Ilustrasi aksi massa | istimewa

Oleh: Asmara Dewo

Massa dari Aliansi Tolak Bandara itu semakin bersorak-sorai, mengepal tangan keras-keras menghantam angkasa. Mereka melontarkan bermacam kutukan, tak ada yang mampu mendiamkannya.  Bodoh amat, begitulah pikiran mereka. Orasi Icow terus bergulir, tubuhnya berkeringat disengat sisa matahari yang garang. Pihak keamanan semakin siaga, menghitung arah pergerakan demonstrasi itu. Massa yang memaksa untuk berhadapan langsung dengan petinggi Angkasa Pura belum juga dikabulkan, hanya dari humas yang mencoba berkomunikasi.

Korlap memberi titah agar massa memberi jalan kendaraan yang sudah macet total sejak tadi. Jalan itu hanya bisa dilalui satu baris kendaraan saja, sisa jalan masih dipenuhi massa yang beringas. Tak mengenal takut, meski apapun yang akan terjadi bisa mengancam nyawa mereka. Mereka hanya menuruti Korlap, sang Panglima demonstran.

Icow mengambil alih perhatian massa lagi dengan orasinya, “Warga yang dijanjikan akan diberi lapangan pekerjaan hanya janji manis semata, agar mereka mengamini lahannya dibangun bandara. Terbukti beberapa warga berkisah, bahwasanya janji diberi perkerjaan hanya bualan belaka. Sudah setahun warga belum mendapatkan pekerjaan di sana. Kacaunya lagi, pekerja-pekerja di sana didatangkan dari provinsi sebelah. Sementara pihak Ketenagakerjaan Pemda Kulonprogo berdalih dengan bermacam alasan. Warga harus punya skil tertentu, harus sesuai kriteria perusahaan, harus punya ijazah, dan macam-macam yang membuat warga semakin kesal. Ini sebagai bukti lagi pembangunan NYIA tidak membantu warga kecil.”

“Kawan-kawan, kita bisa bayangkan bersama, bagaimana mungkin warga Temon punya skil tertentu, karena saban harinya saja mereka memegang cangkul untuk menggarap lahannya? Skil mereka jelas bertani, bukan yang lain-lain seperti yang diucapkan golongan bangsat itu. Nah, bicara soal tamatan, kalau warga ingin bekerja di sana harus punya ijazah. Ini lagi-lagi membodohi warga dengan alasan pendidikan formal. Warga Temon selama ini bisa makan menggunakan cangkul dan arit, dan tidak menggunakan ijazah. Bodoh,  toh, logika yang dibangun seperti itu, kawan-kawan?” tanya Icow ke aksi massa.

“Bodoh,” sahut aksi massa.



“Oleh sebab itu kawan-kawan, kita dengan segenap persatuan perjuangan di barisan rakyat harus menghentikan NYIA. Apapun dan bagaimanapun sulitnya perjuangan sekarang dan esok lusa. Kita tidak ingin pintu investasi dari berbagai negara itu masuk ke bumi Yogyakarta, sebab ketika investor itu masuk dengan gegap gempita, maka warga kecil di Yogyakarta akan tersapu bersih. Warga Temon khususnya akan menjadi budak-budak kaum pemodal. Maka kita akan menyaksikan penderitaan warga, perbudakan yang akan terus dipelihara oleh pengusaha dan penguasa. Dan selama itu pula meraka tidak mengenal apa yang namanya kemerdekaan. Kemerdekaan mereka sudah dicabut sejak hadirnya penjajahan modern dari berbagai sektor yang masuk ke sendi-sendi kehidupan,” ucap Icow yang masih gagah berdiri tegak di atas mobil komando.

“Kita juga sadar betul, dengan siapa kita melawan. Tapi ingatlah, sekalah-kalahnya perjuangan adalah yang sudah menancapkan keberanian di sanubari rakyat. Itulah senjata selanjutnya yang digenggam erat oleh rakyat, tanpa diperintah pun mereka sudah tahu apa yang harus dilakukannya ketika hadir perampok yang mengatasnamakan pemerintah. Hidup rakyat! Hidup mahasiswa! Hidup petani! Hidup nelayan! Hidup buruh! Hidup kaum miskin kota! Dan hidup perempuan yang melawan!” sebelum Icow menyudahi orasinya, tinju kirinya mengepal kuat, “salam pembebasan nasional!”

Icow kembali ke barisan kerumunan pembelokiran jalan. Orasi terus dilayangkan secara bergantian lagi yang diwakili oleh organisasi masing-masing aksi massa. Sampai sejam kemudian tuntutan belum juga diindahkan, maka titah dari Korlap selanjutnya adalah merobohkan gerbang Angkasa Pura.

“Apakah kawan-kawan siap merobohkan gerbang Angkasa Pura?” tanya Korlap.

“Siap!” jawab aksi massa.

“Baik, kita hancurkan gerbang ini sekarang,” Korlap memanjat pagar tembok, “massa aksi silahkan merapat ke gerbang!”



Para demonstran mematuhi komandonya. Sekitar enam meter dari gerbang, aksi massa siap menerima komando selanjutnya. Mata mereka buas berhadapan dengan para pegawai Angkasa Pura dari seberang gerbang. Aksi massa yang perempuan di barisan belakang, tentu mereka tidak ikut mendobrak, hanya memberikan semangat kepada kawan-kawannnya. Beberapa di antara mereka sibuk memberikan air mineral ke setiap anggota aksi yang kehausan.

Melihat aksi massa yang semakin beringas, personil dari pihak keamanan semakin bertambah. Anjing pelacak juga siap menyambut aksi massa jika mereka sudah masuk ke pekarangan gedung Angkasa Pura. Suasana semakin genting. Raut wajah para pegawai angkasa pura tampak khawatir, mengira-ngira apa yang akan terjadi. Rakyat versus rakyat sebentar lagi akan menjadi berita hangat nasional.

“Lima langkah revolusi, jalan!” perintah Korlap ke aksi massa.

“Re.. vo.. lu.. si.. re.. vo.. lu.. si..” teriak aksi massa, mereka beringsut ke depan.

“Pegang gerbangnya, kawan-kawan!” titah Korlap lagi dari atas tembok gerbang.

Para demonstran mematuhi komandonya. Tangan mereka memegang kuat gerbang Angkasa Pura. Sedangkan yang tidak kebagian memegang gerbang, berdiri di belakang.

“Saya hitung sampai tiga, dorong gerbangnya, kawan-kawan!” kata Korlap, “satu, dua, tiga!”

Selepas hitungan ketiga, aksi massa mendorong gerbang sekuat tenaga. Gerbang mulai bergoyang. Para pegawai dari seberang tak mau kalah tenaga dengan aski massa, mereka juga sekuatnya menahan agar gerbang tidak roboh. Jurnalis juga semakin sibuk merekam kejadian yang bakal jadi laporan beritanya. Aparat keamanan hanya mengawal aksi dorong-dorongan itu, belum mengambil langkah selanjutnya.

Demonstran itu kembali mendengar titah sang Korlap. Mereka berhenti. Lalu Korlap memberikan orasi perlawanan lagi, membiarkan demonstran untuk mengatur napas sejenak. Adzan Ashar berkumandang, suara dari muadzin itu terdengar syahdu. Begitu enak didengar, mengetarkan sanubari bagi seorang mukmin. Seakan-akan menghipnotis, menggerakkan umatnya berbondong-bondong masuk ke Masjid. Korlap yang sangat garang nan lantang dalam orasi itu pun mengintruksikan para demonstran untuk tenang, dan mempersilahkan duduk.

“Bagaimana ini?” bisik Pati ke Icow

“Apanya yang bagaimana?” Icow malah balik tanya.

“Apa kita akan masuk ke dalam?” ucap Pati menjelaskan pertanyaan sebelumnya.

Icow hanya mengangkat bahu. Tak bisa memastikan apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan.

“Kenapa memangnya? Kau takut?” kata Eki. Ekor matanya menelanjangi wajah Pati.

“Tidak!” Pati cepat-cepat menjawab.



Eki dan Icow bertatapan satu sama lain, tersenyum tipis. Pati pun ikut tersenyum, menutupi ketakutannya. Kaos oblongnya basah oleh keringat. Sudah bisa diperas.

“Ya, ya, kita akan tetap satu komando,” ujar Pati. Jemarinya mengelap dahinya yang berkeringat jagung, “sebab mundur adalah pengkhianatan.”

Korlap turun dari atas tembok gerbang menemui Kordum dan beberapa kawan-kawannya, membicarakan hal-hal penting terkait langkah selanjutnya. Humas Angkasa Pura kembali melobi, membicarakan dengan nada melas, jangan sampai terjadi bentrokan antara demonstran dan pegawai. Adzan telah berhenti, Korlap kembali menunjukkan komandonya ke massa.

“Kawan-kawan, kita terjang lagi gerbangnya!,” perintah Korlap. Dia berdiri gagah di atas tembok gerbang, “saya hitung sampai tiga, satu, dua, tiga! Ayo, teriakkan revolusi!”

Demonstran kembali menggubrak gerbang, sembari mengumandangkan revolusi. Dorongan dari luar semakin kencang, membuat beberapa batang besi dari gerbang patah. Terpelanting ke arah pegawai. Batang besi yang tajam itu hampir saja mengenai wajah salah satu pegawai. Dia terlihat terkejut, memaki-maki dengan bahasa kotor. Di antara demonstran membalas makian itu, memaki-maki balik, jari tengah menunjuk muka pegawai.

Fuck you!  Kalau berani sini keluar! Satu lawan satu kita,” tantang seorang demonstran berbadan jangkung dan besar.

Asu, koe!” balas pegawai itu, ia mau melompat dari atas gerbang. Tapi kawan-kawannya cepat menarik lengannya, menggiringnya ke luar dari kerumunan.

“Jangan ladeni, Di!” teriak temannya tepat di telinganya. Lalu mereka tak terlihat lagi. Hilang dari kerumunan penjaga gerbang.

Aparat keamanan mencoba menenangkan kedua belah pihak, tapi nada bicaranya memojokkan para demonstran yang membuat mereka marah. Tentu saja itu menjadi pemantik kekisruhan lagi. Dorong mendorong antara demonstran dan polisi pun terjadi. Demonstran dari perempuan menyanyikan yel-yel, “Hati-hati! Hati-hati provokasi! Hati-hati! Hati-hati Polisi provokasi!”



Beberapa komandan polisi turun tangan, dengan tenang dan nada bersahabat, dia meminta agar pengunjuk rasa itu bisa berkomitmen dalam aksi damai. Akhirnya kekisruhan itu bisa didamaikan. Sepakat tidak ada keributan, pihak keamanan dengan terpaksa mempersilahkan melanjutkan aksi para demonstran.

Beberapa menit kemudian dorongan dari luar semakin kencang, para demonstran terus beringas. Para pegawai panik, mengerahkan seluruh tenaga menahan gerbang agar tidak roboh. Derit suara gerbang membuat ngilu. Beberapa potongan besi patah lagi. Demonstran girang, sebab gerbang yang akan dirobohkan itu mulai tak kokoh lagi.

“Berhenti, kawan-kawan, berhenti!” teriak Korlap dari megaphone.

Para demonstran langsung menghentikan aksinya. Mendengarkan titah Korlap selanjutnya. Meskipun semakin beringas, aksi massa tersebut masih mendengar Korlap, menunjukkan sikap satu komando, satu tujuan. Mereka juga membuktikan aksi massa yang terdidik, terpimpin, dan terorganisir.

“Gerbang itu hampir roboh, kawan-kawan. Itu sebagi tanda-tanda kemenangan kita, kemenangan aksi untuk perjuangan warga Temon,” ucap Korlap menyuntikkan semangat lagi ke demonstran, “apakah, kawan-kawan, masih semangat?”

“Masih!” sahut demonstran yang masih kuat mengangkat kepalan kirinya.

“Baik, mantap,” puji Korlap, “sekarang kita robohkan, satu, dua, tiga! Dorong!”

Re.. vo.. lu.. si.. re.. vo.. lu.. si.. raungan kata-kata itu semakin menggetarkan karyawan Angkasa Pura. Deritan dari suara gerbang lebih tambah keras. Pihak keamanan lebih siaga, mengkalkulasi dan memprediksi beberapa menit kemudian. Anjing pelacak dari dalam pekarangan Angkasa Pura menggongong, lidarnya menjulur-julur. Siap menyambut demonstran yang masuk. Potongan besi gerbang kembali patah, penyangga lain pun sudah penyok di sana-sini. Demonstran semakin antusias mendorong gerbang yang bentar lagi akan roboh itu. Sekali terjang lagi dipastikan gerbang Angkasa Pura roboh, dan demonstran bisa masuk ke gedung.

“Tahan, kawan-kawan, tahan!” Korlap memberikan intruksi ke massa.

Pengunjuk rasa langsung berhenti, dan mendengar apa yang akan disampaikan Korlap. Ia turun dari atas tembok, dan menemui Kordum yang baru selesai diwawancarai berbagai media massa. Mereka berbincang sejenak, memutuskan langkah berikutnya. Kordum yang sudah berdiri di atas mobil Komando menyapa demonstran dengan salam pembebasan nasional.

“Hidup mahasiswa! Hidup rakyat! Hidup petani! Hidup nelayan! Hidup kaum miskin kota! Dan hidup perempuan yang melawan!” kata Kordum.



Kordum pun menyampaikan orasinya berapi-api, mengutuk keras langkah-langkah Angkasa Pura yang brutal terhadap pengosongan lahan warga Temon. Juga mengecam aksi aparat keamanan yang menahan kawan-kawan mereka. Setelah beberapa menit berorasi Kordum pun membacakan beberapa poin penting tuntutan Aliansi Tolak Bandara. Yang pada intinya adalah menolak tegas pembangunan New Yogyakarta International Airport  (NYIA).

“Huh, jadi tenang,” gumam Pati, “sungguh tak terbayangkan, jika kita masuk ke dalam anjing pelacak itu menggigit pantatku.”

Kedua sahabatnya, Icow dan Pati tak mampu menahan tawa.

Bersambung… [Asmarainjogja.id]

  Baca cerita sebelumnya di bawah ini:

Lima Langkah Revolusi



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas