Ilustrasi sang creator (pencipta) | Foto Thingstosk

Asmarainjogja.id -- Apakah satu-satunya cara bertahan hidup adalah bekerja? Jika iya, benarlah budaya pekerja akan terus membumikan generasi muda sekarang dan masa yang akan datang. Namun ternyata tidak, banyak cara lain agar bisa tetap bertahan hidup, bahkan bisa menjadi orang yang jauh lebih berguna dibandingkan bekerja di perusahaan. Contoh saja seperti seorang pebisnis, entrepreuner, melayani jasa sesuai skill, dan lain sebagainya.

Jadi pada dasarnya menjadi seorang pekerja di perusahaan bukan satu-satunya cara agar tetap eksis di muka bumi ini. Malah bisa sebaliknya, di mana ketika tenaga-tenaga manusia sudah digantikan oleh mesin dan robot. Maka mau tak mau para pekerja akan dirumahkan (baca: pecat) oleh perusahaan. Meskipun saat ini tenaga manusia masih dibutuhkan, tapi siapa yang berani menjamin 20 tahun atau 30 tahun lagi, tenaga manusia sudah tidak diperlukan lagi?

Manusia terus berkembang, hanya saja manusia-manusia yang memiliki cara berpikir visioner. Sedangkan negara kita Indonesia tampaknya belum ada pemimpin yang serius mencari solusi bagaimana agar melahirkan generasi selanjutnya menjadi pencipta  “robot”. Budaya kita malah ingin jadi robot (baca: pekerja) di negaranya sendiri. Maka tak heran, bangsa besar ini tumpah ruah rebutan bekerja di dalam negeri, maupun di luar negeri.

Kita dididik oleh orangtua di rumah dan guru di sekolah agar kelak sudah besar bekerja di perusahaan ini-perusahaan itu. Jarang sekali dalam ruang lingkup keluarga atau sekolah mencetak anaknya agar mendirikan perusahaan. Terlebih lagi dari kalangan keluarga Pegawai Negeri Sipil (PNS), anak-anak mereka meski lah mengikuti jejak orangtuanya.

Memang enak jadi PNS, jika bekerja normal-normal saja, tidak mungkin dipecat. Jam kerja sudah ditentukan, gaji setiap tahun naik (tanpa harus demo besar-besaran), kerjanya juga tidak sulit-sulit amat, bahkan cenderung hanya menggunakan otak. Tak heran pula jutaan rakyat Indonesia ngebet sekali jadi PNS, tak perduli harus masuknya pakai cara jahat, dengan uang pelicin. Biar bisa menjadi belut yang menyisip di instansi pemerintahan. Tipe orang seperti ini lah benih-benih koruptor di negeri kita, cara masuknya saja sudah tidak benar, apalagi cara kerjanya. KPK pun dengan sigap menciduk oknum-oknum bermental seperti ini.

Jika bekerja di perusahaan hanya bermodal ijazah SMA saja, siap-siap menghadapi segala akibat buruk menjadi seorang karyawan. Contohnya saja gaji pas-pasan, bahkan bisa dibilang kurang, jam kerja yang terkadang berlebihan, alasan pimpinan loyalitas, padahal kalau karyawan telat kena sanksi. Jaminan kesejahteraan juga tidak ada yang bisa menjami, PHK massal sering melanda perusahaan besar di negeri ini, akibatnya pengangguran bertambah dan terus bertambah. Padahal adik-adik kita yang baru tamat sekolah dan kuliah juga berharap mendapatkan pekerjaan di perusahaan.

Namun menjadi seorang pekerja tetap saja diagung-agungkan oleh banyak kalangan. Jika kita mau tahu lebih dalam lagi, sebaiknya beranilah berkata jujur bahwa menjadi seorang karyawan itu tidak enak. Namun jika ditanya kenapa masih bekerja, jawabannya seperti ini: “Bekerja ini hanya sementara, kumpulkan modal dulu baru berbisnis.”

Kalau kumpulkan modal dulu baru berbisnis, penulis yakin, hal itu sulit dilakukan. Mau di tahun ke berapa baru berbisnis kalau menunggu modal dulu? Terus mau bisnis apa kalau sudah ada modal? Persaingan bisnis sangat berat, kawan, pemain baru biasanya terpental dari dunia bisnis. Ini bukan menakut-nakuti, karena pemain lama itu sudah berpengalaman dan berani rugi hanya untuk memonopoli pasar. Nah, kita yang minim pengalaman bisnis, bisa jadi hanya membakar uang saat terjun di dunia bisnis. Alih-alih mau menjadi sukses, yang ada malah nyungsep.

Kabar baiknya, kawan, selalu ada siasat jitu agar bisa berkompetisi di dunia bisnis yang akan kamu lakukan. Bangunlah bisnis secepatnya, dan itu dilakukan sekarang. Jangan menunda-nunda lagi! Jika sudah dimulai, setahun atau 2 tahun kamu sudah enak menjalankannya, disusul pula dengan keuntungannya. Konsumen atau pelanggan itu paling suka dengan pebisnis senior, bukan pebisnis junior yang belum terjamin atas produknya. Karena itulah bisnis itu dijalankan lebih cepat lebih baik.

Soal modal itu tergantung kantong sendiri, kalau modal pas-pasan ya carilah bisnis yang kecil-kecilan. Nah, kalau belum pandai berbisnis, belajar dari sekarang dengan cara mempraktikkannya secara langsung, bukan sekadar membaca artikel atau buku bisnis saja. Bukankah ilmu yang paling jitu itu praktik, bukan teori? Betul, kan?

Berbisnis sambil bekerja adalah langkah yang jauh lebih bijak daripada menjadi seorang robot. Setidak-tidaknya dengan berbisnis, sudah mulai ada penambahan pemasukan setiap hari, minggu, atau bulan. Kalau gaji kamu saat ini menjadi robot 3 juta, karena sudah berbisnis bisa dalam sebulan penghasilan kamu jadi 4 juta. Kita tidak perlu muluk-muluk bisnis itu banyak untungnya, besar pendapatannya, apa lagi masih pebisnis baru, untung saja masih syukur. Untung 1 juta dalam sebulan itu lumayan, tinggal tambahi saja gaji sebulan dari kamu bekerja.

Namun, satu hal yang harus kita pahami bersama, semakin kita dikenal sebagai pebisnis, maka semakin banyak pula pelanggan kita. Tentu efek dari itu semua adalah hasil bisnis kita akan semakin meningkat, dan terus meningkat. Jika bulan ini untung 1 juta, bulan depan mungkin 1,5 juta, di bulan berikutnya bisa 2 juta. Begitu terus, kalau bisnis itu lancar, omzet semakin naik, untung pun semakin besar.

Nah, ketika kamu sudah terjun di dunia bisnis, pikiran kamu akan terbuka, ambisi kamu terus terpacu, kecerdasan kamu pun terus diuji, dan semangat kamu selalu terpompa. Kenapa bisa begitu? Satu-satunya alasannya adalah karena ingin  mendapatkan keuntungan lebih besar.

Sungguh berbeda menjadi robot, jika posisi kita sudah mentok di satu jabatan, ya, sudah begituuu saja seterusnya. Tidak malas bekerja sepertinya saja sudah baik. Karena begitulah di dunia pekerjaan, apalagi bekerja di perusahaan kelas teri. Menurut penulis lebih baik berbisnis sendiri daripada bekerja di perusahaan kelas teri seperti itu.

Sudahlah gaji kecil, karir tidak ada, bos rewelnya minta ampun, ditambah lagi omzet yang terus turun. Hei, kawan, perusahaan seperti itu masih ingin kamu bela? Perusahaan saja tidak membela kamu, kenapa kamu yang ngotot bertahan dan membela perusahaan seperti itu? Masih ingin menjadi robot terus? Tetap mau dibodoh-bodohi selamanya?

Lebih baik bodoh di bisnis sendiri, daripada bodoh di perusahaan orang lain.

Jadi agar kita tidak lagi menciptakan pembodohan generasi, orangtua dan guru sebaiknya mendoktirn anak-anaknya menjadi seorang pebisnis atau pengusaha. Jangan ditanamkan lagi di kepala anak-anak, kelak sudah dewasa harus sukses menjadi ini, menjadi itu, bekerja di perusahaan ini, di perusahaan itu, dan lain sebagainya. Didiklah anak-anak menjadi seorang creator (pencipta), bukan seorang yang selalu menerima. Sebab penulis menyakini seorang pekerja di perusahaan atau di pemerintahan itu manusia yang hanya menerima, bukan pencipta.

Nah, menjadi seorang penerima itu kan mudah sekali, kita hanya tinggal menerima saja di posisi tertentu. Karena semua sudah ada, tugasnya hanya menjalankan.   Jauh sekali berbedanya dengan sosok-sosok pencipta, ia tidak mau menjadi penerima, hanya duduk menerima yang ada, dan menjalankan apa yang sudah ditetapkan. Nah, hasil cipataannya itulah yang bisa mengubah suatu keluarga, lingkungan, bangsa, dan agama. [Asmara Dewo]

Baca juga: 

Lima Penyebab Kemiskinan dari Diri Sendiri

Inilah Harta Terbesar Manusia

Memahami Keseimbangan Hidup

Video Jembatan Ekstrem Pulau Kalong

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas