Ilustrasi menulis | Foto via stanford

Asmarainjogja.id  – Kalau dicari dari buku-buku teori menulis, atau artikel-artikel hebat yang mengulas tentang kepenulisan, mungkin artikel yang ditulis ini sangat jauh berbeda. Bisa juga dibilang langka.

Penulis senior acapkali mendoktrin penulis pemula dengan teori-teori yang sulit, tidak mudah dipahami, apalagi dipraktikkan. Karena penulis yang mengedepankan profesionalitas tentu mengedepankan kualitas tulisannya, daripada manfaat yang bisa diambil dari pembaca.

Namun, tenang saja teori menulis yang diulas kali ini sangat sederhana, dan bisa langsung dipraktikkan. Tinggal lagi bagaimana menekuninya, dan mengulang-ulang skil menulis itu di setiap harinya.

Sebagai penulis yang cukup aktif di media online dan media sosial, saya sudah berkecimpung sekitar dua tahun di dunia tulis menulis. Perjalanan yang cukup panjang bagaimana cara menulis yang baik, menulis karya yang disukai, dan menulis untuk advokasi, (pembelaan). Semua tidak begitu saja dalam sekejab saya mendapatkan ilmu menulis. Belajar yang tak pernah putus adalah salah satu kuncinya.

Baca juga: 

Meet and Greet Bersama Tereliye dan Rahasia Menulis Novelnya

Ini Alasannya Kenapa Penulis Hemat Bicara

Tujuan Menulis yang Sebenarnya dari Seorang Penulis

Maka saya simpulkan berdasarkan pengalaman, dan mengenang kisah-kisah awal menulis, maka cara menulis paling jitu adalah menulislah seperti berbicara. Ya, ini adalah rahasia yang mungkin penulis itu sendiri tidak sadar. Bahwa menulis juga seperti berbicara. Kalau mau menulis, maka berbicaralah.

Paham maksudnya?

Jadi begini, saat kamu menulis anggap saja kamu berbicara pada komputer atau buku. Berbicaralah sepuasnya, tulislah semuanya yang ingin kamu sampaikan. Tak terasa setelah kamu bercua-cuap panjang lebar, jadilah sebuah karya tulis. Meskipun itu hanya sekadar ungkapan hati saja. Tidak masalah, sebab itu adalah awal yang baik.

Sungguh, kawan, menulis itu mudah, semudah kamu berbicara, atau seserunya bagaimana kamu merumpi dengan sahabat kamu. Bukankah kita selalu lancar kalau membicarakan orang lain? Atau juga semangat dan lantang sekali jika membicarakan orang lain? Apalagi membicarakan keburukan-keburukannya?

Nah, menulis juga begitu. Lancar kamu berbicara, maka lancar pula menulis. Setelah paham teori dasar ini, mulailah mempelajari teori menulis lainnya. Mulai cara menulis opini, menulis cerpen, menulis apa saja yang disebut sebuah karya tulis bergengsi. Dan tentu saja membaca adalah pecutan yang mengegerakkan kamu di dunia literasi.

Jangan malas membaca, karena membaca adalah kunci kedua dari seorang penulis. Tidak ada penulis di bumi ini yang tidak suka membaca. Mustahil. Dari membaca itu pula, kamu secara tak langsung belajar menulis dari penulisnya, memperbanyak kosa kata, memantik ide, membuka wawasan, mendapatkan informasi, melatih daya ingat, semua itu didapatkan dari membaca. Itulah betapa pentingnya membaca, kawan.

Saya yakin, dan seyakin-yakinnya, teman-teman yang membaca artikel ini ingin sekali menjadi penulis. Paling tidak bisa juga menulis artikel seperti ini. Ya, hampir setiap manusia memang mudah sekali terdorong dari sebuah tulisan. Namun sayangnya kebanyakan hanya mau saja, tapi tidak langsung dipraktikkan. Dan jadilah ia pungguk yang merindukan bulan.

Dan bagi yang sudah terketuk hatinya, mulailah hemat bicara pada orang lain, dan berbicaralah sepuas-puasnya pada tulisan. Penulis yang produktif adalah penulis yang berbicara di dunia menulisnya, hanya yang penting-penting saja ia bicarakan pada kehidupan nyata. Aneh, bukan? Begitulah seorang penulis itu.

Baik, jika sudah paham. Lalu mau menuliskan tentang apa? Mungkin itulah yang terbersit di pikiran kamu.

Baca juga: 

Realita Seorang Penulis

Mungkin Anda Berikutnya Menjadi Penulis Seperti Raditya Dika

Cara Menulis Kalimat Pertama yang Menarik

Dunia menulis itu tidak terbatas, kawan. Begitu luas, seluas bumi dan langit. Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat. Jadi kamu jangan bingung mau menulis apa, semua bisa dijadikan tulisan, apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan, bisa jadi sebuah tulisan. Karena ide menulis memang dari segala penjuru arah mata angin.

Kalau kamu saya beritahu ide-ide menulis yang saya alami mungkin tidak percaya. Dari hilang handphone saya bisa jadikan tulisan, melihat orang gila juga begitu, orang yang asyik merumpi juga jadi bahan tulisan, kasus-kasus di negara Indonesia, saya jadikan tulisan dalam bentuk opini, dan masih banyak lagi. Itu hanya contoh agar kamu juga bisa menangkap ide menulis di sekitar.

Terakhir, garaplah tulisan yang kamu pahami persoalannya. Sederhananya, menulislah apa yang kamu ketahui saja. Dengan begitu akan mengalir seperti air tulisan yang kamu buat, gampang dan seru, tanpa mengerutkan dahi, apalagi bertambah pusing. Jangan dulu berpikiran menulis yang hebat-hebat seperti tulisan dari penulis terkenal di tanah air. Sabar dulu! Ada masanya kamu seperti itu, ada tahapannya dan proses yang harus dijalani.

Santai tapi pasti, begitulah cara menjadi penulis produktif. Selamat berkarya, kawan! [Asmara Dewo]

 

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta

 

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas