Melatih otak dengan belajar otodidak (ilustrasi) | Foto Tu Nexo De, Flickr

Asmarainjogja.id-Belajar otodidak sering tidak disadari setiap orang. Padahal bisa jadi sejak kecil ia sudah belajar otodidak. Belajar tanpa guru pembimbing secara khusus ini sebenarnya sangat efektif bagi seorang pelajar atau pembelajar dalam menekuni bidang yang diminatinya. Dan terutama bagi jiwa-jiwa yang tidak mudah diatur, mengikuti ketentuan belajar yang sifatnya kaku dan monoton.  

Sekarang ini minat fotograpi dan menulis mulai disenangi anak muda, mungkin karena faktor eksis di internet atau biar lebih populer saja, ya itu tergantung dari niat belajarnya seseorang. Dan yang jelas adalah ia belajar otodidak. Tentu saja kegiatan positif itu meski diapresiasi.

Belajar otodidak di masa anak-anak itu sangat bagus, karena akan menunjang belajarnya lebih mantap saat ia memilih bidang studi di perguruan tinggi. Misalnya seorang anak yang suka melukis, nanti saat ia mengambil jurusan seni lukis di perguruan tinggi, ia tidak gugup lagi saat menghadapi berbagai teori dan praktik dari dosen. Bahkan juga, ia hanya mengasah skill saja di perguruan tinggi. Sebab dunia melukis sudah dikenalnya sejak masih anak-anak.

Nah, jika kejadiannya seperti itu, tidak menutup kemungkinan seorang anak yang belajar secara otodidak sejak dini, kemudian mengasah kemampuannya di perguruan tinggi, akan menjadikannya  seorang pelukis professional dan terkenal. Bukankah itu hebat? Ketika belajar otodidak dipadukan dengan belajar formal di bangku perkuliahan.

Sahabat muda yang penuh semangat belajar, tentu saja kita tahu, bahwa tidak semua dari kita bisa belajar di pendidikan formal, seperti melanjutkan perguruan tinggi, atau masuk kelas privat. Bukan karena kita malas, bukan! Bukan sebab itu! Tapi biaya pendidikan yang cukup mencekik leher. Mahal.

Biasanya anak kuliah  tahu itu, berapa setiap bulan atau per semester orangtuanya memberikannnya uang. Mulai dari biaya transportasi, uang kos (kalau kuliahnya di luar kota), uang jajan (makan), beli buku, dan yang pastinya biaya administrasi wajib dari kampus itu sendiri, dan biaya lain-lain yang keluar saat proses belajar menjadi mahasiswa.

Kalau mau dihitung-hitung secara akurat, ihhh… ngeri angkanya. Silahkan hitung sendiri bagi mahasiswa! Setidaknya bisa intopeksi diri setelah tahu berapa biaya yang menguras keungan keluarga. Dan semoga saja sudah tahu begitu, bisa sadar dan belajarnya lebih serius lagi.

Saya sendiri adalah pemuda yang pernah mengecap pendidikan formal di perguruan tinggi, jadi sedikit banyaknya tahu persis dunia mahasiswa. Namun sekarang, satu hal yang paling berarti dalam hidup selama belajar di kehidupan ini, yaitu belajar otodidak menulis.

Belajar menulis yang saya tekuni ini tidak didapatkan dari bangku kuliah. Walaupun dosen sering memberikan latihan untuk membuat makalah. Tapi, jujur saja, menulis yang saya dapatkan saat ini dari hasil belajar otodidak. Namun begitu, wawasan, pengetahuan, pemahaman, tentu saja dipicu dari perguruan tinggi.

Sahabat muda, pembaca setia asmarainjogja, jangan pernah menganggap enteng dari ilmu belajar otodidak. Sebab orang yang belajar otodidak itu adalah orang yang sangat serius belajarnya. Lusa ia akan menjelma menjadi apa yang diinginkannya. Mungkin menjadi seorang penulis professional, fotograpi professional, pelukis professional, dan profesi lainnya yang bisa dipelajari dengan otodidak.

Satu hal yang cukup penting dari belajar otodidak adalah mengenai biaya, uang yang harus dikeluarkan untuk menyerap ilmu. Tak bisa dipungkiri, belajar apapun butuh uang, sama halnya dengan belajar otodidak. Ya, walaupun sifatnya bukan kewajiban yang memaksa, tapi dari diri sendiri. Contoh saja belajar otodidak menulis, terkadang seorang yang otodidak menulis, juga butuh mengikuti workshop penulisan. Dan itu biayanya bukan murah, bisa mencapai Rp 500.000, bahkan juga jutaan.

Namun tenang saja, jika kita belum mampu mengikuti kegiatan masuk kelas seperti itu, santai saja! Masih ada hari berikutnya, sembari mengumpuli uang dan terus mengasah kemampuan menulis. Kalau mau dihitung-hitung, belajar otodidak lebih murah, bahkan bisa gratis sama sekali, ya paling hanya bermodal bisa terkonkesi ke internet doang. Ini zamannya era digital, berbagai tutorial bisa dipelajari dari artikel di interntet. Jika terlalu sulit memahaminya, tinggal buka YouTube, di sana banyak sekali tutorial belajar apa saja yang ingin diminati.

Jadi, saya simpulkan belajar otodidak adalah belajarnya orang-orang yang serius yang terus mengasah kemampuannya dengan biaya yang super murah. Bagaimana, setuju tidak? Jangan khawatir tidak ada yang mau membagikan ilmu secara gratis di internet, kalau serius saja pasti kamu dapatkan orang-orang yang secara suka rela memberikan ilmunya kepada kita yang memang serius belajar otodidak.

Saya adalah orang yang tumbuh dan berkembang di dunia tulis menulis secara otodidak. Karena kesadaran itu pula, saya ingin membagikan lagi ilmu penulisan yang sudah didapat kepada siapa saja yang mau. Dan sebab itu pula di asmarainjogja, ada rubrik Belajar Menulis, di sana saya membagikan ilmu kepenulisan saya. Silahkan juga yang ingin menanyai secara langsung. Insya alllah akan saya jawab, sebatas kemampuan dan pengetahuan.

Belajar otodidak itu sangat gampang, kita hanya tinggal mendengar, melihat, merasakan, lalu mempraktikannya. Sudah beres, itu saja! Dan itu diulang-ulang secara berkelanjutan. Jangan sampai putus! Kalau berhenti di tengah jalan, ya itu salah sendiri. Sama juga kalau kuliah, kita berhenti di tengah semester, apa yang didapat coba? Andai saja terus belajar, kan bisa dapat surat sakti (ijazah), dan tentu saja suatu bidang studi yang utuh didapatkan.

Dan mulai saat ini, apapun minat kamu dalam belajar otodidak, belajar saja terus, jangan putus asa, atau berhenti di tengah jalan. Sebab jika berhenti di tengah jalan, kamu tidak akan menjadi seorang apa-apa. Dan kasarnya adalah seorang yang pecundang. Maaf untuk kata-kata yang tidak mengenakkan tersebut.

Belajar otodidak itu adalah perjuangan, sebuah perjuangan yang harus diselesaikan, entah itu sampai berakhir, atau sama sekali tidak ada hentinya. Terutama bagi yang kurang mampu dalam kehidupan ini, karena terganjal dari biaya. Belajarlah secara otodidak dalam bidang yang diminati, esok lusa kamu adalah orang yang berhasil, lalu  perubahan finansial pun diawali saat kamu mahir dalam bidang itu.

Tidak hanya saja yang belajar otodidak, berikut sahabat muda di asmarainjogja berbagi pengalaman  belajar  otodidaknya. Semoga saja bisa memotivasi dan menginspirasi pembaca, saling berkenalan juga boleh.

Nadhira Kanzah

Pastinya menulis dong, karena memang dari awal saya nggak bisa menulis. Saya suka membaca, tapi nggak  ada kepikiran untuk jadi penulis. Hanya baca-baca doang, menikmati kata demi kata dari seorang penulis. Terus ada teman penulis yang ngajakin coba-coba jadi penulis. Giliran akunya udah tertarik ke dunia tulis menulis eh dia malah menghilang.

Alhasil aku belajar sendiri. Aku belajar sendiri dengan mencuri-curi ilmu dari tulisan para penulis. Aku masuk grup kepenulisan, Aku belajar dari karya teman-teman penulis di sana, memperhatikan EYD nya, tanda bacanya, gaya menulisnya juga, karena setiap orang, berbeda gaya kepenulisannya.

Aku juga rajin browsing di internet, sering-sering lihat kamus KBBI dan satu lagi rajin bertanya. Walaupun nggak kenal ditanyakan saja semuanya, ceritanya sok asyik, sok akrab gitu. Intinya dalam belajar otodidak itu, aku banyak mencuri! mencuri ilmu loh ya ... bukan yang lain. *mencuri hati kamu juga boleh, kamu iya kamu.

Shee Mahezanovic

Jadi ibu. Mungkin setiap orang nggak perlu belajar untuk jadi ibu. Soalnya yang pasti. Jadi ibu di pelajari secara otodidak. Yang dulunya nggak bisa mandiin bayi, jadi bisa mandiin bayi. Yang dulunya nggak bisa masak, jadi bisa membedakan mana kunyit mana lengkuas.

Mungkin comentarnya melenceng jauh. Tapi ... untuk menjadi ibu emang butuh skill. Skill yang nggak mungkin dipelajari di bangku sekolah.

Gimana kita harus punya skill untuk bisa tarik ulur layaknya bermain layang-layang pada buah hati kita. Skill untuk bisa memotivasi mereka disegala hal. Sampai batas waktu nya. Hm... indahnya menjadi ibu. Otodidak ku menjadi ibu.

Re Tiapian

Saya belajar sendiri bikin cilok. Awalnya sih baca google, pas dipraktikkan masih agak kurang gimana gitu deh. Ya udah inovasi sendiri akhirnya dan sukses dijual di SD.

Affendye VViee

Aku belajar menulis sendiri, belajar merangkai kata dari setiap pandang dan setiap apa yang dirasakan, bahkan dari setiap teman yang curhat dijadikan bahan untuk merangkai kata. Mengembangkan hal kecil menjadi sebuah karya yang dapat diapresiasi pada pembaca. Walaupun hanya sekadar tulisan kecil sich . Tapi itu adalah hal yang menyenangkan dapat dilakukan.

Ayu Anitasyaf 

Masak, ya masak. Aku belajar masak sendiri dari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar ( SD ) tepatnya kelas tiga. Waktu itu, aku masak saja apa yang ingin aku masak dan hasil awalnya, waaaw asin dan sedikit gosong, hahaha. Tapi berkat pengalaman itu semua, sekarang aku jadi pinter masak dan hasilnya nggak kalah tuh dengan yang dijual di kantin kampusku. Hehehe...

Arwen Chandra Tatiano

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Ilmu apa yang saya pelajari secara otodidak? Jawabannya adalah memasak dan make up. Saya tumbuh di keluarga bukan cinta kuliner. Ibu saya cenderung tidak pandai memasak karena mungkin dulu beliau budget belanjanya tipis. Tapi saya tak mau menerima kenyataan begitu saja.

Mulai dari usia 7-8 tahun saya sudah belajar memasak sendiri karena waktu itu Ibu saya sedang mengandung dan memang perlu bantuan. Awalnya sering salah,  karena tidak bisa membedakan rempah. Pernah juga saya memasak nasi  goreng yang seharusnya pakai kencur malah pakai jahe. Tapi tak mengapa, itu pun enak. Sebab kalau di China sayur dan nasi goreng memang biasa dibumbui jahe. Sampai sekarang saya masih belajar terus.

Setahun yang lalu saya menikah dan amat sulit memasak untuk suami. Sering diprotes dan dicela. Bukan karena tidak bisa memasak, tapi karena selera kami jauh berbeda. Saya cenderung suka masakan hambar dan sehat sedangkan suami sebaliknya suka masakan berbumbu dan gurih. Jadi sekarang saya paham, jika ingin memasak pastikan dulu itu untuk siapa. Bagaimana seleranya, apa yang disukai. Baru bisa dibilang enak. Karena yang menurut kita enak, belum tentu enak bagi orang lain. Dari itu saya lebih belajar lagi bagaimana mengolah makanan dengan banyak bumbu dan rempah.

Make up. Waktu masih kecil saya suka bercermin dan sempat beberapa kali memakai bedak dan lipstik ibu saya. Selain di bibir, lipstik juga saya oles sedikit di pipi supaya merona. Setidaknya itu yang saya pahami dulu sebelum akhirnya mengenal peralatan make up yang beraneka rupa.

Sekitar tiga bulan sebelum menikah, saya sudah begitu tertarik pada make up. Lalu sedikit-sedikit membeli perlengkapannya. Saya juga rajin mengunjungi blog kecantikan dan situs-situs berkonten kecantikan. Dari itu saya makin mengerti apa itu definisi make up. Bagaimana memilih produk yang baik, yang cocok dan bagaimana cara mengaplikasikan make up serta tujuannya. Mulailah saya berkenalan dengan blush on, BB Cream, Foundation, Face Primer serta peralatan make up decorrative lainnya.

Tak lupa juga untuk mengimbanginya dengan skincare. Sampai sekarang saya kadang-kadang masih menonton video tutorial di Youtube, atau sekadar membaca tulisan para beauty blogger. Cita-cita saya dalam dunia make up sudah tercapai yaitu ingin make up sendiri di hari pernikahan. Itu sudah lebih dari cukup. Jika diperkenankan, suatu saat saya ingin membuka toko peralatan kecantikan yang murah dan berkualitas.

Ade Zetri Rahman

Menulis karena berawal dari hobby, tak ada pengajaran khusus untuk menulis, hanya saja terus didalami lagi. Tipsnya kalau mau jadi penulis,  belajar dari otodidak itu banyak baca saja. Kalau saya suka baca novel lama, lalu saling diskusi tulisan sama teman yang juga suka nulis.

Risa Risa

Menyanyi, aku punya keinginan besar untuk bisa menyanyi, meskipun nggak harus jadi artis, orang bilang vocalku bagus, suaranya lembut bagaikan sutra, hihihi. Tapi memang mesti banyak belajar mengatur napas agar bisa nada lebih tinggi dan nggak capek.

Aku selalu rajin latihan nyanyi setiap hari di studio miniku di rumah, alias kamar mandi, hihihi. Bisa berjam-jam latihan di situ, lumayanlah.

Aku juga beraniin diri untuk tampil nyanyi di acara-acara ulang tahun temanku, bahkan suka nyanyi juga di acara pernikahan keluarga.

Tempat -tempat karoke juga terkadang kumanfaati untuk hobiku menyanyi saat kumpul bareng teman. Aku juga suka rekam suaraku sendiri saat nyanyi, biar bisa didengar sendiri aja warna vocalku gimana. Nggak terasa seringnya aku nyanyi di acara-acara keluarga, aku jadi terbiasa bagaimana harus menyanyi dan mengatur napas, setidaknya karna sering latihan begitu aku bisa lebih baik dari sebelumnya. Walaupun memang harus lebih banyak lagi belajar dan belajar lagi.

Kira-kira begitulah ceritaku yang ngebet banget pengen bisa nyanyi.[]

Penulis: Asmara Dewo   

Baca juga:  3 Kebiasaan Ini Buat Saya Galau, dan 3 Sahabat Muda Ini Juga Ikutan Galau 

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas