pintu masuk digawangi kala makara tanpa rahang menyeringai yang diapit makara di kanan-kiri pintu.

Candi Gedong SongoCandi Gedong pertama (kompleks candi pertama) | Foto AIJ

Terdapat yoni di bilik, tanpa lingga yang melengkapi. Lingga dan yoni merupakan lambang dari kesuburan bagi umat Hindu. Kaki candi yang tingginya satu satu meter dengan lebar yang lebih dari tubuh candi memudahkan kami untuk mengitari candi. Terdapat ukiran yang indah dihiasi kala makara, dan relung tanpa arca di setiap sisi tubuh candi.

Ada tiga tingkatan pada atap candi, di tingkat pertama dan kedua terdapat makara di sekelilingnya. Dan di puncak atap candi sudah tidak utuh lagi. Membuat candi ini secara keseluruhan kurang sempurna. Namun begitu, keelokan dan kemegahan candi ini masih bisa dinikmati. Setelah puas mengamati candi, kami pun melanjutkan trecking ke kompleks candi berikutnya.

Di sebelah kanan jalan yang bersemen itu terdapat lahan pertanian warga yang ditanami berbagai sayur. Terdapat pula berjejer warung-warung mengikuti kontur tanah yang semakin tinggi. Tepat di depan warung ada camping ground, tempat bermain out bond, dan spot cantik untuk selfy.

“Untuk tiket masuknya lima ribu, Mas, di sini juga ada tempat foto selfy,” kata petugas yang ada di pos kepada kami, Minggu (12/6/2016).

Setelah mengobrol-ngobrol sebentar, kami pun melanjutkan langkah kaki yang semakin melambat. Pepohonan pinus tumbuh begitu subur, dan daunnya yang rindang memayungi kami menuju kompleks candi kedua. Diiringi dengan canda, gelak tawa, dan saling mengejek, tanpa terasa kami sudah berada di kompleks candi kedua.

Berkuda di candi gedong songoBerkuda di Candi Gedong Songo | Foto AIJ 

Tampak sepasang sejoli dengan baju couple menunggangi kuda. Guratan sebuah senyuman manis mereka saat kamera kami mengabadikan liburan mereka Di Candi Gedong Songo di atas pelana kuda. Naik kuda menjelajah wisata ini memang salah satu alternatif liburan di sini. Pasti seru, menunggangi kuda tentu mengingatkan kita di zaman pada masa kuda sebagai moda trasportasi utama di zamannya.

Terdapat satu bangunan candi di sini, dan bongkahan batu tepat di depannya. Di pintu masuk candi di hiasi kala makara yang diapit makara di kanan-kiri pintu. Di dalam bilik tidak terdapat apa-apa. Ada relung di tubuh candi, namun tidak terdapat arca apapun yang mengisinya. Setelah mengamati cukup lama, kami pun melanjutkan ke kompleks candi ketiga. Jaraknya tidak jauh, dari candi kedua sudah tampak bangunan yang berdiri anggun di kompleks candi ketiga tersebut.

Candi gedong songo, keduaCandi Gedong kedua (kompleks candi kedua) | Foto AIJ

Pada kompleks candi ketiga ada tiga bangunan candi yang berdiri. Dua bangunan candi utama, dan satu candi perwara (candi pendamping yang ukurannya lebih kecil). Kaki saya meniti anak tangga yang disambut dengan makara pada sisi tangga. Kala makara tanpa rahang tepat di atas pintu candi yang diapit makara.

Arca Dewa Siwa, arca Dewi Durga bertangan delapan, dan arca ganesha, bisa ditemukan di candi utama. Keunikan ada pada atap candi, kalau diperhatikan (menurut saya) seperti lingga yang menyembul di atas atap candi. Di candi kedua bentuk bangunannya cukup mirip, hanya ada beberapa perbedaan. Misalnya kala makara dengan taring yang tajam, dan tidak terdapat makara pada anak tangga.

Candi Gedong songo ketigaCandi Gedong ketiga (kompleks candi ketiga) | Foto AIJ

Di sebelah timur candi ada dua petak tumpukan batu candi. Tidak terdapat keterangan di sana, apakah puing-puing bebatuan itu masuk di kompleks candi ketiga atau bagaimana. Perjalanan pun dilanjutkan, jarak tempuh berikutnya cukup jauh. Dan tentunya akan menguras tenaga yang lebih lagi. Semangat!!!

Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa sih candi-candi ini dibangun di atas gunung? Umat Hindu percaya bahwa di tempat-tempat tertinggi, seperti perbukitan atau pegunungan merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Sebab itulah pembangunan candi di abad ke-9 ini oleh dinasti Syailendra berada di lereng Gunung Ungaran. Candi-candi yang dibangun itu sebagai perantaraan antara manusia di bumi (penganutnya) kepada Dewa Khayangan di langit.

Asap belerang menggumpal berterbangan dibawa angin pegunungan, baunya yang tajam menusuk hidung kami. Hidung saya yang tidak bisa tercium aroma yang menyengat cepat-cepat disumbat dengan mitela/slayer. Ya, di sinilah kawasan pemandian air panas   belerang. Biaya masuk ke pemandian Rp 5.000, sedangkan untuk sewa celana Rp. 4000.

Mandi belerang di Candi Gedong SongoArea pemandian air hangat belerang | Foto AIJ

Khasiat berendam air hangat di antaranya; mengurangi rasa pegal-pegal, menyembuhkan gatal-gatal, menyembuhkan reumatik secara perlahan-lahan, menghilangkan dan menyembuhkan berbagai macam penyakit dan lain-lain. Laporan tersebut diperoleh dari pengunjung yang sudah pernah berendam di kolam air panas dengan catatan berendam maksimal selama satu jam.

Begitulah yang tertulis di banner pos masuk Kolam Rendam.

Penelusuran di lanjutkan, hingga sampai kami di komplek candi keempat. Terdapat puing-puing kehancuran yang menumpuk di sekitar candi. Sedangkan candi yang masih utuh hanya satu, ia masih berdiri anggun di antara robohan batu candi lainnya.

Sepasang makara menyambut saya di anak tangga, dan di atas pintu masuk kala makara yang dikawal dengan makara di kanan-kiri pintu. Pada badan candi terdapat relung kosong dan tak ada  satu arca  pun  yang menghiasinya. Bagian atap candi seperti di kompleks candi ketiga, seperti lingga yang kokoh tegak berdiri yang bercokol di atap candi. 

Candi Gedong songo 4Candi Gedong keempat (Kompleks candi keeempat) | Foto AIJ

Saat itu sang surya sudah condong ke langit barat. Awan semakin membiru di angkasa, awan putih berarakan diterpa angin. Di atas ketinggian berkisar 1.295 m dpl ini kami istirahat sejenak menikmati alam semesta. Dari ketinggian memang salah satu terapi untuk mengingatkan kita atas kebesaran Sang Maha Pencipta.

Hutan pinus di sisi barat candi menyejukkan istirahat kami. Setelah cukup memulihkan tenaga lagi, kami menapaki candi kelima dengan langkah gontai. Apalagi si kawan yang wajahnya sudah lesu sejak tadi, tapi herannya seketika sumringah terpancar begitu saja saat dibidik kamera. Kok begitu, ya? Aneh, kan?

Pendopo  berjejer menuju kompleks candi kelima, para pedagang sedang duduk didepan dagangannya dengan alas tikar. Ada penasaran di candi keempat tadi, pada arah selatan candi terdapat jalan tanpa keterangan di sana.

“Oh… itu jalan menuju candi juga, Mas. Nggak jauh kok dari sini,” ujar penjual itu pada kami.

Hmmm… terpaksa deh balik arah lagi menuju jalan tanpa keterangan tersebut. Jalan itu pun kami telesuri hingga kami dijumpakan dengan sebuah candi yang cantik nan mungil. Terdapat satu candi yang masih utuh di sana, sedangkan di sebelahnya hanya menyisakan kaki pada candi saja. Dan di arah barat candi tersebut terdapat bongkahan bebatuan candi, kemungkinan bongkahan candi itu merupakan bagian pada candi yang tidak utuh ini.

Candi GedongsongCandi itu semakin cantik dilihat dari kejauhan | Foto AIJ

Ada yoni di dalam ruang candi yang sempit itu, sedangkan pada bagian badan candi hanya terdapat relung kosong. Di sebelah candi utama tersebut, pada bangunan candi yang tidak utuh itu tergeletak lingga yang terlepas tepat di atas yoni. Kok bias lepas, ya? Apa tidak ada pengawasnya atau bagaimana? Takutnya dicuri ya, kan? Ya, maklum sajalah benda-benda sejarah kan memang diburu untuk diperdagangkan ke pasar gelap.

Tidak mengulur waktu, kami pun meninggalkan candi tanpa keterangan tersebut. Bye… bye .. candi mungil, see you next time.

Lagi-lagi kami saling mengejek satu sama lain, selain untuk menghibur penelusuran, juga untuk terapi penghilang dahaga di teriknya matahari. Walaupun terik matahari garang membakar kulit yang eksotis ini, hawa dingin pegunungan mengimbanginya. Jadi rasanya di atas gunung itu sejuk lho.

Nah, inilah bangunan candi yang terakhir berada di kompleks candi kelima. Sesampai di kompleks candi tersebut, seorang pak tua yang berprofesi seorang fotografer Candi Gedong Songo sedang mengamati pengunjung yang berdatangan.

“Pak  kenapa ada bangunan candi yang sepotong begitu, ya?” Tanya saya   sembari menunjuk ke arah candi.

“Kurang tau, tapi ya memang begitu, mungkin bangunan candi itu belum selesai aja,” terang fotografer pada saya.

Ada dua bangunan candi yang masih berdiri, hanya saja di sebelah bangunan utama berdiri sebuah bangunan berkisar tingginya satu meter lebih. Di halaman kompleks candi  yang cukup luas ini, terdapat robohan bebatuan candi yang sudah dikelompokkan. Ada beberapa yoni tergeletak begitu saja di atas rerumputan hijau halaman candi.

Candi Gedong SongoCandi Gedong kelima (kompleks candi kelima) | Foto AIJ

Atap candi seperti di kompleks candi ketiga dan keempat, seperti lingga yang tegak seakan-akan merenggut cakrawala. Relung di tubuh candi juga kosong, tanpa arca satu pun. Ukiran kala makara dan makara menghiasi pintu masuk candi. Candi yang berdiri anggun ini, hawa di sekitarnya begitu sejuk dan segar.

Tampak seorang pemuda membentangkan kedua tanggannya menghadap angin yang berembus dari arah timur. Dari kejauhan ia menghirup napas dalam-dalam, kemudian melepaskan udara yang tertahan di paru-parunya tersebut secara perlahan-lahan. Begitu seterusnya dilakukannya secara berulang-ulang.

Dalam benak saya, ini cowok berlebihan atau bagaimana? Ya, sudah kami pun menuruni jalan pulang, sebagai tanda penelusuran Candi Gedong Songo usai. Arah menuju pulang, di sisi kanan jalan ada hutan pinus, dedaunannya  bergesekan diterpa angin mengeluarkan bunyi khas alam.

Wihhh… udara di sini  benar-benar segar, dan paling segar di antara tempat yang sudah disinggahi tadi. Ingin rasanya tertidur saja di atas kursi yang sudah tersedia di sini. Begitu sejuk. Angin cukup kencang, pipi kami terasa ditampar-tampar. Serius!

Hmm… pantesan saja cowok tadi membentangkan tangan seperti di film titanic. Oh… begini ternyata sensasinya. Ya… ya, baru sadar saya.

Kami cukup lama beristirahat di bawah hutan pinus ini, betah sekali. Terasa lapang sekali dada saat setiap menghirup udara sejuk. Hidung kembang kempis saat oksigen memasuki di celah-celah lubang hidung. Segar deh pokoknya. Cocok banget bagi orang-orang yang bermasalah dengan hidung.

Hari sudah sore, jam menunjukkan pukul empat lebih, kami harus bergegas turun dari alam nirwana ini. Di sepanjang perjalanan melangkah pulang kami berbincang dengan topik yang tak habis-habisnya mengagumi Candi Gedong Songo. Ini benar-benar seperti di negeri dongeng, atau di negeri lain, atau alam yang berbeda.

Candi Gedong SongoTanaman warga tampak subur di lereng Gunung Ungaran | Foto AIJ

Seorang petani tampak sedang menyemprot perkebunan kembang kolnya. Di lereng Gunung ungaran, berbagai sayuran tumbuh subur di atas undakan tanah yang begitu gembur. Begitu juga sayuran yang terlihat di depan kami. Buah pisang gemuk mengguntai di atas pohonnya, tanaman pisang itu berjejer di pembatas lahan sayuran.

Ini adalah pertama kalinya kami berkunjung ke Candi Gedong Sari, dan mungkin insya Allah akan berkunjung lagi di lain waktu. Ya, memang ini adalah salah satu objek wisata yang wajib direkomendasikan. Keelokan alam nirwana dengan situs sejarahnya berhak dirasakan oleh siapa saja, tak mungkin harus disembunyikan, betul nggak?

Pemandang di candi gedong songoSalah satu pemandangan yang indah di Candi gedong Songo | Foto AIJ

Nah, jadi kalau sahabat travel tertarik berkunjung ke sini, silahkan merapat ke Candi Gedong Songo yang terletak di Dusun Darun, Desa candi, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Untuk tiket masuk kawasan candi yang begitu luas tersebut, hanya Rp 7.500. Murah, kan? Ayo telusuri candi-candinya dengan trecking di lereng Gunung Ungaran. Kapan lagi bisa menatap keanggunan candi berlatar belakang gunung-gemunung ya, kan?[]

Penulis: Asmara Dewo

Baca juga:  Gereja Ayam di Bukit Rhema yang Ramai Diperbincangkan 

Nirwana Sunrise Borobudur di Bukit Punthuk Setumbu 

Kombinasi Sunrise dan Lautan Kabut di Kebun Buah Mangunan 

Makam Imogiri, Air Mujarab, dan Kepantangan Sultan Ziarah 

Yuk, gabung di media sosial kami:    Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube



Komentar Untuk artikel Ini (2)

  • Asmara Dewo Selasa, 14 Juni 2016

    Halo juga. Ya, harus fit, karena untuk menngenapi keseluruhan candi kita harus trecking sampai ke leher Gunung Ungaran.

  • efi fitriyyah Selasa, 14 Juni 2016

    Halo Mas Asmara. Salam kenal dari Bandung. Haus siap tenaga ekstra dan beneran fit buat menjelajahi candi Gedong Songo ini, ya. Sedih, kenapa sih selalu aja ada tangan jahil yang pengen ngutilin benda-benda bersejarha gini.

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas