Ilustrasi menulis | Foto Istockfoto

Asmarainjogja.id – Menulis bukan sekadar mencari rezeki lagi bagi saya, tapi menulis seperti yang diamanahkan oleh sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, menulis itu tugas negara. Jadi ketika lama, mungkin beberapa hari saya tak menulis, ada kerinduan dan kegeraman jika belum disalurkan apa yang ada di kepala ini. Terlebih lagi karena saya memang mengelola situs, klop sudah kewajiban untuk mengisinya, dan juga untuk menunaikan tugas negara seperti yang diwasiatkan oleh Bung Pram.

Menulis juga bukan sekadar mencari nama, tapi jauh dari itu, jika hanya mempopulerkan nama, tingga menempel saja di ketiak partai, pasti namanya cepat melambung. Atau juga berkarya dengan sensasi, tentulah cepat menarik perhatian publik. Hanya saja cara seperti ini mudah menggadaikan idealisme penulis itu sendiri. Jangan kira penulis itu menulis tanpa idealisme!

Saya pikir, sastarawan, atau penulis jauh lebih idealis dibandingkan seorang jurnalis. Terbukti sekali, bukan, jurnalis Indonesia kita sekarang tak bertaring? Melempam. Ayo coba mana karya mereka (berita) yang membongkar kasus-kasus besar di negeri ini? Minim sekali prestasinya. Bahkan ada beberapa surat kabar yang tak punya prestasi sama sekali, yang ada hanya berita dan artikel sampah. Dulu ketika saya belajar menulis, juga sempat ingin menjadi seorang wartawan, tapi tampaknya jalan saya tidak kesana, dan akhirnya saya mengelola situs sendiri.

Ketika saya masih belajar pula, di kepala saya waktu itu menulis itu banyak duitnya. Wah, enak sekali, deh, kalau jadi penulis. Apalagi iming-iming para Blogger, dari Google Adsense bisa menghasilkan puluhan juta rupiah. Wowww banget. Jadi saya semangat sekali belajar menulis, dan tahukah kamu nyatanya yang saya impikan meleset. Sampai sekarang saya juga tidak yakin para Blogger yang hanya mengandalkan Adsensenya menghasilkan puluhan juta rupiah. Kalau pun memang betul ada, itu hanya satu atau dua. Kecuali situs yang memang dikelola secara profesional dan digarap beramai-ramai ini mungkin penghasilannya besar.

Menulis fiksi, seperti cerita pendek, cerita mini, puisi, juga saya tidak pernah menuliskannya lagi. Mungkin benarlah apa yang dibaca itulah yang akan ditulis. Minat saya belakangan ini juga mulai berkurang membaca novel, cerpen, apalagi Puisi. Saya lebih sering membaca buku-buku bisnis, alhasil artikel bisnis saya cukup banyak di situs yang saya kelola. Nah, menulis artikel bisnis itu sebenarnya dari pengalaman saya langsung, jadi apa yang saya tulis nyata. Sedangkan buku bisnis merupakan pemantik dan inspirasinya.

Saya tidak tahu pasti apakah cita-cita saya menjadi seorang novelis bergeser ke bidang lainnya? Meskipun tetap profesi menulis. Soal ini saya biarkan waktu yang menjawab. Sebab perhatian saya benar-benar tersita oleh sosial, politik, dan hukum di Indonesia. Terlebih lagi memang ada beberapa kasus yang berlarut-larut, kasus tersebut memang menciderai perasaan salah satu agama di negeri ini. Bagi saya orang yang bersalah, mutlak harus dihukum sesuai keadilan.

Mungkin prinsip keras ini pula lantaran saya pernah belajar hukum. Bahkan ketika masih Ospek, saya dengan tegas berpendapat bahwa koruptor dihukum mati. Sampai saat ini juga masih berlaku prinsip seperti itu. Karena bagi saya koruptor inilah salah satu biangnya penghambat kemajuan bangsa kita. Jadi ketika saya hanya melongooo saja membaca atau melihat berita, sungguh tidak puas menyaksikan itu semua. Mau ngamuk-ngamuk pun sama siapa coba? Dikira orang gila pula. Maka obatnya adalah dengan menulis, di tulisan itulah apa yang ada di kepala dan di hati disampaikan secara lugas.

Dengan menulis pula saya semakin banyak teman, namun yang tidak senang juga banyak. Salah satu kerenggangan antar teman karena beda politik, dan memahami isu yang ada di Indonesia. Mereka yang tidak senang dengan saya menuduh yang bukan-bukan, padahal saya menulis hanya untuk si pelaku, dan itu tidak saya kaitkan sama sekali dengan agama, etnis, dan lain sebagainya.

Tapi tetap saja saya pernah dibilang rasis. Karena saya memang orangnya rada-rada temperamental, terkadang saya langsung frontal menanggapinya, dan langsung memblokir akunnya. Tidak perduli kenal, kawan, atau siapa dia. Karena orang-orang seperti inilah yang suka cari rusuh, sedangkan saya, tugas saya hanya menulis. Dan mereka tentulah tidak tahu hakikat menulis. Tinggal baca saja, kok, repot. Tidak suka, ya, sudah, kok malah menyerang saya.

Pernah juga saking kesalnya saya bilang, tulisan lawan dengan tulisan, bukan tulisan dilawan dengan komentar sampah. Kalau tidak bisa menulis, belajar dulu sana, nanti kalau sudah pandai baru lawan dengan tulisan. Saya juga sangat yakin, mana mau orang-orang tipe seperti itu belajar menulis, yang maunya hanya komentar asal. Ya, memang belajar menulis itu bukan perkara gampang. Saya saja belajar menulis bertahun-tahun, sampai sekarang juga tetap belajar.

Selain menulis, bertualang adalah hal yang saya sukai di atas bumi ini. Bertualang di sini bermacam, mulai mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah didatangi, mengunjungi objek wisata, bermain di hutan, gunung, dan tempat-tempat yang menantang. Semua ini tentulah membutuhkan uang yang tidak sedikit, tapi tidak juga banyak. Dan kenyataannya saya hampir setiap seminggu sekali bertualang, hahaha.

Ini bukan masalah banyak uang atau tidak, tapi soal kebahagiaan saja. Saya bisa stress kalau hanya mendekam berminggu-minggu di kamar. Karena memang saya mengisi situs yang saya kelola tersebut. Menulis itu butuh inspirasi, kalau tidak serius mencari inspirasi, bisa bingung mau menulis apa. Ini serius, lho, tidak bohong.

Lagi pula petualangan itu kembali saya tuliskan, nah, hasil tulisan itulah yang ada di situs yang saya kelola. Orang bilang, dan pembaca saya bilang, enak benar hidup seperti saya menulis, jualan, jalan-jalan. Habis jalan-jalan, kembali buka lapak penjualan online, langsung dapat orderan pula, hahaha. Sejak dulu sebelum di posisi seperti ini saya sudah pernah bilang, hidup ini pilihan, kita mau jadi apa 2 atau 3 tahun ke depan? Kalau mau jadi pekerja, bekerjalah dengan baik, kalau mau jadi penulis, ya, belajarlah menulis, nah, kalau mau jadi pebisnis, yang bebas tidak ada yang mengatur, belajar pula berbisnis.

Saya sekarang ini, kan, dari hasil pembentukan 2 atau 3 tahun yang lalu. Tidak mungkin pula mendadak seperti ini, kan? Teman-teman di Facebook sudah tahu sekali jejak rekam saya. Soal bisnis, ini juga pengaruh dari pasar pembaca saya. Saya dipercaya dalam bisnis karena jejak rekam saya sebagi penulis konten di situs yang saya kelola. Mustahil juga orang tiba-tiba percaya menjalin bisnis dengan saya, atau tiba-tiba membeli produk saya? Karena memang saya dikenal dekat dengan pembaca fanatik saya. Jadi mereka tentulah tidak sungkan-sungkan lagi membeli produk saya.

Jadi sahabat muda, menulis itu bukan sekadar memahat nama saja di sejarah, tapi banyak sekali manfaaat yang luar biasa didapatkan dari profesi yang menakjubkan ini. Apa yang   ditulis ini masih secuil dari pengalaman saya, masih banyak yang belum saya bagikan. Nah, setiap penulis itu mempunyai pengalamannya masing-masing, kalau kamu membaca kisah-kisahnya mungkin bisa menginspirasi.

Dan saya juga sangat menyanyangkan teman-teman yang seprofesi dengan saya sebagai penulis, jika dengan menulis masih sulit untuk mencari sesuap nasi, saya sarankan juga untuk berbisnis. Sungguh sangat disayangkan punya pembaca tapi tidak bisa mendulang rezeki. Saya paham sekali, terkadang ada yang menulis untuk beramal. Itu bagus. Hanya saja penulis juga butuh makan, kalau penulis itu sendiri belum mencetak karya yang belum bisa dikomersilkan secara luas, maka jalan satu-satunya agar tetap bertahan menjadi seorang penulis adalah berbisnis. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Kamu Itu Blogger atau Penulis?

Begini Cara Agar Tulisan Mudah Dipahami, Enak Dibaca, dan Dirindukan

Maaf, Jangan Diganggu! Saya Sedang Menulis

Cara Mudah Menulis Artikel Wisata (Travelling)

Video menegangkan di Kawah Bromo:

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas