Ilustarasi bintang inspirasi | Foto Istimewa

Asmarainjogja.id – Seorang sahabat terbaik pernah berkata, “Kalau abang ingin menjadi penulis, carilah bintang inspirasi Abang!” hal itu diucapkannya karena terinspirasi dari Novel Dee, Perahu Kertas. Sahabat itu bernama Liana Daliana, bisa dibilang juga dialah mentor menulis saya. Dan dia juga berpesan, “Buat juga blog, Bang! Di sana abang bisa memulai menulis.”

Bintang inspirasi? Seperti apa bintang inspirasi itu? Bagaimana saya harus menemukannya? Lalu apa hubungannya antara bintang inspirasi dengan menulis? Saya terus bertanya-tanya, lalu meminta keterangan lebih lanjut pada sahabat saya tersebut. “Bintang inspirasi itu, Bang, suatu hal yang bisa jadi bahan inspirasi menulis,” kata dia lagi.

Oh, bahan inspirasi kata saya, contohnya seperti apa? Kemudian Liana melanjutkan, “Bintang inspirasi itu bisa orangtua, ayah, ibu, sahabat terbaik, atau orang yang paling Abang sayangi. Tulislah tentang mereka dalam tulisan Abang.”. Saya mulai mengerti apa itu bintang inspirasi, seketika saja saya menemukan bintang inspirasi menulis. Siapakah dia?

Ketika itu saya sedang di mabuk asmara, maklum saja sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu kerap galau karena persolaan cinta. Mulai dari dikecewakan, mengecewakan, terlebih lagi saya juga bukan cowok yang baik. Sedikit nakal, kurang lebih. Jadi saya sering kena karma. Selalu saja orang-orang yang saya sayangi berujung di jalan buntu. Hingga suatu hari saya berkenalan dengan gadis yang sangat muda ketika itu, masih kelas 2 SMK.

Awal mula bertemu dengan dia ketika mendaki Gunung Sinabung, dan itu adalah pendakian perdana saya sebagai tonggak sejarah pendakian gunung selanjutanya. Gadis itu bernama Dita Novriza, sekarang dia sudah kuliah semester VII, semakin dewasa, tentu saja bertambah cantik. Sebenarnya bukan soal kecantikan yang pertama kali saya senang melihatnya. Tapi rasa senang setiap mengobrol dengannya.

Entah kenapa selalu bahagia saja ketika mendengar kata-kata dari mulutnya, selalu takjim mendengar apa yang ia bicarakan. Saya tidak tahu apakah dia tahu kalau saya selalu memperhatikannya sejak bertemu di Gunung Sinabung. Setelah pendakian itu saya berteman dengannya di Facebook, kemudian bertukar nomor handphone. Sejak itulah kami mulai akrab, bercerita banyak hal, tentang pendakian yang lalu dan rencana pendakian berikutnya, soal keluarga, pendidikan, impian dan lain sebagainya.

Karena semakin akrab, saya pun mulai berani main ke rumahnya, bertemu ibunya, kalau ada acara. Saya dan teman-teman pernah menjemputnya saat nongkrong, sekedar karokean. Dan pernah juga menjemput dia secara khusus untuk mengikuti seminar menulis Tereliye di UMSU. Mendaki gunung juga begitu, ibunya juga pernah berpesan agar saya bisa menjaganya saat mendaki gunung. Amanah itu saya gigit kuat-kuat, Dita akan selalu saya jaga, bagaimanapun risikonya, dan apapun halangannya.

Ini bukan gombal, serius. Kami pernah bertiga naik gunung Sibayak di saat hari ulang tahunnya. Kami sempat diganggu oleh pemuda setempat yang sedang mabuk. Entah perasaan kami saja atau bagaimana, seperti ada motor yang mengejar kami. Karena takut kami bersembunyi di semak-semak setiap ada raungan motor yang lewat. Malam itu malam biasa, tidak akhir pekan, jadi tidak ada seorang pendaki pun yang naik. Keakutan itu benar-benar menghampiri kami, bahkan detak jantung kami berdegub sangat kencang.

Dita sendiri ketakutan, wajahnya cemas, mulutnya tiada hentinya membaca doa. Sedangkan teman kami satu lagi, Jefri, tak kalah takut dan pucat. Saya bilang ke Jefri, “Apapun ceritanya, Jeff, Dita harus selamat. Meskipun kita yang harus mati. Ngerti, Jeff?!”. Saya juga memberikannya sebilah pisau untuk jaga-jaga.

Tidak ada yang menjamin kita aman-aman saja saat mendaki gunung, apalagi masih saat memasuki hutan, dan itu masih bisa dilalui sepeda motor. Saya tidak pernah percaya soal keamanan. Bukankah sering terjadi pembunuhan dan pemerkosaan di tempat wisata daerah Tanah Karo itu?

Sebenarnya saya takut sekali, takut karena cemas ke Dita. Kalau saya sendiri, wah, saya tidak pernah gentar di manapun berada. Maaf, ini bukan sombong, sejak SMA saya sudah bertualang kemana-mana, berjumpa dengan preman, berkelahi habis-habisan, dan lain sebagainya soal dunia lelaki. Tapi malam itu ada Dita, saya takut kalau terjadi apa-apa dengan dia. Jika saya tidak bisa menjaganya, maka saya selamanya menjadi lelaki yang gagal menjaga seseorang. Dan tentu saja amanah ibunya tidak bisa saya buktikan.

Saking letihnya, juga takut setengah mati, Dita bersandar di bahu saya. Entah terlelap atau tidak, Dita betah di bahu saya. Atau mungkin juga ia mendengar serius degup jantung ketakutan saya. Syukurnya suara motor itu hilang, dan kami mulai berjalan lagi. Setiap ada suara motor, kami sembunyi lagi. Begitu seterusnya. Terkadang kami juga berlari agar cepat sampai di leher Gunung Sibayak. Berharap ada pendaki lain di sana.

Kebersamaan demi kebersamaan kami lewati, suatu hari saya juga pernah mengajak Dita ke Pantai Cermin. Traveling itu bersama teman lainnya, ada Icha dan Jo. Kami berenang melawan ombak Pantai Cermin bersama, tentu saja dengan ban. Eh, dita itu hebat berenang dan bernyali. Saya senang kalau berenang dengan Dita. Cukup banyak hal-hal kebersamaan yang kami lalui. Saya benar-benar sayang dengan dia, bukan lagi sekadar antara abang atau apalah sebutannya.

Apakah Dita tahu perasaan saya selama ini atau tidak? Sepertinya tahu, tapi mungkin juga ada cowok lain yang menurutnya lebih pantas dengannya. Saya sendiri karena segan, takut merusak persahabatan selama ini, dan menjaga hal-hal yang tak diinginkan, maka perasaan itu saya pendam, mungkin sampai setahun lebih. Hingga suatu hari saya benar-benar cemburu dengan Dita.

Kecemburuan itulah akhir dari segalanya. Saya mulai stres, frustrasi, kembali mengisap rokok. Padahal saya sempat berjanji pada diri sendiri ingin meninggalkan hal-hal buruk yang pernah saya alami, seperti merokok misalnya. Saya patah semangat saat itu, hampa sekali rasanya, semangat bekerja turun drastis. Tidak mau melakukan apa-apa lagi, hanya di kamar. Makan, tidur, merokok. Kerja pun saya sudah malas.

Uniknya adalah dari kesakitan itulah benih-benih kepenulisan saya tumbuh, dan semakin menjadi-jadi. Ingat apa yang dibilang Liana, “Cari bintang inspirasi Abang!”. Ya, bintang inspirasi saya Dita Novriza. Meskipun tulisan-tulisan pahit, pusi-puisi luka tertoreh di kertas atau di mana saja, paling tidak saya sudah memulai dunia kepenulisan.

Perlahan tulisan saya semakin berkembang, tidak lagi puisi dan cerpen cinta, tapi sudah ke artikel gaya bebas yang sudah diminati pembaca. Semangat saya semakin berkobar-kobar dalam menulis, tiada hari tanpa menulis. Bahkan saya yakin dengan menulislah saya bisa makan, bisa berhasil, dan bisa membawa nama besar.

Semakin mantap lagi saya memutuskan untuk membuat website, tahun-tahun sudah berlalu, tulisan saya sudah banyak dibaca orang. Hingga ide-ide bisnis yang sedang saya jalani semua ini tentu saja berawal dari dunia menulis saya, dan dunia menulis, ya, dari bintang inspirasi itu sendiri. Terimakasih untuk bintang inspirasi, terimakasih juga untuk mentor saya.

Nah, kalau teman-teman ingin menjadi penulis, segeralah cari bintang inspirasi itu. Siapa yang menurut kamu bisa menginspirasi untuk menulis, bisa orangtua, sahabat, dan tokoh yang jadi panutan. Nanti setelah mulai menulis tentang inspirasi itu sendiri, lambat laun dunia menulis kamu akan semakin luas, tak terbatas. Di saat itulah kamu mulai paham bidang kepenulisan apa yang ingin ditekuni, misalnya fokus ke cerpen, novel, puisi, artikel bebas, atau menulis artikel yang spesifik. Semua itu ditemukan ketika kamu sudah benar-benar matang menjadi penulis.

Terakhir soal urusan cinta, cinta itu terkadang memang rumit, sudah pergi baru kita sadar di mana cinta itu berada. Ketika di sekitar kita sendiri kita tidak bisa mengenalnya, apakah ini cinta, apakah ini persahabatan, apakah ini kepalsuan? Bukan waktu namanya kalau bisa diputar, dan terkadang waktu itulah yang membuktikan seseorang, siapa dia sebenarnya.

Kita juga paham, urusan jodoh memang di tangan Allah SWT, tapi saya pernah mendengar dari Ustadz, kalau jodohnya tidak dicari, ya, tidak jumpa juga. Nah, bagaimana jika jodoh itu sudah disegel orang lain? Sudah diharapkan orang lain. Bukankah tidak menyakiti yang lain, jika memilih salah satu di antara cinta itu? Pasti ada yang tersakiti. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Memahami Dari Mana Datangnya Rezeki Penulis

Menulis Bukan Sekadar Memahat Nama di Sejarah

Kamu Itu Blogger atau Penulis?

Begini Cara Agar Tulisan Mudah Dipahami, Enak Dibaca, dan Dirindukan



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas