Foto Ilustrasi Flickr

Asmarainjogja.id-Pada zaman sekarang ini ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat.  Setiap hari ada saja hal-hal terbaru yang lahir,  baik itu bidang teknologi informasi,  bidang kesehatan, industri, elektronika, semua semakin maju.  Begitu juga dengan ilmu kedoketaran gigi.

Setiap hari atau setiap detik pun ada saja kemajuan. Yang paling booming sekarang adalah bleaching gigi. Pasti kita bertanya-tanya apa benar gigi bisa di-bleaching? Bukankan hanya pada  kulit tubuh saja yang bisa di-bleaching?

Ya, benar sekali. Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan setiap waktu lahirlah  inovasi yang mengagumkan. Setiap manusia pasti ingin kelihatan menarik dan cantik. Masalah estetika adalah yang sangat diperhatiakan walaupun hanya gigi semata. 

Perubahan warna pada gigi bisa dialami oleh setiap orang, baik itu tua atau  muda. Perubahan warna pada gigi dapat mengganggu penampilan dan tingkat kepercayaan pada diri sendiri. Faktor penyebab berubahnya warna pada gigi bermacam-macam, seperti sebagai berikut:

1. Perubahan Warna Intrinsik

Perubahan warna intrinsik yang dimaksud di sini adalah faktor yang disebabkan dari dalam. Salah satu  contohnya yaitu penggunaan antibiotik tetrasiklin pada masa pembentukan email. Biasanya antibiotik tersebut dikonsumsi oleh si ibu sewaktu hamil.  Ada kemungkinan besar anak yang dilahirkan akan mempunyai permasalahan warna gigi.

2. Perubahan Warna Ekstrinsik

Adalah Perubahan warna yang disebabkan oleh faktor dari luar.  Contohnya disebabkan oleh makanan, minuman, dan rokok. Pada rokok terdapat nikotin dan tar lalu menyebabkan stain (pewarnaan) pada gigi bagian dalam. Biasanya digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Bleaching gigi adalah perawatan yang dilakukan untuk membuat gigi lebih putih dan cerah yang  dilakukan oleh dokter gigi. Pemutihan gigi atau bleaching adalah suatu tindakan untuk menghilangkan pewarnaan pada gigi secara kimiawi dengan menggunakan bahan oksidator atau reduktor. 

Prosedur bleaching menggunakan bahan kimia, yang paling sering digunakan adalah peroksida (karbamid peroksida dan hydrogen peroksida).  Karbamid peroksida tersedia dalam berbagai konsentrasi, mulai dari 3% hingga 15%. Dari hasil beberapa penelitian diketahui bahwa yang paling aman sekaligus efektif adalah karbamid peroksida 10%.

Proses ini melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi, dimana peroksida bertindak sebagai agen peng-oksidasi (oksidator). Karbamid peroksida akan terurai menjadi hydrogen peroksida dan urea. Hydrogen peroksida inilah yang akan menghasilkan radikal bebas, yang akan bereaksi dengan molekul organik dalam email gigi.

Dengan adanya reaksi ini, molekul organik yang berukuran besar dan berpigmentasi tinggi akan menjadi molekul berukuran lebih kecil dan lebih sedikit pigmen. Molekul kecil ini lebih sedikit merefleksikan cahaya. Hasil akhirnya gigi tampak lebih putih.

Proses pemutihan gigi ada dua:

1. Teknik Pemutihan Intrinsik Untuk Gigi Non-vital

Yaitu gigi yang sudah mati biasanya disebabkan oleh trauma lalu patah atau gigi yang sudah mati karena proses karies (lubang gigi). Untuk gigi yang sudah non-vital proses pemutihan gigi ini harus dilakukan oleh dokter gigi

2. Teknik Pemutihan Ekstrinsik Untuk Gigi Vital

Yaitu gigi yang masih sehat bisa dilakukan di rumah oleh kita sendiri tanpa harus ke dokter gigi. Tapi bahan dan obat sebaiknya dibeli pada dokter, jangan membeli di pasaran sebab berbahaya. Tapi alangkah baiknya dilakukan dengan pengawasan dokter.

Sebenarnya cara yang paling sederhana   untuk  selalu menjaga kebersihan gigi dan mulut, yaitu dengan  menyikat gigi dua kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur. Mengonsumsi makanan yang berserat dan perbanyak mengonsumsi air putih. Jauh lebih baik lagi daripada  dengan cara menggunakan  zat kimia.

Penulis : Rizka Wahyuni 



style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="6419706731">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas